Kaca Sanesipun

Rabu, 21 Januari 2015

Tour de Celebes: Menuju Makassar Naik Kasur (Day 5 Part 2)

Hari sudah beranjak malam, waktu menyebutkan sudah pukul 21.30. Kami semuanya sudah siap dan sudah mandi. Saya turun ke resepsionis untuk menanyakan bis sudah sampai mana. Ternyata bis baru saja berangkat dari Rantepao. Artinya masih sekitar 1 jam lagi bis tiba di depan hotel.

Kami semua bergegas turun ke bawah, ke depan hotel, dengan bantuan mobil hotel. Kami berpamitan ke resepsionis dan sebagian pegawai yang sudah melayani kami dengan sangat baik. Untuk menuju depan hotel, kami diantarkan dengan mobil hotel.

 Beberapa bis yang melayani line Toraja-Makassar. Primadona Mercedes-Benz OH 1836, Manggala Trans Scania K360iB, dan Manggala Trans Mercedes-Benz OH 1626

 Pukul 22.00 kami semua sudah berkumpul di depan hotel. Pihak dari hotel masih menemani kami sampai bis kami datang. Bis-bis malam Toraja-Makassar satu per satu lewat. Semuanya kelas VIP dan Eksekutif. Mulai Manggala Trans, Metro Permai (kabarnya masih satu grup dengan Manggala), Primadona, Bintang Timur, dan Bintang Prima. Pukul 22.30, bis kami tak kunjung tampak juga. Bintang Prima Scania, entah dapat yang K380iB, K124iB, K310iB, ataukan K360iB yang terbaru. Cukup lama kami menunggu sembari menyaksikan bis-bis melaju kencang. Ibu-ibu ini pun berkomentar bahwa bis-bis di Toraja lebih bagus daripada di Jawa. Dan saya sampaikan sekalian, jangan kaget nanti kalau sudah masuk ke dalamnya.


Menunggu bis di depan hotel. Suasana hening sekali, cuma terdengar sesekali orang cekikikan dari warung seberang. Suara mesin kendaraan terdengar sangat jelas

Pukul 22.50, bis yang kami tumpangi tiba. Bintang Prima Scania K310iB dengan balutan body Tentrem Scorpion X total 28 seat tanpa toilet. Bis ini tergolong baru juga karena baru saja keluar dar karoseri tahun 2014. Harapan saya sih bisa dapat yang Scania K360iB karena lebih baru dan katanya yang paling ngebut di antara semuanya. Tidak apa lah, yang penting naik Scania. Bagasi bis ini tembus dari kanan ke kiri, sehingga tidak perlu takut tidak kebagian tempat barang.
Bis yang kami naiki datang, Bintang Prima Scania K310iB Scorpion-X Tentrem

Setelah semua barang masuk bagasi, kami semua masuk ke bis, dan kami terkeju karena tempat duduk yang teramat sangat nyaman. Tempat duduknya besar (big size), dengan sandaran kaki yang nyaman, dan spon yang sangat tebal sehingga sangat empuk seperti kasur. Memang inilah yang menjadi ciri khas bis-bis Celebes.

Dari samping kiri tampak bis-bis semacam Primadona Mercy OH 1836 mendahului kami. Bis yang kami tumpangi kemudian segera berangkat. Awalnya jalan pelan-pelan karena masih mengambil 1 penumpang. Setelah penumpang terakhir naik, kernet duduk di belakang sendiri dan tidur. Tinggal sopir sendirian yang mengemudikan bis ini. Sebagai info, perjalanan 6-8 jam ini hanya tersedia 1 sopir saja. Mantab!

Ibu-ibu yang lain sudah mulai terlelap karena buaian kasur empuk dan suspensi udara yang mentul-mentul dan nyaman, membuat jalanan berlubang dan jalanan berbelok tidak terasa. Sementara saya tetap terjaga karena ingin melihat seperti apa skill driver bis Toraja-Makassar yang katanya mantab-mantab. Meskipun duduk di deret kedua, saya masih dapat melihat dengan jelas bagaimana driver bermanuver. Tikungan-tikungan tajam dilibas dengan kecepatan 40-60 km/jam. Rekor yang bagus, karena waktu berangkat naik innova kemarin kami hanya jalan di kecepatan 20-40 km/jam saja di tikungan. Didukung dengan mesin 310 HP membuat bis yang kami tumpangi tambah nyaman dan tidak ngoyo melibas tanjakan-tanjakan.

Sampai di depan tampak ekor PO Primadona OH 1836 ‘Wanaherang’. Driver kami langsung mengejar dan membuntutinya, tapi tidak lama kemudian dilepas oleh driver. Terlalu berbahaya mengekor di jalan sempit. Tak lama kemudian, tampak lagi bokong si wanaherang tadi, tampaknya berhenti bersama bis-bis lainnya yang sudah berangkat lebih dulu di depan kami. Langsung dilibas begitu saja. Demikian juga tak lama setelah itu, ada warung di pinggir jalan yang dipadati oleh bis-bis yang sudah berangkat duluan.

Karena saya juga mulai terbuai, akhirnya saya tertidur pulas. Bangun-bangun bis sudah berhenti di sebuah warung kecil yang berjualan Salak Duri. Saya turun sejenak untuk kencing saja. Selama berhenti, hanya ada 2 bis yang menyelip bis saya. Selebihnya tidak ada. Padahal tadi kami menyelip belasan bis.
Saat berhenti di salak duri. Di belakangnya ada Bintang Prima OH 1525

Setelah semua penumpang lengkap, bis kembali diberangkatkan. Saya hanya melek sebentar, kemudian larut dalam tidur yang nyaman lagi. Enak sekali bisnya. Coba di Jawa ada yang sejenis ini, pasti nyaman sekali. Kursi elektriknya Nusantara Jakarta-Kudus atau Bandung-Kudus saja tidak bisa menyaingi nyamannya kursi Bintang Prima ini.

Bangun-bangun, saya sudah ada di Jalan Poros Makassar-Maros. Masih pukul 04.00. Wow, cepat sekali bis ini. Di depan ada bis milik Litha & Co dan Primadona. Kejar-kejaran tidak berlangsung lama. Untuk urusan jalan yang lebar, tetap masih jos bawaan bis-bis muriaan (Jepara-Kudus-Jakarta) semacam Haryanto, Nusantara, Zentrum, dan Bejeu. Paling-paling ketika itu bis yang kami tumpangi hanya mentok di kecepatan 100 km/jam. Sementara kalau bis-bis muriaan bisa sampai 120-140 km/jam.

Tak beberapa lama, bis tiba di Bandara Sulan Hasanuddin. Semua bis dari manapun, pasti masuk Bandara, kecuali bis dari Selayar karena rutenya tidak masuk bandara. Setelah drop penumpang, bis melanjutkan perjalanan ke arah kota Makassar. Rute bis berakhir di Panakkukang. Kami memilih turun di depan Kantor Gubernur, di dekat garasi PO Bintang Prima karena kami sudah janjian dengan Mas Erwin, driver yang mengantar kami ke Toraja, untuk kembali kami percayakan mengantarkan kami keliling Makassar untuk sehari ini.
Kami diturunkan di samping Garasi Bintang Prima Perintis Kemerdekaan. Ini Suspensinya bisa dimiringin, jadi turun dari bis gak terlalu tinggi


Pukul 05.25 kami sudah turun di depan Kantor Gubernur setelah sebelumnya memutar dari Panakkukang. Berarti total waktu perjalanan hanya 6,5 jam. Lebih depat daripada perjalanan berangkatnya. Bagasi kami turunkan, dan kami segera berteduh di depan warung Soto Lamongan, karena hujan cukup deras pagi itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar