Kaca Sanesipun

Rabu, 21 Januari 2015

Tour de Celebes: The Last Day, Suatu Saat Saya Kembali (Day 7)

Senin pagi pukul 03.45. Saya terbangun dan teringat 1 hal: Klinik Ortho. Kenapa di pagi-pagi buta di tanah orang yang teringat kok ya harus klink orthodonsia yang suram sekali. Apalagi kabarnya hari ini ada rekapan, sementara nilai saya masih kurang banyak. Semoga selamat lah.

Pagi ini saya segera beranjak mandi, dan bersiap, sekaligus melakukan packing akhir supaya barang bawaan aman. Kali ini saya tidak diantarkan oleh Mas Erwin karena Mas Erwin akan mengantarkan rombongan. Toh jika rombongan berangkat bersama-sama dengan saya, tentu kasihan karena jadwal pesawat mereka masih jam 07.35. Saya memilih berangkat bersama mobil hotel, dan kena tarif pengantaran. Ya maklum sih, bandara jauh dari peradaban.

Pukul 04.30 saya sudah siap di loby. Saya bermaksud mengingatkan pesanan taksi saya dan pesanan breakfast yang dibungkus, nasi goreng. Ternyata, kru saat itu bangun kesiangan sehingga breakfast belum dibuat. Yasudahlah, daripada ketinggalan pesawat, mending ketinggalan breakfast. Toh nanti masih bisa makan nasi pecel Dharmahusada. Maklum juga lah, karena breakfast hotel biasanya baru mulai jam 6. Jadi cukup wajar dan manusiawi jika pukul 04.00 mereka masih belum siap.

Saya berpamitan dengan ibu saya dan segera naik ke mobil yang akan mengantar saya ke bandara. Saya langsung Surabaya, ibu saya dan rombongan pulang ke Jogja. Jalanan pagi itu sangat sepi. Tidak ditemukan tanda-tanda gondhes kebut-kebutan, gondhes mabuk, atau gondhes dan mendhes sedang enak-enakan. Masuk tol mobil dipacu 100-110 km/jam. Karena jalan tol memang sepi. Saya berangkat dari hotel terhitung pukul 04.35.

Pukul 04.55 saya sudah tiba di gerbang keberangkatan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Segera biaya pengantaran Rp 150.000 saya serahkan ke driver sembari menyampaikan terima kasih. Suasana bandara pagi itu sangat ramai sekali. Tetapi bis-bis dari Toraja belum terlihat memadati pintu kedatangan. Sepertinya masih belum, dan agak terlambat.

Saya segera masuk ke pelaporan tiket. First impressionnya jelek, karena banyak loket yang tutup, sementara antrian panjang dan waktu boarding semakin mepet. Akhirnya oleh petugas berpakaian preman dipersilakan antri di pelaporan khusus penumpang eksekutif.

Pelaporan tidak makan waktu lama karena sudah sejak semalam sudah web check-in. Jadi tiba di loket tinggal nunjukin HP, terus beres. Tas keryl saya masukkan ke bagasi saja, dengan resiko nanti bongkar muatannya mungkin lama. Tak apalah, toh sudah di kota sendiri dan tidak mengejar waktu. Saya bergegas masuk ke boarding room. Lagi-lagi di gerbang pemeriksaan PJ2PU antri panjang sekali karena hanya 2 gerbang yang dibuka. Sudah begitu proses x-ray juga terhambat karena petugas kurang sat set. Beda lah sama Bandara Juanda.

Setelah semua proses selesai, saya harus memastikan supaya tidak salah gate lagi. Bisa matek kalau salah gate, karena bandara ini bandara yang besar. Ternyata gatenya jadi satu semua. Hanya ruang tunggunya memang kurang nyaman, karena sangat menyatu dengan toko-toko di sekitar. Beda dengan Kualanamu dan T3 SHIA.

Pukul 05.40, seluruh penumpang GA666 diminta untuk masuk ke pesawat. Keren nomer penerbangannya, triple six. Tapi panggilannya nggak keren, Cuma diteriaki aja sama petugas gate 1, mirip kalau mau naik bis dari Bungurasih gitu sih.

Kali ini pesawat lagi-lagi berjenis Bombardier CRJ1000 Explore-Jet. Kalau waktu berangkat pilih tempat duduk 25K, kali ini saya dapat nomor 29A, kiri agak depan. Waktu naik, udah berpikiran enak nih bisa tidur sambil lendetan jendela. Eh, mendadak ada penumpang kampungan nuker kursi seenak jidat. Dia di tiketnya 29C, 29I, dan 29K. Eh, dia minta tuker 29A seenak jidat, tanpa ngomong, tanpa ijin, Cuma bilang, “Masnya sana!” Duh dek! Kalau memang mau duduk bertiga jejeran kan bisa sih mbak mas buat check in web pilih seat sendiri atau pas check in di pelaporan tiket minta sama petugasnya. Toh kursi belakang juga banyak yang kosong, karena penerbangan pagi ini memang sepi. Bikin ribet dan bikin mangkel saja. Dampaknya, penumpang cowok sebelah kanan saya yang serombongan dengan mereka jadi bahan kemangkelan saya.

Pesawat take-off tepat waktu, dan mendarat di Bandara Juanda Terminal 2 juga dengan tepat waktu dan lebih mulus daripada waktu naik pesawat Lion Air, meskipun ada juga Lion Air yang mendaratnya mulus di Juanda. Saya bergegas keluar dan naik bis apron menuju bandara utama karena lagi-lagi pesawat diparkir di paling ujung.

Tiba di tempat pengambilan bagasi, saya mengira akan menunggu cukup lama untuk bisa ambil tas. Ternyata, begitu saya tiba disana, tas saya adalah yang pertama kali muncul. Ternyata, lelet atau tidaknya pelayanan bagasi tergantung pada petugas bandara yang bersangkutan. Setelah tas saya dapat, saya segera mengambil kunci motor dan kunci kos yang jadi satu karena saya harus mengambil motor saya. Ketika keluar bandara dan ditawari ojek, taksi, bis damri, saya tinggal menunjukkan kunci motor saya saja. Dan semuanya langsung diam, yasudahlah.


Kemudian saya segera menuju motor saya yang sudah 6 hari terkena hujan dan panas karena tidak saya berikan raincover. Mahal Bro! Ternyata starternya masih normal, distart langsung nyala. Saya segera keluar kompleks bandara, kemudian membayar biaya parkir inap, yang ternyata Cuma Rp 5.000,00 per hari (kalau di Hasanuddin bisa mencapai Rp 25.000,00 per hari, tulisan di papan depan sih). Saya kemudian bergegas memulai pagi itu di Surabaya dengan penuh semangat, bersama dengan orang-orang yang berangkat dari Tropodo dan sekitarnya, menembus kabut pagi Surabaya untuk memulai hari. End-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar