Kaca Sanesipun

Rabu, 21 Januari 2015

Tour de Celebes: Hujang di Makassar (Day 6 Part 1)

Kedatangan saya yang ketigakalinya dalam seminggu ke Makassar ternyata disambut oleh hujan yang deras, lagi-lagi. Sama derasnya ketika pertama kali tiba di Makassar. Mungkin untuk kedatangan ganjil akan selalu hujan di Makassar. Pagi sudah cukup cerah, pukul 05.30, dan hujan perlahan mulai reda. Satu-dua orang kembali terlihat berlari kecil mengenakan baju lari menyusuri jalan Perintis Kemerdekaan ini. Beberapa orang dengan sepedanya juga mulai melintas jalan ini.

Pukul 07.00 saya janji dengan Mas Erwin agar Mas Erwin dapat menjemput kami. Tapi, ternyata bis tiba lebih pagi sehingga membuat sebagian jadwal harus kami atur ulang. Mau tidak mau Mas Erwin harus menjemput pukul 06.00. Untungnya Mas Erwin sudah bangun dan sudah siap. Sehingga, pukul 06.10 Mas Erwin telah datang dengan Innova putihnya.

Kali ini, meskipun tidak berseragam Trac Astra, tetapi pelayanan Mas Erwin terhadap kami masih sama baiknya, sama ramahnya ketika beliau masih menggunakan seragam Trac Astra. Kami memulai perjalanan 1 hari di Makassar ini. Berhubung check in hotel masih pukul 11 siang, maka kami meminta Mas Erwin untuk putar-putar kota Makassar ini. Tentunya tujuan pertama kami adalah pom bensin untuk sekedar buang hajat sejenak.

Dari sekian banyak menu yang kami tanyakan ke Mas Erwin, Nasi Kuning, Coto, Konro, Pallubasa, Bubur Manado, Sop Saudara, ternyata Mas Erwin menyarankan kepada kami untuk mampir makan di Nasi Kuning Riburane yang sudah tersohor. Awalnya, saya biasa saja dengan kata-kata nasi kuning. Toh yang namanya nasi kuning dimana saja juga sama, Cuma nasi berwarna kuning terus ada lauk-lauknya. Paling ya lauknya abon, suwiran telur, suwiran ayam, kentang kering/tempe kering, terus timun. Udah.
Nasi Kuning Riburane porsi jumbo

Sampai di depan warung nasi kuning Riburane, kondisi sudah ramai, meskipun pagi itu kembali hujang deras. Banyak orang yang mengantri di lapak penjualnya, meskipun nasi kuning baru saja datang, sudah ada sekitar 10 orang mengantri. Untungnya di dalam masih ada kursi kosong yang cukup untuk 7 orang. Sayangnya Mas Erwin tidak mau kami ajak makan, jadilah kami bungkuskan saja.

5 orang meilih porsi biasa, saya tentunya tidak mau kalah, porsi jumbo saya pilih. Segeralah nasi kuning jumbo tiba di meja. Wow, tidak seperti nasi kuning pada umumnya. Ini sih lebih mirip nasi campur kalau di Jawa Timur atau nasi rames kalau di Jogja, Cuma nasinya kuning sih. Isinya nasi kuning, empal daging, daging bumbu bali, telor bumbu pedas, paru goreng, sambel jipang, sayur nangka, dan kering ubi. Sangat nikmat sekali, rasanya gado-gado di mulut. Dibalut dengan teh tawar hangat yang diberikan gratis dan teh manis panas.

Usai makan, kami bergegas kembali melanjutkan touring kami dengan wajah kumus-kumus, alias belum mandi. Kami bingung, karena kami tidak ada gambaran tentang Makassar. Ya setau saya Cuma Losari, Trans Studio, Fort Rotterdam, Pulau Kayangan, Pulau Samalona, sama Karebosi. Karena tahu saya Cuma itu, Mas Erwin mengajak kami semua ke tempat yang kami belum tahu: Museum Balla Lompoa Sungguminasa Gowa, Makam Syech Yusuf Al-Makassariy, dan Makam Sultan Hasanuddin.

Pelaminan pada masa Kerajaan Gowa. Kabarnya sampai saat ini bentuk pelaminan dipertahankan sama

Aksara Lontara. Ada versi lama, ada yang dipakai hingga saat ini

Syech Jusuf Al Makassariy, tokoh besar penyebaran Islam di Gowa

 Benda-benda peninggalan
Museum Balla Lompoa terletak di Sungguminasa, Kabupaten Gowa. Meskipun namanya Kabupaten Gowa, tapi letaknya tidak jauh dari pusat kota Makassar, sekitar 30 menit saja ke arah selatan (arah Tanjung Bira). Lebih kurang 7 menit saja ke selatan terminal Mallengkeri. Museum ini banyak memuat tentang Kerajaan Gowa, Sultan Hasanuddin beserta pendahulunya, dan penyebaran Islam di Sulawesi Selatan. Dari museum ini, saya baru ngeh kalau Sultan Hasanuddin adalah salah satu keturunan bangsawan Kerajaan Gowa. Kalau jaman dulu bangsawan/orang kaya dan terhormat malah harus menjadi tokoh masyarakat yang bisa membawa perubahan. Kalau sekarang anak bangsawan/orang kaya sibuk beli-beli perhiasan, operasi plastik, perawatan kulit, sama beli mobil dan barang-barang mewah biar terlihat terhormat. Memang terhormatnya orang jaman dulu dan jaman sekarang itu beda.
Wilayah kerajaan Gowa, sangat luas sampai menyentuh Australia

Setelah puas melihat-lihat museum dan rumah adat khas Gowa (rumah panggung), kami meninggalkan museum yang menarik tetapi sangat murah ini (tanpa tiket masuk, hanya memberikan uang seikhlasnya ke pemandu dan penjaga sandal saja). Kami bergerak ke arah makam Sultan Hasanuddin. Mas Erwin menyatakan bahwa makamnya saat ini sudah sangat tidak terawat dan terkesan kumuh, berlumut, tidak teratur. Begitu kami tiba di depan makam, ternyata benar. Ada bangunan pendopo yang mangkrak, daun dimana-mana, beberapa sampah berserakan. Hanya ada 1 penjaga makam saja yang dengan setia membersihkan makam ini. Miris sebenarnya. Seorang pejuang pada masanya, sang Ayam Berkokok Dari Timur, makamnya dibiarkan mangkrak begitu saja. Sementara seorang koruptor kelas kakap, pembunuh massal, dan pemelintir sejarah selama 32 tahun diagung-agungkan dan akan digelari pahlawan. Miris! Indonesia!

Kondisi makam Sultan Hasanuddin yang sepi dan kurang terawat

Setelah melihat-lihat kondisi ini, kami beranjak menuju Makam Syech Yusuf Al-Makassariy. Syech Yusuf ini adalah salah satu tokoh penting dalam penyebara agama Islam di Gowa dan Afrika Selatan. Peranannya juga sangat penting dalam kemanusiaan. Beliau diberikan penghargaan sebagai pejuang kemanusiaan oleh Nelson Mandela pada tahun 1994. Kami tidak mampir di makam ini, hanya sekedar lewat saja.

Di seberang makam Syech Yusuf, ada kompleks makam ketrunan raja-raja kerajaan Gowa. Semua makamnya adalah khusus keturunan raja. Ciri khas dari makam bangsawan adalah makam yang dilindungi sebuah bangunan berbentuk topi raja, bentuknya nyaris menyerupai siung bawang.

Kemudian karena obyek di Kabupaten Gowa sudah habis, kami diajak untuk kembali ke kota Makassar. Kami sebenarnya ditawari untuk menuju ke Kebun Teh Malino, sekitar 1 jam perjalanan dari Gowa. Ibu-ibu dosen yang semuanya adalah dosen pertanian ini cukup tertarik dengan tawaran ini. Tapi, atas pertimbangan waktu, kami memilih langsung kembali ke Makassar saja.

Eits, sebelum masuk hotel, kami beli oleh-oleh dulu. Biar nggak tergesa-gesa katanya, karena malam nanti akan bertemu kolega dosen Fakultas Pertanian Universitas Hasnuddin yang juga merupakan rekan perjuangan ibu saya waktu mengambil S2 di Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Jogjakarta. Karena ibu-ibu ini sejak awal sudah ingin beli kain tenun sutra Makassar, maka Mas Erwin merekomendasikan sebuah toko yang lengkap, murah, asli, dan barangnya bagus di dekat Karebosi. Sementara ibu-ibu belanja,saya memilih untuk duduk. Melihat harganya yang wow, saya sedikit kurang minat. Stelan hem jadi saja minimal harganya Rp 350.000. Bodhol dompet saya.

1 jam hanya dihabiskan untuk belanja kain. Saya memilih pergi ke Indomaret seberang beli Yeo’s Chrysanthemum dan bersantai disana sambil melihat pete-pete yang silih berganti. Sementara Mas Erwin asyik ngobrol dengan tukang becak di sekitar sana. Setelah semua hasrat berbelanja dikeluakan dan isi dompet juga dkeluarkan, kami menuju ke pusat oleh-oleh makanan dan minyak tawon di dekat Losari. Kali ini, giliran saya yang kalap. Beli 5 kacang disko, Kue Tori khas Toraja yang tidak sempat saya beli di Toraja, dan Marning Jagung. Sementara ibu saya memborong minyak tawon, mulai dari yang hitam sampai yang putih.


Setelah hasrat belanja kami puas, kami diantarkan ke hotel yang akan menjadi tempat kami menginap. Hotel Singgasana di Jl Kajaolalido. Masih pukul 10.55. Kami segera check in, menikmati welcome drink berupa sirup markisa bersoda. Markisanya beda dengan Markisa Medan, lebih jos dan segar Markisa Medan. Kemudian kami masuk kamar masing-masing dan janjian untuk turun pukul 13.00. Sementara Mas Erwin tinggal di mobil, dan mungkin ke toko oleh-oleh untuk ambil bonus. Kami beristirahat di kamar yang nyaman, tapi sudah tua ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar