Kaca Sanesipun

Kamis, 22 Januari 2015

Kalimbuang Bori’: Situs Megalitik yang Masih Lestari


Siapa sangka batu-batu besar yang berdiri seperti di Stonehenge juga terdapat di Toraja? Indonesia gitu loh, semuanya ada disini.
Pintu masuk menuju Kalimbuang Bori' dengan background Lakkian dan Kubur Batu

Kalimbuang Bori’, lokasinya sekitar 7 km arah Kota Rantepao, arah ke Batutumonga. Sudah dekat dengan Batutumonga, tapi masih perlu perjalanan 30 menit untuk tiba di Batutumonga. Sulit ditempuh dengan angkutan umum. Sebaiknya sewa kendaraan saja dari pusat kota. Tiket masuknya sama dengan obyek wisata lain, sekitar RP 10.000,00 per orang.

Situs Megalitik Kalimbuang Bori’ ini lagi-lagi tidak jauh-jauh dengan unsur kematian. Terdapat banyak sekali menhir yang berdiri di situs ini. Kabarnya, menhir ini adalah sebagai wujud dari orang yang sudah meninggal, artinya mirip seperti patung kayu yang diletakkan di depan makam.

Menhir ini bukan menhir sembarangan. Pembuatannya harus diadakan upacara adat terlebih dahulu yang kono kabarnya harus mengorbankan cukup banyak kerbau. Kemudian, batu akan dipahat selama berminggu-minggu sampai berbulan-bulan. Batu diambil dari daerah di sekitar Toraja. Ukuran dan bentuk batu mengikuti keinginan pihak keluarga. Semakin tinggi batunya, kabarnya, semakin tinggi pula strata sosialnya.
Makam yang sedang dalam proses pembuatan. Semuanya dipahat dengan pahat batu manual

Di tempat ini, jenazah dimakamkan di makam batu. Yaitu makam yang dibuat pada sebuah batu gunung yang sangat besar. Bentuknya dari luar hanyalah kecil, berupa pintu berukuran 1x0,5 meter saja. Tapi kabarnya bagian dalamnya sangat luas dan bisa dipakai untuk tidur orang 3. Proses pembuatannya sangat lama dan harus menggunakan pahat tradisional untuk memahatnya. Kadang makam juga disertai pahatan-pahatan tertentu yang bisa menandakan strata sosialnya.

Pada salah satu makam, terdapat pahatan kepala kerbau yang dibuat dan dipahat sekalian bersama dengan proses pemahatan makam.
Pahatan kepala kerbau di sebuah makam

Sebelum dimakamkan, jenazah disemayamkan di sebuah gubug yang tinggi yang disebut sebagai Lakkian.

Selain makam dalam batu, terdapat juga makam dalam pohon yang menyerupai situs pemakaman Kambira. Namun, jumlah bayi yang makamkan di Kalimbuang Bori’ ini hanya sedikit. Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai makam bayi akan dijelaskan di halaman khusus Kambira.
Makam pohon mirip di Situs Kambira

Karena tidak ada toko oleh-oleh, maka sebagai gantinya bisa meneruskan perjalanan ke arah kota Rantepao dengan melewati jalan desa. DI sepanjang jalan desa tersebut akan ditemui banyak orang Toraja beraktivitas. Kebanyakan siswa SD di Toraja berangkat dan pulang sekolah dengan jalan kaki.
Selain itu, dapat melihat juga Tongkonan dan Allang modern. Kaki-kakinya sudah bukan dari kayu, tetapi dari beton. Tetapi bangunan utamanya tetap dari kayu. Kabarnya, pemiliknya adalah orang kaya. Saat ada keluarga yang meninggal beberapa saat lalu, keluarga tersebut mengorbankan ratusan ekor kerbau.
Tongkonan modern. Tiang penyangganya dari beton

Selain melihat tongkonan dan aktivitas warga, Anda juga bisa melihat alam sekitar yang sangat asri dan subur. Sawah-sawah menghijau, dan sesekali ada kerbau yang sengaja dilepas pemiliknya di sawah.
Tedong Ballian


Selain itu, untuk menuju Rantepao, Anda bisa meminta kepada pengantar Anda untuk mampir sejenak melihat kerbau jenis Ballian. Tedong Ballian ini adalah kerbau yang memiliki tanduk panjang hampir 3 meter. Oleh pembeli sudah ditawar Rp 500 juta, tetapi sang pemilik mau melepaskan dengan harga Rp 600 juta. Kerbau Ballian ini bukan kerbau bercorak putih hitam, bukan merupakan kerbau aduan juga karena tanduknya mengarah ke bawah dan berat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar