Kaca Sanesipun

Kamis, 22 Januari 2015

Trip Awal Tahun: Menjelajah Secuil Sulawesi Makassar, Tour de Celebes

Hola halo...apa kabar? Setelah hampir setahun terkurung dalam goa dan bergelut dengan bau jigong pasien, akhirnya berhasil membuat sebuah short escape setelah lewat Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial. Meskipun selama setahun sempat curi-curi pandang, tetapi trip awal tahun ini menjadi sesuatu yang dinanti-nanti.

Setelah sukses trip Jogja-Singapura-Kualalumpur-Medan-Toba-Jakarta awal tahun 2014, kali ini trip Surabaya-Makassar-Bira-Makassar-Toraja-Makassar juga lumayan mendulang sukses dan penghiburan dibalik minimnya pasien di klinik.

Berawal dari telpon ibu sekitar bulan Oktober 2014, saat baru saja masuk Departemen Bedah Mulut.
"Kamu Januari awal kosong nggak?"
"Kalau jadwalnya sih kosong, bu."
"Ya udah, temenin ibuk ke Toraja, untuk hadir ke pemakaman Ibunya Bu Payung Tasik (kerabat dekat keluarga). Kemarin diundang jhe. Nggak enak kalau nggak dateng."
"Siap thok. Pokoke dibayari. Duitku tipis."
"Okee..."

Semenjak itu, browsing via internet terus dilakukan. Jadi, trip kali ini hampir full dibayari: tiket pesawat PP, hotel di Makassar, dan hidup di Toraja. Tanjung Bira ini saya jadikan tour sampingan, kan rugi kalau udah di Makassar nggak sekalian ke Bira. Jadilah budget yang sedianya mau saya kumpulin buat beli lensa macro zoom-lens dan 'idep-idep nyelengi' buat trip Rinjani-Komodo jadi  biaya trip tambahan ke Bira ini. 

Awalnya masih ragu, mau ke Bantimurung-Bulusaraung dan air terjun di Maros, atau Bira. Tapi karena tersepona kemolekan Bira, saya menyempakatkan diri ke Bira. Toh transportnya juga mudah. Meskipun pada akhirnya harus menelan pil pahit gara-gara cuaca buruk dan tidak bisa snorkelling atau diving. Awalnya sih malah mau ke Selayar sekalian. Kalau jadi ke Selayar, bisa nangis di lautan ntar, cuacanya buruk.

Hingga akhirnya trip dapat dilakukan mulai Selasa, 6 Januari 2015 pukul 04.00 dan diakhiri tepat di kos tercinta pada hari Senin, 12 Januari 2015 pukul 07.20.

Meskipun demikian, rasa syukur tak terhingga patut dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas kesempatan yang boleh diberikan untuk kembali menikmati, menghayati, dan mengagumi secuil demi secuil Indonesia. Kapan lagi kalau bukan sekarang, ketika masih muda dan energik? Pasti ada yang akan dikorbankan, tetapi pengorbanan selalu terbayar dengan sesuatu yang lebih baik.

Akhir kata, selamat menikmati laporan saya, dalam bentuk report touring atau narasi deskriptif. Semoga membawa Anda sekalian turut merasakan berdinamika di Bira, Makassar, dan Toraja. Selamat membaca, selamat berdinamika, dan selamat kepengin. 

Semoga trip mendatang ada uang dan lebih baik lagi! Keep travelling. Jangan sampai klinik mengganggu travelling.

Artikelnya banyak sekali, makanya saya buat demikian ini. Biar semuanya terbaca dan kesinambungannya ada.

Reportase Perjalanan Surabaya-Makassar-Bira-Makassar-Toraja-Makassar

NB dibaca yang runtut, karena tiap harinya akan selalu ada kejutan


Mengenal sedikit lebih jauh Tanjung Bira


Mengenal sekilas mengenai Toraja

Tujuan wisata Toraja, kesana naik apa, apa makanan khasnya, semuanya ada disini.


Tiba di Makassar, lalu bingung mau kemana? Lihat ini


Ada pertanyaan, kritik dan saran? Silakan post di kolom komentar. Untuk fast respon bisa hubungi saya di nomor dan email yang tertera. Keep travelling!

Menjelajah Toraja dan Sekitarnya: The Amazing Grave

Amazing grave how sweet the sound. That saved a wretch like me. I once was lost but now i’m found. Was Blind but now I see

Tentu cuplikan lagu di atas bukanlah lagu Amazing Grace karya John Newton yang dinyanyikan oleh Il Divo atau Josh Grobogan...maksudnya Josh Groban. Karena kalau lagu Amazing Grace pasti awalnya juga Amazing Grace, lah ini Amazing Grave. Artinya? Kuburan yang menakjubkan. Lantas, kenapa diberi judul dengan Amazing Grave? Karena di Toraja, baik Kabupaten Toraja Utara (Torut) atau Kabupaten Tana Toraja (Tator) banyak terdapat kuburan-kuburan yang luar biasa menakjubkan, baik yang berbentuk rumah yang tersebar di tepi-tepi jalan, atau yang berbentuk tebing, goa, dan batu yang berlubang. Pun jika Anda berkunjung ke Toraja, jangan harap ada wahana sejenis Trans Studio atau Dufan. Yang ada hanyalah wisata peziarahan ke kuburan-kuburan yang super menakjubkan.


Sekilas Mengenai Toraja

Toraja, orang-orang sering menyebutnya. Tidak spesifik Toraja yang mana karena saat ini Toraja ada dua. Tapi, yang jelas semuanya masih menjadi satu, hanya terpisah menjadi dua dengan alasan administratif saja.

Toraja, seperti yang dijelaskan di awal, terdiri dari Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara. Keduanya terletak di Provinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten Toraja Utara sendiri merupakan sebuah wilayah hasil pemekaran Kabupaten Tana Toraja pada tahun 2008. Kabupaten Tana Toraja memiliki pusat pemerintahan di Makale. Sedangkan Kabupaten Toraja Utara memiliki pusat pemerintahan di Rantepao. Kedua pusat pemerintahan merupakan kota yang cukup besar dan rame. Perbedaannya hanya pada ciri khas pusat kotanya saja. Jika Makale, pusat kotanya berupa sebuah danau dengan patung Lakipadada dengan dikelilingi pusat pemerintahan, gedung DPRD, sekolah, gereja, beberapa pertokoan, dan jauh di belakang ada Pasar Makale. Sedangkan Rantepao memiliki karakter yang berbeda, tidak ada danau di tengah kota, tetapi hanya berupa jalan-jalan besar saja. Rantepao memiliki karakteristik kota yang mirip dengan kota-kota kecil di Jawa. Meskipun bentuk kotanya beda, tetapi kedua kota ini sangat ramai, meskipun pada beberapa waktu lebih ramai Rantepao daripada Makale.

Toraja, baik Tator maupun Torut sebagian besar dihuni oleh masyarakat asli Suku Toraja. Sebagian kecil merupakan pendatang, yang biasa dan selalu demikian, dari Jawa dan Madura. Mayoritas masyarakat Toraja beragama Kristen dan Katolik. Sehingga tidak heran jika gereja Kristen dan Gereja Katolik tumbuh menjamur di banyak sudut. Ada juga Masjid, tetapi jumlahnya tidak seberapa. Ada 1 masjid besar yang terdapat di pusat kota Makale.

Karena mayoritas beragama Kristen-Katolik, sudah jelas mayoritas menu makanan yang tersedia disana adalah menu makanan non halal karena mengandung babi. Nyuk Nyang (bakso) Babi, sate babi, piong babi bertebaran dimana-mana. Meskipun demikian, masih terdapat cukup banyak juga pedagang makanan halal yang sudah pasti menyajikan makanan dengan daging ayam ataupun sapi. Biasanya, penjual makanan halal ini adalah pendatang dari Makassar yang berjualan Coto, Konro, atau Sop Saudara. Juga pendatang dari Jawa dan Madura yang biasanya berjualan gorengan, martabak, sate madura, soto madura, gado-gado, bakso sapi, mie ayam, dan penyetan.
Masjid dan gereja berdiri berhadapan

Meskipun nyaris semua beragama Kristen-Katolik, tetapi pada awalnya masyarakat Toraja tidak pure memeluk agama Kristen-Katolik sejak awal, sama seperti daerah-daerah lainnya yang awalnya menganut kepercayaan, animisme, dan kemudian pada masa kerajaan maupun penjajahan kemudian keyakinannya diubah. Masyarakat Toraja awalnya merupakan penganut animisme, yang disebut sebagai Aluk, meskipun sebenarnya Aluk ini bukan murni sebuah kepercayaan, tetapi lebih pada sistem tatanan kehidupan yang sistematis. Pada perjalanannya di tengah era kolonial Belanda, sekitar tahun 1950, sebagian kecil masyarakat Toraja mulai berpindah ke agama Kristen. Kemudian seiring berjalannya waktu, pemerintah mengeluarkan peraturan bahwa warga negara Indonesia harus memeluk kelima agama yang diakui oleh Indonesia dan kepercayaan Aluk To Dolo yang ada di Toraja ini diakui sebagai agama Hindu Dharma. Maka, sebagian warga suku Toraja masuk ke Hindu Dharma, dan sebagian besar ke Kristen-Katolik. Masuknya sebagian besar warga suku Toraja ini juga tidak lepas dari perjalanan sejarah suku Toraja, yang mungkin bisa dibaca tersendiri pada buku-buku yang banyak beredar.

Toraja merupakan sebuah daerah pegunungan dengan ketinggian beragam. Maka tidak heran jika banyak bukit-bukit di Toraja. Daerah pegunungan inilah yang membuat hawa di Toraja sejuk dan cenderung dingin. Terpeliharanya lingkungan sekitar juga mendukung suasana sejuk, masih banyak pepohonan rimbun, dan bagunan-bangunan yang dibuat juga sangat disesuaikan dengan kontur. Selain bukit-bukit, juga terdapat beberapa patahan yang tinggi menjulang, bahkan sampai di tepi jalan-jalan. Nampaknya, meskipun berbukit-bukit, rupa-rupanya beberapa bukit tersebut adalah bukit kapur. Titik tertinggi Toraja adalah di Batutumonga, dengan ketinggian sekitar 1300-1500 mdpl, dimana di tempat ini dapat terlihat dengan jelas Kota Makale, Kota Rantepao, dan Palopo.

Apa saja yang bisa dikunjungi di Toraja?


Seperti yang telah dikatakan di awal, mengunjungi Toraja adalah wisata peziarahan, wisata budaya, dan wisata kearifan lokal. Jangan harap di Toraja ada wahana permainan serupa Dufan dan lain sebagainya, water park, dll.


Selain mengunjungi tempat di atas, Anda bisa juga mengunjungi Batutumonga yang terletak di ketinggian 1300-1500 mdpl. Dari tempat ini, Anda dapat melihat 3 kota sekaligus: Makale, Rantepao, dan Palopo. Dapat ditempuh dengan 1 jam perjalanan dari Rantepao, tentu harus menggunakan kendaraan pribadi. Arahnya sebenarnya searah dengan Situs Pallawa dan Kalimbuang Bori’.

Selain itu, Anda yang beragama Kristen dan Katolik dapat melihat ikon baru Toraja Utara: Patung Salib Bersinar di atas bukit bertuliskan Toraja Utara. Kabarnya, salib tersebut akan digarap lebih serius dan dibuat seperti Patung Yesus di Rio de Janerio.

Masih banyak obyek lainnya yang bisa juga dikunjungi, namun rata-rata semuanya hampir sama, berupa makam. Waktu 3 hari adalah waktu yang ideal untuk ‘menghabisi’ dan ‘menghayati’ Toraja.

Selain melihat obyek tersebut, apa ada hal lain yang bisa dilihat?

Seperti dibicarakan di atas, Toraja adalah sebuah suku yang sangat sarat dengan upacara adat. Ada banyak sekali upacara adat yang dapat Anda lihat. Setidaknya ada 3 upacara yang masih sering dilakukan: Upacara Kematian (Rambu Solo), Upacara Syukuran Tongkonan, dan Ma’Nene’ (Mayat berjalan). Ketiga upacara ini banyak dilakukan sekitar bulan Agustus dan Desember-Januari, mengikuti hari libur anak sekolah. Kecuali Ma’Nene’ yang biasa dilakukan di bulan Agustus. Ketika musim perayaan/pesta tiba, biasanya seluruh masyarakat Toraja akan menghentikan seluruh kegiatannya, termasuk bekerja. Sawah-sawah tidak akan digarap sampai bulan pesta berlalu.



Ma’Nene’, Sang Mayat Berjalan

Mayat berjalan ini, sepertinya, tidak hanya terdapat di Toraja. Budaya yang mengerikan ini sudah sangat jarang dilaksanakan di kota. Namun, di daerah-daerah pedalaman Toraja masih dilaksanakan.
Seperti yang diketahui sebelumnya. Jenazah di Toraja, selalu dimumifikasi (diawetkan), mengingat upacara pemakaman tidak dilaksanakan langsung. Mayat yang dimumifikasi ini seharusnya membusuk di kemudian hari. Namun, masih ada beberapa jenazah yang justru menjadi mumi. Mumi ini, oleh keluarga, kadang ingin diganti peti dan bajunya. Untuk mengganti peti dan baju, maka harus diadakan upacara lagi, salah satunya adalah upacara Ma’Nene’ ini. Upacara yang dilakukan, juga sebesar upacara kematian saat almarhum akan dimakamkan dulu. Dalam upacara ini, mumi dibacakan mantra-mantra tertentu yang membuat jenazah tersebut dapat berdiri dan berjalan, 1-2 meter saja.

Kegiatan Ma’Nene’ ini sangat jarang dilakukan. Pun dilakukan hanya sekitar bulan Agustus dan biasanya dilakukan di daerah-daerah pedalaman.

Selama disana, apa makanan yang bisa dimakan?

Ada banyak sekali makanan yang bisa dimakan disana. Yang cukup khas disana adalah kalau tidak ikan ya babi. Kok ada ikan? Ikan biasanya dikirim langsung dari Pangkep atau dari Pare-Pare dengan pick up. Selain ikan, ada menu lainnya, yaitu ayam, sebagian kecil sapi (karena sapi sangat jarang disini), dan Kotte’ (dibaca kotek, artinya bebek).

Jika makan di Toraja pasti akan stress, karena semua menunya terdiri dari babi. Bagi penggemar babi, terutama yang beragama non-Muslim, ada 3 menu babi yang wajib Anda coba: Piong Babi, Sate Babi, dan Nyuk Nyang Babi.



Bagi Anda yang haram mengkonsumsi babi ada banyak pilihan menu disana. Di daerah Rantepao dan Makale ada banyak yang berjualan Coto, Konro, dan Sop Saudara. Penjualnya rata-rata pendatang dari Makassar. Ada juga penjual Warung Muslim, baik di Rantepao ataupun di Makale. Di Rantepao ada sebuah warung Muslim dengan menu bakso, mie ayam, penyetan, gado-gado, dan nasi campur dengan harga RP 21.000,00 sekali makan termasuk minum. Penjualnya perantau dari Solo, Jawa Tengah. Di Rantepao juga ada warung makan padang. Di Makale, jika sore, tersedia Sate dan Soto Madura di dekat tempat nongkrong tepi danau. Harganya cukup terjangkau, Rp 18.000,00 untuk seporsi sate/ soto plus nasi. Atau jika masih bingung, makan saja di tempat nongkrong sore di samping danau tengah kota Makale. Tersedia banyak menu halal disana, sembari nongkrong cantik sore-sore melihat orang-orang Toraja lari sore. Weits, orang Toraja cantik-cantik dan ngganteng-ngganteng lho.

Oleh-oleh khas apa yang pantas dibawa?

Toraja adalah daerah yang unik dengan keragaman kuliner. Anda bisa membawa pulang makanan-makanan kering khas Toraja, misal Kue Tori yang memang sangat khas Toraja dan tidak mudah basi. Atau bisa juga membeli kain dan pahatan khas Toraja yang banyak dijual di Pasar Makale.
Satu lagi yang sangat terkenal adalah kopi Toraja. Ada satu toko kopi yang boleh direkomendasikan untuk kopinya. Yaitu Warung Kopi Toraja.


Selama di Toraja naik apa?

Jika kantong Anda cekak, secekak apapun, kurang disarankan naik angkutan umum semacam angkot dan lain sebagainya. Selain tidak luwes, jumlahnya pun sangat minim. Mending sewa sepeda motor saja, toh jatuhnya juga hampir sama dengan naik angkutan umum. Jika Anda berombongan cukup banyak, bisa juga sewa mobil. Biaya per hari all in yang wajar di Toraja adalah antara Rp 400-500 ribu untuk 12 jam++.  Biaya tersebut sudah termasuk driver dan bensin, dan Anda akan dijemput dan diantar dari dan ke hotel tempat menginap. Jika Anda memaksakan naik angkutan umum, maka harus siap fisik yang kuat, karena beberapa objek harus berjalan cukup jauh dari jalan utama.

Bagaimana cara menuju Toraja?

Untuk menuju Toraja, Anda harus menuju kota terbesar dan terdekat, yaitu Makassar. Ada sangat banyak sekali penerbangan dari dan ke Makassar. Garuda Indonesia saja melayani 3x penerbangan sehari dari Surabaya-Makassar PP dan 2x sehari penerbangan Jogjakarta-Makassar. Lion Air malah sekitar 7 kali Surabaya-Makassar PP. Tentu sangat mudah menuju Makassar.

Dari Makassar, ada 4 pilihan: naik mobil plat kuning, charter mobil, naik bus, atau naik pesawat.

Penerbangan dari Makassar ke Toraja dilayani 2 kali seminggu, kalau tidak salah sekitar hari selasa dan Jumat dan dilayani oleh pesawat dari maskapai SMAC dengan kapasitas 20 kursi. Perjalanan sekitar 55 menit dari Bandara Hasanuddin ke Bandara Pongtiku di Tana Toraja.

Jika memilih menggunakan mobil plat kuning, maka Anda harus oper-oper. Anda harus naik bis transfer DAMRI keluar bandara. Dari luar bandara, disitulah jalan poros Makassar-Maros. Disitu Anda mulai naik mobil plat kuning ke Pare-Pare. Biasanya Anda akan ditawari untuk langsung ke Toraja dengan tarif tertentu. Jika Anda tidak cocok harganya, Anda bisa pindah di Pare-Pare mencari mobil plat kuning Pare-Pare-Makale. Dari Makale, jika Anda ingin menginap di Rantepao, Anda harus naik mobil plat kuning Makale-Rantepao lagi. Untk masalah harga, bisa jauh lebih murah dengan cara sambung-sambung demikian. Mungkin sekitar Rp 120.000,00 sudah bisa sampai Rantepao. Tetapi masalah efisiensi waktu tidak masuk sama sekali.

Jika memilih charter, ada banyak pilihan charter mobil di Bandara. Mulai dari Avanza sampai Innova ada semua. Untuk biaya charter sekitar Rp 1,2-1,8 juta per mobil tergantung jenis mobil dan kemampuan menawar. Sebaiknya melalu chater resmi yang ada di bandara. Atau jika ragu, bisa menggunakan jasa sewa mobil swasta, seperti TRAC Astra.
 Bis-bis Makassar-Toraja bagus-bagus dan berangkat sehari 2 kali

Atau misalkan Anda ingin biaya yang lebih murah lagi, Anda bisa memanfaatkan jasa bis. Bis tersedia dari margin harga Rp 100.000-210.000, tergantung kelas dan fasilitas. Jika ingin yang paling murah, bisa memakai jasa PO Batutumonga atau PO Litha&Co ekonomi class dengan tarif Rp 100.000-120.000,00. Bis tersebut biasanya berangkat agak sore, sekitar pukul 19.00 dan pagi sekitar pukul 07.00. Meskipun ekonomi, tetapi seatnya tetap 2-2. Jika Anda sedikit berduit, maka naiklah bis-bis Mercedes-Benz non air suspension dengan harga rata-rata RP 150.000-170.000 tergantung POnya. Atau jika lebih berduit lagi dan ingin kecepatan dan kenyamanan, naiklah VIP Class 32 seat Air Suspension dengan harga tiket Rp 170.000, Eksekutif Class 28 Seat dengan harga Rp 190.000,00, atau Super Eksekutif dengan seat electric dengan harga Rp 210.000. Khusus untuk seat electric, hanya PO Primadona dan Manggala Trans saja yang memiliki. PO-PO yang melayani jalur tersebut adalah PO Bintang Prima, PO Bintang Timur, PO Setuju, Litha&Co, Manggala Trans dan Metro Permai (Satu grup), PO Alam Indah, PO Primadona, PO Batutumonga. Armada yang tersedia Mercedes-Benz OH1525, OH1521, OH1526, OH1626, OH1830, OH1836, Scania K124iB, Scania K380iB, Scania K310iB, dan Scania K360iB. Tentu masing-masing jenis mesin dan kelas ada harganya tersendiri. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya. Tetapi, jangan khawatir. Khusus kelas VIP keatas, kursinya tebal dan empuk kok. Dijamin nyaman.

Dengan budget Rp 2 juta saja sudah bisa kok hidup 3 hari di Toraja termasuk transport Makassar-Toraja dengan bis. Tunggu apa lagi untuk kesana? Visit Toraja 2015!

Tanjung Bira: Si Putih dari Selatan Celebes

Tanjung Bira adalah sebuah daerah yang berada di ‘kaki’ sebelah selatan dari Pulau Sulawesi. Tanjung Bira masuk dalam wilayah Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan. Tanjung Bira menjadi terkenal karena 4 hal: Pelabuhan Penyeberangan Bira yang melayani rute Bira-Selayar (dan akan segera melayani rute lainnya), pusat pembuatan kapal pinisi, pantai yang pasirnya putih dan lembut selembut tepung terigu, dan alam bawah laut yang teramat sangat indah.

Apa saja yang ada di Tanjung Bira?

Pantai Tanjung Bira

Pantai Tanjung Bira sendiri adalah sebuah pantai yang menghadap ke arah barat, sehingga menjadi pantai yang sangat ideal untuk menyaksikan sunset yang eksotis, jika Anda sedang beruntung dan cuaca tidak sedang mendung.



Pantai Tanjung Bira ini juga sangat unik, terdapat di sebuah cekungan, terdapat perbedaan jarak sekitar 4-5 meter dengan daratan di sekitarnya. Hal ini mengakibatkan Pantai Tanjung Bira berbataskan tebing batu padas. Di sekitar pantainya terdiri dari pasir berwarna putih yang lembut. Jika dalam kondisi kering, bentuknya nyaris mirip dengan tepung terigu. Namun, ketika pasir yang putih tersebut digali lali, akan muncul pasir yang cukup kasar, bulirnya seukuran ketumbar, disertai dengan batu-batu karang.

Selain pasirnya yang lembut dan khas, air laut juga akan terlihat gradasi dari anjungan pemandangan yang disediakan pihak pantai. Air laut terlihat 3 gradasi. Yang paling dekat dengan pantai berwarna jernih, agak ke tengah berwarna biru muda, dan semakin ke tengah berwarna biru tua. Jika musimnya pas, pemandangan bagus ini akan terlihat dengan mudah.

Kalau tidak puas hanya dengan melihat saja, Anda bisa melakukan aktivitas air lainnya, seperti snorkelling, banana boat, atau diving. Itu semua dapat dilakukan jika musimnya baik. Peralatan snorkelling dapat disewa di lapak-lapak yang berjajar rapi di tepi pantai.

Suku Kajang

Selain melihat pantai, di daerah Tanjung Bira juga terdapat masyarakat suku Kajang. Kemungkinan lokasinya adalah di daerah bukit timur dan barat (tanjung bira memiliki dua buah bukit di timur dan barat). Lokasinya pun sedikit masuk ke dalam. Jika ingin menuju kesana, saya sarankan dengan petunjuk masyarakat lokal Tanjung Bira agar tidak tersesat.

Pantai Bara

Pantai ini berlokasi sedikit lebih utara dari Pantai Bira, lebih kurang posisinya masih sejajar dengan Pantai Bira. Namanya hampir sama, tentu karakteristiknya hampir sama. Hanya bedanya jika Pantai Bara ini memiliki dataran yang lebih luas lagi dan tidak dikelilingi oleh tebing seperti Pantai Bira.
Lokasinya sedikit masuk jauh dari Pantai Bira. Jalur yang ditempuh bisa melalui jalur menuju Rumah Makan Kapal, kemudian sebelum jalur masuk rumah makan, belok kanan, kemudian ikuti jalur yang menyusur tepi pantai sampai jalur menikung ke kanan dan naik. Setelah tanjakan, ada pertigaan. Jika ke kanan adalah kompleks bar, maka belok ke kiri masuk ke hutan-hutan. Dari situ sekitar 20 menit berkendara dengan sepeda motor. Hutan-hutannya masih sangat asri, seperti belum terjamah manusia. Terbukti ketika kesana ditemukan seekor lutung sedang lompat dari satu pohon ke pohon lain.

Proses Pembuatan Kapal Pinisi

Lokasinya tidak berada satu kompleks dengan Pantai Tanjung Bira, tetapi berada di Pantai Timur Bira. Sejajar dengan Pelabuhan Bira. Jika melewati Jalan Poros Bulukumba-Bira, maka kapal pinisi akan terlihat di sisi kiri jalan, di bawah tebing terjal.



Kapal Pinisi adalah sebuah kapal legendaris asli Indonesia yang dibuat oleh Masyarakat Suku Bugis. Kapal Pinisi diperkirakan telah ada sejak tahun 1500an. Sebenarnya, nama Pinisi merujuk pada jenis layar yang khas.
Fajar Menyingsing dari lokasi pembuatan Kapal Pinisi

Pembuatan kapal pinisi sendiri dasarnya dipenuhi dengan ritual adat, sama seperti pesta kematian di Tana Toraja. Menjadi keberuntungan tersendiri jika pengunjung yang datang melihat proses upacara adat pembuatan pinisi. Biasanya pinisi mulai dibuat pada tanggal 5 atau 7 setiap bulannya, jika ada pesanan.

Seminimalnya, ketika berkunjung ke tempat pembuatan Pinisi, ada kapal yang sedang dibangun, ada juga yang sudah jadi dan siap berlayar.

Kapal Pinisi ini dibuat dengan menggunakan kayu yang khusus, dipotong sesuai dengan arah serat agar kekuatannya baik, kemudian direndam dalam air laut kemudian dikeringkan sebelum nanti dirangkai menjadi sebuah bentuk kapal utuh. Masing-masing kayu di badan kapal dirangkai dengan menggunakan baut besar.

Selain mengamati proses pembuatan Kapal Pinisi, Anda juga bisa menyaksikan sunrise yang sangat eksotis dari dari tempat ini. Sunrise berlatar belakang kapal pinisi dan matahari baru terbit merupakan pengalaman tak terlupakan. Hal ini karena tempat pembuatan kapal pinisi menghadap ke timur.

Pelabuhan Tanjung Bira

Pelabuhan ini menjadi tempat penyeberangan menuju ke Kepulauan Selayar yang juga tidak kalah indahnya. Penyeberangan Selayar-Bira dilayani oleh dua kapal, yaitu KM Bontobaharu dan KM Sangke Palangga. Dari pelabuhan ini, selain melihat sunrise, Anda juga bisa berjalan ke dermaga dan melihat ikan-ikan kecil berenang di sekitar dermaga karena airnya sangat jernih.

Diving dan Snorkelling

Selain semua kegiatan di atas. Anda juga bisa melakukan diving dan snorkelling di pulau-pulau sekitar Pantai Bira. Tentu Anda harus menyewa kapal, dan kegiatan ini tidak tersedia ketika angin besar dan ombak tinggi. Untuk sewa kapal perlu biaya sekitar Rp 200-300 ribu per kapal, ada yang sudah termasuk peralatan snorkelling, ada juga yang masih harus sewa. Pintar-pintar nego saja. Jika ingin diving, ada 2 diving camp yang bisa digunakan. 1 diving camp milik warga lokal, 1 diving camp milik orang Jerman. Kedua-duanya memiliki syarat dan biaya yang hampir sama. Untuk bisa melakukan free dive langsung, Anda diharuskan mempunyai sertifikat diving. Terakhir info yang didapatkan, untuk membuat sertifikat di Karimunjawa habis sekitar Rp 1,8 juta untuk satu orangnya. Biaya untuk diving di Bira sekitar Rp 200.000-350.000, semua sudah all in.

Objek yang sangat menarik adalah di sekitar Pulau Loe Kang dan Pulau Kambing. Dari kedua tempat itu, jika beruntung bisa melihat penyu-penyu berukuran besar sedang berenang dan ikan-ikan hiu yang juga berenang bersama. Karang-karangnya juga sangat bagus. Tetapi memang tetap perlu keahlian agar karang tidak terinjak, sehingga tidak rusak.

Bagaimana Transportasi Menuju Kesana?

Tanjung Bira berlokasi sekitar 200 km dari Kota Makassar ke arah selatan, melewati Kabupaten Gowa, Kabupaten Takalar, Kabupaten Jeneponto, Kabupaten Bantaeng, dan Kabupaten Bulukumba. Ada banyak pilihan transportasi menuju ke Tanjung Bira: Naik bis, naik mobil plat kuning, atau naik travel. Tentu pilihan paling utama adalah naik kendaraan pribadi karena lebih luwes.

Jika ingin naik bis, Anda harus menuju terminal Mallengkeri yang melayani pemberangkatan bis dan mobil plat kuning tujuan Bulukumba-Bira-Selayar. Untuk bis, tersedia bis AC dengan mesin semuanya Mercedes-Benz dengan konfigurasi kursi 2-2 dengan total jumlah kursi sekitar 50 kursi setiap bisnya. Biayanya sekitar Rp 70.000-Rp 100.000 sekali berangkat dan nanti akan diturunkan di Pelabuhan Tanjung Bira, kemudian dilanjutkan dengan jalan kaki 1 km ke arah pantai (di Tanjung Bira ini kabarnya tidak ada ojek, jika mau, ya hitchhike saja dengan warga sekitar). Bis-bis tersebut berangkat sekitar pukul 09.00 jika penyeberangan Bira-Selayar berjalan normal. Tetapi jika penyeberangan tidak berjalan normal, bis bisa jadi baru berangkat pukul 10.00 atau pukul 11.00. Waktu tempuh dengan menggunakan bis sekitar 5-6 jam. Jika kapal tepat waktu, maka waktu tempuh kadang bisa lebih cepat dari 5 jam karena bis mengejar jadwal kapal.
 Bis-bis AC tujuan Makassar-Bira-Selayar

Jika ingin naik mobil plat kuning, mobil ini tersedia 24 jam di Terminal Mallengkeri. Jenisnya macam-macam, mulai dari Carry, Kijang LGX, Xenia, Avanza, APV, sampai Kijang Innova. Anda bisa memilih sendiri. Biayanya sekitar Rp 80.000-105.000 sampai depan penginapan di Tanjung Bira. Tinggal kemampuan untuk menawar saja yang diperlukan. Waktu tempuhnya hampir sama dengan naik bis, sekitar 5-6 jam, kadang bisa lebih cepat atau lebih lama. Jika mobil langsung penuh, biasanya waktu tempuh bisa lebih cepat. Kelemahannya adalah kalau naik mobil harus menunggu mobil sampai penuh baru mobil berangkat. Kadang juga ngompreng di jalanan, ini yang bikin lama.

Jika naik travel, ada 1 travel yang melayani rute Makassar-Bira. Lokasi kantornya di Makassar ada di Jl Veteran, namanya Travel BMA. Tarifnya sekitar Rp 100.000 dengan waktu tempuh 4-5 jam.

Dari Tanjung Bira kembali ke Makassar, Anda bisa memilih menggunakan mobil plat kuning atau bis. Jika Anda ingin keberangkatan yang fleksibel, Anda bisa menggunakan mobil plat kuning. Tinggal minta ke pegawai hotel saja untuk memanggilkan mobil (biasanya pagi dan malam, pagi pukul 06.00 dan pukul 09.00, malam pukul 18.00 dan pukul 21.00). Jika ingin berangkat siang, biasanya pihak hotel menyarankan naik bis saja dari pelabuhan Bira. Bis tiba di Bira dari Selayar sekitar pukul 14.00-16.00. Kalau ada perubahan jadwal, kadang bis sudah tiba di Bira pukul 09.00-10.00. Perlu update jadwal tiap hari, syukur-syukur punya nomer drivernya.

Menginap Dimana?

Ada banyak sekali pilihan Guest House, Hotel, dan Resort disana. Mau yang harga Rp 120.000-Rp 1.000.000 per malam, semuanya ada. Jika ingin yang murah dan cukup direkomendasikan, ada Guest House Sunshine dan Salassa. Kalau saya pribadi menyarankan Guest House Salassa karena lokasinya di tepi jalan utama Tanjung Bira. Tarifnya pun murah, Rp 120.000 termasuk breakfast. Kamarnya bersih, tidak ada nyamuk, kamar mandinya juga bersih sekali.

Disana Menjelajah Pakai Apa?

Jika Anda hanya ingin snorkelling atau diving disana, saya sarankan tidak perlu sewa motor atau mobil, karena jarak penginapan dan pantai sangat dekat sekali, 5 menit saja jalan kaki. Jika ingin menjelajah sampai kemana-mana, saya sarankan sewa sepeda motor saja. Biasanya, sewa motor sekitar Rp 70.000 per 24 jam tidak termasuk bensin. Tinggal minta tolong dengan resepsionis hotel. Biasanya masing-masing hotel punya persewaan motor dalam jumlah terbatas. Harga bensin di Tanjung Bira sekitar Rp 9.000 per liter. Untuk putar-putar selama 24 jam sampai puas, lebih kurang perlu 2-3 liter, tergantung jenis motornya.


Tanjung Bira menjadi sebuah tempat yang menarik, terutama bagi penyuka pantai dan alam bawah laut. Segera siapkan tiket dan barang-barang Anda, bersegeralah berangkat ke Bira sebelum terlambat.

Fort Rotterdam

Fort dalam bahasa Inggris memiliki arti ‘benteng’. Lantas, apa bedanya Fort Rotterdam dengan Benteng Pendem, Benteng Van Der Wijck, dan Benteng Vredeburg? Jawabannya adalah hampir sama, semuanya berfungsi sebagai basis pertahanan Belanda pada masa penjajahan.


Fort Rotterdam ini lokasinya persis di tepi laut, tetapi saat ini dibatasi oleh jalan utama. Tiket masuknya sukarela, tidak seperti di Vredeburg yang saat ini ditarik tiket. Spot utamanya adalah benteng dari batu gunung yang masih berdiri gagah mengharap ke timur, meskipun sebagian kecil bagiannya sudah mulai bocel-bocel termakan usia. Selain itu, tulisan Fort Rotterdam di bagian depan juga menjadi spot menarik untuk berfoto ria.

Jika sore menjelang, terutama hari Minggu, Fort Rotterdam ini akan dipadati oleh pengunjung yang ingin menghabiskan sore. Selain Losari, Fort Rotterdam menjadi tempat yang favorit juga.

Yang sangat disayangkan adalah penjelasan mengenai benda-benda arkeologi di Fort Rotterdam ini sangat minim. Beda jauh ketika kita berkunjung ke Vredeburg, akan ada jalur yang dibuat tersendiri untuk masuk ke ruang diorama dan melihat penjelasan demi penjelasan. Di Fort Rotterdam, kurang ditemukan adanya informasi-informasi dan petunjuk yang mengarah kesana.


Selain melihat museum, Anda bisa juga menawar kapal untuk berkunjung ke Pulau Khayangan dan Pulau Samalona yang sangat indah. Kapal dapat ditawar dari depan benteng dengan harga yang variatif.

Sajian Khas Nusantara di Coto Nusantara

Seribu jalan menuju coto. Seribu jalan, berarti ada seribu coto juga. Atau cotonya seharga seribu rupiah? Halah!

Ada banyak sekali penjual Coto di Makassar. Bertolak belakang dengan Madura. Di Madura, hanya ada satu atau dua penjual sate, paling-paling ya Cuma di Sentra Jajan Kota Pamekasan yang terkenal dengan Sate Lalatnya saja. Lah, di Makassar penjual Coto bertebaran. Apasih coto itu? Coto padahal kalau di bahasa Jawa artinya cilaka -,,-

Mungkin, Coto artinya hampir sama dengan Soto jika di Jawa, sama seperti dengan Sroto jika di Banyumas, Jawa Tengah. Atau mungkin sama dengan Saoto jika di Tegal. Ibaratnya, Coto ini adalah sotonya Makassar.

Isinya? Hmmm, tidak ada padanannya karena berbeda sama sekali. Coto Makassar ini berisi daging dan jerohan sapi, sejenis usus, babat, limpa, ginjal, hati, otak, lidah. Tinggal seleranya yang makan saja, mau pilih campur, daging saja, atau jerohan saja. Kuahnya berwarna coklat gelap, tidak terlalu kental juga tidak terlalu encer, dan sepertinya ada sedikit santan dan rempah-rempahnya. Citarasa yang ditimbulkan adalah asin segar. Lebih mantab daripada makan soto biasa.

Coto Makassar yang paling enak dimana? Di Daeng Kulle Surabaya, atau kalau nggak di Aroma Makassar Jl Perak Timur sih. Itu kalau di Surabaya. Kalau di Makassar, ya tetap Coto Nusantara yang menjadi Coto of Choice. Dari namanya saja sudah kelihatan, lokasinya pasti di Jl Nusantara, depan terminal Peti Kemas. Tetapi warungnya kecil, kalau mau yang agak besar ya yang di Jl Merpati, belakangnya Bank Sulselbar Jl Ratulangi. Warungnya lebih besar dan terintegrasi dengan warung juice dan warung buah.
Semangkok Coto Campur Jl Nusantara

Masalah harga? Terjangkau. Per porsi Coto Makassar Rp 18.000,00. Ketupatnya juga murah sekali hanya Rp 1000,00 saja, tidak seperti di Surabaya yang dijual Rp 2000,00. Mengenai rasa, sudahlah tidak perlu dicari-cari kesalahannya. Otentik sekali. Lokasinya juga bagus, bisa ditempuh dengan pete-pete.


Belum ke Makassar lho kalau belum makan Coto.

Tambah Kolesterol di Konro Karebosi

Pernah makan iga goreng atau bakar? Sejenis Leko, Teko, atau mungkin Iga Bakar Jl Kaliurang jika Anda berada di Jogja? Konro, adalah makanan sejenis karena terbuat dari iga sapi. Konro sendiri diartikan sebagai iga sapi. Makassar punya cara tersendiri dalam menyajikannya.




Jika Anda sudah mendarat di Makassar, kemudian bertanya Konro mana yang terkenal lezat dan mantab? Mungkin hampir semua orang jawabannya sama, Konro Karebosi. Konro Karebosi ini spesial menunya adalah Sup Konro dan Konro Bakar. Saking terkenalnya, kabarnya Konro Karebosi ini sampai membuka cabang di Jakarta. Di Makassar, Konro Karebosi ini berlokasi di Jl Gunung Lompobattang No. 41, 500 meter dari Lapangan Karebosi. Dulu awalnya warung ini berada di Lapangan Karebosi. Tetapi, seiring berjalannya waktu berpindah sampai menempati lokasi permanen di tempat saat ini.

Sup Konronya dibuat dengan kuah kaldu yang cukup kental, tapi masih jauh kental Sop Sumsum Tulang Al-Ghazali Sampang Madura. Daging konronya sangat empuk sekali, bahkan sampai tulang-tulang rawannya bisa dimakan tanpa kesulitan. Bumbu rempah-rempahnya meresap cukup dalam ke dalam daging konro. Citarasa dari Sup Konro ini adalah asin, dengan sedikit sekali sentuhan manis. Jika Anda orang normal, satu porsi Sup Konro bisa dipakai berdua. Tetapi, kurang mantab jika hanya makan separuh.
Seporsi Sup Konro

Konro Bakarnya punya citarasa yang berbeda sekali. Jika Sup Konro asin, maka Konro Bakar lebih cenderung ke arah manis. Secara kuantitas, Konro Bakar lebih sedikit daripada Sup Konro. Dagingnya pun jauh lebih lunak Sup Konro. Tapi, sama sekali tidak mengurangi citarasanya. Disajikan dengan saus kacang, seperti Sate Madura. Dimakan bersama nasi, menghasilkan cita rasa yang sangat lezat.
Seporsi Konro Bakar


Jika membeli, kemudian melihat porsinya sepertinya sangat banyak, jangan terteror dulu karena bisa jadi tulang iga membuat porsinya ‘seolah-olah’ banyak, walaupun aslinya dagingnya juga banyak. Masalah harga? Hampir sama dengan di Jawa. Seporsi Konro Bakar dijual seharga Rp 39.000,00 dan seporsi Sup Konro seharga Rp 35.000,00. Jika ingin sensasi lebih, belilah Sup Konro. Meskipun kolesterol naik sedikit, tetapi dijamin puas!

Pisang Epe dan Losari: Sejoli yang Tak Terpisahkan

“Mas, belum ke Losari kalau belum makan pisang epe’. Jangan bilang pernah ke Losari kalau belum makan pisang epe’.”

Pisang Epe dan Pantai Losari bagaikan sejoli yang tak dapat dipisahkan. Begitu juga ibarat Coto dan Konro yang tidak dapat dipisahkan dari Makassar. Pisang Epe seolah menjadi pelengkap yang sempurna ketika mengunjungi Pantai Losari.

Pantai Losari adalah salah satu obyek wisata pantai yang ada di Makassar, selain Pantai Tanjung Bunga yang dikenal sebagai Pantai Akkarena. Pantai Losari menjadi ciri khas tersendiri bagi Makassar karena menjadi tempat berkegiatan bagi seluruh warga Makassar, baik pada pagi maupun sore hari. Mulai dari hanya bersantai, jogging di Losari, bermain sepeda, bahkan hingga berlatih menggambar dalam kanvas di ruang seni yang ada di kompleks Losari. Selain tersedia ruang seni bagi seniman Makassar untuk mengekspresikan karyanya, ada juga Masjid Apung, masjid khas yang ada di kompleks Pantai Losari yang bangunannya berada di atas laut.

Pantai Losari ini bukanlah pantai yang bisa digunakan untuk berenang santai, karena pantai ini sama sekali tidak punya pasir. Bentuknya hanya anjungan dengan bagian lautnya yang dalam, tanpa ada pelandaian dari pasir ke laut. Pantai Losari ini menghadap ke barat. Maka, Pantai Losari menjadi sebuah tempat yang sangat cocok untuk melihat terbenamnya matahari. Pantai Losari tidak bisa dijadikan sebagai tempat melihat sunrise, sampai mesin cuci bicara juga tidak bisa karena Pantai Losari menghadap ke barat. Aktivitas lain selain nonton sunset adalah bermain becak air (bebek-bebekan) yang banyak terdapat di Pantai Losari.

Pantai Losari ini lokasinya sejajar dengan pantai di depan Fort Rotterdam dan juga Pelabuhan Makassar. Maka tidak jarang jika kadang-kadang kita melihat kapal nelayan lalu lalang di kejauhan, atau kapal-kapal besar pengangkut barang berlayar di hadapan kita.

Saat hari beranjak malam, lapak-lapak pisang epe mulai didirikan di sepanjang Hotel Aryaduta hingga memanjang terus di depan kompleks Pantai Losari. Dahulunya yang mangkal di sepanjang Pantai Losari ini tidak hanya pedagang pisang epe saja, tetapi ada juga penjual coto, konro, bahkan bakso. Tetapi, karena orang ke Losari pasti cari pisang epe, akhirnya semuanya diseragamkan menjadi penjual pisang epe.
Pisang Epe' tepi pantai

Apa itu pisang epe? Pisang epe adalah pisang setengah matang (tidak matang kuning) yang dibakar di atas bara arang sampai agak gosong, kemudian dipenyet dengan alat. Nama lainnya pisang penyet, tapi karena istilah penyet sudah dipakai orang Jawa Timur, maka digunakanlah istlah epe’. Setelah pisang dipenyet, pisang disajikan di dalam piring yang telah diberikan gula jawa cair bercampur susu coklat. Bagian atas pisang kemudian dilumuri susu kental manis putih, atau keju tergantung dari pesanan. Tersedia berbagai macam rasa, mulai dari original, coklat, strawberry, keju, keju coklat, sampai rasa durian pun ada.

Dari sekian banyak penjual pisang epe, mana yang enak? Rata-rata hampir semuanya enak sih. Cara memilihnya, cari saja pedagang yang menyediakan pisang banyak-banyak. Biasanya yang sedia pisangnya banyak, tentu warungnya laris.

Tapi, kalau Anda tanya ke orang Makassar, pisang epe mana yang enak, semua jawabannya pasti seragam: Pisang Epe Mandiri. Tentu maksudnya bukan pisang epe di depan ATM Mandiri di RS Stella Maris, tetapi Pisang Epe Tamallanjua’ atau yang punya nama lain Mandiri. Lokasinya ada di depan Bank BNI. Lokasinya agak masuk sedikit, dari KFC Losari ke arah utara sedikit, kemudian ada gang ke timur. Warungnya sangat ramai, tetapi kalau beli biasanya jarang sampai menunggu lama. Pelayanannya cepat, untuk rasa keju, kejunya melimpah dan rasanya juga enak. Pisangnya kematangannya pas, tidak terlau mentah sehingga rasanya tidak kecut. Masalah harga? Semua pisang Epe di Losari pasang harga yang sama kok. Sehingga persaingannya sehat.


Tidak ke Losari kalau tidak makan pisang Epe.

Menunggu Pagi di Nasi Kuning Riburane

Rembulan baru saja menghilang, sementara mungkin mentari kadang masih malas muncul berselimutkan awan. Pukul 06.00, sudut Jl Riburane, depan RRI Makassar tampak sudah mulai ramai. Orang-orang berdiri, mobil-mobil mulai banyak terparkir. Ada apakah gerangan? Akan ada demonstrasi besar-besaran kah?

Rupanya di tempat tersebut, pukul 06.00 hingga habis, terbuka untuk umum Warung Nasi Kuning Riburane yang terkenal di masyarakat Makassar dan sekitarnya. Meskipun nasi kuning yang dijual di Makassar, tapi ternyata nasi kuningnya adalah nasi kuning Jawa Timur. Bedanya apaan dengan nasi kuning Jawa Timur pada umumnya? Ya, jelas beda sekali.

Nasi kuning Riburane ini menjadi nasi kuning yang tersohor, tentu bukan tanpa alasan. Nasi kuning yang jauh dari kesan nasi kuning di Jawa pada umumnya. Jika biasanya nasi kuning di Jawa hanya berisi irisan telur dadar, sedikit abon, kering kentang, dan kadang sedikit mie dan sambel lombok merah. Kadang ada sedikit irisan timun. Beda dengan nasi kuning Riburane ini, Makassar banget, isinya daging semua.

Ada dua jenis nasi kuning, yaitu biasa atau mini, dan ukuran jumbo yang biasa disebut ukuran kuli karena ukurannya dua kali porsi biasa. Isinya? Ada telor pindang, daging sapi bumbu bali, empal sapi, paru goreng yang renyah, mie goreng, sedikit abon sapi gepuk, sedikit irisan telor dadar, kering ubi, dan sambal yang rasanya menggelegar dan bikin mules. Setiap makan di tempat, mendapatkan free segelas teh tawar panas.


Harganya? Untuk makan di Makassar, terhitung murah. Untuk seporsi nasi kuning jumbo dan teh manis panas, dikenai biaya sekitar Rp 18.000,00. Cukup murah untuk biaya makan di Makassar yang selalu tembus Rp 20.000 untuk sekali makan. Tertarik mencoba nasi kuning yang tidak itu-itu aja?

Warung Kopi Toraja: Sensasi Kopi Asli Awan dan Sapan

“Kalau ke Toraja, jangan lupa beli kopi. Enak sekali kopi Toraja. Sayang disini mahal.”

Toraja, selain terkenal dengan mistisnya, juga terkenal karena kopinya yang sangat enak. Aromanya yang menyengat, tapi sifatnya yang soft. Tidak sembarang kopi yang dijual di pasar adalah kopi asli Toraja. Kadang ada kopi yang dicampur dengan kopi bubuk jadi yang dijual di pasaran.

Ada satu warung yang cukup direkomendasikan: Warung Kopi Toraja yang terletak di tepi Jalan Poros Makale-Rantepao, persis di depan parkiran bis PO Primadona dan PO Setuju. Warungnya kecil, tetapi kopinya yahud.

Penjual kopi Toraja di warung ini adalah seorang bapak-bapak paruh baya yang bekerja di sebuah lembaga lingkungan hidup. Beliau akan dengan senang hati menjelaskan setiap pertanyaan tamu tentang kopi Toraja. Dan sebelum memilih kopi, diperkenankan untuk memilih dan mencicipi dahulu kopi yang akan dibawa pulang, supaya tidak salah pilih.


Secara umum, ada 2 jenis kopi yang dijual di warung ini: Kopi Arabica dan Kopi Robusta. Kopi Arabica sifatnya lebih rendah kafein, tetapi tinggi asam. Sedangkan kopi Robusta tinggi kafein. Dari jenis tersebut, kopi yang dijual terbagi lagi berdasarkan lokasi dan bentuk bijih. Untuk bijih kopi biasa (tidak utuh), tersedia dari daerah Sapan dan Awan. Kedua daerah tersebut adalah daerah penghasil kopi yang dahsyat di Toraja. Tersedia juga kopi lanang atau Peaberry, yaitu kopi yang dibuat dari bijih kopi yang masih utuh, tidak terbelah dua. Uniknya, kabarnya, semua kopi yang dijual di warung ini adalah kopi organik.
 Kopi yang dijual masih dalam bentuk bijih

Sebungkus Kopi Robusta dan Arabica Sapan 200 gram

Semua kopi yang dijual di warung ini tersedia masih dalam bentuk bijih kopi yang telah disangrai. Waktu menyangranya pun, kata bapak penjual, sekitar tengah malam. Sehingga suara kopi yang sudah matang akan terdengar dengan jelas. Tingkat kematangannya pun tidak berlebihan, sehingga rasanya tidak terlalu pahit, dan aromanya tetap keluar.
Beli, langsung giling saat itu juga


Mengenai harga? Tidak terlalu mahal. Untuk kopi Robusta awan dan sapan per 200 gram dihargai Rp 20.000 saja. Kopi Arabica Awan dan Sapan per 200 gram dihargai Rp 75.000. Sedangkan untuk kopi lanang dihargai Rp 125.000 per 200 gram. Berat 200 gram adalah berat penimbangan bijih kopi. Saat digiling, kadang beratnya akan bertambah, tetapi harganya dihitung tetap. Jadi, pilih kopinya, nikmati kopinya, giling kopinya, bawa pulang kopinya.

Nyok Kita Makan Nyuk Nyang Babi

Nyuk Nyang. Namanya lucu sekali.

“Mas, Nyuk Nyang itu apa?” Tanya saya kepada Mas Charles dengan polosnya.
“Oh, itu bakso...”

Oh, bakso...Namanya kalau disini Nyuk Nyang. Yak, tentu saja Nyuk Nyang babi. Sangat jarang ada Nyuk Nyang sapi disini. Pun ada, mohon maaf, saya sedikit banyak kurang yakin itu sapi murni.
Seporsi Nyuk Nyang cabang Alang-Alang. Di plastik masih ada 2 pentol

Apa beda Bakso Babi Toraja dengan Bakso Babi Wonokromo, bakso babi Bethesda, maupun Bakso Babi Timoho? Woooo.....beda bianget nget nget. Bakso babi di Jawa lebih mengandalkan kaldu babi yang kental dan rasanya yang menyengat lidah, hidung, mulut, dan pikiran. Kadang disertai jerohan babi juga. Tapi, bakso babi di Toraja ini berbeda. Konsentrasinya lebih pada daging bakso yang lembut dan mengandung banyak daging babi.

Berbeda jenis babinya juga akan beda rasanya. Babi hitam memiliki tekstur yang lebih kenyal, tetapi aroma kaldunya lebih rendah daripada babi putih/pink.

Seporsi Nyuk Nyang Babi berisikan lebih kurang 7 butir bakso, seporsi mie kuning, dan 2 potong bakwan goreng/pangsit. Nyuk nyang paling recommended mana? Jika banyak orang Toraja bilang, pasti Nyuk Nyang Cabang Alang-Alang sudah pasti enak. Tapi, ada satu warung yang kata Mas Charles benar-benar enak dan waktu itu belum sempat mampir. Mungkin lain waktu lah.


Masalah harga? Rp 27.000,00 per mangkok, dijamin Anda kenyang dan puas. Selisih Rp 5.000 lah dengan bakso babi di Jawa. Selamat mencoba dan selamat bergoyang lidah!

Piong Babi dan Sate Babi Setia Kawan

Warung Setia Kawan. Namanya sangat Jawa sekali. Tetapi, ternyata yang jual adalah orang asli Toraja, menu yang dijual adalah menu asli Toraja.
Menu di warung Setia Kawan

Ketika mampir disana, apakah menu yang layak dicoba? Jawabannya adalah Piong Babi. Karena Piong adalah olahan khas Toraja. Sebenarnya ada Piong yang enak, yaitu di belakang pasar Makale. Namun, kalau terlalu sore, jalan selalu dibuntu, terutama jika pasar sedang rame.


 Daun-daunan yang disertakan dalam piong. Rasanya sedap, mirip daun singkong

Apa itu piong? Piong adalah cara memasak khas Toraja. Yaitu dengan cara memasukkan daging (baik babi, ikan, atau ayam) yang telah dibumbu hitam dicampur dengan daun-daun tertentu, dibungkus dengan daun pisang, dan dimasukkan ke dalam bumbung bambu. Bumbung bambu tersebut kemudian dibakar dan dibolak-balik sampai daging di dalamnya matang.
Piong Babi (warna hitam) dan Sate Babi duduk berdampingan dalam satu bungkus

Khusus untuk Piong Babi, rasanya sangat mantab. Daging berbumbu khas Toraja dicampur dengan daun-daunan dan darah babi akan mengguncang selera Anda. Daun-daunannya rasanya sangat mirip dengan daun singkong, tetapi itu bukan daun singkong. Nikmat sekali rasanya.

Selain Piong Babi, Anda juga bisa mencicipi sate babinya. Meskipun tidak tersedia setiap hari, tetapi rasanya sangat menggoda lidah. Lemak babinya masih dibiarkan begitu saja, tidak ikut meleleh terbakar, karena jenis babi yang dimasak adalah jenis babi hitam. Pada gigitan pertama, rasa kemranyas lemak babi akan langsung terasa memenuhi mulut. Rasa satenya yang asam manis menggugah selera untuk nambah lagi. Eits, jangan cepat puas dulu. 1 tusuk sate babinya sangat besar-besar. Kalau di jawa, setara dengan 6 tusuk sate babi biasa.

Harganya cukup mahal sebenarnya untuk sebuah daerah dengan banyak babi. Per orang untuk 1 porsi Piong Babi, 1 tusuk sate babi, dan seporsi nasi dihargai dengan Rp 35.000,00. Bagi yang tidak boleh yang haram-haram, tersedia juga Piong Ayam dan Piong Ikan yang memasaknya dipisah dengan Piong Babi. Bumbungnya pun berbeda.


Ibarat di Sumatera Utaa ‘belum ke Sumut kalau belum makan Babi Panggang Karo (BPK)’, maka kalau ke Toraja ‘Belum ke Toraja kalau belum makan Piong Babi’.