Kaca Sanesipun

Jumat, 28 Februari 2014

8 Hari Mencari Jati Diri: Yuk Bermain di Genteng (Part 3)

Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00, tapi langit masih seperti pukul 05.30 di Yogyakarta. Saya bergegas bangun di pagi yang dingin dan menyuruh kakak untuk mandi. Sementara saya masih mau males-malesan di kasur. Kepala baru terasa pusing gara-gara asupan kolesterol tinggi. Tapi mau gimana lagi. Pagi itu saya memutuskan kembali berendam air panas. Biar fresh jalan-jalannya.

Setelah kami semua siap, kami segera turun ke loby hotel untuk sarapan. Barang bawaan sudah kami bawa agar tidak bolak-balik. Menu makan paginya lumayan untuk tarif hotel yang memang murah: cococrunch+susu creamer, sosis, nasi goreng, mie goreng, balado telur, roti panggang, jus jeruk, dan buah-buahan. Pokoknya, makan sak wareg e di tour ini karena semuanya gratis.
Pukul 08.30 kami sudah siap, dan kebetulan Mr Prakash sudah menunggu kami di depan sejak pukul 07.00. “Tidak masalah”, kata Beliau. Kata Beliau, rumah beliau berjarak 40 km dari Bukit Bintang, dan beliau berangkat pukul 06.00 agar bisa tiba disini tepat waktu. Karena kalau berangkat pukul 07.00, perjalanan sudah menjadi 2-3 jam karena jalanan macet. Kalau berangkat pagi, paling lama Cuma 1 jam. Tidak masalah bagi beliau harus menunggu. Pun begitu, beliau sudah terbiasa. Tidak tidur karena menjemput tamu ke Singapura pun juga biasa. Dalam setahun, Beliau hanya diberikan libur selama 15 hari oleh tour and travel. Tapi, libur 15 hari itu, beliau boleh minta tiket kemana saja dan bisa pergi kemana saja bersama istrinya sekaligus dapat uang saku sekitar Rp 9.000.000 (hotel, tiket, akomodasi sudah tour and travel yang menanggung). Mau minta ke Antartika juga boleh. Beliau sudah berkali-kali pergi ke Eropa, Jepang, Bali, Singapura, dan beberapa negara lainnya. Berat memang jadi driver wisata di Malaysia, tapi bonusnya boleh juga :D
Yaaakkk, tujuan kami hari ini adalah ke Genting Highland, atau Dataran Tinggi Genting. Bukan Genting yang ada di Banyuwangi atau ada di atas rumah ya, ini beneran Genting. Kondisi yang Genting :D
Dalam perjalanan, kami mampir beli bensin dulu. Sekedar info, mobil yang bertuliskan ‘Bas Persiaran’ mendapatkan BBM bersubsidi dari pemerintah dengan menukarkan kupon yang tersedia dan membayar di swalayan di dalam pom tersebut. Di Malaysia tidak ada Bensin dengan oktan 80, semuanya 92 keatas. Harganya pun juga murah, RM 2,1 per liternya (sekitar Rp 8.400,00). Jadi kawan-kawan, adalah HOAX klo pemerintah bilang harga BBM di Malaysia lebih mahal daripada di Indonesia. Di Indonesia, Pertamax oktan 92 aja harganya sudah lebih dari Rp 10.000, sementara Shell Super pun sekarang juga sudah di angka Rp 10.500. Pemerintah bandinginnya yang oktan 80 sama oktan 92 sih, nggak fair.
Sebelum ke Genting, kami mampir dulu ke Batu Cave. Apa itu Batu Cave? Batu Cave adalah sebuah gua batu yang merupakan tempat peribadatan bagi orang-orang Hindu India. Lokasinya berada di tengah-tengah tebing kapur dan memiliki ketinggian sekitar 75 meter dari lokasi di sekitarnya. Sebelum masuk ke Batu Cave, kami dimampirkan ke titipan tour and travel: pusat pembuatan peranti rumah tangga dari tembaga milik Kerajaan Malaysia dan Pusat Oleh-Oleh. Di pusat pembuatan peranti ini, memang benar gelas yang terbuat dari besi khusus tersebut dapat membuat air tetap kondisi dingin lemari es selama 1 jam. Tapi ya harganya itu yang bikin nggak minat beli -_____- (fyi: harga 1 set peralatan minum dari besi cukup buat saya makan selama 1 bulan di Surabaya)
Di pusat oleh-oleh, disini menjual berbagai jenis makanan. Mulai yang import dari Vietnam, Thailand, hingga yang benar-benar made in Malaysia. Yang khas disini adalah teh tarik siap seduh, yang memang rasanya sangat mirip dengan yang dijual di warung India semalam.
Selepas itu, kami langsung menuju ke Batu Cave. Ada banyak burung dara di pelataran. Mirip kaya FKG Unair yang pelihara banyak burung dara :D
Memberi makan burung dara di pelataran Batu Cave

Patung Budha di depan Batu Cave

Tangga naik ke Batu Cave yang lumayan tinggi

Pakdhe dan Budhe lagi-lagi memutuskan tidak ikut naik, karena tangganya yang sangat tinggi dan banyak. Kakak saya juga hampir memilih tidak naik. Tapi karena saya nekat naik, akhirnya saya dan kakak-kakak saya ikutan naik juga. Lumayan tinggi dan......bikin singunen (takut ketinggian).

Di dalamnya ada tempat ibadah umat Hindu India. Di dalam goa ini, memanjang goa berikutnya yang terdapat pintu terbuka di bagian atasnya. Mirip goa vertikal goa Jomblang di Gunung Kidul. Tapi pesonanya lebih bagus di Jomblang.
View dari atas Batu Cave

Tempat peribadatan

 Mirip Goa Jomblang kan

 Tempat peribadatan lagi di dalam

 Ini juga tempat peribadatan

 Patung apa saya tidak tau namanya, tapi memang Batu Cave ini adalah tempat ibadah orang India. Bahkan ada orang asli India yang merelakan waktunya berkunjung kesini

Burung dara dan Batu Cave

Setelah puas berada di atas dan setelah rasa lelah terbayar, kami bergerak turun. Sementara semuanya turun, saya iseng masuk ke Dark Cave yang posisinya lebih rendah daripada Batu Cave. Ternyata, di dalamnya aja jelajah goa dan membayar (sekitar MYR 30). Karena waktu yang mefet, apalagi masih harus ke Genting Highland, akhirnya saya mengurungkan niat itu. Setelah semuanya pulih, kami berangkat lagi menuju ke Genting Highland. Perjalanan dari sini sekitar 2,5 jam sampai ke pintu masuk Genting Highland.

Perjalanan lewat Jalan Lebuh Raya kali ini sangat menarik karena lewat medan pegunungan. Jalanan yang menikung dan menanjak tidak terlalu membuat mobil ngos-ngosan. Hawanya juga sejuk. Beda lah kalau dibandingin ketika lewat Alas Roban, Alas Gumitir, Alas Baluran, atau jalur di Purwokerto-Tegal dengan karakteristik tikungan tajam banget dan tanjakan yang lumayan bikin mobil ngos-ngosan. Lebuh Raya ini meskipun menikung, tapi cukup halus dan jalannya pun lebar. Untuk 4 mobil berjalan berjejer saja bisa.

Sebelum naik ke pintu gerbang, kami mampir dulu di sebuah toko coklat dan warung makan. Toko coklat ini menyediakan coklat yang enak-enak, tapi harganya lumayan mahal kalau dibandingkan dengan toko coklat di Singapura beberapa hari lalu (total sudah 3 toko coklat kami kunjungi dalam tour ini). Tapi Tiramisu Chocco Almondnya juara sekaleee rasanya. Sekitar MYR 30 untuk 1 kantong seberat 0,5 kg.
Makan di Genting Highland

Kemudian kami makan di sebuah warung di sebelah toko coklat ini. Prasmanan. Tapi menunya terkesan wenak dan menggiurkan. Karena Mr Prakash memerintahkan ‘bebas ambil’, maka saya langsung kalap: nasi sepiring penuh, kare kambing, sayur kangkung, telor balado, ayam goreng tepung paha, tempe goreng, dan minum es teh. Mungkin kalau peserta tournya kaya saya semua, bangkrut mungkin Mr Prakash -_____-

Setelah puas makan, kami melanjutkan perjalanan ke gerbang. Hanya sekitar 15 menit dengan suhu udara sekitar yang sangat sejuk, khas pegunungan. Kami tiba di central park Genting Highland, dan semua kendaraan diparkir disini. Sebenarnya bisa naik ke Genting pakai mobil, tapi akan lebih berkesan kalau pakai Kereta Gantung. Di stasiun kereta gantung ini, ada juga terminal bis yang mengantarkan pengunjung dari Genting Highland ke Kualalumpur, Putrajaya, KLIA, LCCT, dan beberapa tujuan lainnya. Bisnya pun bagus-bagus: pakai Scania K124iB, K360iB, K380iB, Hino RG1JSKA (klo di Indonesia jenisnya ini), dan Hino RK8 (ada yang kodenya RK1JSKA, mungkin ini adalah RG1JSKA versi Malaysia). Beberapa memang masih pakai Nissan RB, tapi jumlahnya sangat sedikit.

Harga tiket kereta gantung adalah sekitar MYR 24 untuk pulang pergi. Tiket sudah dibelikan oleh Mr Prakash dan kami tinggal naik saja. Perjalanan dengan menggunakan kereta gantung ini ke Genting Highland adalah sekitar 30 menit, melintasi ketinggian yang berbeda: antara 20 meter-150 meter. Ini yang tidak kuat ketinggian Cuma bakal teriak-teriak doang. Dan ngerinya, di bawah dan di sekitar kereta gantung, sama sekali tidak ada rumah. Hanya hutan tropis dan jalan inspeksi kecil saja. Jadi yaaaa kalau jatuh yaaaa lumayan....
 Ketika baru saja berangkat

 Sudah sampai tengah-tengah

Mendekati Genting

Perjalanan selama 30 menit kami lalui dengan was-was dan sedikit singunen. Kami tiba di Hotel Maxims, tapi kami memang tidak menginap disini dan hanya bertujuan numpang dolan saja (tau lah nginep di Genting mahal juga).

Kami bingung karena petunjuk yang ada minim. Objek apa saja yang harus dikunjungi pun juga informasinya sangat minim. Kami berjalan tak tentu arah, pokoknya titik temunya untuk pulang ada di Maxims. Kami berjalan melewati pusat game. Ada Casino sebenarnya, dan untuk masuk Casino harus menggunakan hem, celana yang pantas, dan sepatu. Dan sudah tentu uang yang banyak. Kami terus bergerak turun ke Theme Park. Katanya akan dibangun Theme Park Outdoor yang baru akan selesai pada tahun 2016. Sayang sekali tinggal theme park indoor. Tiket masuk ke Theme Park Indoor pun juga murah, hanya MYR 30 (sekitar Rp 120.000,00) sudah tersedia lebih dari 40 wahana permainan dan lebih dari 75 jenis game seperti di timezone. Hmmm, cukup menggiurkan. Tapi sekali lagi, waktunya Cuma tersisa 2 jam, dan juga agak tidak mungkin mengajak pakdhe dan budhe bermain berkejar-kejaran dengan waktu. Dengan sedikit kecewa karena tidak ada hal lain yang bisa dinikmati selain permainan, kami kembali ke Maxim dan bersiap untuk kembali ke stasiun kereta gantung.

Kabut membuat perjalanan kami dengan kereta gantung lebih mengerikan: menembus kabut, tiba-tiba sudah ada di ketinggian yang sangat tinggi sekali. Beberapa kali kereta gantung juga harus terhenti karena naik-turun penumpang yang memang padat sore itu. Membuat singunen jadi lebih singunen.
 Menembus kabut yang tebal

Masih akan menembus kabut

Kami tiba di stasiun pemberangkatan dan kami bergegas menelpon Mr Prakash karena tour kami jadi lebih singkat. Mr Prakash pun menanyakan kenapa kok cepat, apakah tidak menarik? Dan kami menjawab karena kami sudah menjelajahi semua dan rasanya waktu terlalu singkat kalau mengambil tiket terusan untuk wahana di Theme Park  *saran buat yang mau ke Genting, sisakan waktu seharian. Tempat ini mirip Universal Studio, Trans Studio, Dufan, tapi hawanya lebih sejuk*
 Terminal Bas Persiaran Genting Highland-Kualalumpur

Salah satu bis yg menjalankan rute Trans Genting Highland: Scania Irizar (nggak tau asli Irizar atau nggak)

Mr Prakash memutuskan untuk mengantar kami ke hotel karena waktu masih terlalu sore. Waktu itu, sekitar pukul 16.00. Kami pukul 18.00 sudah tiba di hotel. Berhubung waktu makan masih lumayan jauh, dan berhubung kami akan berganti guide karena Mr Prakash akan kembali menjemput tamu ke Singapura besok pagi (dan harus mulai perjalanan malam itu juga), maka uang makan dari tour and travel sebesar MYR 110 dikembalikan kepada kami. Ini artinya malam ini kami bebas menentukan makan malam kami.

Setiba di hotel, kami bersepakat beristirahat sebentar lalu kemudian berangkat lagi cari makan. Rencananya, malam ini kami akan mencoba Monorel dan mencari makan di daerah KL Sentral. KL Sentral adalah sebuah sentra transportasi yang terintegrasi: ada stasiun Monorel ke segala tujuan, stasiun kereta api (kereta ke Thailand (Hat Yai-Bangkok) dan Singapura berangkat dari sini), dan stasiun bis (Singapura, Butterworth, Alor Star, KLIA, LCCT, Hat Yai, Bangkok)).

Kami keluar dari hotel pukul 19.00, dan kami terkejut karena suasana Bukit Bintang malam itu sangat ramai sekali. Ada 18 ekor babi panggan tertata di sebuah tenda, lengkap dengan panggung yang ada alat bandnya, tenda khusus bagi pengunjung muslim, dan berbagai pernak-pernik pesta. Rupanya ada pesta khusus setelah Imlek (mungkin kalau di Indonesia disebut sebagai Cap Go Meh, tapi saya kurang tahu namanya apa disana). Meriah sekali pokoknya. Kami berjalan melintasi sentra seafood dan chinnesse food. Bagi kami, makanan itu ada banyak di Indonesia. Jadi tidak perlu beli di Malaysia untuk mencicipinya. 
18 babi panggang terparkir rapi di jalanan Bukit Bintang

Kami kemudian bergerak ke Monorel dan membeli tiket monorel. Sangat murah sekali, karena hanya berkisar MYR 3 untuk sekali jalan. Kami mengambil tujuan ke KL Sentral. Monorel malam itu sangat ramai sekali. Kami sedikit waspada karena kultur di Malaysia dan Singapura beda: masih ada beberapa pencopet di Monorel Malaysia. 

Berbeda dengan Singapura, kami perlu waktu sekitar 10 menit untuk menunggu Monorel datang. Jika di Singapura, kami hanya perlu menunggu maksimal 4 menit untuk MRT selanjutnya. Perjalanan ke KL Sentral hanya memakan waktu sekitar 25 menit. Kami melewati beberapa stasiun, diantaranya Tun Sambanthan yang merupakan sebuah daerah.
Situasi di dalam Monorel Kualalumpur

Setibanya di stasiun Monorel KLSentral, kami turun dan segera berjalan ke sekitar KL Sentral. Mirip dengan di Indonesia: ada bis besar ngetem sembarangan, daerah yang kurang tertata karena masih pembangunan, sebagian terkesan sepi dan spooky. Ada sebuah warung India di depan KL Sentral dan warung nampaknya cukup ramai. Kami pun memasukinya dan segera memesan: Nasi Beriyani Domba 3 porsi, Nasi Beriyani Ayam 3 porsi, teh tarik es 2, teh tarik panas 1, teh biasa 2, dan teh Madras 1. Seperti sudah saya yakini sebelumnya bahwa menu India pasti rempah-rempahnya sangat kental sekali dan saya sudah bersiap. Kakak sepupu saya sudah tahu, hanya pakdhe dan budhe memang belum tahu dan ingin merasakan.

Begitu tiba pesanan kami, langsung kami lahap nasi beriyani dengan beras panjang yang khas ini bersama kari kambing dan saos mayones khusus ini. Rasanya di dalam mulut kemranyas sekali: seperti mengunyah bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, tomat, kecap, merica, cabe, saos, nasi, dan daging kambing di dalam mulut. Muantab sekali sampai kepala ini kembali senut-senut karena rempah-rempah yang terlalu menusuk. Sementara saya dan kakak-kakak saya memakan dengan lahap, sebagian sudah tidak kuat dengan rempahnya dan tidak menghabiskan makanan. Wajar lah, di Indonesia makanan tidak semenusuk ini rempahnya.
 Nasi Beriyani Mutton dan Madras Tea

Yang khas ini nih, nasinya panjang-panjang

Setelah selesai makan dahsyat ini, kami memutuskan kembali ke Bukit Bintang dengan monorel. Kali ini monorel cukup sepi dan kami memperoleh tempat duduk. Kami menunggu tidak terlalu lama dan perjalanan pun lebih cepat karena pak sopir lagi sedikit ngebut.

Setibanya di Bukit Bintang, kami kembali berjalan menuju ke arah hotel. Rupanya, di jalan dekat hotel sedang ada Barongsai. Saat itu, tim Barongsai sedang mempersiapkan. Kami bersiap di barisan paling depan untuk menonton. Persiapannya cukup lama, sekitar 45 menit baru pertunjukan Barongsai dimulai. Tidak sekedar pertunjukan saja, tapi disertai seremonial yang khas: ada altar dengan berbagai persembahan, petasan yang luar biasa banyaknya, dan jeruk-jeruk ponkam yang luar biasa juga jumlahnya di dalam kardus. Barongsainya sendiri kurang memukau jika dibandingkan dengan atraksinya di Indonesia. Namun, seremonialnya itu yang membuat terkesan. Di akhir pertunjukan, ada juga banyak kembangapi diluncurkan (4 kardus) dan banyak sekali buah jeruk ponkam dilemparkan dari Barongsai ke masing-masing penonton. Bahkan mobil dan motor yang lewat pun ada yang kena lempar. Masing-masing penonton mendapatkan minimal jeruk 1 buah.
 Nonton Baronsai sambil makan siomai

 Kembang api melambung rendah

 Sekardus kembang api di tengah jalan

Barongsai Beraksi

 Tak kehilangan moment. Sepasang suami-istri yang sudah lanjut usia, berasal dari daerah Timur Tengah, tetap dengan setia saling menemani meskipun sang istri berada dalam keterbatasan fisik

Setelah lelah menonton, kami kembali ke hotel. Tapi, saya dan kakak-kakak saya mampir ke kakilima pojokan yang menawarkan berbagai barang. Dari sini saya berhasil menawar secara sadis sebuah kacamata Rayban aspal dengan kualitas mirip asli. Awalnya sih Cuma pengen liat-liat. Pedagang menawarkan seharga MYR 80. Gila aja beli harga segitu tambah dikit udah dapet yang ori. Saya pergi begitu saja, sementara si penjual masih berkata-kata pakai Bahasa Malaysia menawarkan ke saya. Saya Cuma diam dan tiba-tiba penjual menawarkan harga sangat miring ke saya: MYR 15. Hanya sekitar Rp 60.000,00. Saya ingat betul teman saya dapat model yang sejenis di Singapura seharga 10 dolar (artinya dia dapat harga sekitar Rp 90.000). Karena kasihan dan harga yang sangat drop, maka saya ambil barang tersebut dan saya pastikan semuanya sama dengan yang ia tawarkan tadi. Setelah dipastikan tidak ada tipu-tipu, maka transaksi saya lakukan. Menguntungkan sekali beli disini.....

Setelah selesai beli-beli, saya kembali ke hotel untuk segera istirahat karena malam ini adalah malam terakhir bagi saya di Malaysia sebelum besok paginya saya harus terbang ke Medan dan memulai cerita baru disana.
Meskipun mirip dengan Indonesia, tapi Malaysia ini setidaknya jauh lebih tertib. Mobil parkir di lokasi drop saja (tidak lebih dari 5 menit) langsung diderek oleh DBKL (semacam Satpol PPnya Malaysia) dengan mobil derek. Tidak ada alasan dari pengemudinya, mobil langsung diderek ke kantor DBKL dan semuanya diselesaikan disana. Mobil parkir sembarangan pun, jika masih ada sopirnya, hanya dipotret dengan alat tertentu, dicatat nomor polisinya oleh polisi setempat, maka sopirnya tinggal mengurus ke kantor polisi terdekat. Tidak ada sogok-sogokan, minta bayar ditempat, atau menyuap pakai uang receh. Namun, bedanya, perseteruan antar ras di Malaysia sepertinya sudah sampai muncul ke permukaan. Kalau di Indonesia hanya sebatas ‘rasan-rasan’ atau main belakang. Ketika proses Barongsai dimulai, kebanyakan warga Chinnesse berkumpul disitu. Jika ada pengendara berwajah India atau Melayu kurang senang (karena memang Barongsai sempat menimbulkan kepadatan lalulintas dan kemacetan, namun sudah diatur oleh pulis), maka mereka akan menyalakan klakson keras-keras atau main ‘bleyer’ seolah-olah mereka menang sendiri. Meskipun demikian, warga Chinnesse dan penonton dari berbagai negri yang ada disana bisa cukup sabar dan tetap tenang. Yang tidak tenang malah saya dan kakak-kakak saya, pengemudinya kita liatin dengan pandangan mecicil :D

8 Hari Mencari Jati Diri: Mount Sibayak 2200 mdpl (Part 5)

Pagi masih menyelimuti Berastagi. Pukul 08.00 saya baru terbangun dari tidur dan segera bersiap untuk mandi dan check out dari hotel. Pukul 09.00 saya janji dengan Bang Tabis untuk bertemu di Galon (Pom Bensin) Berastagi. Saya kemudian bergegas berkemas, lalu check out hotel. Saya kembali menyusuri jalanan Berastagi pagi itu. Banyak sekali masyarakat yang mengenakan baju rapi. Para perempuannya menggunakan kain ulos khas Batak. Rupanya mereka akan menuju ke Gereja. Mayoritas agama penduduk Berastagi adalah Kristen-Katolik. 

Rupanya kota Berastagi ini tidak mirip kota-kota di Jawa pada umumnya. Biasanya, di Jawa, di kota pagi-pagi sudah ramai pasar. Di Berastagi, pasar pagi itu tidak seramai di Jawa. Siang-sore, pasar-pasar baru mulai hidup. Ada yang jual makanan, bahkan pakaian-pakaian baru-bekas.

Sampai di depan Galon, Bang Tabis melambai ke arah saya. Kami kemudian berunding sejenak: akan langsung ke Sipiso-piso atau mau ke Gunung Sibayak. Katanya, Gunung Sibayak ini sangat sayang kalau dilewatkan. Iconnya Berastagi. Apalagi tracknya tidak jauh, Cuma jalan kaki 1,5 jam saja sudah sampai puncak dan bisa lihat kota Berastagi. Bayangan saya mirip dengan Bukit Bintang gitu lah. Saya pun setuju dengan ide naik Gunung Sibayak. Maka kami menuju ke jalan yang dilewati angkot ‘Kama’ yang biasa membawa pengunjung ke Sibayak. 

Sebelum naik, saya mengisi perut dengan makan. Kebetulan warung makan yang saya kunjungi ini adalah Warung Muslim. Cukup sulit bagi kawan-kawan yang Muslim kalau ingin mencari warung Muslim yang menjual makanan halal. Kebanyakan di Berastagi ini jualannya kalau tidak babi ya anjing (B2 atau B1, kalau di Jawa B1 itu RW). Di sepanjang jalan Berastagi, hanya ada 1 warung makan Padang yang benar-benar halal. Sisanya jual BPK, Babi Kecap, Saksang (masak super pedas). Tapi di ujung jalan arah Kabanjahe juga ada warung Muslim yang jual aneka makanan halal. Saya menyarankan bagi yang Muslim kalau ke Berastagi dan memutuskan menginap, mending membawa peralatan memasak (kompor, nesting) dan bahan makanan. Minimal bawa lauk, jadi nasinya bisa beli daripada kesulitan mencari makanan yang halal.

Saya memutuskan memilih menu Nasi Soto. Saya sudah membayangkan soto di Jawa yang seger dengan irisan kentang goreng tipis sampai saya lupa kalau ini di Medan. Sudah pasti sotonya soto medan. Saya makan soto medan kedua setelah sehari yang lalu menginjakkan kaki di Medan. Soto ini lebih ringan daripada yang di Sinar Pagi. Bumbunya tidak terasa menusuk, dan bagi saya sangat nikmat. Ditambah dengan keripik apa entah namanya, kalau di Jawa namanya legendar, yang keras, gurih, tapi rasanya nagih banget. Sementara Bang Tabis hanya membeli segelas teh hangat dan gorengan. Untuk sarapan ini, saya hanya habis Rp 17.000 untuk menu saya sendiri. Cukup murah untuk ukuran di Medan.

Kami lalu bergerak ke pinggir jalan untuk naik angkot ‘Kama’. Tak berselang lama, ada angkot ‘Kama’ yang mau mengantarkan kami sampai ke gerbang Sibayak. Kami langsung menaiki angkot ‘Kama’ yang berwarna hijau tua tersebut. Lagi-lagi sama, karakter angkot di Sumatera Utara: jalannya kenceng, lubang besar atau kecil dilibas. Tidak sampai 15 menit, kami sudah tiba di pos terakhir sebelum mendaki ke Gunung Sibayak. Sebenarnya, kalau mau bayar lebih, kami bisa sampai di perbatasan jalan aspal dengan jalan setapak. Dari perbatasan ini tinggal jalan sekitar 3 km untuk mencapai puncak Gunung Sibayak. Sedangkan dari pos terakhir sampai ke perbatasan harus menempuh jarak sejauh 5-6 km. Tapi biayanya beda jauh: kalau sampai pos terakhir, per orang kena Rp 3.000, kalau sampai perbatasan, per orang kena Rp 30.000-50.000.

Kami memasuki loket pengurusan ijin masuk Gunung Sibayak. Sama sekali tidak seperti posko yang ada di jalur pendakian Semeru atau Kawah Ijen, hanya sebuah warung yang disinggahi banyak sopir angkot ‘Kama’. Tiket per sekali masuk hanya Rp 8.000,00. Kadang, penjaga pos mewajibkan membawa guide agar tidak tersesat. Bagi yang belum pernah kesana, kadang merasa terteror karena akan mengira medan yang sulit dan banyak bercabang. Padahal tidak demikian.

Kami sempat mengobrol sejenak dengan ibu penjaga warung (atau penjaga pos). Rupa-rupanya ibu ini sangat familiar dengan Jogja karena dulu pernah kuliah di Jakarta dan sering main ke Jogja karena ada saudaranya. Sudah 2 orang saya temui dalam trip ini yang familiar dengan Jogja.

Setelah puas mengobrol, kami beranjak berjalan. Medannya naik, tapi melewati jalan aspal. Cukup membuat kaki pegel. Baru sekitar 1 km kami berjalan, tiba-tiba ada suara deru mobil dari kejauhan. Kami bersiap minggir sekaligus bersiap memanfaatkan kesempatan ini. Ketika kepala mobil kelihatan, kami langsung mengacungkan jempol tanda ingin numpang. Rupanya mobil carry penumpang yang biasa dipakai untuk angkot. Pengemudi mempersilakan kami naik, tapi memang tidak jauh karena beliau akan mencari buah-buahan untuk umpan mancing. Tunggu, buah-buahan untuk umpan mancing? Rupanya, menurut beliau, ikan-ikan di pemancingan di daerah Berastagi justru gemar makan buah-buahan. Memang beberapa ikan senang dengan umpan cacing atau pelet. Tapi, kata beliau, ikan-ikan lebih tertarik buah-buahan. Ada banyak ikan vegetarian rupanya....
Jalan aspal sampai 3 km jelang puncak

Setelah mobil berjalan sekitar 3 km, kami turun. Katanya, perjalanan tinggal sedikit. Tinggal lewat 1 tanjakan terus menerus. Kami memacu perjalanan kami dengan sesekali istirahat.

Tak beberapa lama, kami tiba di perbatasan. Disana banyak orang camping. Tidak ada sumber air ketika musim kemarau (ceritanya, Sumatera Utara saat saya berkunjung sudah memasuki musim kemarau dan sangat jarang hujan). Kami langsung memanjat tebing pendek lewat lorong-lorong yang sudah terbentuk. Dan kami bergerak dengan cepat karena sudah kehabisan waktu di jalan. Perjalanan cukup teduh dan sejuk karena melewati hutan tanaman sejenis bakau. Kami terus bergerak sampai kelihatan bebatuan yang bergunung-gunung. Dari sini menoleh ke arah belakang, kelihatan Gunung Sinabung yang lagi sibuk mengeluarkan asap dan abu dan bikin kalang kabut 35 desa yang akhirnya binasa. Sekedar info, Gunung Sinabung ini dikenal sebagai Ghost Mountain oleh banyak orang. Karena dalam waktu yang cukup singkat, gunung ini membinasakan 35 desa. Bandingkan dengan letusan gunung lain: merapi misalnya. Hanya berapa belas dusun saja. Inilah yang sebenarnya mengakibatkan kecemburuan penanganan bencana bagi saudara-saudara yang mengungsi di Sinabung (kebetulan Bang Tabis ini relawan terbaik Sinabung, jadinya dapat cerita beginian).
Padang pandan mewarnai perjalanan ini

Kami terus melanjutkan perjalanan, sembari sesekali bertemu dengan para pendaki yang sudah mulai turun karena hari mulai siang. Sampailah kami di batas vegetasi. Berbeda dengan di Mahameru, batas vegetasi disini adalah perbatasan antara semak belukar dengan deretan bebatuan khas gunung Sibayak. Ada 3 puncak: puncak top one (tertinggi asli), puncak tertinggi (tertinggi semu), dan puncak BMKG. Puncak top one merupakan puncak tertinggi yang sebenarnya. Menurut beberapa info, ketinggiannya lebih dari 2200 mdpl. Singkat cerita, kami memilih mendaki puncak tertinggi semu karena pemandangan yang bagus, dekat dengan kawah belerang utama, dan bisa melihat view kota Berastagi (Taman Alam Lumbini, Miqi Holiday, kota Berastagi, Gundaling, Penatapan kelihatan dari sini semuanya).
1 km jelang puncak

Asap Solfatara dimana-mana

Di persimpangan antara puncak BMKG dan puncak tertinggi semu, kami bertemu dengan pendaki. Ada 2 orang pendaki. Mereka mengaku dari Kota Medan, dekat Sunggal, kebetulan dekat dengan rumah Bang Tabis. Mereka sesumbar bahwa sudah pernah ke tempat-tempat bagus di Medan, seperti Sibolangit, Sinabung, Bukit Lawang, dan lain sebagainya. Bang Tabis yang panas oleh sesumbar anak-anak tadi pun membalas bahwa yang terbaik adalah Sabang, Bukit Lawang, Kutacane (Aceh), dll. Sebenarnya pamer-pameran dengan cara menyombongkan seperti ini tidak perlu dilakukan. Karena selain tidak baik, juga bisa menimbulkan ketersinggungan bagi lawan bicara kita.
Puncak BMKG, karena ada detektor milik BMKGnya

Karena waktu semakin mepet dan obrolan semakin gak penting dan memanas, saya mengajak Bang Tabis untuk naik ke atas, sementara tas kami tinggal di persimpangan. 2 anak tadi, lalu ketambahan 1 temannya, menunggu teman-temannya yang baru beres-beres tenda dan akan segera naik ke puncak BMKG. Bang Tabis sudah berpesan bahwa hati-hati barangnya, karena sering barang hilang kalau mendaki Sinabung atau Sibayak. Bagi saya sendiri, sebenarnya tidak mungkin ada kehilangan, kecuali kita benar-benar ‘nggatheli’ terhadap alam dan orang lain. Pun sampai ada yang berani maling, berarti memang taruhannya nasib si maling itu sendiri yang juga akan diperlakukan semena-mena oleh alam.
Berastagi dari puncak tertinggi semu

Tas saya juga saya letakkan di persimpangan, ada uang, power bank, charger bb, hp bb yang baru saya charge dengan power bank, dan paspor serta beberapa benda berharga lainnya. Kami naik, berfoto sebentar. Sementara 3 orang yang bertemu dengan kami sudah mulai perjalanan ke puncak BMKG. Kami berdua bergegas turun dari puncak, memasukkan kamera, dan mengecek barang bawaan kami. Saya cek semua barang saya lengkap, tidak ada yang berpindah posisi, bahkan keratan tali tas carrier saya tidak ada yang berubah. Sementara Bang Tabis kebingungan mencari Hpnya yang ditinggal di dalam tas. Bang Tabis membuat kesimpulan bahwa Hpnya diambil oleh 3 anak yang bertemu kami. Kemungkinan sih, kalau menurut saya, karena ucapan-ucapan saling sesumbar tadi hingga berujung salah satu dongkol dan terambilnya HP Bang Tabis.
Sinabung mengintip

Sebenarnya hal ini tidak perlu dilakukan. Jika ada yang sesumbar, dengarkanlah sungguh-sungguh saja dan diiyakan saja. Meskipun sudah sering kesana, tapi tetap rendah hati. Biar tidak terjadi apa-apa di gunung.
Dentistry Airlangga di Sibayak *kampus baru mungkin setelah Penanggungan :D*

Kami akhirnya beranjak turun. Sementara rombongan anak yang dicurigai Bang Tabis tadi turun lewat jalan Hutan Bambu yang langsung tembus ke Penatapan. Awalnya kami akan mengejar mereka, tapi kami memilih hemat tenaga saja sementara saya terus menenangkan Bang Tabis yang bingung setengah mati karena khawatir harus ganti nomor.

Kami turun dengan cepat dan segera menemukan jalan aspal lagi. Niat Bang Tabis mengejar mereka dengan motor temannya kembali memuncak, dan saya kembali menenangkannya. Toh lagian kalau sudah terkejar, belum tentu orangnya ngaku. Yang ada malah cek-cok dan menambah kondisi jadi buruk, apalagi ini di alam bebas yang bukan Cuma manusia yang ada disitu.

Kami terus beranjak turun ke pos terakhir. Rupanya sangat lama juga kami berjalan. Pukul 14.30 kami sudah tiba di pos terakhir dan membeli minum. Kami kalah sebelum perang karena kami naik gunung Cuma bawa 1 botol kecil teh pucuk harum dan 1 botol aqua 600 ml. Itu untuk berdua dan jelas tidak cukup. Di pos terakhir langsung kami membabi buta membeli aqua 1500 ml dan langsung habis saat itu juga.

Kami kemudian segera menaiki angkot yang paling awal setelah kami datang. Tujuan kami adalah kembali ke Galon Berastagi untuk kemudian ke ATM Mandiri untuk beli tiket kereta dan makan siang. Sesampainya di ATM Mandiri, segalanya segera saya proses. Termasuk membeli tiket kereta lewat 121 kemudian membayarnya di ATM dan sekaligus membayar biaya kuliah 1 semester (ceritanya bayar kuliah paling jauh seumur hidup). Setelah itu, kami makan di warung padang satu-satunya di sepanjang jalan Berastagi. Selain halal, rasanya juga sip, harganya pun murah. Hanya habis Rp 34.000 untuk 2 orang sudah bonus terong, tambah nasi, dan aqua 1 botol gratis.

Setelah makan kenyang, kami bersepakat untuk melanjutkan perjalanan ke Sipiso-piso. Sudah pukul 16.00 waktu itu. Jadi mungkin akan sangat sore tiba di Sipiso-piso. Kami berjalan ke arah ujung kota Berastagi untuk mendapatkan angkot atau bus untuk tujuan Merek. Sepengetahuan saya, dari Berastagi ini harus ke Kabanjahe dulu, baru dari Kabanjahe ada angkot tujuan Merek. Sementara Bang Tabis bersikeras menunggu armada Dairi atau Samosir Pribumi (Sampri, armada L300 tujuan Medan-Berastagi-Kabanjahe-Pangururan (Samosir)) yang hanya lewat Berastagi setiap pagi dan sore hari lepas jam 18.00.

Di perjalanan, kami bertemu seorang pria berambut gimbal, potongannya rasta banget, mengendarai jeep kuno. Kesannya tidak terawat. Orang ini sering ditemui Bang Tabis di posko pengungsian Sinabung, sama-sama menjadi relawan. Bang Tabis kemudian menyapa orang tersebut dengan sebutan ‘Pak Gimbal’.
“Sore Pak Gimbal”, buka Bang Tabis
“Sore, mau kemana kalian?”, sambut Pak Gimbal yang kemudian saya ketahui bernama Pak Willy atau Pak Wilson
“Ini pak nganter tamu dari Jogja, mau jalan-jalan”, lanjut Bang Tabis
“Lho, dari Jogja? Ah, sing bener. Ngapusi mesti....”, Ucap Pak Wilson dengan nada khas Jogjaannya.
Karena nada yang khas Jawanya, lalu saya menjawab juga dengan bahasa Jawa
“Ora pak, kulo asli Jogja pak (Enggak pak, saya asli Jogja Pak)”
Lalu Pak Wilson mengajak kami naik Jeep tuanya. Hampir setiap orang di jalanan menyapa beliau. Sepertinya beliau ini orang yang cukup terkenal di Berastagi.
“Kalian nggak tergesa-gesa kan?” Buka Pak Wilson
“Enggak pak, kami santai kok pak”
“Ya sudah, kita mampir ngopi dulu ya. Nggak afdol kalau ke Berastagi nggak menikmati minuman khas disini”

Memang di Berastagi bertebaran warung kopi. Tapi, saya pikir mungkin mirip sama yang di Surabaya atau di kota lain di Jawa. Pak Wilson kembali melanjutkan percakapannya sembari mengendalikan jeepnya
“Kowe Jogjane ndi le?”
“Kulo Mlati Pak, Sleman”, jawabku
“Wah, aku mbiyen yo tau nang Jogja. Awalnya, aku tanggal 15 (15 Februari) ini ada pameran lukisan di Vredeburg. Tapi aku ada urusan dan proyek lain, akhirnya aku cancel aja”, pak Wilson melanjutkan pembicaraan.
Kami tiba di sebuah kedai kopi. Tanpa basa-basi Pak Wilson langsung memesankan kami teh susu. Teh yang kental, tapi tidak berwarna hitam namun coklat tua, dengan susu kental manis dan rasa yang gurih, manis, pahit-pahit sedikit, dan menggugah selera. Hampir mirip teh tarik di Malaysia, tapi ini lebih kental lagi. Pak Wilson kembali ngobrol dengan kami

“Aku dulu lama di Jogja. Bahkan aku SMA juga di Jogja.”
Aku sudah menduga, jelas kalau Pak Wilson ini nggak mungkin kuliah di SMA Negri. Apalagi beliau sudah cukup tua. Anak-anak SMA negri di Jogja jarang ada yang berpenampilan, berpemikiran, dan punya tindakan yang sedemikian liar namun terarah ini.
“Lho, SMA di mana Pak?” Sambungku
“Ah, masak sampeyan nggak tau? Kalau sampeyan nggak tau, ya bukan orang Jogja sampeyan.”
“Di daerah mana Pak?”
“Jalan Solo, yang sekolahnya madep ke selatan sama barat.....”
Belum selesai beliau ngomong, saya langsung memotong
“Oalah! De Britto ya pak?”
“Tepat sekali dik! Aku angkatan 1996, tapi kelas 2 aku di DO karena kasus berat. Terus aku pindah ke Santo Thomas Medan, terus kuliah lagi di ISI Jogja.” Pak Wilson menjelaskan.
Kakak sepupu saya juga angkatan 1996. 

Karena kesamaan almamater inilah obrolan kami menjadi semakin akrab. Bukan maksud menyombongkan diri atau almamater, tapi selalu saya bertemu alumni De Britto dengan dandanan yang kurang ‘nggenah’ tapi punya segudang prestasi. Beliau ini diibaratkan sebagai ‘penguasanya Berastagi’: punya ladang beratus-ratus hektar lengkap dengan peternakan sapi, bisa banyak hal tapi beliau lebih senang bergerak di bidang seni dan desain eksterior, mempekerjakan banyak pengangguran yang ingin berkembang (terutama dari Yogyakarta sendiri), tapi tetap punya prinsip yang kuat dalam hidup: anak-anak muda sekarang sampah kalau hanya butuh uang untuk mabuk dan main wanita, ngamen, minta-minta dlsb itu tidak lebih dari sampah jika sebenarnya mampu (untuk bekerja). 

Menjelang akhir obrolan, kami disarankan untuk mengubah tujuan dari Sipiso-piso ke Bukit Lawang di TNGL. Beliau kebetulan juga punya banyak link di Bukit Lawang. Tapi kami berunding, waktu tidak memungkinkan bagi kami karena saya sangat ingin tahu Samosir. Akhirnya, kami memutuskan untuk pergi ke Samosir langsung, daripada buang waktu di Sipiso-piso yang kabarnya sudah mulai penuh dengan bungkus popmie yang dibawa pengunjung tidak bertanggung jawab. Kami memutuskan pergi ke Samosir lewat Medan karena kalau pakai trayek Kabanjahe-Pangururan-Tomok bisa memakan waktu 7 jam, sementara kalau kembali ke Medan dulu paling lama 6 jam. Sebenarnya ada rute yang lebih singkat sih, yaitu Berastagi-Kabanjahe-Pematangsiantar-Parapat-Tiga Raksa-Tomok. Ini hanya memakan waktu sekitar 4 jam dan armada Kabanjahe-Siantar kalau tidak salah habis pukul 19.00. Masih cukup waktu untuk mengejar armada terakhir ini.

Tapi karena saya masih buta dengan kondisi dan malas debat panjang, akhirnya saya iyakan saja perjalanan ke Samosir lewat Medan ini. Sipiso-piso terpaksa saya coret, mungkin lain waktu bisa kesana. Toh aksesnya juga mudah.

Kami berpamitan dengan Pak Wilson, setelah sebelumnya kami meninggalkan nomor HP kami. Kemudian kami berjalan sedikit menuju ke Galon untuk mencari bis ke Medan. Kali ini langsung muncul bis Murni Ekspress. Bang Tabis meminta agar kami bisa duduk di atap, dan diperbolehkan tapi setelah pos polisi lewat.

Kami duduk di dalam bis bersama penumpang lain. Bis sudah cukup penuh. Ada seorang penumpang ibu-ibu tua yang baru saja naik. Kami ngobrol-ngobrol dengan ibu itu, yang ternyata dulu pernah tinggal di Jogja dan sampai saat ini masih sering ke Jogja. Rupanya sudah 4 orang yang saya temui yang familiar dengan Jogja. Entah kenapa Jogja di mata beberapa orang Medan ini menjadi primadona sekali.

Sesampainya di jalan lurus, kami dipersilakan kernet untuk naik ke atap. Saya kira bis akan berhenti dulu dan membiarkan kami naik ke atap. Ternyata kami naik ke atap waktu bis masih berjalan, dan jalannya pun makin kencang -______- kami bergegas naik ke atas dengan cekatan karena saking takutnya jatuh ke aspal. Setelah kami berada di atas, kami duduk bersila menikmati udara dingin dari atap bis (gondhes sekali ini sebenarnya). Terakhir kali saya naik bis tapi dapet posisi nggak strategis itu ya kelas 1 SMP, 8 tahun yang lalu. Itupun hanya di pintu, paling luar lagi, Cuma jari telunjuk yang nempel sama besi pegangan di pintu. Sekarang setelah 8 tahun tidak mengalami, langsung duduk di atap. Kalau di Jawa sudah langsung diciduk polisi. Tapi, di Medan ini, naik di atap katanya kebanggaan tersendiri. Selain lebih memacu adrenalin, kebanyakan orang berpikiran bayar Rp 10.000 kalau di dalem panas, tapi kalau di atap dingin. Jadi nggak rugi mbayar Rp 10.000nya. Wew............

Sekedar info, tarif Berastagi-Medan sebenarnya Rp 10.000. Tapi karena ketahuan saya terlihat sama sekali bukan orang Medan, tarifnya naik jadi Rp 12.500. Pun itu wajar dan murah untuk perjalanan selama 1,5 jam.

Saya menikmati berada di atas atap bis, sembari ngobrol kesana kemari. Sesekali bis berjalan kebut-kebutan, dan sesekali barang yang ada di atap bis porak-poranda dan kami harus membetulkan. Kami harus kembali ke kabin karena ada polisi yang bersiaga di jalan. Pak sopir dan kru takut kena tilang, maka kami pun turun dan duduk di dalam kabin. Tanpa terasa, saya kena masuk angin ditandai batuk dalam, badan terasa panas padahal kondisi dingin, dan sedikit mual. Tapi tidak masalah karena fisik masih cukup oke.

Kami kembali turun di Simpang Pos dan mencari angkot tujuan Amplas. Kami mendapatkan angkot berwarna kuning yang akan membawa kami ke Terminal Amplas. Ada dua terminal di Medan: Terminal Amplas dan Terminal Pinang Baris. Untuk bis tujuan Parapat diberangkatkan dari Terminal Amplas.

Ternyata, angkot yang kami naiki tidak masuk terminal. Begitu tau kami akan menuju Parapat, sopir angkot menurunkan kami di perempatan terminal. Kami disuruh menyeberang dan menunggu bis disana. Kami kemudian menyeberang. Lalu tiba-tiba kami dicegat oleh calo taksi gelap yang menawarkan taksi ke Parapat seharga RP 80.000. Wow, mahal sekali! Kalau bis padahal hanya sekitar Rp 30.000. Kami menolah dengan halus dan tetap berjalan lurus tanpa melihat ke arahnya. Calo tadi tetap mengikuti kami, sementara Bang Tabis panik dan bingung. Saya tetap tenang, karena sudah biasa terjadi di area terminal. Di Bungurasih dulu lebih parah, hampir menempeleng saya karena waktu saya ditanya mau kemana lalu saya jawab mau ke WC (lha memang tujuan saya mau ke WC mau mandi). Calo tadi mengeluarkan kata-kata kasarnya ala Medan dan mengancam akan membunuh kami berdua dengan badik. Saya sih tenang-tenang aja. Cuma sama orang yang berani omong sih tidak masalah. Tapi kalau sampai berani nyerang, ya saya nggak segan kok buat nyerang balik. Prinsipnya, kalau sana nggak nyerang duluan, maka saya nggak akan nyerang juga.

Karena kuping panas dan menghindari perkelahian lebih lanjut (saya orang Jawa asli, tapi bisa alus seperti orang Jogja asli, ceplas-ceplos dan galak seperti orang Surabaya, dan bisa berani seperti orang Medan, dengan syarat kalau ada yang memulai), kami menyingkir ke terminal dengan maksud mencari bis Intra tujuan Parapat. Kami menghampiri krunya, dan dugaan kami sebelumnya, kami bakal diputer-puter dan malah ditawari bis lain (dan ini akan terjadi kalau di terminal di Jawa). Ternyata, kami malah diarahkan untuk langsung ke loket PO Intra-Sentra. Kami disuruh naik angkot, hanya Rp 2000.

Karena bis terakhir tujuan Parapat adalah pukul 21.00, sementara waktu itu sudah pukul 19.00, kami bergegas mencari angkot yang mengantar kami ke loket PO Intra (loket adalah istilah garasi yang juga melayani pemberangkatan). Ternyata ada angkot yang berbaik hati mengantarkan kami, sopirnya sudah cukup tua. Kami berhenti di perempatan karena lampu merah. Calo yang tadi marah-marah nggak jelas masih ada disitu karena belum dapat penumpang. Kami pandangi calo tadi, sementara calo tadi juga memandangi kami dengan wajah garangnya. Salahnya sendiri sih maksa-maksa. Lha wong ada yang murah, ngapain ambil yang mahal.

Tak beberapa lama kami tiba di depan pool PO Intra, dan kami hanya membayar angkot Rp 4000 untuk 2 orang (di Jawa, jauh-dekat Rp 4000 untuk 1 orang). Kami langsung masuk ke loket dan menanyakan keberangkatan bis terakhir dan tarifnya. Ternyata benar, bis terakhir pukul 21.00 dan tarifnya Rp 30.000. Penjaga loketnya agak nggak beres, saya tanyai jawabnya nggak tegas. Ibarat yang punya rumah, masa nggak tau isi rumahnya apa aja. Begitu juga dengan penjaga loket ini. Penjaga loket, pengatur perjalanan, kok nggak tau bisnya ada berapa, berangkat jam berapa, penumpangnya sudah berapa, tarif pasti berapa. Kami akhirnya diberikan kursi di bis 2 yang masih sangat longgar karena hanya ada 11 penumpang. Setelah tiket kami beli, kami kemudian numpang mandi di garasi PO Intra-Sentra ini agar badan segar.

Selesai mandi, kami menunggu di ruang tunggu sembari menunggu bis diberangkatkan. Pukul 21.05, semua penumpang bis 1 dimasukkan. Sementara bis 2 masih belum siap dan belum ada tanda-tanda diberangkatkan. Pukul 21.15, bis 1 diberangkatkan. Saya bertanya ke petugas loket mengenai keberangkatan bis 2. Rupanya lagi-lagi tidak bisa menjawab dengan lugas dan tegas. Seperti tidak pasti. Beberapa kru sempat keluar masuk kantor dan menyatakan agar bis 2 dibatalkan saja karena penumpangnya sedikit. Tapi, akibat desakan dari kantor, bis 2 tetap dijalankan. Berpenumpang 11 orang, bis 2 diberangkatkan pukul 22.00. Bisnya bis ¾ dengan mesin Hyundai. Lumayanlah daripada bis 1 yang memakai mesin Mitsubishi dengan suspensi atosnya. Bis pun dipacu perlahan-lahan melewati lingkar Medan. Saya hanya terduduk dan memasang penutup kepala untuk tidur.

Tiba di Tanjung Morawa, saya sudah tidak mampu menahan kantuk. Apalagi bis hanya melaju pada kecepatan 60-80 km/jam. Sungguh sangat tidak seru sekali, apalagi jalanan sangat sepi malam itu. Truk-truk menyelip kami dengan leluasa. Akhirnya, saya terlarut dalam tidur yang cukup nyenyak di dalam bis yang seadanya ini.

8 Hari Mencari Jati Diri: Mejuah-Juah Medan! (Part 4)

Malam setelah menonton Barongsai adalah malam pendek yang harus saya lalui. Di kamar hotel saya ada kakak saya dan kakak sepupu saya yang beli bir yang rasanya antah-berantah (mendingan beli Heineken, jelas rasanya) dan dicampur dengan cocacola yang menjadikannya rasanya tambah aneh. Pukul 01.30 saya baru bisa tidur, sementara taksi bandara yang sudah dipesankan kakak saya akan menjemput saya dan kakak saya pukul 03.15. Itu artinya hanya sekitar 1 jam saya tidur. Saya tidur setidur tidurnya.

Pukul 02.45 saya sudah terbangun. Kakak-kakak saya baru saja menghabiskan bir. Saya segera mandi berendam air panas dan packing pakaian yang belum dipacking. Diusahakan tas sekecil-kecilnya biar tidak masuk bagasi.

Bukit Bintang masih sangat gelap malam itu, tapi cafe-cafe di depan hotel masih sangat ramai. Beberapa wanita tuna susila berbagai macam ras baru saja selesai menemani tamu-tamunya. Beberapa turis mabuk juga bergelimpangan di depan cafe. 

Taksi saya ini adalah Airport Limo untuk yang kelas paling murah. Ada 3 kelas: budget, standar, dan eksekutif. Biaya yang harus kami keluarkan adalah sekitar MYR 92 dengan mobil yang kami dapat adalah Proton Waja. Taksi Bosowa Surabaya banyak menggunakan mobil jenis ini sebagai armada taksinya.

Saya kali ini ditemani oleh kakak saya. Selain takut hilang, kakak saya juga ingin jalan-jalan ke KLIA. Apalagi rute kepulangan kakak dan keluarga budhe saya tidak melalui KLIA, tapi lewat LCCT karena menggunakan AirAsia. Jarak dari Bukit Bintang ke KLIA sekitar 150 km dan seharusnya ditempuh selama 1-2,5 jam. Kali ini taksi hanya membutuhkan waktu 55 menit untuk tiba di KLIA. Itupun sudah termasuk lewat sedikit Putrajaya.

Kami berdua langsung di drop di keberangkatan internasional. Bandara pagi itu masih sangat sepi sekali. Dan bagi saya, ambil pesawat pukul 06.15 dari KLIA ke Kualanamu Medan adalah sebuah kesalahan besar dimana harga tiket pesawat dan harga taksi dari Bukit Bintang ke KLIA nyaris sama (saya dapat tiket Malaysia Airlines KUL-KNO seharga Rp 422.000, sementara taksinya seharga hampir Rp 400.000). Transport lain seperti kereta KLIA Ekspress dan KLIA Transit baru tersedia pukul 05.00 dari KL Sentral dan bis KL Sentral-LCCT juga baru tersedia pukul 06.00. Maka, taksi tetap pilihan utama dan mengambil tiket 06.15 adalah pilihan terbodoh.
 Kuala Lumpur International Airport

 Petunjuk yang jelas di KLIA

Kami segera masuk ke bandara yang sangat besar ini meskipun lebih besar Changi. Bandara ini sekilas hanya terlihat 1 lantai saja. Tapi ternyata ada 3 lantai di bawah kami: tempat boarding, tempat makan, dan stasiun KLIA Ekspress. Kami segera mencari counter Malaysia Airlines. Namun, nampaknya semua masih tutup. Kami dengan katrok mencoba mesin check in otomatis, tapi gagal tidak bisa diproses. Kami berjalan muter-muter bandara, dan akhirnya menemukan counter check-in Malaysia Airlines. Kami check-in dengan bahasa malaysia yang luar biasa susahnya dipahami. Setelah check-in beres, kami berjalan turun dengan menggunakan lift. Petunjuknya sangat jelas dan bagus di bandara KLIA ini. Kata kakak saya, LCCT bandaranya sangat parah, mirip SHIA di Jakarta. Akses, informasi tarif, dan jadwal KLIA Ekspress pun sangat jelas.
Check In Counter KLIA

Setelah waktu mendekati pukul 04.45, saya dipersilakan boarding oleh kakak saya. Sementara kakak saya menunggu di bagian atas imigrasi untuk menjaga jika ada masalah di imigrasi. Kadang imigrasi tidak bisa ditebak, bisa tiba-tiba ada masalah. Setelah masuk imigrasi, pemeriksaan berjalan dengan lancar. Cuma dilihat, scan, cap, selesai. Setelah beres, saya mengacungkan jempol ke kakak saya yang melihat dari lantai 4. Kemudian saya bergerak masuk ke gate H10 sambil melambai ke kakak saya. Sementara itu, kakak saya meneruskan perjalanan kembali ke Bukit Bintang dengan menggunakan KLIA Ekspress yang hanya membutuhkan waktu 28 menit untuk tiba di KL Sentral. Kakak saya masih harus membimbing pakdhe-budhe dan kakak sepupu saya hingga tiba di Jogjakarta lagi.

Saya memasuki bandara yang benar-benar sepi karena hari masih gelap. Kalau di Jogja ibarat masih jam 2 pagi. Saya pikir jam 6 matahari di Malaysia sudah terbit. Saya menyusuri lorong-lorong mengikuti petunjuk yang sangat jelas. Sangat sepi. Cuma seorang bapak bersama anaknya yang sedang mencoba travelator. Travelator di KLIA lebih lambat daripada yang ada di Changi.

Hingga tibalah saya di gate H10. Hanya ada 4 orang disana, 5 termasuk saya. Penerbangan pagi itu di gate H10 hanya ke tujuan Kualanamu dan ke India. Saya duduk di kursi di depan gate. Sangat nyaman meskipun bukan kursi yang empuk, tapi lumayan untuk tidur barang 30 menit. Sementara petugas penjaga gate masih asyik ngobrol sambil makan.

Pukul 05.15, gate belum juga dibuka. Penumpang yang ada disitu juga tidak bertambah jumlahnya. Pukul 05.30 akhirnya gate dibuka. Petugas memanggil seluruh penumpang tujuan Kualanamu. Hanya saya yang beranjak dari tempat duduk. Di belakang saya hanya ada 2 perempuan dan 2 laki-laki. Itu artinya sementara ini penumpang KUL-KNO hanya ada 5 orang. Pengecekan berlangsung tidak terlalu ketat. Kami langsung dipersilakan masuk ke ruang tunggu. Total orang yang masuk akhirnya ada 11 orang, sementara waktu masih menunjukkan pukul 05.45. Tak beberapa lama, kami semua dipersilakan masuk ke dalam pesawat. Lagi-lagi saya yang pertama masuk ke pesawat. “Mungkin masih ada banyak orang di belakang”, pikir saya.

Hingga pukul 06.05, penumpang masih tetap saja dan pesawat sudah bersiap menuju ke landasan pacu. Boeing 737-800 milik Malaysia Airlines ini benar-benar berasa pesawat milik pribadi. Dari sekitar 150 kursi hanya diisi 11 penumpang dan 5 kru udara. 

Kebetulan saya duduk di bagian sayap, persis dekat mesin. Jadi suara mesin sangat terdengar. Proses penerangan cara memasang sabuk pengaman, dlsb dilakukan tanpa peragaan dari pramugari, tapi menggunakan layar yang tersedia tiap 3 deret bangku. Semuanya full menggunakan bahasa Malaysia dan bahasa Inggris yang dua-duanya saya tidak paham .___.

Setelah siap semuanya, pesawat take off. Lagi-lagi saya merasa landasan pacu di Malaysia ini kalah halus dengan Juanda, Adisucipto, atau Soekarno-Hatta. Tapi tetap Malaysia Airlines melakukan take off dengan mulus.

Perjalanan dalam gelap gulita pagi selama 40 menit berakhir ketika pesawat mendarat dengan selamat di Kualanamu. Bandara baru ini nampak lebih besar, lebih sepi, dan lebih tertata jika dibandingkan dengan bandara lainnya. Bentuknya nyaris mirip dengan KLIA, hanya memang lebih kecil saja. Pagi itu, pukul 06.10 (penerbangan -5 menit karena selisih waktu Kualalumpur dan Kualanamu adalah 1 jam) masih gelap gulita. Hanya ada 2 pesawat Lion Air, 1 pesawat Wings Air, dan 1 pesawat AirAsia terparkir di parkiran pesawat Bandara Kualanamu.
Ticket Counter Kualanamu Airport 


Pintu Keluar KNO

Saya bergegas keluar dari pesawat dan menuju ke pintu keluar bandara. Tujuan saya hanya mengejar kereta paling pagi dari Kualanamu ke Medan. Tidak ada pilihan tercepat lainnya selain naik Airport Railink Service (ARS) dari bandara ke kota medan. Naik bis Damri kabarnya dari Kualanamu ke Medan kota membutuhkan waktu lebih dari 1 jam, itupun turun di Tanjung Morawa. Petunjuk di dalam bandara cukup jelas untuk mengarahkan penumpang ke pintu keluar. Hanya memang lokasi imigrasinya tidak terlalu bagus. Checking barang bawaannya juga tidak terlalu bagus. Luas, tapi hanya ada 2 mesin checking barang saja. Petunjuk di dalam bandara memang bagus, tapi ketika tiba di pintu keluar, petunjuk yang sangat jelas hanya Stasiun ARS saja. Petunjuk untuk moda transportasi lain selain ARS tidak jelas, bahkan tidak ada. Kondisi ini cenderung dimanfaatkan taksi-taksi gelap untuk mencari penumpang.

Kereta ARS paling pagi adalah pukul 05.05. Jadwal keberangkatan saya paling dekat adalah pukul 07.30. Saya membeli tiket seharga Rp 80.000 untuk Kualanamu-Medan. Memang selisih sangat jauh dengan naik Damri. Naik Damri hanya dikenakan biaya sekitar Rp 20.000. Rp 5.000 untuk naik angkotnya. Jadi total sekitar Rp 25.000. Sembari menunggu keberangkatan kereta yang masih 1 jam lagi, saya duduk-duduk di stasiun ARS yang masih baru dan sangat nyaman sambil menikmati kacang asin, snack dari Malaysia Airlines dari flight tadi. Waktu sisanya saya gunakan untuk mengabari orang di rumah bahwa saya sudah sampai di Medan dan petualangan baru akan dimulai.
Tiket ARS dan ruang tunggunya

Pukul 07.15 semua penumpang ARS dipersilakan naik ke dalam kereta. Keretanya cukup nyaman, tidak ada suara deru mesin seperti ketika naik Prambanan Ekspress atau Komuter Surabaya-Sidoarjo-Porong. Acnya juga dingin dan kursinya nyaman seperti kursi bis patas. Masing-masing penumpang mendapatkan nomor tempat duduk. Kebetulan kereta saat itu sepi, jadi saya duduk di tempat yang saya rasa nyaman.
Interior ARS

Pukul 07.30 tepat kereta diberangkatkan. Waktu perjalanan dari Kualanamu ke Medan adalah 47 menit. Kanan kiri rel hanya terlihat kabut saja. Maklum, masih sangat pagi sekali. Saya beberapa kali terlelap dalam tidur karena badan yang sangat capek. Apalagi semalam saya Cuma tidur 1 jam saja di hotel.

Hampir tiba di Stasiun Besar Medan, saya terbangun dari tidur. Situasi kanan kiri rel tidak jauh beda kalau memasuki stasiun-stasiun besar di Jawa: banyak rumah kumuh di kanan kiri. Rel juga masih single track. Lebih tepatnya sebenarnya mirip dengan masuk Surabaya Gubeng ketika dulu masih belum double track. Saya mengasumsikan Medan ini mirip dengan Surabaya.

Pukul 8 kurang, kereta merapat di Stasiun Besar Medan, tapi sepertinya merapat ke stasiun baru yang memang dibangun khusus untuk ARS. Ada jembatan besar yang menghubungkan stasiun khusus ARS dan stasiun besar Medan lama. Untuk bisa sampai di pintu keluar, kami harus naik ke lantai 2 dulu, baru turun ke lantai 1. Disitulah pintu keluar untuk ARS.

Awalnya saya cukup bingung karena ternyata pintu keluarnya tidak langsung ke Lapangan Merdeka. Padahal, target awal tujuan saya adalah Lapangan Merdeka. Dari situ akses ke semua tujuan saya di Medan sangat mudah.

Waktu sudah semakin siang. Tiba-tiba saja sudah hampir 08.30. Denyut nadi kehidupan kota Medan semakin nampak, sementara saya juga harus bergegas mencari sarapan dan bertolak ke Sibolangit, tempat tujuan pertama saya di Medan ini. Waktu yang saya susun memang sangat berhimpitan. Ngepres bahasa gaulnya. Sehingga, mau tidak mau butuh kedisiplinan ekstra untuk menjalankan rundown ini.

Dari Jl Jawa, saya ditawari naik becak. Tujuan saya kali ini sebelum beranjak ke Sibolangit adalah ke Soto Medan Sinar Pagi yang ada di Jl Sei Deli. Tukang becak hanya sedikit yang tahu. Akhirnya, bermodalkan Google Maps dari Blackberry yang saya bawa, saya mencari akses jalan terdekat dengan BB saya. Rupanya jaraknya hanya sekitar 1,6 km. Saya memutuskan untuk berjalan kaki saja, apalagi trotoar sepertinya cukup baik. Sekalian menikmati udara pagi Medan. Persis seperti petualang backpacker di film-film atau acara di TV, saya membawa tas carrier saya di punggung, berjaket, bersepatu gunung, tapi menyusuri jalanan kota -____-

Perjalanan tidak memakan waktu lama. Hanya sekitar 30 menit saja. Banyak orang menyapa saya dengan bahasa Medan, dan saya pun urung membalasnya karena saya nggak tau sama sekali bahasa Medan yang kedengarannya hampir mirip dengan Bahasa Madura ini. Hanya senyum yang muncul dari bibir saya.

Soto Sinar Pagi saat itu ramai sekali. Saya datang, memesan, dan langsung makan. Kabarnya, soto Medan Sinar Pagi ini kuliner wajib bagi yang berkunjung ke Medan. Dan ternyata benar: soto dengan kuah santan dengan rasa asam manis langsung memenuhi rongga mulut dan membuat energi terbakar membara *lebay*. Sayangnya hanya satu, harganya yang kurang masuk akal. Sekali makan habis RP 34.000,00 untuk saya sendiri.

Setelah sarapan, saya mencari petunjuk dari penjual soto untuk mendapatkan angkot tujuan Simpang Pos. Untuk menuju ke arah Sibolangit-Berastagi, saya harus naik angkutan umum sejenis ELF dari Simpang Pos. Setelah mendapatkan arahnya dan jenis angkotnya, saya kembali berjalan menuju jalan utama.

Waktu semakin siang, dan tiba-tiba saja sudah hampir jam 10. Angkot di Medan sangat banyak, sehingga tidak butuh waktu lama untuk menunggu angkot warna merah yang akan mengantar saya ke Simpang Pos. Segera saya naik angkot dan segera pula saya menjadi pusat perhatian bagi ibu-ibu di dalam angkot. Angkot langsung ngebut, rasanya seperti naik bis Surabaya-Jogja. Biasa, sopir Batak memang terkenal gila-gila dalam membawa kendaraan. Begitu juga angkot ini.

Dari Sei Deli ke Simpang Pos berjarak sekitar 8 km. Kalau jalanan lancar, seharusnya bisa ditempuh dalam waktu maksimal 20 menit. Namun ternyata jalanan padat, dan angkot harus sedikit memutar jalur. Waktu 25 menit harus saya lalui di angkot yang jalannya ngebut dan mepet-mepet kendaraan lain. Hidup berlalulintas di Medan benar-benar keras -_____-

Sopir Angkot di Medan baik-baik. Ketika sudah tiba di suatu daerah yang ada jembatan layangnya, saya diingatkan bahwa tempat tersebut adalah Simpang Pos. Saya turun dan segera membayar. Hanya Rp 5.000,00. Sekaligus saya tanya untuk ke Berastagi naik bus yang mana. Ternyata busnya ada di perempatan yang seberang. Lumayan jauh kalau jalan, 300 meter. Sopir angkot menyuruh saya naik lagi ke angkotnya dan menghantarkan sampai ke pangkalan bus ke Berastagi. Sebelumnya pun, saya ditawari mau naik yang apa: Murni Ekspress, Sinabung Jaya, dan Sumatra Transport (SUTRA). Awalnya saya ingin naik Sinabung karena track recordnya sebagai bus Medan-Berastagi yang paling kenceng. Tapi akhirnya saya bilang ke pak sopir untuk mencari yang paling nyaman saja. Saya diturunkan di depan pool Murni Ekspress. Sementara abang sopir angkot tadi sama sekali tidak menarik biaya tambahan.

Bus yang saya tumpangi ini sebenarnya menggunakan chasis truk sejenis Mitsubishi Canter yang kemudian dimodifikasi menjadi mobil penumpang yang lebih besar daripada ELF. Sebenarnya hampir mirip dengan bis Jogja-Tempel yang mini-mini. Tapi lebih lebar karena seatnya 2-2 (kanan 2, kiri 2). Saya bilang ke kernetnya agar menurunkan saya ke jalan menuju Air Terjun Sibolangit. Kernetnya langsung menjawab,”Oh, Bumi Perkemahan Sibolangit ya Bang?” dan saya mengiyakan.

Saya segera masuk ke dalam bis. Masih sepi, hanya ada 6 orang penumpang. Bis ini bisa memuat sampai 20 penumpang. TV di dalam bis sedang memutar lagu-lagu pop Batak lengkap dengan tariannya. Salah satunya ada lagu ABG Tua yang diaransemen menjadi Pop Batak. Gerakan tarian Batak ini benar-benar lucu dan unik.

Setelah 15 menit ngetem, bis diberangkatkan. Tetap dengan penumpang 6 orang. Di jalan, beberapa penumpang kembali naik. Saya memilih untuk memejamkan mata karena badan masih terasa capek. Seingat saya, bis ini melewati jalanan-jalanan kecil yang ngepres kalau dilewati 2 bis sejenis. Memang jalur Medan-Kabanjahe terkenal sebagai jalur maut dengan karakter jalan yang kecil dan jalur yang menikung.

Saya tertidur pulas karena kaca bis terbuka lebar, sementara hawa-hawa dingin pegunungan mulai terasa. Saya terbangun karena penumpang sebelah saya meminta izin akan turun. Setelah itu, saya terus terbangun karena melihat tulisan “Sibolangit” yang berarti saya sudah berada di daerah Sibolangit dan tujuan semakin dekat. Saya berpikir bahwa mungkin bumi perkemahannya sudah terlewat karena saya tertidur pulas. Dan saya juga tidak keberatan seandainya memang benar-benar sudah terlewat, karena hal ini biasa terjadi di Jawa. Kalau kelewat, ya sudah. Bukan salah kernet-kondektur, salah penumpangnya sendiri.

Jalanan mulai berkelok-kelok dengan beberapa tikungan 160 derajat. Nahlho, tikungannya sangat tajam sekali dengan jalan yang sempit. Sampai-sampai bis yang saya tumpangi nenggak tidak kuat naik sementara bis ini tidak punya hand rem sehingga bis menggelondor turun terus cukup jauh sampai akhirnya kernet berhasil turun dan mengganjal bus dengan batu. Setelah distarter mesinnya dan dimasukkan gigi yang pas, driver bis ini kembali memacu bisnya. Walaupun dalam kondisi demikian, driver bisnya tetap santai dan tenang. Padahal di belakang ada jurang dan di depan ada tebing. Katanya sih, sudah biasa -___-

Setelah jalan sudah kembali sedikit lurus, saya menyandarkan badan lagi dan sudah akan terpejam. Tiba-tiba abang kernet menepuk pundak saya
“Bang, Bumi Perkemahan Sibolangit. Ayo siap-siap.”
Saya pun segera bangun dan mempersiapkan tas saya. Ternyata benar, bis baru saja sampai di depan Bumi Perkemahan Sibolangit. Saya bergegas turun dan berterima kasih kepada abang kernet. Benar-benar kernet yang sangat baik hati, rela membangunkan penumpangnya. Tarifnya pun cukup murah, hanya Rp 10.000. Padahal jarak dari Medan ke Sibolangit sekitar 40 km. 

Saya berdiri sejenak di seberang Bumi Perkemahan. Bingung karena mau cari ojek kok tidak ketemu, sementara Bumi Perkemahan ramai dengan anak pramuka. Katanya sedang ada event pramuka dari Jambi dan sekitarnya. Akhirnya saya nekat menyeberang dan masuk ke Bumi Perkemahan. Ada petunjuk untuk menuju ke air terjun Sibolangit. Berjalan 500 meter dan akan menemukan posko Ranger disana. Sayapun berjalan lagi sembari sesekali bertanya ke ibu-ibu penjaga warung di kanan kiri jalan.

Setelah berjalan selama 30 menit melalui jalan beraspal sebagian makadam, saya tiba di posko Ranger Sibolangit. Disana saya disambut oleh beberapa orang yang merupakan Ranger yang menjaga pos Sibolangit. Ada Ranger biru, ranger merah, ranger hijau :p

Saya dibiarkan duduk dan tenang terlebih dahulu karena jalan kaki ini cukup menyita energi. Saya diajak berkenalan dengan Ranger yang ada disana. Yang saya ingat namanya adalah Bang Tele Tabis (nama aslinya Aditya) yang kemudian nantinya menjadi partner perjalanan saya, Bang Roy yang kemudian jadi guide saya di Sibolangit, Pak Emanuel Sinuraya (kabarnya, beliau adalah yang menemukan air terjun dwi warna sekaligus sebagai kepala Ranger Sibolangit), Kepi (yang merupakan mahasiswi FKM USU angkatan 2010), dan seorang bapak yang merupakan kepala unit buper Sibolangit. 

Kami ngobrol-ngobrol seolah-olah kami sudah lama kenal. Bahkan bapak kepala buper pun ternyata pernah tinggal cukup lama di Jogjakarta, mengelola unit pramuka yang ada di Jogjakarta. Beberapa tokoh pramuka Jogja masa-masa saya SMP pun saya sempat mengenalinya, karena beberapa tokoh tersebut pernah secara khusus hadir ke SMP saya. Oleh pak kepala buper, saya sempat diajak ngobrol dengan menggunakan bahasa Jawa krama hingga ranger-ranger yang lain akhirnya mengeluh karena tidak paham apa yang kami obrolkan. “aduh, bicara pakai bahasa planet lagi sudah”, seloroh mereka.

Setelah badan lumayan fit, saya diberikan penjelasan mengenai air terjun dwi warna Sibolangit. Aslinya biaya masuknya tidak terlalu mahal jika saya datang berombongan. Untuk rombongan 10 orang, hanya dikenai Rp 22.500 per orangnya. Tapi ini berbeda karena saya datang sendirian, dan ini kali pertama saya datang ke Sibolangit. Kalau sudah pernah sebelumnya, tanpa guide pun tidak masalah. Total biaya yang harus saya keluarkan Rp 180.000 sudah termasuk fee guide, administrasi, dan tiket masuk. Saya memutuskan mengambil guide karena medan yang memang kabarnya tidak mudah. Apalagi perjalanan ditempuh sejauh 3 jam. Sudah tentu tidak mungkin jalannya hanya 2-3 km saja.

Guide yang menemani saya kali ini adalah Mas Roy. Sebelum berangkat, saya membeli aqua 1500 ml dan menitipkan tas carier saya ke posko Ranger. Sementara kamera saya bawa. Tidak ada barang penting lainnya selain kamera di tas carrier saya. Jadi, seandainya pun ada yang mengobrak-abrik tas saya, ya sudah tentu malingnya yang bakalan rugi. Ada uang cadangan, tapi saya letakkan di tempat yang paling tersembunyi bahkan saya pun lupa naruhnya dimana dan baru ingat waktu sudah sampai di Jakarta  

Tepat pukul 11.30 kami memulai perjalanan. Cuaca berawan mendukung perjalanan kami, ditambah hawa sejuk pegunungan Sibayak. Track yang akan kami tempuh sepanjang 7 km dengan medan menanjak curam dan turunan curam melewati hutan tropis yang khas.

Baru saja masuk hutan, saya sudah dibuat tercengang karena air sungai yang ada disitu benar-benar jernih dan menggoda untuk diminum. Memang kabarnya di daerah kaki gunung Sibayak ini banyak sekali sumber mata air. Bahkan Aqua Golden Missisipi pun memilih mata air di kaki gunung Sibayak untuk memenuhi supply air minum di daerah Sumatera Utara. 
Salah satu air sungai di tepi trek

Perjalanan di 1 km pertama masih datar-datar saja. Sesekali melewati tanjakan yang tidak begitu tinggi. Jalurnya memang benar-benar berada di hutan tropis. Pepohonan sangat rapat sampai-sampai suasana di dalam hutan seperti sore. Padahal sempat beberapa kali matahari keluar dari persembunyiannya. Suasanya hutan sangat sepi, kadang beberapa kali nampak burung-burung beterbangan, ada pula beberapa ekor lutung yang melompat dari satu pohon ke pohon lain, kadang pula langkah kami diikuti beberapa ekor kera ekor panjang dari kejauhan. Beda dengan di Baluran, kera ekor panjang di hutan ini takut jika ada manusia lewat.
Sekitar 2 km dari pos Ranger, ada seorang penjaga yang memang standby di hutan dan menarik biaya bagi yang masuk menuju ke dua warna. Biayanya Rp 5.000 untuk 1 orang. Karena dengan guide, kami dihitung 2 orang.
Menembus hutan tropis

Setelah membayar, kami dipersilakan melanjutkan perjalanan. Ada rombongan 5 orang yang sudah naik lebih dahulu. Jalanan selanjutnya lebih didominasi tanjakan-tanjakan berat dengan jalan yang tertutup akar. Hutan kali ini lebih rapat. Cahaya matahari sukar menembus, dibuktikan dengan beberapa batang pohon yang berlumut. Burung-burung mulai jarang, tapi saya berkesempatan melihat Elang Brontok terbang dengan gagahnya di ngarai yang tidak jauh dari hutan. Jalan semakin tidak kelihatan karena banyak daun-daun tua yang berguguran. Bagi yang belum pernah kesini, memang sangat dianjurkan membawa guide. Karena selain jalannya medannya susah, jalannya juga tidak kelihatan. Syukur-syukur kalau jalan utamanya kelihatan lalu ada cabang-cabang, lha ini sudah jalan utamanya saja tidak kelihatan. Tapi bagi Anda yang berketerampilan khusus bisa membedakan mana jalur yang sering dilalui manusia dan mana jalur yang tidak pernah dilalui manusia, Anda bisa berjalan sendiri meskipun sebenarnya perbedaannya di hutan ini sangat tipis. Apalagi air terjun dua warna ini cukup jarang dikunjungi, meskipun sudah ditemukan sejak tahun 2006.

Kami menemukan beberapa kotoran binatang. Diantaranya kotoran kera ekor panjang yang bulat-bulat kecil seperti sisa biji-bijian dan kotoran babi hutan. Di sisi jalan juga beberapa kali ditemukan bekas galian babi hutan. 3 km menjelang air terjun, medan bertambah susah ditandai dengan tanjakan yang semakin tinggi diselingi kerikil dan batuan besar, pohon-pohon tumbang sehingga beberapa kali harus melompat dan merangkak, dan jalanan yang makin lama makin mepet tebing. Di bawah tebing, ada sungai berwarna biru kehijauan. Sungai itu merupakan sungai dari air terjun dua warna yang telah tercampur airnya dengan sumber mata air di kanan kiri sungai.
Bang Roy dan tanjakan yang dipenuhi akar-akar

Perjalanan memasuki 2 km terakhir ketika ada turunan dahsyat yang mirip menuruni tebing. Kecuramannya mencapai 80 derajat, hampir tegak. Ada tali bantuan yang memang sengaja dipasang Ranger Sibolangit. Perlu pegangan dengan akar dan tali agar tidak jatuh terperosok. Ya lumayan, ketinggiannya sekitar 50 meter. Setelah turunan curam ini, ada sungai. Kanan kiri sungai ini tebing yang curam. Jadi, bisa ditebak, perjalanan selanjutnya selama 1,5 km adalah menyusuri sungai yang penuh bebatuan. Mirip dengan jalan ke air terjun Kedung Kayang di Magelang sebenernya. 

Air sungai berwarna biru kehijauan membelah batu-batuan besar yang tersusun alami menimbulkan kesan wingit. Apalagi hawanya dingin, kadang disertai kabut tipis-tipis ditemani rimbunnya hutan tropis. Mistis sekali. Sesekali perlu melompati batu-batuan kecil untuk menyeberang melewati bagian sungai yang dalam. Memang disarankan pakai sepatu gunung yang waterproof atau memakai sandal jepit. Jika kurang yakin terpeleset di batu, bisa tidak memakai alas kaki. Sepatu gunung yang saya pakai untungnya sudah waterproof, tapi ya tetap licin kalau lewat batu-batu. Jadi, perlu hati-hati.

Ada beberapa pohon tumbang di pinggir sungai ini. Jadi, perlu langkah yang ekstra lebar, kadang-kadang harus jalan sambil jongkok.
Melewati tepi sungai dengan bebatuannya yang licin dan berlumut

Beberapa meter dari air terjun, medan semakin mudah. Hanya terdiri dari tanah yang cukup datar dengan tebing di sisi kiri. Setelah ditemukan memoriam di pinggir tebing, berjalan sedikit, lalu terlihatlah pemandangan yang sangat waaaaahhhh: air terjun dua warna yang terdiri dari 2 air terjun utama dan 3 air terjun kecil-kecil. 1 air terjun utama dan 3 air terjun kecil-kecil mengalir ke kolam menghasilkan air yang berwarna biru muda, sedangkan 1 air terjun sisanya mengalir dari sisi yang berbeda dan menghasilkan air bening. Air biru muda ini mengandung belerang dan sangat dingin. Sedangkan air yang bening memiliki air yang lebih hangat jika dibanding air biru muda, padahal sama-sama mengalir dari Gunung Sibayak. Dan bisa ditebak, dari perkiraan perjalanan selama 3 jam, kami hanya membutuhkan waktu 2 jam lebih sedikit saja untuk tiba di air terjun.

Disana kebetulan ada rombongan yang sudah tiba lebih dahulu. Saya mengambil posisi wenak untuk foto-foto sana-sini. Ditempat ini memang ada memoriam. Dulu, tahun 2006 ada orang camping di tebing di atas air terjun. Karena kondisi kabut, sementara orang tersebut diminta mencari kayu bakar oleh teman-temannya. Orang itu hilang arah di dalam kabut, lalu jatuh terperosok dari tebing setinggi hampir 100 meter dan akhirnya meninggal di tempat.
Air terjun utama, ada 4 air terjun: 3 kecil dan 1 yang paling besar. Menghasilkan air berwarna kebiruan dan suhunya dingin sekaleee
Air terjun utama juga, terdiri dari 1 air terjun besar. Airnya dingin, tapi relatif lebih hangat daripada yang berwarna biru muda. Ini airnya bening.

Setelah puas foto-foto, saya menikmati suasana yang dingin-dingin mistis di air terjun dua warna ini. Saya tidak berani mandi karena airnya benar-benar dingin. Ditambah hawa dingin ketika itu.
Dwi Nugrahananto berpose di depan air terjun Dwi Warna :D

Sekitar 45 menit saya menikmati air terjun. Sementara rombongan yang sudah datang lebih dulu tadi sudah pergi 15 menit yang lalu. Saya dan Bang Roy memutuskan untuk kembali ke posko Ranger. Apalagi ketika itu sudah jam 3 sore. Saya akan meneruskan perjalanan ke Berastagi, jadi biar tidak kemalaman. Perjalanan pulang kali ini lebih cepat, hanya memakan waktu 1,5 jam. Sampai di pos Ranger, rombongan yang berangkat di depan kami tadi juga baru saja sampai dan baru saja beristirahat di gazebo belakang posko.

Sembari melepas lelah, saya ngobrol-ngobrol di pos Ranger. Berbagai tawaran muncul. Mulai dari muter-muter Medan sampai ke Bukit Lawang dan Bukittinggi, tawaran guide, sampai menginap di rumah singgah milik ranger Sibolangit. Tawaran yang sangat menarik sekali bagi seorang backpacker, apalagi Bukit Lawang dan Bukittinggi merupakan salah satu objek wisata unggulan internasional. Hati saya cukup goyah saat itu, apalagi tawaran guide dari Bang Tele Tabis dan menginap di rumah singgah ranger dan berkenalan dengan lebih banyak orang disana.

Akhirnya, karena pertimbangan waktu (saya hanya sampai tanggal 11 saja berada di Medan), maka saya memutuskan untuk kembali ke rencana awal: menginap di Berastagi untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Sipiso-piso-Pematang Siantar-Parapat-Samosir. Kebetulan juga tiket pesawat ke Jakarta sudah di tangan, dan itu tiket promo. Untuk merubah jadwal keberangkatan sama saja dengan beli tiket baru. Jika waktu saya berlimpah ruah dan tidak dibatasi oleh biaya, ya saya mau aja mengunjungi tempat-tempat tersebut. Apalagi setelah diceritai bahwa di Sabang dan Kutacane pemandangannya sangat oke sekali. Mungkin lain waktu saya bisa kesana lah. Mungkin bisa nanti kalau sudah lulus dan penggelaran dokter gigi ambil waktu 2-3 minggu buat jelajah Sumatera :D Tapi fokusnya setelah penggelaran pengen ke daerah timur Indonesia sih...
Berfoto bersama tim gabungan Ranger Sibolangit

Setelah berpamitan dan berfoto, saya diantar oleh Bang Roy untuk menuju ke Jl Jamin Ginting, jalan besar di bumi perkemahan Sibolangit yang menghubungkan Medan dengan Berastagi. Saya berjanji suatu waktu jika mampir ke Medan bakal mampir ke Sibolangit lagi. Semoga rekan-rekan Ranger yang ada di sana masih sama :D

Setelah sampai di jalan besar, sebuah bis Murni Ekspress tujuan Berastagi muncul dari tikungan. Saya segera pamit dengan Bang Roy dan segera naik ke bis tersebut. Satu pesan Bang Roy yang tidak saya lupakan: Kalau di Tanah Karo, jangan lupa mencoba BPK. Babi Panggang Karo. Belum ke Karo kalau belum coba BPK.

Pukul 17.30 saya sudah tiba di Berastagi. Hanya membayar Rp 4.000 saja. Sama dengan tarif bis kota di Surabaya. Saya bingung turun di mana. Pokoknya sampai di tengah kota, ada ramai-ramai dan ada orang turun, ya saya ikutan turun. Ternyata itu adalah pasar Berastagi. Saya kebingungan cari penginapan. Kabar dari beberapa kawan backpacker di internet, di deretan ruko-ruko itu ada hotel. Saya cari kanan kiri kok tidak ada, lalu saya menyusuri jalanan berastagi. Karena lelah, saya memutuskan singgah sejenak di Indomaret. Apalagi terakhir kali saya makan ya tadi pagi tadi di Soto Medan. Lalu setelah rasa lelah hilang, saya kembali berjalan mencari hotel dengan harga murah dan bersih. Sembari berjalan, ya sesekali lirik kiri lirik kanan. Cewek di Berastagi ini cantek-cantek. Putih-putih, bersih-bersih. Ah, apasih...lanjut jalan lagi....
Kata teman-teman dari Sibolangit tadi, di Berastagi ini banyak ‘awul-awul’ barang-barang hiking. Tas, sepatu, dan jaket branded sejenis Jack Wolfskin, Eiger, TNH, Deuter hanya dijual murah disini. Tapi masih belum cukup biaya untuk coba tawar menawar. Mungkin lain kali lah ya....

Akhirnya, pilihan saya jatuh ke Sibayak Guest House yang terletak di bagian paling ujung dari pusat kota Berastagi. Ada kamar seharga Rp 100.000 dengan 1 tempat tidur. Tapi kuncinya tidak ada -______- *niat bikin hotel gak sih* Akhirnya saya ambil yang harga Rp 250.000. Terlalu mahal, tapi bagaimana lagi. Daripada di hotel yang sudah saya kunjungi sebelumnya, RP 200.000 tapi kamarnya wingit banget -_____-
Kamarnya sangat luas. Kasurnya aja bisa dipakai orang 3. Lantainya kalau mau tidur pakai sleeping bag bisa dipakai buat tidur orang 4. Kamar mandinya juga lumayan, airnya juga bersih. Rata-rata yang menginap di tempat ini adalah backpacker lokal dan mancanegara. Dan usut punya usut, tempat ini sudah masuk ke TripAdvisor. Makanya yang mengisi kamar kok backpacker semua...

Begitu melepas sepatu dan cuci kaki, saya langsung tepar di kasur. Sampai lupa kalau belum makan. Saya terlelap sampai pukul 10 malam. Ketika membuka HP ternyata Bang Tele Tabis SMS. Saya meninggalkan nomer HP di posko Ranger Sibolangit tadi siang. Bang Tele Tabis menawarkan diri untuk menjadi guide saya selama di Berastagi dan Samosir mulai besok pagi. Awalnya saya menolak, karena saya belum tau karakter Bang Tabis sendiri. Bagi saya, cukup susah mengajak orang yang belum kita kenal seluruhnya untuk pergi bersama dengan ritme backpacker. Kalau-kalau ritme yang kita miliki tidak sama dengan ritme yang dimiliki partner kita, ini sudah beban tersendiri bagi yang mempunya ritme yang lebih tinggi. Kebetulan ritme yang saya miliki adalah ritme yang rendah, nggak bisa ‘ngoyo’ dan pengalaman juga masih sedikit. Tapi karena melalui negosiasi singkat, saya menyepakati Bang Tele Tabis menjadi partner saya dalam perjalanan. Toh kalau sewa guide di Medan sehari bisa lebih dari Rp 150.000, sementara saya hanya diminta menanggung biaya makan Bang Tabis aja. Mungkin tidak lebih dari Rp 300.000 karena 2 hari.

Kemudian saya terlelap kembali dalam buaian mimpi tidur saya karena hawa dingin yang menyelimuti Berastagi.