Kaca Sanesipun

Senin, 17 Maret 2014

Tao Sidihoni: Ada Danau di Dalam Danau

Ada gunung diatas gunung? Sudah biasaaa...Lah ini ada Danau di dalam Danau.

Jadi ceritanya begini. Ada sebuah gunung. Di puncak gunung tersebut ada danau yang sangat besar sekali. Di danau tersebut, ada pulau yang bergunung-gunung. Nah, diatas gunung-gunung di pulau itulah ada danau. Lebih kurang demikianlah penggambaran tentang Danau Sidihoni (dalam bahasa Batak disebut sebagai Tao Sidihoni), sang danau diatas danau. Keunikan Samosir yang susah didapatkan di daerah lainnya.
Danau Sidihoni merupakan salah satu ciri khas dari pariwisata Danau Toba, Sumatera Utara. Selama ini, masyarakat awam hanya mengenal Parapat sebagai tempat paling oke untuk menikmati Toba, padahal Parapat ini hanya 40%nya Toba saja. Masyarakat juga sering mencukupkan diri untuk sekedar mengunjungi Tomok, Tuktuk Siadong, Makam Raja-Raja, Museum Batak, dan mencicipi BPK jika pergi ke Samosir. Padahal di Kecamatan Pangururan, yang berada di sisi barat Pulau Samosir, menyimpan banyak sekali objek wisata: Tao Sidihoni, Tele, Air Terjun Efrata, Air Terjun Rasa Jeruk, Pantai Pasir Putih Parbaba, dan Pemandian Air Panas (sayang sekali, dari semuanya itu yang saya kunjungi cuma Tao Sidihoni dan Pasir Putih Parbaba).
Kembali lagi ke Tao Sidihoni.
 

Dimana letak Tao Sidihoni?

Tao Sidihoni sebenarnya tidak secara persis terletak di Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Tao Sidihoni sebenarnya masuk di wilayah Kecamatan Ronggur Nihuta. Hanya saja aksesnya paling dekat dari pusat Kecamatan Pangururan, 5 km saja atau dapat ditempuh dalam waktu kurang dari 15 menit dengan sepeda motor. Dari Tomok atau Tuktuk Siadong, Tao Sidihoni berjarak sekitar 40 km dengan waktu tempuh lebih kurang 45 menit-1 jam dengan menggunakan sepeda motor.

Bagaimana caranya menuju Tao Sidihoni?

Dari Medan ada 2 pilihan: menuju Parapat terlebih dahulu dan menggunakan penyeberangan Lopo Parindo lewat Tiga Raja atau dengan Kapal LCT dari Pelabuhan Ajibata, atau mungkin langsung menuju Pangururan dengan menggunakan armada Bis atau L300 Samosir Pribumi atau Dairi. Samosir Pribumi bis memiliki rute Pekanbaru-Siantar-Ajibata-Pangururan dan Medan-Siantar-Ajibata-Pangururan, kedua-duanya via Ferry LCT Ajibata-Tomok dengan waktu tempuh Medan-Pangururan sekitar 6-7 jam. Sedangkan L300 Samosir Pribumi dan Dairi melayani rute Medan (Simpang Pos)-Berastagi-Kabanjahe-Pangururan dengan waktu tempuh Medan-Pangururan sekitar 7-8 jam. Bedanya, view yang ditawarkan lebih bagus via Berastagi-Kabanjahe daripada via Siantar.
Sesampainya di Pangururan, satu-satunya pilihan untuk menuju Tao Sidihoni adalah Ojek atau naik becak. Jangan khawatir, semua becak di Pangururan adalah becak motor. Biasanya tarif yang ditawarkan tidak terlalu mahal karena Tao Sidihoni tidak terlalu jauh dari Pangururan. Dari Pangururan ini akan melewati jalan yang lumayan berkelok tapi tidak menanjak tajam. Dari arah belakang akan terlihat pemandangan Danau Toba di sisi barat yang tidak kalah eksotis dengan pemandangan di sisi timur.
Jika Anda memilih berangkat dari Tomok dengan charter sepeda motor atau dengan menaiki armada Sampri Bison (biasanya menyediakan rute Tomok-Pangururan dengan frekuensi yang jarang), maka Anda akan disuguhi pemandangan yang begitu indah sepanjang jalan menyusuri sisi timur Pulau Samosir yang berhadapan langsung dengan deretan pegunungan di Parapat.


Berapa biaya masuk ke Tao Sidihoni?


GRATIS! Tidak dipungut biaya. Anda bisa masuk, keluar, berfoto ria sampai capek di Tao Sidihoni. Pun kalau Anda tersesat, Anda tanya kepada warga sekitar dan warga sekitar akan memberi tahu Anda dengan sukarela. Meskipun demikian, sedikit orang yang tahu tentang Tao Sidihoni ini. Mungkin hanya orang Pangururan saja yang tau keberadaan Tao Sidihoni. Inilah sebabnya Tao Sidihoni cukup jarang dikunjungi. Petunjuk yang kurang jelas juga karena akses yang jauh dari pusat icon pariwisata Samosir di Tuktuk Siadong.


Ada apa saja di Tao Sidihoni?


Bagi Anda yang tidak hobi berada di alam, Tao Sidihoni akan sangat mengecewakan Anda karena tidak ada sarana bebek-bebekan, speed boat, banana boat, rafting, atau game-game lainnya. Tao Sidihoni hanya menyediakan pemandangan alam yang sangat alami, asri, tenang, hening, dan membuat hati tenang. Kalau saya bilang, hampir mirip dengan Ranu Pane, tapi jauh lebih bagus Tao Sidihoni karena lebih alami, lebih sedikit pemukiman di sekitarnya, dan masih banyak rerumputan yang menghijau di kanan kiri danau. Sapi dan kerbau juga cukup banyak berkeliaran di Tao Sidihoni, menambah suasana alami di Tao Sidihoni.


Kapan waktu paling bagus menikmati Tao Sidihoni?

Kalau menurut saya, waktu paling bagus adalah pagi hari dan sore hari karena Tao Sidihoni ini sangat terbuka, jarang ada pepohonan. Kalau siang hari panas sekali. Untuk melihat sunrise ataupun sunset, Tao Sidihoni ini sangat ideal karena danaunya membentang dari barat ke timur. 


Penasaran? Karena gunung diatas gunung sudah mainstream, maka danau di atas danau sudah saatnya menjadi pilihan. Hanya di Tao Sidihoni, Ronggur Nihuta, Sumatera Utara, IndONEsia!

Jumat, 07 Maret 2014

Numpang Iklan

Apa kabar kesehatan gigi dan mulut Anda?

Gigi Anda berlubang? Gigi anda sakit? Atau dulunya sakit cenut-cenut tiba-tiba sudah tidak sakit lagi? Gigi Anda goyang? Punya karang gigi dan ingin dibersihkan? Gusi melorot? Gusi bengkak dan mudah berdarah? Atau mungkin Anda sariawan atau ada penyakit mulut lainnya?

Tentu sakit gigi bisa jadi lebih sakit daripada sakit hati :D

Anda ingin dirawat? Hubungi saya di 081802760016 atau mention di twitter @HerluinusTND atau inbox FB saya. Saya dan rekan-rekan di RSGMP FKG Unair Surabaya siap membantu menyelesaikan masalah Anda. 

Masalah harga? Jangan khawatir karena harga jauh lebih murah dari harga umum
Masalah kualitas? Jangan khawatir karena pekerjaan kami disupervisi oleh dosen terkait di bidangnya sesuai dengan SOP yang berlaku; bukan dibuat percobaan :D

Karena kesehatan Anda adalah kebahagiaan kami, Senyum Anda adalah senyum sehat Indonesia!

NB: SURABAYA ONLY

Kamis, 06 Maret 2014

8 Hari Mencari Jati Diri: (Bukan Monumen) Jogja Kembali (Part 8-Habis)

Waktu sudah menunjukkan pukul 05.30, sementara kereta baru saja tiba di Stasiun Wates. Artinya 30 menit lagi kereta tiba di Jogjakarta. Terlambat 1 jam. Bangun-bangun pun sudah sampai Wates. Betapa nyenyaknya tidur saya.

Pukul 06.05 kereta sudah tiba di Stasiun Besar Jogjakarta. Ini adalah tanda bahwa trip selama 8 hari ini berakhir disini. Segera saya menjumpai orang tua yang ternyata sudah sejak jam 04.00 menunggu di Stasiun dan memberikan oleh-oleh kepada mereka. Sore harinya, saya mendapat kabar bahwa saya harus kembali ke Surabaya karena ada pengarahan pra-klinik karena resmi per 10 Maret 2014 saya akan menjalani program pendidikan profesi sebagai Dokter Gigi Muda. Dan sudah tentu liburan panjang terakhir kali hingga 1,5 tahun kedepan karena program pendidikan profesi ini tidak ada libur, kecuali libur besar dan cuti bersama, selama 1,5 tahun. Pun akhirnya rencana santai-santai 3 hari di rumah batal, dan harus kembali macul di Surabaya.

Perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan ini memakan sangat banyak tenaga dan biaya, tapi menghasilkan sangat banyak kebahagiaan dan pengalaman. Bagi saya sangat susah untuk mencapai Medan dari Surabaya karena tiketnya mencapai Rp 1 juta sekali jalan. Tentu ini kesempatan yang langka bisa terbang dari Kualalumpur ke Medan dan kembali ke Jogja dengan biaya tiket yang hampir sama dengan tiket Kualalumpur-Jogja pada saat itu, hanya selisih Rp 150.000 saja. 

Akhir kata, terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat: orang tua yang telah membiayai sebagian trip Singapura-Malaysia, Mitra Jalan-Jalan Tour and Travel, Vivo Tour and Travel, AirAsia Indonesia, Fragrance Hotel Selegi Singapura, Radius International Hotel Bukit Bintang, Airport Limo Malaysia yang mengantarkan saya dari hotel ke KLIA, Malaysia Airlines, Airport Railink Service (ARS), PO Murni Ekspress, Ranger Sibolangit terutama Bang Roy, Pak Nuel Sinuraya, dkk, Bang Tele Tabis, Sibayak Guest House Berastagi, Pak Wilson atas jamuan singkatnya, PO Intra-Sentra beserta kru, kru kapal Lopo Parindo, Pak Panjaitan yang sudah menyewakan sepeda motor, driver mobil koran ‘Seputar Indonesia’, Durian Ucok, Durian House, pada driver betor yang mengantar kami, pihak Stasiun Besar Medan, sampai jumpa kembali di Medan lain waktu. Terima kasih juga kepada pihak Lion Air semoga bisa segera berbenah jadi lebih baik, Damri Bandara Soekarno-Hatta, masnya penjaga toilet Rawamangun yang lagi-lagi untuk kesekian kali saya repotin, ibu-ibu dari Jogja yang jualan nasi uduk di Rawamangun, Trans Jakarta semoga bisa semakin berbenah, dan PT KAI melalui kereta ekspres malam Senja Utama Solo, terima kasih atas segala jasa-jasanya mendukung perjalanan ini. Segala baik budi Anda sekalian hanya Tuhanlah yang membalasnya.

Akhir tulisan 8 seri ini, selamat membaca dan selamat melakukan perjalanan bagi Anda semuanya. Backpacker bukan hanya perkara pergi dengan membawa tas di punggung kita, tapi perkara mengenal budaya lain, berbaur dengan orang lain, menjadi rendah hati, mengatur diri, dan belajar mandiri. Selamat berpetualang!

Berikut adalah rincian tarif dan budget selama tour ini

Biaya selama di Singapura-Malaysia (exclude oleh-oleh)
Paket tour Singapura-Malaysia 4d 3n lengkap dengan pesawat Jogja-Singapura (AirAsia) +/- Rp 6.200.000 (saya cuma nanggung Rp 3,9 juta. Sisanya dapet 'sogokan' dari ortu)
Tiket Malaysia Airlines KUL-KNO  Rp 422.000,00
Taksi Bukit Bintang-KLIA Rp 400.000,00
Roti Cane+Teh Tarik Bukit Bintang Rp 9.000,00
Nasi Mutton Kebuli+Madras Tea +/- Rp 54.000,00
Monorail Bukit Bintang-KL Sentral PP +/- MYR 6,2
MRT Little India-Lucky Plaza (SIN) PP +/- SGD 2,1

Biaya Selama di Indonesia (exclude oleh-oleh)
ARS KNO-Medan  Rp 80.000,00
Soto Medan Sinar Pagi (soto+perkedel+nasi+pisang+es teh) Rp 34.000,00
Angkot Sinar Pagi-Simpang Pos Rp 5.000,00
Murni Ekspress Simpangpos-Sibolangit Rp 10.000,00
Guide+Perijinan Sibolangit Rp 180.000,00
Sumatra Transport Sibolangit-Berastagi Rp 4.000,00
Hotel Sibayak Guest House Rp 250.000,00
Sarapan Soto Medan Berastagi Rp 21.000,00 (2 orang)
Angkot 'Kama' Berastagi-Sibayak Rp 6.000,00 (2 orang)
Tiket masuk Sibayak Rp 8.000,00
Angkot 'Kama' Sibayak-Berastagi Rp 6.000,00 (2 orang)
Makan siang Padang Berastagi Rp 34.000,00 (2 orang)
Murni Ekspress Berastagi-Medan Rp 25.000,00 (2 orang)
Angkot Simpang Pos-Amplas Rp 10.000,00 (2 orang)
Angkot Amplas-Pool Intra Rp 4.000,00 (2 orang)
PO Sentosa Transport Amplas-Parapat Rp 60.000,00 (2 orang)
Makan di Warung Jawa Parapat Rp 20.000,00 (2 orang, nasinya 1 yang 1 cuma minum)
Mie Gomak+Teh Anget Tiga Raja Rp 8.000,00
Penyeberangan Tiga Raja-Tomok Rp 12.000,00 (2 orang)
Sewa sepeda motor+bensin Rp 117.000,00
Babi Panggang Karo Rp 17.000,00
Penyeberangan Tomok-Tiga Raja Rp 12.000,00 (2 orang)
Mobil Koran Rp 60.000,00 (2 orang)
Angkot Amplas-USU Rp 8.000,00 (2 orang)
Becak ke Ucok Durian Rp 12.000,00
1 butir durian Siantar Ucok Durian+ Aqua 2 biji Rp 25.000,00
Becak Ucok Durian-Stasiun Rp 12.000,00
Angkot Stasiun-Sekip Rp 6.000,00 (2 orang)
Mie Balap+Teh Manis Sekip Rp 6.000,00
Becak Sekip-Stasiun Rp 12.000,00
ARS Medan-KNO Rp 80.000,00
Airport tax KNO Rp 35.000,00
Lion Air KNO-CGK Rp 635.000,00
DAMRI SHIA-Rawamangun Rp 20.000,00
Sewa Kamar Mandi Rawamangun Rp 2.000,00
Nasi Ayam+2 tempe bacem+es teh Rp 18.000,00
Trans Jakarta Rawamangun-Senen Sentral Rp 3.500,00
Senja Utama Solo PSE-YK Rp 180.000,00

Sekotak Pancake Durian di Durian House Isi 10 biji Rp 85.000,00
Sekotak kecil Lempok Durian Durian House Rp 13.000,00

Total biaya di Indonesia (KUL-Medan-Jakarta) diluar transportasi besar (kereta (Senja Utama Solo dan ARS), pesawat (tiket+Airport Tax)) Rp 876.000,00 (dihitung jika semuanya yang 2 orang dihitung 1 orang saja)
Biaya Transportasi KUL-KNO, KNO-MED PP (ARS), KNO-CGK (+ Airport tax), PSE-YK Rp 1.432.000,00

Biaya yang bisa dipangkas: sewa sepeda motor bisa dibagi berdua, hotel bisa dipakai berempat, tidak mampir ke ucok durian, tidak makan di Sinar Pagi, dari KNO-Medan PP naik Bis Damri (Rp 10.000,00 tapi waktu tempuh 1-2 jam), pesawat cari yang low season/promo (kadang air asia buka harga Rp 26.000-350.000,00), dari Jakarta ke Jogja pakai bis Sinar Jaya (Rp 90.000,00). Lebih murah lagi, bisa numpang truk untuk line Medan-Berastagi. Rata-rata truk mau ditumpangi kalau di Medan ini.

8 Hari Mencari Jati Diri: Ke Jakarta Aku Kan Kembali (Part 7)

Selasa, 11 Februari 2014 pukul 05.00 pagi. Saya terbangun, masih di depan peron Stasiun Besar Medan. Suasana ramai karena ARS paling pagi berangkat pukul 04.00. Saya dan Bang Tabis bergerak ke dalam stasiun ARS untuk membeli tiket ARS.
“Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?” Kata penjaga loket yang masih pagi udah ngganteng aja pake jas
“Mau beli tiket ARS” Jawabku
“Untuk keberangkatan selanjutnya pukul 05.30, Mas”
“Wah, saya mau beli yang 11.10 aja.”
“Wow, siang sekali. Penerbangan Anda dengan pesawat apa? Jam berapa?”
“Lion Air jam 12.50.”
“Baik, ditunggu ya. Saya cetakkan tiketnya dahulu”
Kemudian setelah tiket tercetak, kami segera keluar dari stasiun. Tujuan saya kali ini adalah Jl Sekip untuk mencari Pancake Durian di Durian House. Katanya, Pancake di Durian House ini yang paling enak. Kami mencari angkot, dan kebetulan sopirnya mau mengantarkan sampai depannya Durian House. Hanya Rp 5000 saja per orang.
Tapi, kami tiba di Durian House ketika masih pukul 06.00, masih gelap gulita dan masih tutup. Akhirnya, karena Bang Tabis butuh internet, kami mampir di warnet depan Durian House sekip. Sementara saya tidur terlelap di meja internet.
Pukul 06.45. Kabarnya Durian House buka pukul 08.00. Artinya saya harus menunggu selama 1,5 jam. Bang Tabis jam 8 harus bekerja pagi. Maka, saya mengantarkan Bang Tabis naik angkot pulang ke rumahnya di Sunggal. Sementara saya kemudian memilih untuk menunggu di depan Durian House. Pukul 07.00, ternyata Durian House sudah buka. Saya langsung masuk ke dalam dan memesan Pancake Durian. Ternyata, Pancake Durian hanya tahan selama 12 jam jika tidak difreezer. Untuk kembali ke Durian Ucok pun juga cukup jauh. Akhirnya, dengan sedikit gambling, saya beli 2 box isi 10 dengan per box seharga Rp 85.000 (yang kemudian pada akhirnya semuanya basi karena hampir 18 jam ada diluar freezer, tapi terakhir saya coba sebelum akhirnya basi, rasanya enak sekali. Lebih enak daripada Durian Ucok) dan lempok (dodol) durian (tapi rasanya lebih enak dan lebih maut lempok durian Baturaja). Setelah transaksi beres, saya memilih untuk makan Mie Balap di depan Durian House sembari membuang waktu. Ibunya berusia paruh baya, tapi sangat baik, meskipun akhirnya menumpahkan sedikit sambel yang super duper pedes dan bikin mules ke atas mie saya.
Setelah selesai makan, kebetulan ada adik pengemudi becak disitu. Saya minta diantarkan ke stasiun. Lagi-lagi dikenakan tarif Rp 12.000 untuk menuju Stasiun. Mungkin becak disini serba 12000 ya -____-
Lagi-lagi becak yang saya naiki ini mengemudi layaknya Sumber Kencono. Masih muda sih yang mengemudi, sama saya masih lebih muda dia. Zig-zag, bahkan sempat nyetir lawan arus. Ini yang bikin saya lebih milih pura-pura tidur. Bahkan di depan Stasiun Medan, motong jalannya nggak biasa banget -_____-
Setelah menjalankan kewajiban membayar, saya masuk ke dalam stasiun besar untuk cetak tiket Jakarta-Jogjakarta. Setelah itu masuk ke stasiun ARS dan melaksanakan hajat harian setiap pagi yang Anda tau apalah itu namanya. Karena di stasiun sekarang nggak boleh mandi. Ini cukup memberatkan buat para backpacker, apalagi di sekitar Medan ini tidak ada toilet umum. Lapangan Merdeka juga baru diperbaiki.
Akhirnya saya memilih untuk cuci muka dan gosok gigi, lalu duduk di bagian paling ujung dekat jembatan penghubung stasiun lama dan baru. Lalu saya tertidur sambil duduk, sangat pulas sekali hingga dibangunkan petugas kereta sampai 4 kali. Dikiranya saya ikut kereta jam-jam awal. 
Di Stasiun ARS, saya nunggu disini 3 jam. Di dekatnya kios Killiney Kopitiam, sembari diliatin penumpang-penumpang yang lain gara-gara tidur sampe mangap-mangap saking lelahnya

Pukul 11.00, semua penumpang ARS pukul 11.10 dipersilakan masuk ke dalam kereta. Saya pun segera masuk ke kereta, lalu duduk, dan bersiap tidur. Sebelah saya sepertinya seorang pejabat dan saya nggak peduli itu saat itu karena ngantuk yang kronis. Selama perjalanan pun akhirnya saya tertidur sangat pulas karena AC yang dingin juga. Bangun-bangun sudah di exit tol bandara. Saya pun bersiap untuk turun.

Tepat pukul 11.47 kereta sudah tiba di Stasiun Kualanamu. Saya bergegas turun untuk melihat Bandara Kualanamu siang hari. Ternyata, kalau siang ramai sekali dan lebih mirip.......terminal. Petunjuk kurang jelas, kebetulan ada beberapa calo tiket dan calo bis bertebaran. Masuk ke Bandara tidak dilakukan checking barang bawaan seperti lazimnya di Juanda atau Adisutjipto. Pengunjung boleh masuk sampai batas gate. Dan yang jelas seperti biasanya, counter Lion Air selalu sampah dalam melayani pengunjung. Cuma counter Lion Soekarno-Hatta dan Juanda saja yang sedikit bener dalam pelayanan. Semua barang ditimbang dulu, dilabeli satu-satu. Per orang memakan waktu lebih dari 15 menit, sementara waktu boarding semakin mepet. AirAsia dan Malaysia Airlines saja sudah pakai standart dimensi barang bawaan supaya antriannya tidak mengular. Selain itu pelayannya rese, judes, tanpa senyum, udah gitu ngetiknya lama sekaleee...Penumpangnya pun banyak yang main serobot. Diantaranya ada yang sudah berusia cukup tua, tapi main serobot saja. Sama penumpang lainnya disuruh pindah paling belakang.

Setelah keributan mengurus boarding pass beres, saya bergerak masuk ke area boarding. Lagi-lagi petunjuknya tidak jelas dan penumpang tercampur dengan pengantar. Ini kondisi paling tidak aman yang pernah saya rasakan di Bandara ketika pengantar tercampur dengan penumpang. Jadi tidak bisa membedakan mana yang benar-benar pengantar dan mana yang ‘pengantar’. Saya memasuki area boarding dan segera mencari Gate 12 yang berada di paling ujung. Ada travelator memang, tapi sangat tidak efektif. Tidak mempercepat langkah malah memperlambat langkah. Lajunya lambat, dan pasti beda dengan Changi. Di Kualanamu orang lebih suka pakai travelator sambil diam dan ngobrol. Di Changi, meskipun travelator cepat, tapi orang tetap berjalan di atas travelator untuk mempercepat waktu tempuh.

Saya masuk ke dalam ruang tunggu yang saya katakan lebih mirip sama ruang tunggu rumah sakit umum yang sangat ramai berjubel. Saya sudah kehilangan kebanggaan dengan Bandara Kualanamu. Untuk Airport Taxnya Cuma Rp 35.000. Siapa itu mentri atau pejabat yang bilang kalau airport taxnya Kualanamu bakalan jadi Rp 100.000? Ya kalau kaya gini sih namanya gak seimbang. Tetep bandara di Indonesia terbaik yang pernah saya kunjungi ya tetap Bandara Juanda Sidoarjo. Entah itu Terminal 1 atau Terminal 2.

Saya menanti pesawat yang belum-belum sudah delay jadi jam 13.15. Isuk delay sore tempe...

Saya melewati waktu lagi-lagi dengan tidur. Ya bagaimana nggak ngantuk, lha wong 2 hari nggak tidur. Pun itu kalau disuruh jalan lagi kemana gitu, sebenarnya saya masih sanggup. Budgetnya yang nggak sanggup. Tjong A Fie, Istana Maimun, dan rumah makan Tip Top saja batal saya kunjungi gara-gara waktu mepet.

Tak lama kemudian, kami dipanggil untuk masuk pesawat. Saya Cuma bawa tas kamera, sementara carrier saya masuk bagasi karena nggak lolos pemeriksaan gara-gara beratnya mencapai 18 kg (padahal di Malaysia Airlines saya iseng-iseng nimbang Cuma 12 kg. Ditambahin lempok kecil 2 sama pancake durian 2 masak iya beratnya sampai ketambahan 6 kg). Saya dapat kursi di bagian belakang dan tepatnya di kursi yang tengah diapit 2 orang lainnya. Aslinya sih dapet yang di deket gang, tapi karena orangnya pengen tukar, ya sudahlah. Mulai dari pesawat take off dengan halus sampai hampir mendarat, saya menghabiskan waktu untuk tidur. Apalagi kata pilot cuaca cukup buruk. Pesawat pun beberapa kali bergetar dahsyat.

Bangun-bangun, pilot menyatakan bahwa pesawat sudah akan mendarat di Jakarta. Sementara kondisi sekitar berawan tebal. Pesawat mulai turun pelan-pelan. Cukup lama, tapi kondisi sekitar tetap hanya awan-awan. Pesawat turun sambil bergetar-getar. Pikiran saya mulai buruk. Mungkin bisa jadi pesawatnya nggak bakal landing dengan mulus, kaya dulu habis pulang dari Lombok pesawatnya landing di Juanda dengan posisi miring. Lion Air juga.

Ternyata, setelah mendekati daratan, cuaca mulai terlihat meskipun sedikit berkabut, dan pesawat bisa landing dengan baik meskipun agak kasar. Saat turun, ada orang marah-marah gara-gara pilot bilangnya turun di terminal 1B ternyata dipindah ke 1C. Marah-marah yang nggak penting dan nggak patut dicontoh. Toh terminal 1 itu kecil. Pindah antara terminal 1A-C itu Cuma deket. Ngesot aja sampai.

Usai pengurusan bagasi selesai, saya beli tiket Damri dan saya tanya kalau mau ke Pasar Senen turun mana. Gold Option dari mbaknya, saya turun di Gambir lalu cari angkutan ke Senen. Saya kurang tertarik dengan opsi ini karena saya butuh mandi dan butuh makan. Satu-satunya daerah yang saya kenal paling lengkap (toilet bersih, makan enak dan murah) itu ya Cuma Rawamangun. Sevel ada, tahu pedas ada, toilet terminalnya juga bersih banget, indomaret juga ada, semuanya ada. Akhirnya saya pilih naik Damri Rawamangun. Kali ini saya tidak tidur karena bawaan bisnya kenceng, sekaligus melihat Jakarta yang macet.
Pukul 17.15 saya sudah tiba di Terminal Rawamangun. Niat awalnya sih mau naik bis ke Purwokerto atau ke Semarang. Tapi karena kondisi Pantura saat itu masih banjir dimana-mana, saya takut kehabisan waktu di jalan. Apalagi jadwal setelah tanggal 12 ini masih belum jelas. Jadi saya memutuskan beli tiket kereta di Berastagi. Sebenernya pengen jajal Bejeu atau Haryanto yang trayek Prambanan atau Sinar Jaya. Tapi yasudahlah, toh sering banget kok pergi ke Rawamangun.

Saya memanfaatkan fasilitas kamar mandi yang luas dan bersih di Rawamangun untuk mandi dan bersih diri. Airnya bersih, sudah gitu Cuma diminta bayaran Rp 2000. Kamar mandinya juga tenang, tidak begitu ramai, dan sudah pasti terminal Rawamangun adalah terminal yang aman. Calo-calonya tidak seganas di Pulogadung atau Tanjung Priok. Saya bersantai sejenak di Rawamangun sebelum beranjak ke Sevel buat beli bekal. Sekali-kali jadi Anak Gaul Jakarte.

Pukul 18.00, sudah cukup gelap disini. Kereta masih pukul 21.15 dari Senen, jadi masih agak santai. Saya beli makan malam dulu di Rawamangun. Beli makan di kereta pasti mahal sekali, apalagi kantong mepet banget. Ada banyak menu disana: Soto Betawi, penyetan, seafood, pempek, soto ayam, bubur jakarta, bahkan D’Cost pun juga ada. Saya memilih nasi uduk yang jual tempe bacem. Nasi yang banyak, ayam dada, tempe bacem 2, dan es teh Cuma bayar Rp 18.000. Bagi saya murah untuk ukuran Jakarta. Kalau di depan Stasiun Senen, makan nasi, telor, tempe, sayur, es teh saya pernah kena Rp 20.000.

Pukul 19.00 saya baru selesai makan. Saya bergegas menuju ke Halte Trans Jakarta Rawamangun. Ini satu-satunya solusi transportasi yang terbaik dan termurah menuju ke Pasar Senen. Cukup Rp 3500 sudah bisa sampai Senen meskipun oper 1 kali. Trans Jakarta sepertinya mengalami penurunan pelayanan. Biasanya waktu tunggu Cuma sekitar 10 menit, kali ini lebih dari 30 menit. Pukul 20.05 saya baru naik ke Trans Jakarta tujuan Matraman. Perjalanannya cepat sih, sekitar 20 menit ke Matraman. Dari Matraman saya pindah naik bis tujuan Senen, tapi ternyata salah bis. Saya naik bis yang tidak lewat bawah jembatan layang, tapi lewat atas. Akibatnya, saya harus ganti bis gandeng ke arah Senen Sentral lagi.

Saya cukup familiar dengan Stasiun Senen dan area sekitarnya karena dulu awal 2013 saya pernah ke Senen sendirian. Jadi sudah tidak bingung lagi jika jalan kaki. Setibanya di Stasiun Senen, langsung masuk peron karena tiket sudah ditukar di Medan. Tepat pukul 21.00 saya tiba di Senen. Jadi masih ada waktu menunggu Senja Utama Solo yang akan saya naiki sembari makan tahu pedas yang saya beli di Rawamangun, salah satu tahu pedas favorit saya kalau berkunjung ke Rawamangun.

Pukul 21.30 kereta masuk Stasiun Senen. Sudah pasti kereta akan terlambat tiba di Jogja, datangnya saja terlambat. Saya segera naik ke gerbong 3 dan menempati tempat duduk. Begitu kereta berangkat, saya langsung tertidur pulas, bahkan ketika teman sebangku saya memesan berbagai makanan, ngolet sana-sini gara-gara AC yang dingin, saya tetap tidur dengan pulas sekali.

Senin, 03 Maret 2014

8 Hari Mencari Jati Diri: Sedikit Plesir di Samosir (Part 6)

Pukul 01.40 saya terpaksa terbangun karena bis mengerem mendadak dan berkali-kali banting stir kanan-kiri yang saya yakin bis sedang melewati banyak tikungan patah. Ketika saya membuka mata, pemandangan wow segera nampak di jendela kanan: Danau Toba dengan pantulan cahaya bulan yang terang karena kebetulan bulan bersinar terang dan lampu-lampu rumah yang memanjang di sepanjang tepi danau. Pemandangan yang sangat sejuk dan romantis di malam hari itu. Sayangnya.....ah sudahlah....
Saya terpaksa terjaga karena Bang Tabis mengingatkan bahwa bis sudah akan masuk Parapat. Tak lama kemudian bis berhenti di pemberhentian di Parapat. Kami kemudian berjalan menyusuri Parapat yang sepi. Meskipun Parapat terletak di poros utama jalur Pematang Siantar-Bukittinggi, tapi tetap saja jalannya sepi. Hanya beberapa truk dan mobil pribadi yang lewat. Bang Tabis mabuk karena semalaman belum makan nasi. Saya mengantarkannya ke warung Muslim yang ada disitu. Kebetulan di Parapat ini ada banyak sekali warung Muslim, beberapa yang jualan orang keturunan Jawa. Kalau sudah di Samosir, sangat sulit sekali cari makanan halal. Bang Tabis makan dengan lahap, sementara saya Cuma minum teh susu karena tidak lapar.
Pukul 03.00 kami sudah selesai makan. Kami bingung mencari tempat untuk istirahat karena pukul 06.00 kami sudah harus berangkat ke pelabuhan. Kalau menginap 3 jam di hotel, semurah apapun itu, pasti akan rugi karena hotel termurah di Parapat Rp 100.000. Akhirnya kami sepakat untuk tidur di Galon (pom bensin). Ini kali kesekian saya tidur di pom bensin. Kami berjalan ke arah pom bensin yang berada persis di tengah-tengah kota Parapat. Pom bensin sepi, tapi ada 4 mobil yang pengemudinya numpang tidur disitu, lengkap dengan 2 penjaga pom dan 1 orang gila yang nyerocos sendiri. Kami memilih tempat tidur di belakang ATM, tepatnya di seberang orang gila tadi. Kami segera ambil posisi tidur yang enak. Saya hanya mengenakan jaket dan penutup kepala, sementara Bang Tabis membawa sleeping bag. Sebenarnya enak pakai sleeping bag, tapi karena tidak memungkinkan, saya tidur seadanya berbantalkan tas. Bang Tabis bisa tidur nyenyak, sementara saya harus beberapa kali terbangun karena hawa dingin yang sangat menusuk: mirip seperti di Ranu Kumbolo. 
Pukul 05.55 saya sudah terbangun dan membangunkan Bang Tabis untuk bersiap-siap jalan ke pelabuhan. Walaupun sudah hampir jam 6 pagi, tapi kondisi masih sangat gelap dan tidak ada tanda-tanda matahari terbit. Kami berjalan menuju ke pelabuhan-pelabuhan kecil di tepi danau. Pilihan kami jatuh ke Pelabuhan Tiga Raksa, pelabuhan yang cukup terkenal dan terpercaya untuk penyeberangan Parapat-Samosir selain Pelabuhan Ajibata yang melayani mobil-mobil, truk, dan bis. Di jalan, kami menemukan pos polisi dalam keadaan terbuka dan sedikit tertutup. Sebenarnya lebih mending menginap disitu. Awalnya kami akan numpang menginap di Masjid, tapi ternyata Masjidnya dikunci pagarnya.
Salah satu bagian dari Rumah Bung Karno di Parapat

Kami berjalan terus menuju ke pelabuhan. Perlahan-lahan hari semakin menjadi terang. Saya mampir ke toko oleh-oleh dulu beli kain Ulos 3 jari sebagai oleh-oleh. Setelah itu, perjalanan berlanjut ke pelabuhan.
Setibanya di pelabuhan, keberangkatan kapal ternyata masih pukul 07.30. Ada waktu 1 jam bagi kami untuk istirahat. Kami memilih singgah di warung yang ada di dekat pelabuhan dan meminum teh hangat. Setelah warung buka penuh, ternyata ada mie yang dijual. Ternyata, mie yang dijual tersebut adalah Mie Gomak, salah satu makanan khas daerah Parapat dan Samosir: mie yang digoreng biasa dengan bumbu bawang-merica, kemudian disiram dengan kuah santan. Rasanya? Jangan ditanyakan lagi. Lucu sekali, campur aduk. Asin, asam, manis, gurih, kecut campur jadi satu. Harganya murah untuk 1 gelas teh hangat, 1 gelas air putih, dan 1 porsi mie Gomak hanya dihargai Rp 7.000.
Penampakan Mie Gomak, mie besar-besar berpenampang kotak, lengkap dengan kuah santan yang ada jipangnya, oseng-oseng kacang panjang-wortel, dan lengkap dengan telur rebus bersama sambel yang pedesnya bikin mules

Pukul 07.10 kapal sudah siap. Kapal KM Lopo Parindo mulai menaikkan barang-barang ke atas kapal, diantaranya sepeda motor. Ada cukup banyak sepeda motor yang dinaikkan ke kapal. Sepeda motor tersebut adalah sepeda motor guru-guru yang mengajar di Samosir. Mereka rata-rata berasal dari Parapat.
Fajar menyingsing di Parapat

Pukul 07.20 kapal sudah diberangkatkan. Masih sangat pagi, kabut masih menyelimuti Parapat. Kami duduk di dek atas bersama guru-guru tadi. Guru-guru tadi bercanda dengan menggunakan bahasa Batak yang khas, kadang diselingi dengan bahasa Indonesia dengan logat yang lucu dan membuat kami yang duduk di dek atas tertawa.
Dermaga KM Lopo Parindo Tiga Raja

Perjalanan selama 30 menit tidak terasa. Hampir pukul 8 kapal sudah merapat di Pelabuhan Tomok. Tidak terasa karena kebetulan ombak di danau tenang, tidak ada angin besar juga. Kami bergegas turun dari kapal. Selepas turun dari kapal, kami ditawari oleh persewaan sepeda motor. Sesuai target, Rp 100.000 untuk seharian penuh, tidak termasuk bensin. Tarif yang masih sama dengan yang ditulis kawan-kawan backpacker di blog masing-masing. Karena saya merasa tidak cukup kalau ke Samosir Cuma jalan-jalan di Tomok dan Tuktuk, maka saya menyewa sepeda motor tersebut. Nama pemilik sepeda motor ternyata adalah Pak Panjaitan. Beliau sangat baik. “Pakai saja sampai nanti sore tidak apa-apa, kapal terakhir berangkat jam 19 malam.” Kata beliau.
Motor Jupiter Z yang diberikan ke saya langsung saya pacu bersama Bang Tabis menyusuri jalanan sepanjang Pulau Samosir. Kami terus menuju ke ujung barat Pulau Samosir: Kecamatan Pangururan. Masih sama, semua pengemudi motor disini berjalan dengan kencang. Tapi saya pilih pelan-pelan karena ada banyak anjing yang tiba-tiba berseliweran. Sembari menikmati pemandangan Samosir pagi hari yang teramat sangat indah dan seuk bagi saya. Makam besar ada dimana-mana, bukan Cuma makan dengan nisan biasa. Tapi makan yang kemudian dibuat bangunan dan dibentuk macam-macam. Kesan mistisnya Samosir pagi itu sangat terasa.
Karena hanya diberi 1 helm, dan katanya Pak Panjaitan tidak akan kenapa-kenapa, maka kami nekat saja menuju ke Pangururan. Setidaknya ada 3 spot terkenal di Samosir: Tomok, Tuktuk, Pangururan. Tomok sebagai pelabuhan utama di Samosir dari Parapat, Tuktuk sebagai sentra wisatawan, dan Pangururan sebagai pusat keramaian warga. Cukup jauh jarak dari Tomok ke Pangururan, sekitar 36 km. Hampir Jogja-Muntilan. Tapi jalanan benar-benar sepi dan mulus. Ditambah rumah-rumah adat Batak yang berjejer rapi di kanan kiri jalan menambah suasana bertambah B3, Benar-Benar Batak.
 Pintu Gerbang Kecamatan Pangururan. Pangururan ini adalah pusat keramaian paling ramai dari Samosir

 Petunjuk menuju Tao (Danau) Sidihoni

Setibanya di Pangururan, masih sekitar pukul 9, kami memutuskan untuk mengunjungi danau unik. Danau Sidihoni. Lho, kok danau? Bukannya Cuma Danau Toba aja? Weitssss, jangan salah. Di atas danau toba, ada juga danau. Jadi ceritanya danau di atas danau yang terletak pada gunung di atas gunung. Tidak begitu jauh dari Pangururan, mungkin sekitar 10 km. Dengan jalan yang menanjak, berkelok, rumah yang jarang-jarang, dan rumput dimana-mana. Lalu setelah tikungan dan tanjakan, terlihatlah sebuah padang rumput hijau dengan danau di tengahnya. Kalau saya bilang, sangat mirip dengan Ranu Pane, tapi lebih bersih Sidihoni. Bak menemukan surga, karena sangking indahnya, kami berfoto-foto. Sementara saya tidur di rerumputan menghijau. Ada cukup beberapa kerbau yang sengaja dilepas pemiliknya untuk cari makan di danau ini.
Danau Sidihoni dari padang rumput

Setelah cukup puas dan karena matahari semakin bersinar terik, kami segera beranjak dari danau ini kembali ke Pangururan. Setibanya di Pangururan, saya memutuskan ingin melihat terusan yang dibangun oleh Belanda. Seperti yang kita ketahui, di sebelah barat, ada bagian pulau Samosir yang tersambung dengan daratan Sumatera Utara. Nah, di daratan ini kemudian dibuat terusan untuk lewat kapal-kapal kecil.
Danau Toba dari sisi Samosir yang menyatu dengan daratan, view dari jalur Pangururan-Sidihoni

Kami ingin meneruskan perjalanan ke Tele dan Air Terjun Efrata (Air terjun yang airnya rasa jeruk, serius). Namun karena takut kesorean, tele berjarak sekitar 15 km dari Pangururan dan air terjun efrata terletak sekitar 20 km dari Pangururan, maka kami memutuskan untuk kembali ke Tomok dan mampir ke Pantai Pasir Putih. Pantai Pasir Putih sendiri terletak diantara jalan Pangururan-Tuktuk-Tomok. Karena ngantuk, saya mengemudikan jupiter z ini seperti biasa kalau di Jawa. Bang Tabis cukup takut rupanya dengan cara nyetir saya yang nempel abis sama kendaraan di depan.
Tidak beberapa lama, kami tiba di Pantai Pasir Putih yang bernama Pantai Parbaba. Bagus sih viewnya, pasirnya juga benar-benar putih. Tapi sayangnya rumah makan-rumah makan terlalu menjorok ke danau. Jadi kesannya kotor. Meskipun biaya masuk hari biasa adalah gratis, tapi saya tetap menyarankan untuk ke pantai pasir putih yang sebelum pantai Parbaba kalau dari Pangururan. Lebih steril dari toko-toko, lebih bagus viewnya, lebih enak untuk bersantai.
 Pantai Pasir Putih Parbaba. Beneran putih pasirnya dan mirip dengan Pantai Pasir Putih Situbondo

 Rumah adat Batak berjejer di pintu masuk Pantai Parbaba

 Gereja di sudut jalan. Gereja disini bagus-bagus, meskipun tanpa AC seperti di Jakarta atau Surabaya

 Salah satu contoh makam Batak. Megah sekali karena mereka sangat menghargai leluhurnya. Ibaratnya leluhurnya telah melakukan hal dan merawat keluarganya sebaik-baiknya, maka perlakukanlah aku sebaik-baiknya pula jika aku telah meninggal. Bentuk makam seperti ini tersebar rata di Pulau Samosir dan bentuknya bagus-bagus. Sehingga tidak ada kesan wingit atau angker.

 Selamat datang di Ambarita. Konon kabarnya, dulu di Ambarita ada peristiwa berdarah mirip di Sampit

 Kami tidak lama-lama di Parbaba. Kami segera melanjutkan perjalanan. Pelan-pelan lagi, karena jujur saya ngantuk sekali karena semalam nggak tidur. Cuma tidur sebentar, di kapal juga sempat tidur sebentar. Karena lapar, saya ingin makan menu spesial: BPK sesuai saran Bang Roy di Sibolangit. Sebenarnya di jalan antara Pangururan-Parbaba banyak yang jualan BPK, berjejere malahan. Tapi karena belum lapar, saya memutuskan makan BPK di jalan antara Parbaba-Tomok.
View di depan warung BPK

Jauh setelah melewati sudut Pulau Samosir bagian timur, saya menemukan warung BPK yang agak besar, di tengah sawah, dengan view yang wow. Akhirnya saya menghentikan laju sepeda motor dan mampir ke warung tersebut. Hanya saya yang makan, Bang Tabis tidak makan. Saya kira hanya babi panggang seperti biasa saya beli di Pasar Patuk Jogja. Tapi ternyata spesial sekali: babi panggang, kuah kaldu iga babi, sayur sejenis daun ketela tapi bukan ketela, sambal khas mirip petis, dan sudah tentu nasi putih lengkap dengan air putih sewadah yang bebas ambil. Daging babinya khas, tidak seperti di Jawa karena daging babi di Samosir rata-rata adalah daging babi hutan yang sengaja dipelihara oleh warga (babi jadi peliharaan selain anjing), sehingga lemaknya tidak setebal babi yang warnanya pink. Semuanya cukup ditebus dengan Rp 17.000. Seusai makan, kami sedikit bersantai di warung sembari menonton TV yang distel oleh pemilik warung sembari mengobrol dengan pemilik warung. Lagi-lagi pemilik warung juga familiar dengan Jogja karena dulu pernah kesana. Sudah 5 orang rupanya.
Satu set Babi Panggang Karo (BPK) yang tersaji lengkap. Tentunya dengan air putih gratis

Setelah cukup melepas lelah, dan waktu sudah menunjukkan pukul 13.00, kami segera beranjak ke Tuktuk. Di jalan, kami menemui anak-anak pulang sekolah. Ternyata benar, mereka lebih senang naik ke atap bis. Bahkan tidak Cuma satu dua, tapi ada sekitar 10 anak bersantai di atas bis sembari menyapa-nyapa kami dengan bahasa Batak.
Anak-anak yang naik armada Sampri lebih suka naik ke atap bis, padahal kabin masih lumayan kosong

Tak beberapa lama kemudian kami tiba di Tuktuk. Tidak ada yang dilihat dan dimakan. Kami hanya melihat-lihat hotel. Cari makan disini hampir sama artinya dengan bunuh diri, harganya rata-rata diatas Rp 30.000. Hotel-hotel disini harganya murah-murah. Diantaranya Lekjon Cottage yang hanya memasang harga Rp 150.000 dengan view yang sangat bagus dan breakfast. Hotel Samosir pun memasang harga Rp 200.000, tapi viewnya masih kalah sama Lekjon. Kalau ingin harga yang murah sekali, bisa menginap di Hotel Liberta yang terletak tidak jauh dari gerbang masuk Tuktuk. Hotel Liberta hanya mematok tarif Rp 60.000 karena memang hotel ini adalah hotel untuk backpacker. Banyak bule-bule menginap disini.
Pintu gerbang Selamat Datang di Tuktuk Siadong yang berhadapan langsung dengan gunung

Setelah selesai jalan-jalan di Tuktuk, kami beranjak ke Museum Batak, Makam Raja Sidabutar, dan Tarian Sigale-gale. Objek yang sangat menarik sebenarnya, tapi petunjuknya dan narasinya kurang. Seandainya ada guide lebih sip lagi. Tarian Sigale-gale kebetulan saat itu sedang tidak dimainkan. Bisa sebenarnya request, hanya dikenai tarif Rp 80.000 untuk sekali pertunjukan Sigale-gale. Sangat murah jika dibandingkan di Jawa-Bali-Lombok yang harus membayar sekian ratus ribu untuk sekali tarian.
Setelah puas berfoto-foto, kami berjalan di pusat oleh-oleh. Rupanya sedang sepi, jadi pedagang menjual dagangannya dengan sangat murah. Baju Toba saja Cuma RP 50.000. Tapi dompet saya kurang tertarik beli kaos. Dompet saya lebih tertarik beli gantungan kunci bagus yang Cuma Rp 2.000 dan beli ikan asin khas Toba, yang ikannya hanya ada di Danau Toba (yang kemudian di Jogja tak coba digoreng kering dan rasanya wow, gurih sekali!). Cuma Rp 10.000 saja sudah dapat 2 kantong plastik. Murah sekaleeee!
Kami kemudian kembali ke Tomok, sebelumnya mengantarkan Bang Tabis makan dulu di Warung Muslim. Meskipun judulnya Warung Muslim, tapi cukup meragukan karena masaknya di belakang. Kita tidak tahu bahan apa saja yang dimasukkan ke masakan. Sebaiknya, kalau memang tidak yakin akan kehalalan warung disana, mending bawa makanan dari Parapat meskipun makanan di Parapat mahalnya minta ampun pun pun. Atau sebagai alternatif, bisa juga makan di Tuktuk. Disana ada warung makan halal. Tapi ya harganya cukup mahal, tapi kalau diakumulasi hampir sama kalau mbontot dari Parapat.
Setelah selesai makan, kami menunggu kapal di dermaga Lopo Parindo. Ada banyak kapal berangkat dari Tomok sebenarnya. Tapi entah kenapa kapal Lopo Parindo ini nyaman sekali dan armadanya tiap jam selalu ada. Pukul 15.00 kami berangkat menuju ke Tiga Raja. Ombak dan angin sore itu cukup besar. Kapal sempat oleng berkali-kali. Ini tidak lucu seandainya kapal kandas di tengah danau yang dalamnya mencapai 800 meter ini. Kedalaman 5 meter saja saya sudah bingung bukan kepalang, ditambah ini kedalaman 800 meter. Untungnya nahkoda lumayan sip, dan kami tiba di Tiga Raja pukul 15.45. Kami berjalan kaki menuju jalan Parapat-Siantar untuk mencari bis atau angkutan yang membawa kami ke Medan. Sebenarnya saya ingin berangkat agak malam hari, karena angkutan sore-sore cukup sulit. Kami duduk di tepi jalan lumayan lama, sekitar 20 menit. Kami ditawari oleh tukang parkir di daerah tempat kami duduk untuk naik mobil koran. Mobil omprengan kalau di Jawa. Dia sejenis travel, pakai L300, tapi ngompreng di jalan. Karena tarifnya cocok, sama dengan naik bis, yaitu Rp 30.000, maka kami menyetujui. Tak beberapa lama kemudian, mobil koran yang bertuliskan Seputar Indonesia datang. Rupanya membawa penumpang dari Bukittinggi. Nah, persis di belakang mobil ini ada bis Sejahtera Parapat-Medan Amplas. Kami mau cancel juga sudah tidak enak, toh kami juga kejar waktu. Katanya, mobil koran ini kenceng jalannya. Kami langsung naik dan duduk di tengah. Ada sekeluarga yang turun di Morawa, dua orang pedagang mainan dari Dolok Sanggul yang turun di Siantar, dan seorang mahasiswi di depan sendiri dari Bukittinggi yang akan turun di Medan setelah dia pulang karena mengurus KTP. Tidak seperti naik omprengan di Jawa yang kita patut mencurigai semua orang di dalamnya, naik omprengan di Medan ini saya pikir lebih aman daripada di Jawa. Kecuali kalau kita menunjukkan barang-barang mewah kita, ya siapa sih yang nggak mau ngerampok.
Memang benar, mobil koran ini berjalan dengan kencang. Jauh meninggalkan bis Sejahtera di belakang kami. Saya kemudian tertidur pulas karena badan memang sangat capek. Bangun-bangun, kami sudah tiba di Pematang Siantar. Sudah pukul 18.30, tapi masih terang. Mobil koran beristirahat di Siantar sembari menunggu mobil koran lainnya dan mobil Dairi. Cukup lama berhenti, sekitar 30 menit. Setelah itu mobil kembali berjalan, tapi tidak sekencang waktu awal. Saya kembali tertidur. Ketika saya terbangun, mobil sudah berhenti di warung makan. Berhenti kedua kalinya rupanya. Kali ini melihat jam sudah pukul 21.00 dan baru tiba di Tebing Tinggi. Masih cukup jauh, sekitar 2 jam menuju Medan. Penumpang pun beramai-ramai protes ke sopir supaya berhentinya tidak lama-lama. Akhirnya sopir pun tunduk, dan tidak sampai 15 menit mobil sudah diberangkatkan. Kali ini lumayan ngebut. Sementara saya kembali larut dalam mimpi indah.
Pukul 22.30 kami sudah tiba di Tanjung Morawa. Penumpang tinggal saya, Bang Tabis, mahasiswi, dan beberapa orang yang naik dari jalan tadi. Pukul 23.15 kami sudah merapat di Terminal Amplas, di belakang kami persis ada bis Sejahtera yang tadi berangkatnya bersama dengan kami (jadi sama aja dong naik mobil koran sama naik bis, sama-sama lama). Kami segera turun dan mencari angkot tujuan Kota Medan. Tujuan saya kali ini adalah Durian Ucok! Kami mencari angkot tujuan USU karena katanya Durian Ucok berada di dekat Kampus USU. Saya kurang tahu, tapi seingat saya membaca dari blog kabarnya Durian Ucok sudah pindah ke dekat makam. Dan itu pindahnya lumayan capek kalau jalan, 4 km dari tempat semula.
Kami berjalan dari USU sampai Durian Ucok Lama. Karena ternyata sudah pindah, kami kembali berjalan ke tempat yang baru dan kami ternyata salah jalan. What the fuck salah jalan malem-malem, lewat daerah prostitusi. Banyak cewek-cewek berbagai bentuk dan ukuran berjejer di jalan siap ditawar. Ketika kami ditanyai “Mau kemana Bang?” kami menjawab “Cari duren” lalu mereka membalas dengan “Gila kali ya kamu bang, disini ada cewek cantik ngapain cari duren” dan kami terus berjalan.
Karena sudah capek, kami naik becak motor. Untuk mau ditawar Rp 12.000 untuk 2 orang. Lumayan jauh kami tersesat, sekitar 4 km. Total jarak dari tempat kami tersesat ke Durian Ucok sekitar 7 km. Kami tiba di Durian Ucok dengan selamat. Kami memesan 1 bonggol durian karena Bang Tabis dasarnya tidak suka durian. Saya menghabiskannya sendiri. Rupanya kami dapat durian Siantar dengan karakter daging tipis, tapi rasanya menggigit. Saya ingin membungkus durian pulang ke Jawa, tapi ternyata hanya tahan 24 jam. Saat itu masih pukul 01.00 sementara saya baru masuk Jogja sekitar 30 jam setelah saya beli durian. Harganya mahal, Rp 200.000 untuk kotak kecil. Jadi sayang kalau sampai basi. Apalagi duriannya enak, durian Bahorok yang dagingnya tebal.
Akhirnya saya memutuskan buat beli pancake duren besok pagi saja. Kami membayar durian kami. Cukup mahal rupanya, Rp 27.000 untuk 1 durian dan 2 gelas aqua. Tapi kalau di Jawa beli durian Rp 25.000 belum tentu dapat yang enak kalau kita tidak langganan. Dari rasanya sih, sebenarnya masih lebih juara Durian Kuning Kulonprogo yang bisa saya dapatkan dengan harga Rp 5000-7500 di Kulonprogo. Rasanya hampir sama dengan Durian Bahorok.
Kami berjalan menuju ke Stasiun sembari mampir ke warung karena Bang Tabis kelaparan. Berhubung angkot sudah tidak ada, kami naik becak menuju stasiun. Cukup Rp 12.000 lagi-lagi. Padahal jaraknya lumayan jauh, 6 km. Sampai di stasiun, peron rupanya dalam kondisi tertutup. Kami bergerak menuju ke jembatan penyeberangan untuk beristirahat karena di depan stasiun diikuti sopir taksi gelap ditawari ke Kualanamu terus. Mereka menawarkan tarif tinggi, Rp 160.000 per taksi. Padahal kalau naik ARS Cuma Rp 80.000. Kalau kita pesawatnya Garuda malah bisa gratis naik ARS. Kalau pesawatnya AirAsia, kita dapat diskon jadi Cuma bayar RP 60.000. Karena cuaca semakin dingin dan semakin lelah, kami memutuskan pindah ke depan peron dan akhirnya pun tertidur pulas di depan peron.

Jumat, 28 Februari 2014

8 Hari Mencari Jati Diri: Yuk Bermain di Genteng (Part 3)

Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00, tapi langit masih seperti pukul 05.30 di Yogyakarta. Saya bergegas bangun di pagi yang dingin dan menyuruh kakak untuk mandi. Sementara saya masih mau males-malesan di kasur. Kepala baru terasa pusing gara-gara asupan kolesterol tinggi. Tapi mau gimana lagi. Pagi itu saya memutuskan kembali berendam air panas. Biar fresh jalan-jalannya.

Setelah kami semua siap, kami segera turun ke loby hotel untuk sarapan. Barang bawaan sudah kami bawa agar tidak bolak-balik. Menu makan paginya lumayan untuk tarif hotel yang memang murah: cococrunch+susu creamer, sosis, nasi goreng, mie goreng, balado telur, roti panggang, jus jeruk, dan buah-buahan. Pokoknya, makan sak wareg e di tour ini karena semuanya gratis.
Pukul 08.30 kami sudah siap, dan kebetulan Mr Prakash sudah menunggu kami di depan sejak pukul 07.00. “Tidak masalah”, kata Beliau. Kata Beliau, rumah beliau berjarak 40 km dari Bukit Bintang, dan beliau berangkat pukul 06.00 agar bisa tiba disini tepat waktu. Karena kalau berangkat pukul 07.00, perjalanan sudah menjadi 2-3 jam karena jalanan macet. Kalau berangkat pagi, paling lama Cuma 1 jam. Tidak masalah bagi beliau harus menunggu. Pun begitu, beliau sudah terbiasa. Tidak tidur karena menjemput tamu ke Singapura pun juga biasa. Dalam setahun, Beliau hanya diberikan libur selama 15 hari oleh tour and travel. Tapi, libur 15 hari itu, beliau boleh minta tiket kemana saja dan bisa pergi kemana saja bersama istrinya sekaligus dapat uang saku sekitar Rp 9.000.000 (hotel, tiket, akomodasi sudah tour and travel yang menanggung). Mau minta ke Antartika juga boleh. Beliau sudah berkali-kali pergi ke Eropa, Jepang, Bali, Singapura, dan beberapa negara lainnya. Berat memang jadi driver wisata di Malaysia, tapi bonusnya boleh juga :D
Yaaakkk, tujuan kami hari ini adalah ke Genting Highland, atau Dataran Tinggi Genting. Bukan Genting yang ada di Banyuwangi atau ada di atas rumah ya, ini beneran Genting. Kondisi yang Genting :D
Dalam perjalanan, kami mampir beli bensin dulu. Sekedar info, mobil yang bertuliskan ‘Bas Persiaran’ mendapatkan BBM bersubsidi dari pemerintah dengan menukarkan kupon yang tersedia dan membayar di swalayan di dalam pom tersebut. Di Malaysia tidak ada Bensin dengan oktan 80, semuanya 92 keatas. Harganya pun juga murah, RM 2,1 per liternya (sekitar Rp 8.400,00). Jadi kawan-kawan, adalah HOAX klo pemerintah bilang harga BBM di Malaysia lebih mahal daripada di Indonesia. Di Indonesia, Pertamax oktan 92 aja harganya sudah lebih dari Rp 10.000, sementara Shell Super pun sekarang juga sudah di angka Rp 10.500. Pemerintah bandinginnya yang oktan 80 sama oktan 92 sih, nggak fair.
Sebelum ke Genting, kami mampir dulu ke Batu Cave. Apa itu Batu Cave? Batu Cave adalah sebuah gua batu yang merupakan tempat peribadatan bagi orang-orang Hindu India. Lokasinya berada di tengah-tengah tebing kapur dan memiliki ketinggian sekitar 75 meter dari lokasi di sekitarnya. Sebelum masuk ke Batu Cave, kami dimampirkan ke titipan tour and travel: pusat pembuatan peranti rumah tangga dari tembaga milik Kerajaan Malaysia dan Pusat Oleh-Oleh. Di pusat pembuatan peranti ini, memang benar gelas yang terbuat dari besi khusus tersebut dapat membuat air tetap kondisi dingin lemari es selama 1 jam. Tapi ya harganya itu yang bikin nggak minat beli -_____- (fyi: harga 1 set peralatan minum dari besi cukup buat saya makan selama 1 bulan di Surabaya)
Di pusat oleh-oleh, disini menjual berbagai jenis makanan. Mulai yang import dari Vietnam, Thailand, hingga yang benar-benar made in Malaysia. Yang khas disini adalah teh tarik siap seduh, yang memang rasanya sangat mirip dengan yang dijual di warung India semalam.
Selepas itu, kami langsung menuju ke Batu Cave. Ada banyak burung dara di pelataran. Mirip kaya FKG Unair yang pelihara banyak burung dara :D
Memberi makan burung dara di pelataran Batu Cave

Patung Budha di depan Batu Cave

Tangga naik ke Batu Cave yang lumayan tinggi

Pakdhe dan Budhe lagi-lagi memutuskan tidak ikut naik, karena tangganya yang sangat tinggi dan banyak. Kakak saya juga hampir memilih tidak naik. Tapi karena saya nekat naik, akhirnya saya dan kakak-kakak saya ikutan naik juga. Lumayan tinggi dan......bikin singunen (takut ketinggian).

Di dalamnya ada tempat ibadah umat Hindu India. Di dalam goa ini, memanjang goa berikutnya yang terdapat pintu terbuka di bagian atasnya. Mirip goa vertikal goa Jomblang di Gunung Kidul. Tapi pesonanya lebih bagus di Jomblang.
View dari atas Batu Cave

Tempat peribadatan

 Mirip Goa Jomblang kan

 Tempat peribadatan lagi di dalam

 Ini juga tempat peribadatan

 Patung apa saya tidak tau namanya, tapi memang Batu Cave ini adalah tempat ibadah orang India. Bahkan ada orang asli India yang merelakan waktunya berkunjung kesini

Burung dara dan Batu Cave

Setelah puas berada di atas dan setelah rasa lelah terbayar, kami bergerak turun. Sementara semuanya turun, saya iseng masuk ke Dark Cave yang posisinya lebih rendah daripada Batu Cave. Ternyata, di dalamnya aja jelajah goa dan membayar (sekitar MYR 30). Karena waktu yang mefet, apalagi masih harus ke Genting Highland, akhirnya saya mengurungkan niat itu. Setelah semuanya pulih, kami berangkat lagi menuju ke Genting Highland. Perjalanan dari sini sekitar 2,5 jam sampai ke pintu masuk Genting Highland.

Perjalanan lewat Jalan Lebuh Raya kali ini sangat menarik karena lewat medan pegunungan. Jalanan yang menikung dan menanjak tidak terlalu membuat mobil ngos-ngosan. Hawanya juga sejuk. Beda lah kalau dibandingin ketika lewat Alas Roban, Alas Gumitir, Alas Baluran, atau jalur di Purwokerto-Tegal dengan karakteristik tikungan tajam banget dan tanjakan yang lumayan bikin mobil ngos-ngosan. Lebuh Raya ini meskipun menikung, tapi cukup halus dan jalannya pun lebar. Untuk 4 mobil berjalan berjejer saja bisa.

Sebelum naik ke pintu gerbang, kami mampir dulu di sebuah toko coklat dan warung makan. Toko coklat ini menyediakan coklat yang enak-enak, tapi harganya lumayan mahal kalau dibandingkan dengan toko coklat di Singapura beberapa hari lalu (total sudah 3 toko coklat kami kunjungi dalam tour ini). Tapi Tiramisu Chocco Almondnya juara sekaleee rasanya. Sekitar MYR 30 untuk 1 kantong seberat 0,5 kg.
Makan di Genting Highland

Kemudian kami makan di sebuah warung di sebelah toko coklat ini. Prasmanan. Tapi menunya terkesan wenak dan menggiurkan. Karena Mr Prakash memerintahkan ‘bebas ambil’, maka saya langsung kalap: nasi sepiring penuh, kare kambing, sayur kangkung, telor balado, ayam goreng tepung paha, tempe goreng, dan minum es teh. Mungkin kalau peserta tournya kaya saya semua, bangkrut mungkin Mr Prakash -_____-

Setelah puas makan, kami melanjutkan perjalanan ke gerbang. Hanya sekitar 15 menit dengan suhu udara sekitar yang sangat sejuk, khas pegunungan. Kami tiba di central park Genting Highland, dan semua kendaraan diparkir disini. Sebenarnya bisa naik ke Genting pakai mobil, tapi akan lebih berkesan kalau pakai Kereta Gantung. Di stasiun kereta gantung ini, ada juga terminal bis yang mengantarkan pengunjung dari Genting Highland ke Kualalumpur, Putrajaya, KLIA, LCCT, dan beberapa tujuan lainnya. Bisnya pun bagus-bagus: pakai Scania K124iB, K360iB, K380iB, Hino RG1JSKA (klo di Indonesia jenisnya ini), dan Hino RK8 (ada yang kodenya RK1JSKA, mungkin ini adalah RG1JSKA versi Malaysia). Beberapa memang masih pakai Nissan RB, tapi jumlahnya sangat sedikit.

Harga tiket kereta gantung adalah sekitar MYR 24 untuk pulang pergi. Tiket sudah dibelikan oleh Mr Prakash dan kami tinggal naik saja. Perjalanan dengan menggunakan kereta gantung ini ke Genting Highland adalah sekitar 30 menit, melintasi ketinggian yang berbeda: antara 20 meter-150 meter. Ini yang tidak kuat ketinggian Cuma bakal teriak-teriak doang. Dan ngerinya, di bawah dan di sekitar kereta gantung, sama sekali tidak ada rumah. Hanya hutan tropis dan jalan inspeksi kecil saja. Jadi yaaaa kalau jatuh yaaaa lumayan....
 Ketika baru saja berangkat

 Sudah sampai tengah-tengah

Mendekati Genting

Perjalanan selama 30 menit kami lalui dengan was-was dan sedikit singunen. Kami tiba di Hotel Maxims, tapi kami memang tidak menginap disini dan hanya bertujuan numpang dolan saja (tau lah nginep di Genting mahal juga).

Kami bingung karena petunjuk yang ada minim. Objek apa saja yang harus dikunjungi pun juga informasinya sangat minim. Kami berjalan tak tentu arah, pokoknya titik temunya untuk pulang ada di Maxims. Kami berjalan melewati pusat game. Ada Casino sebenarnya, dan untuk masuk Casino harus menggunakan hem, celana yang pantas, dan sepatu. Dan sudah tentu uang yang banyak. Kami terus bergerak turun ke Theme Park. Katanya akan dibangun Theme Park Outdoor yang baru akan selesai pada tahun 2016. Sayang sekali tinggal theme park indoor. Tiket masuk ke Theme Park Indoor pun juga murah, hanya MYR 30 (sekitar Rp 120.000,00) sudah tersedia lebih dari 40 wahana permainan dan lebih dari 75 jenis game seperti di timezone. Hmmm, cukup menggiurkan. Tapi sekali lagi, waktunya Cuma tersisa 2 jam, dan juga agak tidak mungkin mengajak pakdhe dan budhe bermain berkejar-kejaran dengan waktu. Dengan sedikit kecewa karena tidak ada hal lain yang bisa dinikmati selain permainan, kami kembali ke Maxim dan bersiap untuk kembali ke stasiun kereta gantung.

Kabut membuat perjalanan kami dengan kereta gantung lebih mengerikan: menembus kabut, tiba-tiba sudah ada di ketinggian yang sangat tinggi sekali. Beberapa kali kereta gantung juga harus terhenti karena naik-turun penumpang yang memang padat sore itu. Membuat singunen jadi lebih singunen.
 Menembus kabut yang tebal

Masih akan menembus kabut

Kami tiba di stasiun pemberangkatan dan kami bergegas menelpon Mr Prakash karena tour kami jadi lebih singkat. Mr Prakash pun menanyakan kenapa kok cepat, apakah tidak menarik? Dan kami menjawab karena kami sudah menjelajahi semua dan rasanya waktu terlalu singkat kalau mengambil tiket terusan untuk wahana di Theme Park  *saran buat yang mau ke Genting, sisakan waktu seharian. Tempat ini mirip Universal Studio, Trans Studio, Dufan, tapi hawanya lebih sejuk*
 Terminal Bas Persiaran Genting Highland-Kualalumpur

Salah satu bis yg menjalankan rute Trans Genting Highland: Scania Irizar (nggak tau asli Irizar atau nggak)

Mr Prakash memutuskan untuk mengantar kami ke hotel karena waktu masih terlalu sore. Waktu itu, sekitar pukul 16.00. Kami pukul 18.00 sudah tiba di hotel. Berhubung waktu makan masih lumayan jauh, dan berhubung kami akan berganti guide karena Mr Prakash akan kembali menjemput tamu ke Singapura besok pagi (dan harus mulai perjalanan malam itu juga), maka uang makan dari tour and travel sebesar MYR 110 dikembalikan kepada kami. Ini artinya malam ini kami bebas menentukan makan malam kami.

Setiba di hotel, kami bersepakat beristirahat sebentar lalu kemudian berangkat lagi cari makan. Rencananya, malam ini kami akan mencoba Monorel dan mencari makan di daerah KL Sentral. KL Sentral adalah sebuah sentra transportasi yang terintegrasi: ada stasiun Monorel ke segala tujuan, stasiun kereta api (kereta ke Thailand (Hat Yai-Bangkok) dan Singapura berangkat dari sini), dan stasiun bis (Singapura, Butterworth, Alor Star, KLIA, LCCT, Hat Yai, Bangkok)).

Kami keluar dari hotel pukul 19.00, dan kami terkejut karena suasana Bukit Bintang malam itu sangat ramai sekali. Ada 18 ekor babi panggan tertata di sebuah tenda, lengkap dengan panggung yang ada alat bandnya, tenda khusus bagi pengunjung muslim, dan berbagai pernak-pernik pesta. Rupanya ada pesta khusus setelah Imlek (mungkin kalau di Indonesia disebut sebagai Cap Go Meh, tapi saya kurang tahu namanya apa disana). Meriah sekali pokoknya. Kami berjalan melintasi sentra seafood dan chinnesse food. Bagi kami, makanan itu ada banyak di Indonesia. Jadi tidak perlu beli di Malaysia untuk mencicipinya. 
18 babi panggang terparkir rapi di jalanan Bukit Bintang

Kami kemudian bergerak ke Monorel dan membeli tiket monorel. Sangat murah sekali, karena hanya berkisar MYR 3 untuk sekali jalan. Kami mengambil tujuan ke KL Sentral. Monorel malam itu sangat ramai sekali. Kami sedikit waspada karena kultur di Malaysia dan Singapura beda: masih ada beberapa pencopet di Monorel Malaysia. 

Berbeda dengan Singapura, kami perlu waktu sekitar 10 menit untuk menunggu Monorel datang. Jika di Singapura, kami hanya perlu menunggu maksimal 4 menit untuk MRT selanjutnya. Perjalanan ke KL Sentral hanya memakan waktu sekitar 25 menit. Kami melewati beberapa stasiun, diantaranya Tun Sambanthan yang merupakan sebuah daerah.
Situasi di dalam Monorel Kualalumpur

Setibanya di stasiun Monorel KLSentral, kami turun dan segera berjalan ke sekitar KL Sentral. Mirip dengan di Indonesia: ada bis besar ngetem sembarangan, daerah yang kurang tertata karena masih pembangunan, sebagian terkesan sepi dan spooky. Ada sebuah warung India di depan KL Sentral dan warung nampaknya cukup ramai. Kami pun memasukinya dan segera memesan: Nasi Beriyani Domba 3 porsi, Nasi Beriyani Ayam 3 porsi, teh tarik es 2, teh tarik panas 1, teh biasa 2, dan teh Madras 1. Seperti sudah saya yakini sebelumnya bahwa menu India pasti rempah-rempahnya sangat kental sekali dan saya sudah bersiap. Kakak sepupu saya sudah tahu, hanya pakdhe dan budhe memang belum tahu dan ingin merasakan.

Begitu tiba pesanan kami, langsung kami lahap nasi beriyani dengan beras panjang yang khas ini bersama kari kambing dan saos mayones khusus ini. Rasanya di dalam mulut kemranyas sekali: seperti mengunyah bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, tomat, kecap, merica, cabe, saos, nasi, dan daging kambing di dalam mulut. Muantab sekali sampai kepala ini kembali senut-senut karena rempah-rempah yang terlalu menusuk. Sementara saya dan kakak-kakak saya memakan dengan lahap, sebagian sudah tidak kuat dengan rempahnya dan tidak menghabiskan makanan. Wajar lah, di Indonesia makanan tidak semenusuk ini rempahnya.
 Nasi Beriyani Mutton dan Madras Tea

Yang khas ini nih, nasinya panjang-panjang

Setelah selesai makan dahsyat ini, kami memutuskan kembali ke Bukit Bintang dengan monorel. Kali ini monorel cukup sepi dan kami memperoleh tempat duduk. Kami menunggu tidak terlalu lama dan perjalanan pun lebih cepat karena pak sopir lagi sedikit ngebut.

Setibanya di Bukit Bintang, kami kembali berjalan menuju ke arah hotel. Rupanya, di jalan dekat hotel sedang ada Barongsai. Saat itu, tim Barongsai sedang mempersiapkan. Kami bersiap di barisan paling depan untuk menonton. Persiapannya cukup lama, sekitar 45 menit baru pertunjukan Barongsai dimulai. Tidak sekedar pertunjukan saja, tapi disertai seremonial yang khas: ada altar dengan berbagai persembahan, petasan yang luar biasa banyaknya, dan jeruk-jeruk ponkam yang luar biasa juga jumlahnya di dalam kardus. Barongsainya sendiri kurang memukau jika dibandingkan dengan atraksinya di Indonesia. Namun, seremonialnya itu yang membuat terkesan. Di akhir pertunjukan, ada juga banyak kembangapi diluncurkan (4 kardus) dan banyak sekali buah jeruk ponkam dilemparkan dari Barongsai ke masing-masing penonton. Bahkan mobil dan motor yang lewat pun ada yang kena lempar. Masing-masing penonton mendapatkan minimal jeruk 1 buah.
 Nonton Baronsai sambil makan siomai

 Kembang api melambung rendah

 Sekardus kembang api di tengah jalan

Barongsai Beraksi

 Tak kehilangan moment. Sepasang suami-istri yang sudah lanjut usia, berasal dari daerah Timur Tengah, tetap dengan setia saling menemani meskipun sang istri berada dalam keterbatasan fisik

Setelah lelah menonton, kami kembali ke hotel. Tapi, saya dan kakak-kakak saya mampir ke kakilima pojokan yang menawarkan berbagai barang. Dari sini saya berhasil menawar secara sadis sebuah kacamata Rayban aspal dengan kualitas mirip asli. Awalnya sih Cuma pengen liat-liat. Pedagang menawarkan seharga MYR 80. Gila aja beli harga segitu tambah dikit udah dapet yang ori. Saya pergi begitu saja, sementara si penjual masih berkata-kata pakai Bahasa Malaysia menawarkan ke saya. Saya Cuma diam dan tiba-tiba penjual menawarkan harga sangat miring ke saya: MYR 15. Hanya sekitar Rp 60.000,00. Saya ingat betul teman saya dapat model yang sejenis di Singapura seharga 10 dolar (artinya dia dapat harga sekitar Rp 90.000). Karena kasihan dan harga yang sangat drop, maka saya ambil barang tersebut dan saya pastikan semuanya sama dengan yang ia tawarkan tadi. Setelah dipastikan tidak ada tipu-tipu, maka transaksi saya lakukan. Menguntungkan sekali beli disini.....

Setelah selesai beli-beli, saya kembali ke hotel untuk segera istirahat karena malam ini adalah malam terakhir bagi saya di Malaysia sebelum besok paginya saya harus terbang ke Medan dan memulai cerita baru disana.
Meskipun mirip dengan Indonesia, tapi Malaysia ini setidaknya jauh lebih tertib. Mobil parkir di lokasi drop saja (tidak lebih dari 5 menit) langsung diderek oleh DBKL (semacam Satpol PPnya Malaysia) dengan mobil derek. Tidak ada alasan dari pengemudinya, mobil langsung diderek ke kantor DBKL dan semuanya diselesaikan disana. Mobil parkir sembarangan pun, jika masih ada sopirnya, hanya dipotret dengan alat tertentu, dicatat nomor polisinya oleh polisi setempat, maka sopirnya tinggal mengurus ke kantor polisi terdekat. Tidak ada sogok-sogokan, minta bayar ditempat, atau menyuap pakai uang receh. Namun, bedanya, perseteruan antar ras di Malaysia sepertinya sudah sampai muncul ke permukaan. Kalau di Indonesia hanya sebatas ‘rasan-rasan’ atau main belakang. Ketika proses Barongsai dimulai, kebanyakan warga Chinnesse berkumpul disitu. Jika ada pengendara berwajah India atau Melayu kurang senang (karena memang Barongsai sempat menimbulkan kepadatan lalulintas dan kemacetan, namun sudah diatur oleh pulis), maka mereka akan menyalakan klakson keras-keras atau main ‘bleyer’ seolah-olah mereka menang sendiri. Meskipun demikian, warga Chinnesse dan penonton dari berbagai negri yang ada disana bisa cukup sabar dan tetap tenang. Yang tidak tenang malah saya dan kakak-kakak saya, pengemudinya kita liatin dengan pandangan mecicil :D