Kaca Sanesipun

Minggu, 20 Oktober 2013

Memburu Mahameru (Etape 1): Dari Hati Naik Ke Semeru

Masih ingatkah dengan sosok Soe Hok Gie? Sosok seorang aktivis pergerakan muda yang terkenal kiprahnya pada tahun 1965. Ya, sosok Soe Hok Gie yang pada akhirnya meninggal dunia di Gunung Semeru saat berusia 26 tahun. Bukan sosok Soe Hok Gie yang fenomenal yang akan saya bahas dalam blog ini, namun sosok Gunung Semeru yang sangat fenomenal di mata Indonesia, maupun di mata dunia.

Gunung Semeru adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa. Dengan ketinggian 3676 mdpl, tidak jarang Mahameru, puncak Gunung Semeru, dijuluki sebagai negri di atas awan karena memang letaknya yang berada di atas awan. Gunung Semeru sendiri berada di bawah naungan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Gunung Semeru ini kaki-kakinya ada di 3 kabupaten, yaitu Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Probolinggo. Namun, percaya tidak percaya, pintu masuk utama menuju puncak Mahameru, yaitu Ranu Pani, berada di wilayah administratif Kabupaten Lumajang. Banyak yang mengira selama ini Ranu Pani berada di wilayah Kabupaten Malang (kalau Tumpang sih iya masuk Kabupaten Malang). Untuk menuju Ranupani, bisa melalui 2 jalur: melalui jalur Malang-Tumpang-Poncokusumo-Ranupani, atau melewati Kota Lumajang-Senduro-Ranupani. Masing-masing jalur ada lebihnya, ada kurangnya. Jika lewat Tumpang, Malang, akan mudah dijumpai angkutan umum yang siap mengangkut pendaki, baik dari Terminal Arjosari Malang, Stasiun Belimbing atau Stasiun Kota Baru Malang menuju ke Tumpang sampai ke Ranu Pani. Naik kendaraan sendiri pun bisa, namun kendalanya hingga Desember 2013 adalah jalan sebelum Ranu Pani yang rusak berat dan sedang dalam masa perbaikan sehingga kendaraan jenis apapun tidak bisa lewat. Sedangkan kalau lewat Senduro, minusnya adalah transportasinya tidak semudah lewat Malang, meskipun tidak sulit-sulit banget sih. Ada angkutan dari Kota Lumajang menuju Senduro. Angkotnya (ada angkot, ada ELF) memiliki trayek Minak Koncar (terminal Lumajang)-Balekambang. Balekambang adalah sebuah pemandian sebelum Senduro. Kalau mau sampai Senduro, tinggal bilang ke sopirnya, nanti diantarkan ke Senduro. Senduro khasnya adalah sebuah pura besar, disebut pura Senduro. Kemudian nanti dari Senduro bisa melanjutkan dengan ojek atau charter truk. Positifnya, lewat senduro bisa membawa mobil sampai ke Ranu Pani dengan ijin tertentu dari TNBTS.

Nah, kali ini pendakian saya adalah pendakian yang ketiga yang superspesial ini. Pendakian pertama cuma tracking dari Cemorolawang, Probolinggo menuju ke Bukit Pananjakan (di Bromo) dengan track 3 km waktu tempuh 3,5 jam bersama bule dari Inggris yang entah ngomong apa. Pendakian kedua lagi-lagi tracking Kawah Ijen dengan track total 3 km dengan waktu tempuh 2 jam, dan yang ketiga adalah pendakian ke Mahameru ini. Kenapa spesial? Karena persiapan kami cuma 5 jam sebelum keberangkatan dari Surabaya. Ketika orang lain akan naik gunung harus persiapan jauh-jauh hari sebelumnya dengan berolahraga dan packing bawaan yang bejibun, kami kurang dari 5 jam sudah siap!

Kami bukan orang yang profesional! Masing-masing dari kami belum pernah naik Mahameru. Paling pentok ada yang sampai Ranukumbolo (2600 mdpl). Cerita ini dimulai dari ketika salah seorang teman saya FKG 2010 (Aryo) mengajak saya untuk naik Semeru bersama rekan-rekan dari Fakultas Farmasi. Bukan ajakan yang mudah kali ini, mengingat Semeru adalah gunung tertinggi di Jawa. Beda ceritanya kalau diajak ke Baluran atau keliling Madura atau entah kemana lah, gak sampai 5 menit langsung saya iyain aja. Ajakan ini muncul pada hari Rabu, 9 Oktober 2013. Sampai hari Kamis, teman saya terus mengajak. Sementara badan sepertinya juga tidak mampu, ya saya pending saja. Kebetulan teman sekos saya (Adi) yang ingin ikut juga badan kurang fit. Kamis malam, setelah futsal angkatan, niat untuk mendaki Semeru hampir pupus karena saya dan Adi sedikit tidak enak badan. Tiba-tiba ada teman sekelas saya (Falah) yang menghubungi saya untuk ikut rombongan saya. Sementara itu, Aryo dalam kondisi galau karena kawan-kawannya satu fakultas tepar semua. Keputusan malam itu: tunggu besok pagi! Dan saat itu, kami belum packing sama sekali.

Pagi sudah menjelang, pukul 02.00. Saya belum mampu tidur saking lelahnya badan. Pukul 02.30 baru saya benar-benar bisa mulai memejamkan mata terlelap mendaki Semeru lewat mimpi.

Pukul 09.30 saya terbangun, dan segera membangunkan Adi yang akan ikut pendakian. Sementara itu Falah sudah bingung sendiri sejak pukul 08.00 karena carrier, sleeping bag, sepatu gunung, matras, dan jaketnya belum siap. Akhirnya, saya dan Adi sepakat pukul 10.00 menuju ke kampus dulu untuk sekedar sarapan dan melepas stress sembari menunggu kepastian mencari tenda dome, nesting, sleeping bag, carrier, matras, dan logistik. Untung carrier, sepatu gunung, dan P3K milik saya sendiri sudah siap. Pukul 11.00, Falah memberi kabar kalau tenda untuk 4 orang, carrier untuk 2 orang, matras untuk 3 orang, dan sepatu gunung untuk 1 orang sudah siap tinggal ambil di Mulyosari (Terima kasih untuk persewaan peralatan camping di Mulyosari). Sementara, kabar dari Aryo bahwa teman-teman Farmasi sudah siap dan tinggal berangkat ke Malang dengan kereta jam 19.15 dari Gubeng Lama. Saya dan teman-teman FKG makin panik, tapi tetap tenang. Sampai pukul 13.00 kami masih berada di FKG sembari sarapan dan bersantai. Pukul 13.15 kami baru bergerak untuk mencari surat sehat (syarat wajib untuk mendaki semua gunung). 

Pukul 14.00 surat sehat baru beres. Kami langsung bertolak ke Mulyosari untuk mengambil alat-alat sewaan kami. Problem pertama dimulai. Sleeping bag saya yang akan saya bawa terbawa teman saya dan ketinggalan di Tulungagung -___- sementara di Mulyosari sleeping bagnya tinggal 2. Hil yang mustahal ketika tidur di gunung tanpa sleeping bag. Kami memutar otak, dan ternyata persewaan di Tenggilis Utara (Scout-1) masih menyediakan. Waktu semakin sore, dan sudah pukul 14.40. Kami bergegas ke Superindo Dharmahusada untuk belanja logistik. Semua yang ada disitu kami masukkan. Kornet, Aqua botol beli 9 (dipikir-pikir lagi, ngapain beli sebanyak ini -___-), mie, telur, bahkan pisang pun kami beli sangking bingungnya. Pukul 15.30 kami selesai belanja. Problem kedua dimulai. Kami tidak punya senter! Sewa pun tidak menyediakan! Akhirnya kami beli di Pacarkeling. Beli yang Rp 14.000an aja yang murah.

Pukul 17.40 kami sudah siap (meskipun belum 100%). Aryo sudah berangkat lebih dulu ke Gubeng dan bergabung dengan rekan-rekan dari Farmasi untuk naik kereta pukul 19.15. Sementara kami bertiga bersiap menuju Bungurasih karena akan lanjut naik bis ke Malang dan bertemu dengan rombongan Farmasi di Malang. Kami berangkat bertiga ditemani 2 teman kami yang baik hati mengantar keberangkatan kami (maksudnya mobilnya biar bisa dibawa balik ke kos). Kami sempatkan mampir ke Tenggilis (Scout-1) untuk menyewa sleeping bag dan nesting (rantang untuk memasak). 

Tepat pukul 18.15 semua logistik kami lengkap! Packing pun sudah bagus! Meskipun isinya acak-acakan dan seisi dapur kos-kosan masuk tas semua muahahahahahaha

Perjalanan dari Tenggilis Utara ke Bungurasih cukup padat. Dan kami lupa 2 hal: beli beras buat makan di Semeru, dan hari itu adalah long weekend Idul Adha. Dan terminal pasti rame .____.
Kami tetap nekat mancal gas mobil. Beras beli di Bungurasih aja. Bis pasti dapet, toh trayek Surabaya-Malang biasanya long weekend gini nggak rame (biasanya yang rame bis-bis Surabaya-Jogjaan). Sesuai dugaan kami, Bungurasih ramai total. Bahkan masuk parkir mobil pun macet. Saya memutuskan untuk turun dulu, barangkali ada teman-teman nyangkruk di Bungurasih. Bisa pinjam motor buat beli beras sebentar.

Sial 7 rupa. Problem kesekian muncul. Bungurasih lautan manusia dan tidak ada teman-teman nyangkruk. Bis Surabaya-Malang pun malam itu benar-benar kosong dan yang ngantri pun buanyak. Kami memutuskan untuk membawa mobil sampai ke Malang, lalu diinapkan di Arjosari. Kami langsung deal, dan 2 teman yang mengantar kami terpaksa kami turunkan di Bungurasih dan membiarkan mereka naik bis kota/taksi.

Pukul 20.15 kami berangkat. Percaya tidak percaya, dompet kami masing-masing kosong isinya. Dompet Adi tinggal Rp 50.000. Dompet saya tinggal Rp 105.000. Sementara dompet Falah cukup menjanjikan. Ada Rp 200.000 di dalamnya. Dengan penuh kepercayaan diri kami berangkat. Sementara itu kami janji dengan Aryo di Malang pukul 22.15. Sekali lagi kami lupa bahwa pasti kondisi jalanan padat. Jadi, dengan cara apa kami meluncur ke Malang hanya dalam waktu 2 jam lebih dalam kondisi padat? Sementara beras juga belum dapat!

Kami berjalan dulu. Sementara saya pegang posisi driver. Sampai Pandaan pukul 21.10 karena kami mampir di Rest Area tol dulu untuk isi bensin. Jalanan juga padat, cukup susah untuk zig-zag. Niat kami mencari beras pupus karena toko-toko tutup. Indomaret hanya menyediakan beras 5 kg, dan itu terlalu banyak. Sampai Sukorejo, ada toko buka dan kami segera menghampiri. 15 menit kemudian, beras kualitas antah berantah sebanyak 2 kg sudah di tangan. Langsung tancap gas lagi. Zig-zag tidak karuan karena teman-teman Farmasi sudah hampir tiba di Malang. Ketika kami baru tiba di Purwodadi, teman-teman Farmasi sudah tiba di Lawang. Sementara kami baru diba di Lawang, teman-teman Farmasi sudah tiba di Belimbing. Dan dengan kekuatan terang bulan, Lawang-Arjosari hanya sekitar 10 menit saja. Mobil kami parkir di Arjosari, dan rombongan kami pun lengkap: 16 Ksatria Airlangga siap mendaki Mahameru!

Sudah selesai masalahnya? Belum! Sopir angkot yang kami naiki terlibat adu mulut dengan sopir angkot lain. Ceritanya, rombongan kami menyewa angkot AMG di depan Stasiun Belimbing, lalu menjemput kami di Arjosari. Angkot TA (Tumpang-Arjosari, line putih) mengira angkot AMG yang kami tumpangi menyerobot penumpang di Arjosari, padahal jelas-jelas sewanya dari stasiun Belimbing. Masalah selesai setelah orang se-terminal keluar. Pukul 22.55 kami berangkat menuju Tumpang.

Sekitar 30 menit kemudian kami tiba di Tumpang. Problem kesekian muncul lagi. Kami berempat (saya, aryo, adi, falah) belum fotokopi KTP. Ada warnet di dekat tempat kami turun. Ide cemerlang pun muncul. Kami memotret KTP kami, lalu dimasukkan MS Word, lalu kami print hitam putih. Dan TADAAA jadilah fotokopian KTP yang tidak jelas! Persiapan kami baru benar-benar 100% ketika di Tumpang ini. Dan kami sudah bersiap menanti truk yang akan membawa kami ke Ranupani.

Perjalanan kami di kota sudah selesai. Perjalanan sangat jauh masih menanti kami. Nantikan kami di etape selanjutnya yang penuh cerita dan foto.

Tips:
Persiapkanlah semuanya jauh-jauh hari. Pikirkan juga jika long weekend. Jalan raya maupun jalur pendakian pasti akan ramai orang. Bawalah perbekalan yang cukup, minimalis, dan terencana. Alat masak cukup nesting, kompor gas/parafin, dan piring+sendok plastik sekali pakai saja (bisa dipakai 3 hari) atau kertas minyak. Aqua bawa 1 liter saja per orang, karena di Ranukumbolo airnya cukup segar untuk diminum.