Kaca Sanesipun

Sabtu, 27 Juli 2013

20 Km Dari BIL, Ada Kuta!

Setiba di Mataram, 25 Juli 2013, saya dan 2 orang teman saya bingung. Kami kembali menginap di Hotel Wisma Nusantara II dengan pertimbangan dekat dengan pusat kota. Kami ingin wisata, tapi badan capek dan gak tau arah. Akhirnya, kami memutuskan urunan untuk menyewa mobil biar bisa dibawa kesana-kemari, tanpa sopir. Dengan modal Rp 350.000, bensin Rp 100.000, dan dengan modal kesotoyan kami, kami berangkat. Kemana? Karena Senggigi sudah sangat mainstream bagi orang yang berlibur ke Lombok, maka kami memutuskan untuk pergi ke Pantai Kuta-Mandalika.

Pantai Kuta, atau lebih terkenal disebut sebagai Pantai Mandalika berada lebih kurang 53 km ke arah selatan dari Mataram. Atau lebih kurang 20 km dari BIL. Jadi, Pantai Kuta terletak di Lombok Tengah, lebih tepatnya lagi di desa Kuta, sehingga namanya disebut sebagai Pantai Kuta. Mirip-mirip dengan yang ada di Bali sih, tapi tetap beda kok. Akses menuju Pantai Kuta sangat baik, mengingat aksesnya ngikut akses menuju BIL. Jalannya lebar dan mulus. Perkampungan juga jarang. Jadi, dari Mataram sampai Pantai Kuta hanya membutuhkan waktu 45 menit-1 jam jika dengan kendaraan pribadi. Angkutan umum? Sebaiknya dihindari kalau ingin menuju ke Kuta karena tidak ada angkutan umum yang langsung menuju ke Kuta. Di perjalanan menuju Kuta, Anda akan menemui obyek wisata mengenak suku Sasak di desa Sade. Suku Sasak adalah penduduk asli Pulau Lombok.
Bukit di Barat Pantai Kuta

Bagaimana kondisinya? Hmmm, Pantai Kuta ini banyak dikunjungi oleh turis mancanegara. Turis domestik jarang mengunjungi Pantai Kuta, mungkin karena belum terkenal, atau memang mungkin turis domestik lebih suka dengan tempat-tempat mainstream. Karena banyak turis mancanegaranya, maka di sekitar pantai banyak berdiri club-club sederhana. Ada juga berbagai persewaan papan selancar, alat snorkeling dan diving. Kalau siang, suasana cukup tenang. Mulai beranjak sore, dentuman musik mulai terdengar dari berbagai penjuru. Tidak banyak warga yang beraktivitas di sekitar Pantai Kuta. Beberapa hanya sebagai pedagang toko kelontong, atau beberapa berjualan ikan asap sekedar untuk lauk makan.
Guk-guk yang banyak berkeliaran di pantai Kuta

Pantainya? Pantai Kuta ini adalah pantai selatan, namun ombaknya tidak terlalu besar. Tipikal pantainya adalah pantai dengan karang, sama seperti pantai yang ada di Gunungkidul (DIY) dan Pacitan (Jatim). Adanya karang dari bukit kapur ini membuat ombak terpecah, sehingga ketika sampai ke daratan ombaknya tidak terlalu besar. Karena merupakan pantai dengan karang dan ada bukit kapur disekitarnya, pantai ini memiliki pasir yang putih. Ciri khas pasir putihnya adalah pasir memiliki ukuran yang cukup besar. Bulir-bulitnya seukuran biji ketumbar. Di sebelah barat dan timur membentang bukit kapur yang cukup tinggi. Di sebelah barat, ada bukit kapur dengan latar hijau karena vegetasi. Bagus dah pokoknya. Di sebelah timur juga membentang perbukitan. Kabarnya sih, di sebelah timur itulah ada obyek wisata bernama Tanjung Aan, sekitar 15 menit dengan kendaraan pribadi dari Pantai Kuta.
Ujung Barat Pantai Kuta

Sangat tidak disarankan ke Pantai Kuta waktu air lautnya surut. Hanya akan nampak pasir-pasir di pantai dengan beberapa genangan air laut dan tumpukan rumput-rumput laut. Jika air sedang pasang, maka bisa digunakan untuk sekedar mandi-mandi karena karakter pantai yang landai. Mau surfing? Bisa, ada tempatnya juga. Namun, Pantai Kuta juga bukan merupakan pilihan yang baik untuk menyaksikan sunrise maupun sunset karena pantai yang menghadap ke selatan.
Narsis dikit laahh

Pukul 16.45 kami memutuskan untuk segera berangkat menuju Senggigi untuk mengejar Sunset (ini pilihan bodoh, sebenarnya mending ke Tanjung Aan, karena viewnya kabarnya jauh lebih bagus). Dan perjalanan di Kuta harus kami akhiri.






Selong, Keheningan di Sisi Timur Lombok

Selasa, 23 Juli 2013 pukul 13.40
Sebuah kesempatan bagi saya untuk kembali 'mbolang' setelah sekian lama tidak mbolang. Mbolang terakhir saya ke Blitar, tapi akhirnya gagal juga. Kali ini, bukan cuma mbolang biasa, tapi juga melaksanakan survey untuk sebuah kegiatan yang diadakan oleh kampus akhir Agustus ini.

Tujuan saya kali ini adalah ke Selong, sebuah ibukota Kabupaten Lombok Timur. Kabupaten terletak di ujung timur Pulau Lombok, lebih tepatnya 55 km dari kota Mataram. Dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi selama 1 jam dari kota Mataram, atau dengan angkutan umum (warga sekitar menyebut dengan engkel) dengan waktu tempuh 1,5-2,5 jam. Lombok Timur, dari informasi yang diperoleh di Internet, memiliki jumlah penduduk 4x lebih banyak daripada di kota Mataram. Mata pencaharian mayoritas adalah pegawai, petani (rata-rata petani tembakau), dan sebagian nelayan.

Saya, kali ini bersama 2 orang teman saya yang turut serta dalam surlang, survey mbolang, ini memilih menggunakan penerbangan langsung dari Surabaya (SUB) ke Lombok Praya (LOP). Berhubung ada tiket pesawat Rp 350.000 kan murah. Naik bis Surabaya-Mataram sekarang sudah tembus Rp 275.000 dengan waktu tempuh hampir 24 jam (kadang lebih). Saya akhirnya memilih menumpang Citilink (pesawat baru lho, Airbus A320) untuk berangkatnya, dan pulangnya memakai Lion Air (pake Boeing 737-900ER). Total pesawat PP per orangnya habis Rp 757.500 (berhubung pesennya ndadak, jadi dapet mahal. Kadang citilink buka promo Rp 155.000 saja). Penerbangan Citilink, sementara waktu ini hanya ada 1 penerbangan saja baik dari SUB-LOP atau LOP-SUB. Sedangkan Lion Air yang pakai 737-900ER ada 2 kali penerbangan.

Saya check in pukul 13.40 di Bandara Internasional Juanda. Kebetulan pesawat ada di gate 7. Karena masih jam 13.40, saya dan teman-teman santai-santai dulu di luar. Pukul 14.05 kami mulai berjalan masuk ke gate 7. Ternyata, sudah panggilan terakhir dan kami bertiga menjadi penumpang 'eksekutif' karena nama kami dipanggil di panggilan terakhir -___- (memang citilink jauh lebih on time daripada Lion Air)

Pesawat take off dari Juanda pukul 14.40 dan tiba di Bandara Internasional Lombok di Praya pukul 16.40 WITA (15.40 WIB). Bandara ini masih baru dan masih 2 tahun beroperasi. Tidak terlalu kecil, tapi tidak terlalu besar juga. Ada 4 gate keberangkatan dalam negri. Cukup lah untuk sebuah bandara Internasional. Bersih, cukup rapi, petunjuk juga sangat jelas. Untuk menuju ke Mataram atau daerah sekitar Bandara, bisa menggunakan taksi. Atau jika ingin nego, bisa menggunakan angkutan sewa yang dikelola oleh warga sekitar. Atau jika ingin ke Mataram tapi budget minim, bisa naik Bus Damri APM (Angkutan Pemadu Moda) dengan tarif Rp 20.000 untuk BIL (Bandara Internasional Lombok)-Mataram dan Rp 30.000 untuk BIL-Senggigi. Perjalanan dari BIL ke Mataram memakan waktu 1 jam. Jarak antara BIL-Mataram lebih kurang hanya 30 km. Aksesnya sudah cukup baik, karena dari simpang jalur Lembar-Mataram sampai BIL sudah 4 lajur dan dibatasi dengan pembatas jalan yang besar. Aspalnya pun sangat halus. Jika Anda memilih naik Damri, kalau ingin ke kota, Anda akan diturunkan di Pool Damri di daerah Sweta. Dari Pool Damri ke pusat kota (Mataram Mall) Anda harus berjalan kaki sejauh 3-5 km. Atau jika capek, bisa memilih naik taksi atau ojek. Ada taksi Blue Bird juga di Lombok.
Bandara Internasional Lombok (BIL) Praya, Lombok Tengah

Malam harinya, kami menginap di Hotel Wisma Nusantara II di Jalan Beo, Cakranegara. Hanya sekitar 300 meter dari Mataram Mall. Cukup murah dan cukup lengkap, hanya Rp 105.000 dengan fasilitas double bed (meskipun cuma kasur busa) dapet kamar AC, kamarmandi dalam, TV kabel, dan aqua 2 botol. Dan pagi-pagi sekali (niatnya sih, niatnya) berangkat ke Selong. Tapi apa daya, berhubung baru bangun jam 06.30 WITA dan gagal sahur, akhirnya kami berangkat dengan sangat tergesa-gesa.

Berhubung dari Cakranegara ke Terminal Mandalika (Terminal Mataram) cukup jauh juga kalau jalan kaki (3 km), maka kami memutuskan naik angkutan kota. Kami kira cuma bakal dihantar sampai terminal, tapi kami terhanyut godaan sopir angkot dengan mengantarkan kami langsung ke Selong, tapi kami bertiga diminta bayar Rp 175.000. Lumayan murah sih, toh menurut informasi dari orang di Pool Damri dan di Hotel kabarnya naik engkel Mataram-Selong per orang kena Rp 40.000-Rp 50.000. Akhirnya kami iyakan saja tawaran driver tadi. Langsung lah kami meluncur melewati jalanan berkelok ke arah timur. Panoramanya cukup indah. Sawah di kanan-kiri. Sebelum keluar Lombok Barat, ada sebuah obyek wisata yang cukup bagus, yakni Taman Narmada. Letaknya, di Kecamatan Narmada, Lombok Barat.

Sedang asyik-asyik menikmati perjalanan, eh, tiba-tiba kami bertiga dioper ke engkel. Sopir bilang bahwa engkel sudah dia bayar dan kita tinggal naik saja. Dan kita tenang-tenang saja. Perjalanan tidak lama semenjak kami dari Cakranegara sampai masuk kota Selong, hanya sekitar 1 jam 45 menit. Kami sudah akan turun di RSUD dr R Soedjono, tapi tiba-tiba kami ditarik biaya lagi Rp 20.000 per orang. Mateeekkk. Jadi kami per orang kena hampir Rp 80.000,00 untuk perjalanan dari Mataram-Selong. Awalnya kami cukup ikhlas, meskipun tahu bahwa tarif tersebut 2 kali lipatnya tarif normal. Tapi, setelah kami bertemu dengan Camat Pringgasela dan diberitahu bahwa sebenarnya tarif asli dari Mandalika-Pancor (Selong) hanya Rp 20.000, maka kami pun menyesal sehabis-habisnya. Memang warga Lombok, warga manapun itu jujur-jujur. Tapi, pelajaran berharga saya selama mbolang ini adalah: jangan sekali-kali mempercayai sopir angkutan umum. Kalau mau dapat informasi lebih valid dan lebih netral, tanyalah ke polisi atau resepsionis hotel. Biasanya dua pihak tersebut lebih netral dan bisa dikatakan tahu semuanya.

Akhirnya, setelah berurusan dengan pihak sana-sini, kami memutuskan menginap di hotel. Dan oleh pihak sana-sini tadi kami diantar ke sebuah hotel di dekat Masjid Besar Selong. Kami menginap di Hotel Erina. Lagi-lagi cukup murah. Rp 200.000 dapat single bed yang besar cukup untuk 3 orang (kali ini spring bed), AC, (lagi-lagi) TV Kabel, dan kamar mandi dalam yang sangat luas dengan air yang dingin. Selain itu, terdapat fasilitas sahur yang memenuhi gizi untuk 2 orang: nasi, sayur, lauk-pauk (waktu itu telor ceplok, ayam goreng, sayur buncis, dan sayur asem) serta 2 cangkir teh panas. Hotel ini cuma 1 km dari masjid agung Selong, jalan kaki cuma 15 menit. Di samping masjid agung, ada alun-alun yang kalau sore ramai orang jualan legen dan kalau malam (ba'da tarawih) banyak yang jualan cilok (padahal pentol -__-). Selain itu, kalau berjalan 1 km lagi ke arah barat, Anda akan menemukan Taman Rinjani, yaitu semacam taman dengan foodcourt yang lengkap. Di depan Taman Rinjani, ada Taman Makam Pahlawan. Dan kalau ke arah selatan, akan menemukan RSUD dr R Soedjono, Selong. Kotanya cukup kecil, tiap berjalan dikit, Anda akan menemukan kantor-kantor pemerintahan. Sayangnya, kota ini jarang ada tokonya. Bahkan Anda tidak akan menemui sejenis Indomaret atau Alfamart karena memang dua waralaba tersebut dilarang berdiri di Lombok Timur. Mantab!
Masjid Besar Selong, Lombok Timur

Kalau Anda mampir ke taman Rinjani, jangan lupa merasakan sajian khas Lombok Timur. Biasanya disitu ada pedagang plecing kangkung dan urap-urap (kalau di Jawa sebutannya Gudangan). Harganya berapa? Nggak usah kuatir. Saya beli plecing+urap-urap Rp 3.000 saja bisa dipakai makan 3 orang kok. Apa yang unik dari urap-urap Lombok? Biasanya kalau di Jawa kelapa parutnya sudah dikukus dan ditambahi dengan rempah-rempah macam bawang merah, bawang putih, gula jawa, dan lombok. Tapi kalau urap-urapnya Lombok, parutan kelapanya mentah, lalu dicampur dengan sambel kering, sejenis sambel terasi. Rasanya, dijamin segar dan nikmat, agak-agak pedes gimana gitu. Juga ada makanan khas yang namanya aneh, sehingga saya pun tidak bisa mengeja. Tapi, yang jelas makanannya berbentuk ketan dipotong-potong dadu lalu diberi sunduk dari biting, kemudian diberi bawang goreng, lalu disiran kuah santan. Rasanya, hmmmm yummy!!!
Ketan disunduki disiram santan 3 rebu doang

Plecing Kangkung+Urap-urap 3 rebu doang

Jangan lupa juga beli ayam panggang (kalau tidak salah namanya) mak sa'idah. Bukanya sore hari di Taman Rinjani. Spanduknya warna ungu tua. Ini mungkin satu-satunya lapak paling asli daerah Selong, karena lainnya jualan Bakso Solo, Bakso Malang, Ayam Goreng Lamongan, Nasi Uduk Lamongan, Tahu Tek, dll -__- berasa di Jawa. Jauh-jauh ke Lombok, eh isinya orang Jawa semua -__- Kami memutuskan beli ayam panggang 3 potong (kampung), nasi, dan es teh. Orang sebelah saya beli ayam panggan setengah ekor cuma bayar Rp 15.000. Saya pun berbaik sangka, ternyata makannya murah sekali. Tiba waktunya untuk bayar, ternyata kami per orang kena Rp 25.000 untuk 1 potong ayam panggang, nasi, dan es teh. Hmmmmahaaalll! -___- Entah apakah orang 'asing' ditarik tarif mahal atau gimana, saya tidak tahu.
Es tehnya plastiknya panjang-panjang

Pagi di Hotel Erina, Selong, Lombok Timur

Hari berikutnya, saya dan 2 orang teman saya berkesempatan mengunjungi daerah Kecamatan Pringgasela. Desa yang kami kunjungi adalah Pringgasela, Pringgasela Timur, dan Timbanuh (bacanya timbenuh). Paling ekstrem adalah desa Timbanuh, berada di ketinggian hampir 1000 mdpl dan berada di kaki Gunung Rinjani. Siang-siang saja hawanya dingin, apalagi malamnya. Dan kami dibawa ke Pesanggrahan, sebuah rumah peninggalan Belanda yang kini digunakan untuk Villa yang disewakan. Lumayan, bisa menampung sampai 20 orang dengan fasilitas Gazebo dan Kolam Renang dengan view menghadap langsung ke selatan dan kalau malam (katanya) kelihatan kapal yang lalu-lalang di lautan.
View dari Pesanggrahan

Villa Pesanggrahan, Desa Timbanuh, Kec. Pringgasela, Lombok Timur

Tidak terasa, pukul 11.30 WITA survey kami selesai, dan kami kembali ke Mataram. Setelah tiba di Mataram, kami pergi lagi ke Pantai Kuta-Mandalika dengan bermodalkan sebuah mobil sewaan. Bagaimana dan seperti apa pantai Kuta? Tunggu tulisan saya berikutnya.

Senin, 01 Juli 2013

Bawean: Ada Matahari, Ada Secercah Cerita, Ada Secuil Bahagia

Bawean. Hmm...mendengar nama satu ini, mungkin Anda akan langsung menangkap bahwa Bawean adalah nama sebuah daerah di daerah selatan Kabupaten Semarang. Padahal, daerah tersebut bernama Bawen, bukan Bawean.
Ketika mencari-cari di peta pun, akan ada cukup banyak tanda tanya, "dimana sih Bawean itu?" kemudian sebagian ada yang menduga-duga bahwa Bawean itu berada di daerah Kepulauan Kangean, sebelah timur Pulau Madura. Ada juga yang menduga-duga bahwa Bawean itu ada di daerah pelosok Kalimantan. Padahal, Pulau Bawean terletak di tengah-tengah laut Jawa. Lebih tepatnya sekitar 300 km di utara Gresik, Jawa Timur. Lebih tepatnya lagi, separuh perjalanan dengan kapal laut trayek Surabaya-Banjarmasin. Jadi, jika Anda berkesempatan menaiki kapal laut dari Surabaya ke Banjarmasin, Anda akan sekilas melihat Pulau Bawean yang menjulang eksotis dengan lautan yang biru. Maka, memang sudah selayaknya Pulau Bawean, yang memiliki arti ada (cahaya) matahari ini layak dikunjungi sebagai destinasi wisata yang wow.
Hampir 11 bulan yang lalu, saya mendapatkan kesempatan super spesial untuk bisa berkunjung ke Pulau Bawean. Kenapa super spesial? Karena selain datang kesana dalam rangka bakti sosial, rombongan yang saya ikuti ini berkesempatan menggunakan armada yang spesial untuk menuju ke Bawean. Biasanya, untuk menuju Bawean bisa menggunakan Kapal Express Bahari 1C, dan per-2013 ditambah lagi 1 armada lintas Gresik-Bawean dengan tarif Rp 60.000,00 kelas ekonomi. Namun, kali ini kami menggunakan armada khusus dari Armatim (Armada Timur Angkatan Laut Republik Indonesia) yang telah mempercayakan KRI Teluk Mandar 514 untuk menghantarkan rombongan kami.

KRI Teluk Mandar 514 Dari Kabin Kendali

 KRI Teluk Mandar dari Dek Belakang

Bukan cuma KRI TMR 514 nya yang wow. Ternyata ada sebuah potensi wisata di Jawa Timur yang tidak banyak orang tahu, Bawean. Jawa Timur? Tepat, Bawean sendiri masih termasuk wilayah Provinsi Jawa Timur dan masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Gresik. Jadi, di Pulau Bawean ini ada beberapa kecamatan. Jangan dipikir terletak di tengah Laut Jawa lalu di Pulau Bawean ini tidak ada listrik, Pulau Bawean telah memiliki sumber listrik yang mencukupi untuk menghidupkan listrik se-pulau Bawean tentunya dengan sebaran listrik yang relatif merata. Jalannya? Jangan bayangkan pula bahwa jalan di Bawean masih tanah dan berbatu-batu makadam. Hampir 70% jalan di bawean yang menghubungkan antar kecamatan merupakan jalanan beton, jalan yang kalau di Jawa hanya ada di Jalan Tol atau di perempatan-perempatan. Betapa majunya Bawean ini!

Dermaga Pelabuhan Bawean, 17.00

Senja di Dermaga Pelabuhan Bawean

Tata kotanya hampir mirip dengan sebagian besar kota di Jawa, ada alun-alun di tengah kota dekat pelabuhan, dikelilingi masjid, pusat pemerintahan, sekolah, pasar, dan pusat bisnis. Tidak ada bangunan yang tinggi menjulang dan mencakar langit di Bawean. Rata-rata rumah paling tinggi hanya tingkat 3. Itupun sangat jarang. Rata-rata hanya rumah biasa berlantai 1. Mayoritas penduduk Bawean bekerja sebagai TKI. Sisanya ada yang menjadi nelayan, pedagang, guru, dan petani. Karena mayoritas pekerjaannya adalah TKI, maka tidak heran ketika Idul Fitri, pulau ini menjadi ramai karena penduduk asli banyak yang pulang kampung. Mayoritas penduduk Bawean adalah suku asli Bawean, sebagian merupakan pendatang dari Jawa. Bahasa yang digunakan pun juga merupakan Bahasa Bawean, yang intonasi dan pengucapannya nyaris mirip dengan Bahasa Madura (meskipun sampai hari ini saya kok nggak paham2 bahasa Madura .__.).

Salah satu view dari sebuah bukit di Bawean

Ketika memasuki Bawean, Anda akan bertanya-tanya, kenapa kok kuburan ada begitu banyak di Pulau Bawean ini. Yap, kuburan-kuburan tersebut adalah leluhur-leluhur Pulau Bawean. Jangan kaget, karena dimana-mana akan terdapat banyak batu nisan atau kuburan. Kadang ada di sebelah rumah, kadang mengumpul jadi satu di komplek pemakaman. Kuburan dimana-mana ini membuat Bawean menjadi salah satu 'pulau yang penuh misteri'. Selain itu, terdapat juga banyak cerita-cerita horor yang bisa menemani waktu malam Anda ketika Anda bercakap-cakap dengan warga sekitar. Yang jelas, warga sekitar sangat welcome terhadap wisatawan-wisatawan.

'Objek wisatanya cuma Tanjung Ga'an?' Jawabannya: Tidak! Ada cukup banyak obyek wisata. Selain Tanjung Ga'an, di dekat Tanjung Ga'an ada pantai yang bernama Pantai Cemplon (mas-masnya yang rumahnya saya tinggali sih mengatakan seperti itu, karena pantainya penuh dengan batu-batu yang mirip cemplon). Tapi, warga sekitar pantai menyebutnya sebagai Pantai Tanjung Kodok karena ada batu karang yang menyerupai kodok lagi berdiam diri di tengah laut. Nah lho, yang bener mana? Semua benar. Yang jelas, pantai ini terletak lebih kurang 8 km dari Kecamatan Sangkapura. Jalur yang super mini, bergelombang, hanya beralaskan tanah padat, naik turun tidak karuan akan menghiasi perjalanan Anda. Pantai Tanjung Kodok ini merupakan satu-satunya jalur masuk ke Tanjung Ga'an. Terlihat sekali banyak batu-batuan vulkanis berwarna hitam di tepi pantai. Besar kemungkinannya, dulu di Pulau Bawean ada aktivitas vulkanis yang lumayan besar.
Sunset Tanjung Kodok

Perjalanan mungkin akan terasa melelahkan karena dari Tanjung Kodok Anda harus berjalan 3 km ke arah barat untuk mencapai Tanjung Ga'an. Tapi, sekali dayung 3 pulau terlampaui. Ketika Anda berkunjung ke tempat tersebut, Anda akan melihat keindahan Tanjung Kodok, Tanjung Ga'an (ini nulisnya gimana sih, ada yang bilang Tanjung Ge'eng, Tanjung Gahan, Tanjung Gahang. Mbuh lah ._.), dan bekas penambangan Marmer. Wow, marmer? Jangan salah. Anda akan terkesima dengan keindahan batu marmer di Tanjung Ga'an ini. Penambangan marmer ini, kabarnya, dulu sempat menjadi penghasilan primadona bagi warga sekitar. Namun, penambangan tersebut ditinggalkan begitu saja oleh para penambangnya, diesel pengasah, diesel penyedot dan gubug-gubug juga masih ada disana. Kabarnya sih, kabarnya, penambang tersebut ditampaki oleh sesosok makhluk yang sangat tidak lazim yang intinya menyuruh penambang menghentikan aktivitasnya. Yaaa serem sih ketika lewat tempat itu dan langsung diceritain oleh penduduk sekitar. Settingnya pun pas, yaitu hutan-hutan dengan vegetasi yang padat, dan jalanan yang naik turun. Sebelas-duabelas lah sama shooting filmnya Angling Dharma.
Setelah lepas dari hutan, Anda akan sampai di sebuah teluk kecil. Mirip pantai Baron di Gunungkidul DIY lah tepatnya. Pantai dengan karakteristik karang yang terjal. Tapi, ini masih belum Tanjung Ga'an. Bagi yang lelah, bisa beristirahat sejenak sebelum melewati medan yang lebih berat lagi menuju Tanjung Ga'an.
Dari teluk ini ke Tanjung Ga'an, masih perlu berjalan lagi 300 meter dengan karakter medan terdiri dari batu cadas yang runcing dan beberapa batu marmer, melewati semak-semak, dan harus melompati beberapa lobang yang menganga di sela-sela batu. Sekali terpeleset, eits hati-hati, bisa jadi patah tulang. Jadi, sebaiknya jangan malam-malam ketika ingin ke Tanjung Ga'an.
Batu-batuan Marmer Sisa Tambang di Tebing Tanjung Ga'an

Berat kan medannya? Semuanya akan terbayar ketika tiba di Tanjung Ga'an. Dominasi batu-batu padas yang runcing dan birunya laut yang tembus pandang hingga karang-karang di bawah tebing kelihatan merupakan sebuah perbauran yang pas dan tidak bisa dicari dimanapun, selain di Tanjung Ga'an. Air yang tenang dan ikan yang bergerombol berenang menjadi ciri khas dari pemandangan laut Tanjung Ga'an. Saking jernihnya air, jadi pengen melompat dan snorkelling. Tapi jangan. Karena sekecil apapun gelombangnya, Anda akan terseret membentur dinding tebing yang lancip-lancip. Setidaknya cukup banyak yang meninggak di tempat tersebut menjadi peringatan supaya tidak semberono di tempat tersebut. Kalau ingin snorkeling, bisa menyewa perahu dari Tanjung Kodok dengan tarif yang relatif murah.
View dari Tanjung Ga'an


Batu Karang yang menggoda untuk dihampiri

Itu baru pemandangan ketika siang. Ketika matahari mulai melorot, pemandangan jadi lebih syahdu lagi. Dan lagi-lagi ditemani cerita horor dari penduduk sekitar mengenai Tanjung Ga'an. Nah, kalau sudah mulai sunset, sebaiknya segera meninggalkan Tanjung Ga'an daripada nanti tidak bisa pulang. Memang cukup banyak sih yang memilih bermalam di sekitar Tanjung Gaan dengan mendirikan kemah. Namun, tindakan tersebut beresiko kalau tidak ditemani penduduk sekitar.

Sunset of Tanjung Ga'an

Sudah, cukup? Belum! Masih ada 3 obyek wisata lain yang belum saya kunjungi. Samasekali. Pertama adalah penangkaran Rusa Bawean. Rusa Bawean merupakan salah satu hewan khas dari Pulau Bawean. Penangkarannya cukup dekat dengan Kecamatan Sangkapura. Cuma sekitar 3 km (kalau tidak salah). Naik sepeda motor cukup 30 menit. Kedua, ada Danau Kastoba. Dan ketiga ada satu pantai di kecamatan Lombang (kalau tidak salah namanya ini, dan berada di pucuk utara Pulau Bawean, lebih kurang 15 km dari Kecamatan Sangkapura) dengan pantai pasir putih yang super eksotis.

Saya hampir tiba di Danau Kastoba, danau unik bin ajaib yang ada di Bawean. Danau ini lucu, karena terletak persis di puncak gunung. Seperti dugaan saya di awal bahwa ada aktivitas vulkanik, maka mungkin Danau Kastoba ini dulunya adalah gunung berapi yang kemudian seiring penuaan lempeng bumi menjadi mati dan akhirnya menjadi danau. Keunikannya lagi, katanya air danau ini asin. Padahal sumber di sekitarnya air tidak asin. Kabar miringnya, danau ini kedalamannya tidak terukur dan kalau ada yang tenggelam di danau ini, jasadnya biasanya ditemukan di daerah pantai di daerah Tanjung Kodok atau Kecamatan Lombang. Wow. Seperti yang sudah disebutkan di awal tadi, Danau Kastoba ini terletak 10 km dari Kecamatan Sangkapura. Dominasi jalanan adalah beton, dan sebagian merupakan jalanan kecil yang dilewati satu sepeda motor aja susahnya setengah mati. Waktu tempuh dengan kecepatan normal (40 km/jam) adalah sekitar 1 jam. Tidak mungkin memacu kendaraan diatas 40 km/jam karena sekalinya ketemu tikungan, kalau tidak berujung dengan tebing, jurang, ya berujung kematian (hebatnya, warga sekitar bawaannya ngebut-ngebut tapi terbiasa). Tanda ketika Anda sudah akan sampai, Anda akan melewati perkampungan yang jalannya hanya cukup untuk 1 sepeda motor (disarankan pakai sepeda motor dan isi bensin full tank). Kemudian masuk terus sampai ketemu ladang dengan jalan ke kanan turun ke lembah, lalu naik lagi. Tebing yang tinggi sekali di depan jalan tersebut adalah danau Kastoba, dan tinggal 100 meter lagi menuju ke lokasi. Perjuangannya memang sulit. Sulit banget. Tapi akan terbayar. Karena selain danau ini unik, di tepi danau, Anda juga bisa melihat keseluruhan Pulau Bawean. Wow sekali! Sayangnya waktu itu saya kurang 100 meter lagi, tapi kami harus menyerah karena kondisi motor dan fisik yang tidak memungkinkan. Kapan-kapan lah mungkin.

Bawean, mungkin Anda tidak tahu dimana tempatnya. Namun, sekali-kali berkunjunglah kesana. Karena keindahan bawah laut dan atas laut Bawean sangat otentik, dan tidak akan ditemukan di Wakatobi, Raja Ampat, atau Karimun Jawa (meskipun saya belum pernah ke ketiga tempat tersebut).

*Semua gambar diambil dengan Sony Xperia X10 MiniPro