Kaca Sanesipun

Sabtu, 22 Juni 2013

Ijen yang Tidak 'Ijen'

Yakk, berjumpa lagi dengan saya setelah postingan terakhir kemarin tentang Pacitan. Kali ini postingan akan membahas tentang kawah Ijen. Biarpun postingan ini muncul setelah postingan Pacitan, tapi sebenarnya kunjungan ke Ijen ini jauh-jauh hari sebelum kunjungan ke Pacitan. Ijen? Dalam bahasa Jawa memiliki arti sendirian. Namun, yang pasti maksud Kawah Ijen bukan dari 'Ijen' yang berarti sendiri yang kemudian diartikan jadi Kawah Kesendirian (???)

Kawah Ijen sendiri terletak di ufuk timur Pulau Jawa, sebuah eksotisme yang tidak boleh terlewatkan. Fotografer-fotografer berhasil mengabadikan berbagai eksotisme Kawah Ijen dengan nikmatnya, yang memang tidak bisa saya nikmati ketika kunjungan pertama ke Kawah Ijen ini. Ada 2 jalur yang bisa ditempuh untuk mencapai Kawah Ijen ini. Pertama, bisa menuju ke kota Bondowoso, kota penghasil tape terkenal di Jawa Timur, kemudian ke arah utara (arah Besuki, Situbondo). Kemudian akan ada plang petunjuk ke arah Ijen yang sangat besar, belok ke arah timur. Atau jika tidak menemukan plang petunjuk, bisa tanya ke warga sekitar arah menuju Paltuding. Kedua, bisa start dari Banyuwangi. Namun, dari berbagai info yang didapat, jalur kedua ini tidak begitu direkomendasikan karena track yang lebih curam, sementara jalannya juga jelek. Pertemuan kedua jalur ini ada di Paltuding, yang merupakan pos terakhir jelang jalur pendakian ke Ijen. Harus mendaki?? Tentu saja. Untuk ke Kawah Ijen harus mendaki lebih kurang 3 km dengan track yang ringan-sedang. Dari Surabaya sampai tiba di Paltuding ini lebih kurang membutuhkan waktu 6,5 jam (waktu itu berangkat jam setengah 9 malam dan tiba persis jam 3 pagi).
Sebenarnya, Kawah Ijen ini berada di tengah-tengah perkebunan milik PTPN, yaitu perkebunan Kalisat. Jika Anda menuju Kawah Ijen dari Bondowoso, Anda akan memasuki pintu masuk PTPN ini terlebih dahulu. Akan ada 3 pos sejak dari awal memasuki pintu masuk PTPN. Tenang saja, jalannya mulus, kelokannya tidak terlalu tajam, bahkan sampai masuk PTPNnya pun jalannya juga tetap mulus. Hanya saja, penerangannya sangat kurang. Selama dari Wonosari (plang 'Kawah Ijen') sampai pintu masuk PTPN, jalan akan sangat gelap. Jadi lebih mirip nyetir lewat lorong-lorong. Pintu masuk PTPN ditandai dengan pos yang ada palangnya, kanan jurang, dan kiri tebing, lalu ada semak-semak. Ini adalah pos pertama. Di pos pertama ini, pengunjung yang datang malam hari diwajibkan membayar sejumlah uang, tapi seikhlasnya. Kemudian, akan berlanjut ke pos kedua. Di Pos kedua ini cukup laporan saja. Pos Ketiga, membayar seikhlasnya saja. Saran saya, jangan datang waktu dini hari. Penjaganya cukup susah dibangunin. Jadi, tiap pos harus nungguin 15 menit untuk membangunkan penjaga posnya. Selama dari pos pertama sampai pos ketiga, Anda akan melewati afdeling-afdeling. Apa itu afdeling? Afdeling itu adalah satu unit produksi dalam perkebunan. Lengkap sih, ada rumah-rumah kecil untuk pekerjanya, dan ada rumah yang digunakan untuk produksi. Yang perlu diingat, sepanjang dari pos satu sampai pos tiga, jalannya kecil, gelap sama sekali tanpa lampu, dan terkesan tidak ada penduduk. Benar-benar sepi. 
Pos Paltuding

Setelah melewati ketiga pos, akan ada papan petunjuk parkir menuju Kawah Ijen dan ada plang cukup besar bertuliskan Paltuding. Inilah pos keempat, atau pos terakhir sebelum pendakian ke Kawah Ijen. Ditandai dengan lapangan yang besar, dan tidak ada lampu lepas tengah malam. Jadi, setelah pos ketiga disarankan jalan pelan-pelan saja/

Setelah memarkirkan mobil di lapangan (disarankan mepet ke warung saja, karena di warung banyak orang begadang), kalau datang malam hari, biasanya dikenai wajib lapor ke pos pengawasan Kawah Ijen. Nantinya akan dikenakan biaya per orang. Cuma Rp 4.000,00 kalau tidak salah. Kemudian akan di cek oleh petugas semua perlengkapannya. Kalau jalan malam, wajib membawa senter dengan pencahayaan baik. Disarankan senter kuning, karena medan yang berkabut, licin, dan beberapa terjal.

Setelah diperbolehkan untuk berangkat, maka inilah petualangan yang sesungguhnya. Track sepanjang 3 km bisa ditempuh dalam waktu 2-3 jam. Tergantung fisik dan pengalaman (waktu itu tracking naiknya 2 jam, turunnya 1,5 jam). Track ini didominasi dengan pasir-pasir dengan butiran yang cukup besar. Jadi, perlu hati-hati. Jika beruntung, perjalanan jelang subuh akan banyak ditemui penambang belerang yang turun membawa belerang di dalam pikul-pikul. Jelang subuh, biasanya medan akan menjadi berkabut dan sangat lembab. Disarankan untuk membawa aqua yang cukup banyak, karena harga aqua di atas mahal (400 meter sebelum kawah ada pondok penambang, dan disitu ada warung).
Jalur Tracking Paltuding-Ijen

Tanda Anda sudah dekat dengan Kawah Ijen adalah Anda sudah sampai di pondok penambang. Di pondok penambang ini, Anda bisa membeli popmie, aqua, minuman berenergi, ukiran belerang (oleh-oleh khas Kawah Ijen), dan Bunga Edelweiss. Anda juga bisa beristirahat sejenak di tempat tersebut. Ada 2 spot foto di dekat pondok penambang ini. Pertama, ada Pondok Bunder yang merupakan sebuah bangunan dari batu kali dengan bentuk tabung yang terletak persis di tengah perbatasan Bondowoso-Banyuwangi. Kedua, ada tulisan informasi ketinggian di tempat tersebut. Sembari melepas lelah, bisa sambil berfoto-foto dulu.
Pondok Bunder yang Tidak Terlepas dari Vandalisme

Track setelah pondok penambang belerang akan lebih ringan, didominasi tanah putih, dengan track yang datar, ada beberapa tikungan curam dan tangga dari batu. Dan jalan ini akan berujung langsung ke Kawah Ijen. Lebih kurang track terakhir ini sepanjang 400 meter. Pemandangan yang begitu eksotis akan terlihat dari ujung track ini: di bawah kiri ada kawah Ijen dengan warna hijau tosca yang mencolok, di sebelah kanan ada lereng menurun dengan pohon-pohon sisa terbakar. Kadang disertai kabut tipis-tipis. Benar-benar surga!
Sebenarnya, ini bukan track terakhir. Masih bisa diteruskan untuk mengitari Kawah Ijen dari berbagai sisi. Tapi, kabarnya butuh waktu lebih dari 8 jam untuk tracking menyusuri tepi Kawah Ijen. Memang dianjurkan untuk berangkat dari Paltuding sekitar lepas isya. Sehingga, di Kawah Ijen masih bisa melihat 'pesta api', sebuah cara yang digunakan oleh penambang belerang untuk menambang belerang dengan cara membakar tanah (belerang adalah zat yang mudah terbakar, setelah dibakar, belerang akan meleleh dan muncul dari permukaan tanah) dan ini yang sering menjadi objek fotografi. Ketika Anda akan mengincar sunrise, sunrise di Kawah Ijen rata-rata akan terjadi pada pukul 07.00. Jadi, kalau misal Anda ingin melihat penambang belerang dan juga sunrise, sebaiknya setelah melihat penambang, turun dulu ke Paltuding kemudian istirahat, lepas subuh naik lagi ke Kawah Ijen. Sebaiknya tidak berpikiran untuk camping di tepi kawah Ijen. Karena, pertama hawanya sangat dingin dengan angin yang cukup kencang, kedua karena hampir setiap malam selalu kabut apalagi kalau musim kemarau, ketiga kanan kiri adalah lereng curam dan ada kawah dengan keasaman pH=0,... jadi kalau Anda tercebur di dalamnya, bisa dipastikan tinggal nama Anda saja yang tertinggal karena badan akan langsung larut.
Narsis duluuuu

Setelah puas menikmati Kawah Ijen, Anda bisa tracking turun. Lapar pastinya. Disarankan tidak makan di pondok penambang karena harga 1 popmie hampir Rp 10.000,00. Sebaiknya makan di Paltuding saja. Ada nasi campur, indomie, dan berbagai makanan lainnya. Indomie+teh anget cukup Rp 9.000,00 (mahal sih sebenernya, tapi berhubung ada di gunung ya wajar lah). Atau jika masih cukup tenaga, bisa bergegas ke Kota Bondowoso. Cukup 35 menit perjalanan dari Paltuding dengan kecepatan sedang. 

Ijen merupakan sebuah eksotisme yang tiada akhir. Gunung dengan kawah asam dengan pH mendekati nol, mungkin hanya ada satu di Indonesia. Ke Banyuwangi, tidak lengkap kalau tidak mampir Ijen. Ijen tidak lagi 'ijen' karena ia akan senantiasa bersama pengunjung-pengunjung yang mendambakan pemandangan seperti surga.

Special thank's untuk Team Touring Lapten, N 1062 AG, L XXXX CK, Teman Eweng yang menyediakan tempat berlabuh di Bondowoso, Polres Bondowoso yang menyediakan tempat mandi, Pak e Angkot yang menunjukkan jalan, Warung ibu'e yang menyediakan mie rebus. All photos taken by Sony Xperia X10 MiniPro