Kaca Sanesipun

Sabtu, 20 April 2013

Pacitan: Pesona yang Tertunda (Part 3-Habis: Menjelajah Obyek Wisata)

Yak, tibalah kita di part penghabisan, part 3. Kali ini di part 3, yang katanya paling ditunggu-tunggu ini, akan sedikit bercerita tentang sebuah kisah anak manusia. Maaf, malah nyanyi. Maksudnya tentang tempat wisata andalah di Pacitan yang selayaknya Anda coba dan Anda kunjungi. Biaya? Tidak perlu habis sampai 1,5 juta seperti kalau Anda ke Kuala Lumpur pakai pesawat. Ke Pacitan (dari Surabaya), Rp 150.000 pun saja sudah cukup termasuk menginap, makan, bensin. Murah to? Wenak to? Makanya, cintailah Indonesia.
Semua foto yang ada di tulisan ini menggunakan Sony Xperia X10 Mini Pro dengan kameramen saya sendiri dan Nikon D3100 dengan kameramen sahabat saya sendiri, Adi Nugroho Habibie. Selamat menikmati, selamat terkagum-kagum :D

POS 1: PANTAI TELENG RIA

Seperti yang sudah saya ulas di awal, kawasan teluk Pacitan yang berada persis 3 km di selatan Kota Pacitan ini dibagi menjadi 3 bagian: Pancer (bumi perkemahan), Teleng Ria (Pantai wisata dengan fasilitas yang lengkap), dan pelabuhan ikan (dengan dermaga yang oke dan SPBU khusus kapal nelayan yang menjual solar dan premium). Spot paling terkenal adalah Teleng Ria. Karena selain tempatnya sudah sangat tertata (kabarnya merupakan salah satu obyek wisata andalan Pemkab Pacitan yang sudah dikelola dengan baik), Pantai Teleng Ria juga dilengkapi dengan berbagai sarana penunjang yang sangat oke, mulai dari warung makan tenda, rumah makan, toilet, taman bermain, waterboom, mushola yang luas bagus dan bersih, dan juga gazebo-gazebo yang bisa menjadi tempat untuk sekedar 'leyeh-leyeh' di tepi pantai. Selain itu, pantai ini ombaknya sangat tenang dan pantainya memiliki perairan yang dangkal (karena merupakan teluk) sehingga pengunjung bisa berenang sampai ke tengah. Tapi tetap hati-hati karena sejak dulu jaman saya pertama kali ke pantai ini, pantai ini cukup dikenal dengan banyaknya ubur-ubur (terutama ketika musim ubur-ubur tiba) sehingga cukup sering pengunjung terkena serangan ubur-ubur. Sebagai info, sengatan ubur-ubur dapat memicu reaksi alergi dari tubuh (karena release histamin) dan dapat mengakibatkan shock anafilaktik yang dapat memicu kematian. Makanya, cukup hati-hati dengan hal ini. Selain itu, pantai Teleng Ria juga cukup kotor. Pantai Teleng Ria dapat ditempuh dengan berbagai jenis kendaraan (ada kendaraan umum juga, atau naik bus ke arah barat, ikut sampai teleng Ria). Pantai ini hanya berjarak 3 km ke arah barat dari Kota Pacitan. Cukup 15 menit perjalanan ke lokasi.
Biaya masuk? Tidak perlu khawatir. Setiap orang cukup membayar Rp 5000,00 saja. Total 5 orang dan 1 mobil cukup membayar Rp 32.500,00. Beruntung bagi Anda yang datang setelah subuh, sebelum matahari terbit. Anda dapat menyaksikan panorama sunrise yang begitu menawan di Pantai Teleng Ria ini: matahari menyembul dari balik perbukitan yang membentang di timur Teluk Pacitan.

 Jelang Fajar di Teluk Pacitan (Taken by Sony Xperia X10 Mini Pro)
 Ketika Matahari Malu Show Off (Taken by Sony Xperia X10 Mini Pro)
 3 Pria Menanti Harapan Fajar (Taken by Nikon D3100. Fotografer: saya sendiri (pinjem kamera))
Jelang Kepulanganku Ke Sarang (Taken by Nikon D3100. Fotografer: saya sendiri (pinjem lagi mang))

Menarik bukan viewnya? Ini baru satu objek lhoo. Masih ada yang lainnya. Kebetulan sekali ketika kemarin terakhir ke Pacitan saya bisa tiba sebelum mentari terbit (sekitar jam 04.50). Jadi, saya masih kebagian momen yang bagus. Biasanya saya tiba di Pacitan pukul 13.00 karena perjalanan dari Jogja biasanya sudah siang. 
 Suasana Pelabuhan kalau siang (Koleksi foto lawas pribadi)
 Bersama Merajut (Jaring) Impian (Koleksi foto lawas pribadi)

Ketika mentari sudah terbit dan waktu menunjukkan pukul 06.30, sebaiknya Anda bergegas berjalan 300 meter ke arah pelabuhan dari pintu masuk. Anda akan menemukan sebuah surga baru bagi penggemar ikan goreng. Ada pasar ikan matang disitu. Ada juga mushola bagi yang ingin istirahat sejenak dan menunaikan sholat (mushola yang sangat bersih untuk ukuran mushola pantai). Harga ikan matang (dimasak goreng tepung dengan bumbu yang kemranyas) sangat murah di pasar tersebut. Hanya Rp 35000/kg ikan. Biasanya bisa dapat 5-8 potong. Ikan yang tersedia tergantung musim. Pada saat itu tersedia ikan pari, ikan hiu, ikan tengiri, tuna, tongkol, layur, wader laut, dan udang. Untuk wader laut dan udang tersedia dengan harga Rp 15000/kg. Wow, murah bukan? Jika Anda masih keberatan dengan harga tersebut, jangan segan-segan menawar karena ibu penjual tidak akan segan-segan memberikan diskon atau bonus. Pasar ini buka mulai pukul 06.30 dan mulai tutup/habis pada pukul 17.00.

Ikan segini + nasi 5 cukup buat makan kenyang 5 orang. Cuma Rp 50.000. Harga yang sangat murah bagi kami yang dibiasakan harus makan ikan laut mahal di Surabaya. Inipun masih sisa dan bisa dipakai ngemil di jalan.

POS 2: GOA TABUHAN

Setelah puas memandangi panorama Teleng Ria (dari foto, buat para pembaca xixixixi), bisa bergegas menuju ke Goa Tabuhan. Perjalanan yang ditempuh cukup jauh dari Kota Pacitan. Sekitar 25 km ke arah barat (menuju ke arah Punung-Wonogiri), atau sekitar 35 menit dengan kendaraan pribagi (tidak disarankan naik angkutan umum). Sampai di pertigaan setelah Punung, akan ada plang: lurus ke arah Baturetno, kiri ke arah Pracimantoro-Wonosari. Ambil ke arah kiri. Lebih kurang 2 km setelah pertigaan, ada plang belok ke kiri arah Goa Tabuhan. Jalan masuk cukup kecil. Hanya cukup untuk 2 mobil papasan, itu pun ngepres pres pres. Biasanya, jika libur panjang ramai dengan bus-bus besar dari luar kota. Dari pertigaan terakhir ke goa jaraknya sekitar 1 km dan Anda bisa parkir persis di depan goa. Biaya masuk? Sangat murah juga. Cuma Rp 3000 per orang dan Rp 5000 per mobil.
Apa istimewanya Goa Tabuhan? Goa Tabuhan memang tidak se-terkenal Goa Gong. Goa Tabuhan termasuk salah satu goa andalan pariwisata Kabupaten Pacitan selain Goa Putri dan Goa Gong. Goa ini terdiri dari stalagtit dan stalagmit yang tumbuh dengan baik membentuk lempeng-lempeng besar. Pada bagian tertentu dari goa ini, stalaktit yang dipukul (ditabuh) akan mengeluarkan suara mirip dengan gamelan. Namun, Anda tidak boleh menabuhnya sembarangan. Jika Anda ingin mendengarkan dendang tabuhan dari stalagtit goa ini, Anda dapat menghubungi guide dari warga sekitar dan membayar Rp 100.000 untuk 2-3 lagu (sebaiknya jika Anda datang berombongan). Atau lebih beruntung jika ada rombongan yang rela membayar dan Anda tinggal menikmati gendingnya saja :D. Lagu yang biasa dimainkan adalah lagu-lagu populer Jawa karena suaranya mirip gamelan.
Lebih kedalam lagi, Anda bisa menjumpai pertapaan dan tempat persembunyian (lupa digunakan oleh siapa). Untuk berkunjung ke dalam, Anda diharuskan menyewa guide dan menggunakan jasa senter seharga Rp 30.000 (sejak dulu sampai kemarin kesana belum pernah masuk ke dalam).
Goa ini cukup bagus dan cukup menarik. Sayangnya, sudah banyak coret-coret tangan jahil di dinding goa. Banyak juga stalagtit-stalagmit yang sudah mati. Sebagai info, stalagtit-stalagmit itu merupakan benda hidup, bisa bertumbuh dan berkembang terus. Stalagtit-stalagmit yang masih tumbuh, biasanya ditandai dengan adanya tetesan air yang masih aktif. Di ujung-ujung stalagtit-stalagmit juga masih terdapat lapisan yang sangat tipis seperti embun, tapi lebih mirip lapisan sutra, terlihat sangat halus seperti kristal dan sangat menggoda untuk dipegang. Nah, saran dari kawan-kawan geologi, sebaiknya jika Anda menemukan yang seperti ini, jangan dipegang. Sekali memegang, maka Anda telah menghentikan pertumbuhan stalagtit-stalagmit (padahal jika terus bertumbuh, ini bisa jadi batu kristal yang sangat mahal harganya) karena minyak di jari-jari Anda dapat melapisi lapisan tipis tadi dan mengakibatkan zat-zat kapur tidak bisa terdeposisi di lapisan tadi. Tidak semua stalagtit-stalagmit hidup. Ada juga yang sudah mencapai akil baliknya dan mati.

Sang Bibir Goa Menganga (Taken by Sony Xperia X10 Mini Pro)

POS 3: GOA GONG

Biasanya, biasanya sih, setelah dari Goa Tabuhan, pengunjung akan melanjutkan perjalanan langsung ke Goa Gong. Jika Anda menggunakan bus besar (rombongan), maka Anda bisa memilih untuk membawa bis sampai ke Goa Gong lewat jalur luar, atau menyewa angkudes sampai ke Goa Gong. Jika Anda menggunakan mobil pribadi, maka saya sangat menyarankan Anda untuk lewat jalur luar saja, terutama bagi Anda yang masih belum tatag dalam mengemudikan mobil. Jalur luar yang dimaksud adalah Anda mengambil arah keluar dari Tabuhan masuk ke jalur Pracimantoro-Punung-Pacitan, kemudian ambil ke arah Punung. Sebelum Punung ada plang belok kanan ke arah Goa Gong (ingat, Goa Gong dkk selalu ada di arah selatan). Ikuti jalan tersebut. Jika lewat jalur luar ini, hanya diperlukan waktu 30 menit paling lama. Jika lewat jalur dalam, medannya cukup berat: jalan tidak seberapa bagus, lagi-lagi ngepress untuk papasan 2 mobil, sering ada tanjakan yang kelihatannya tanpa ujung, lewat persawahan yang tanpa penduduk, dan lagi lebih jauh. Jika lewat jalur dalam, butuh waktu 45 menit bonus tangan pegel. Baik lewat jalur luar atau jalur dalam, nanti Anda akan bertemu perempatan yang sangat aneh dan petunjuk yang sangat aneh juga. Ciri-ciri perempatan ini adalah di bagian kanan terdapat lapangan luas, dan jalur lurusnya agak menanjak, jalur ke kanan agak menurun. Perhatikan! Untuk menuju ka Goa Gong ambil jalur paling kiri, belok ke kiri. Kemudian, jika arah Anda benar, 200 m setelah perempatan itu, sampailah Anda di Goa Gong.
Goa Gong merupakan goa andalan wisata Pemkab Pacitan. Selain pesonanya yang sangat wow, juga eksotisme buatan alam yang sangat eksotis. Saya ke Goa Gong baru 3 kali. Pertama waktu saya masih bayi (-,,-), kedua ketika kelas 2 SMP, dan terakhir ketika sudah kuliah. Jeda waktu 6 tahun sudah terjadi banyak perubahan di Goa Gong. Ketika kelas 2 SMP, Goa Gong menjadi sangat menarik dikunjungi karena murah dan tidak perlu aneh-aneh sewa guide. Dulu, Goa Gong dilengkapi dengan pencahayaan warna-warni yang sangat indah menyoroti stalagtit-stalagmit yang sangat indah juga. Setiap zona bebatuan atau sumber juga dilengkapi tulisan penjelas dan sejarahnya. Terakhir ke Goa Gong kemarin, semua fasilitas itu sudah tidak ada. Pencahayaan dalam goa sangat temaram, hanya beberapa lampu putih disebar di spot yang tidak merata. Tulisan-tulisan di zona-zona juga sudah dihilangkan sehingga pengunjung mau tidak mau 'dipaksa' untuk sewa senter (harganya sukarela sih, biasanya Rp 10000-20000) dan sewa guide warga sekitar jika memang benar-benar ingin tahu detil-detil lokasi goa. Tulisan batu gong yang bisa ditabuh membentuk suara gong pun juga telah dihilangkan. Untuk masuk ke goa ini, pengunjung dikenakan biaya Rp 30.000 dan parkir mobil Rp 5000. 
Goa Gong ini menyimpan eksotisme yang lebih dahsyat daripada Goa Tabuhan. Karena di goa ini, selain terdapat stalagtit-stalagmit, terdapat beberapa sumber yang masing-masing memiliki ceritanya sendiri. Yang jelas, khasiat dari sumber-sumber itu adalah sama: membuat lebih awet muda (di goa mana aja juga khasiatnya sama kok). Jika Anda ingin melihat stalagtit-stalagmit yang masih hidup, Anda bisa melihat di Goa Gong ini. Stalagtit-stalagmit yang masih hidup bertebaran di kanan kiri Anda. Tapi ingat, jangan sekali-kali menyentuhnya. Batuan kristal yang sudah jadi pun juga bertebaran di kanan kiri Anda. Selama di dalam goa, Anda akan melewati track dengan dominasi tangga naik dan turun dengan panjang hingga 800 meter. Siapkan tenaga untuk ini, karena di dalam goa akan sangat pengap karena minimal oksigen di dalamnya.
Goa ini sangat eksotis. Pintu masuk yang sangat kecil, tapi goanya setara dengan luas rumah tipe 300 dengan 4 lantai. Sangat eksotis. Ditambah lagi dengan adanya stalagtit berbentuk lempeng yang jika dipukul suaranya mirip dengan gong besar: nada rendah, gagah, namun membahana. Berhubung tidak ada lokasinya, maka saya tunjukkan lokasinya. Lokasinya berada di ujung goa, ketika Anda sudah tiba di dasar goa dan jalan sudah akan naik lagi, disitu terdapat tangga yang sempit dan di kanannya terdapat 2 stalagtit berbentuk lempeng. Itulah batu gong. Coba Anda tabuh dan Anda akan tergetar karena suasananya. Tidak perlu takut dengan kata-kata kalau batunya ditabuh terus nanti bisa copot lho. Buktinya, sudah 7 tahun saya tinggal dan hampir tiap waktu ditabuh, tetap saja tidak berubah dari kedudukannya.
Selain goa yang indah, Anda bisa membeli hiasan-hiasan dari batu marmer atau bagi Anda penggemar akik bisa membeli suvenir khas Pacitan di pelataran Goa Gong. Selain hiasan marmer dan batu akik, yang menjadi ciri khas Goa Gong adalah tempe yang dibungkus dengan daun jati. Tempe ini, jika dimasak, memiliki rasa yang sangat khas jika dibanding tempe bungkus daun pisang, apalagi tempe bungkus koran atau bungkus plastik. Atau jika ingin makan siang, Anda bisa menikmati pecel gunung dengan harga yang relatif terjangkau.

 Berdiri Megah Perkasa (Taken by Nikon D3100 fotografer Adi Nugroho Habibie)
Ini lho suasana dalam goa (Taken by Nikon D3100 fotografer Adi Nugroho Habibie)

POS 4: PANTAI KLAYAR DAN SERULING SAMUDERA

Waini. Waini. Ini lokasi yang paling ditunggu dan menjadi spot paling favorit (bagi yang tahu). Obyek wisata ini kurang mendapatkan sentuhan oleh Pemkab Pacitan. Selain karena aksesnya yang nyempil dan jauh dari mana-mana, juga karena pantai ini cukup berbahaya.
Biasanya pantai ini menjadi standar kunjungan lanjutan bagi wisatawan yang menggunakan kendaraan pribadi (motor/mobil) setelah berkunjung ke Goa Gong. Mohon maaf, bis besar sama sekali tidak bisa menuju ke pantai ini. Pentok pun dengan bis mini kapasitas 30 orang, tentunya harus dengan driver yang sangat berpengalaman. Satu-satunya akses terdekat dari goa gong adalah lewat jalur dalam. Dari jalur dalam ke Pantai Klayar dibutuhkan waktu sekitar 35 menit dengan jarak tempuh 10 kilometer. Medan sangat berat. Terdiri dari jalan yang sangat kecil (kalau papasan, salah satu harus minggir benar-benar minggir, atau masuk ke gang atau pelataran rumah warga), medan menanjak, tikungan tiba-tiba, banyak blank spot. Namun, ketika Anda tiba di lokasi Pantai Klayar, segala perjuangan Anda akan terbayarkan dengan derai airmata haru akan eksotisme taktergantikan pantai Klayar. Tiket masuk? Jangan khawatir. Sudah saya bilang di Pacitan tidak ada yang mahal. Cukup Rp 3000 dan parkir mobil Rp 5000 saja Anda sudah bisa berleha-leha di pantai Klayar.

Masih berpikir lokasi seperti ini hanya ada di luar negri? Ini di Indonesia bung. Tepatnya di Pulau Jawa bagian selatan, yang katamu daerah terisolir itu (Taken by Sony Xperia X10 Mini Pro dengan sedikit editing dengan Corel Photo-paint X5)


Ketika Anda memandang ke arah barat, maka Anda akan memperoleh pemandangan nan menghijau asri. Ada sedikit padang rumput di atas bebukitan, mirip seperti yang pernah Anda saksikan di film-film buatan Amerika (Taken by Nikon D3100 fotografer Adi Nugroho Habibie)


Data petunjuk Pantai Klayar di deretan paling barat dari deretan warung-warung


Foto diatas adalah salah satu bagian paling ngeri dari Pantai Klayar ini. Sebuah pantai yang diapit oleh dua buah bukit karang dengan ombak yang sangat ganas, gelombang yang terus menerus bergerak karena terpantul sisi kanan-kiri bebukitan. Dan uniknya, sepotong pantai ini memiliki ketinggian permukaan air yang lebih tinggi dari permukaan pantai di sebelahnya. Mungkin, sekali Anda terjebak di pantai kecil ini, Anda tidak akan kembali selamanya (banyak kasus yang tercebur kesini dan tidak selamat). Inilah mengapa saya mengatakan Pantai Klayar cukup berbahaya. Struktur pantai yang berkarang-karang keras dengan ombak yang besar karena berhadapan langsung dengan samudera Hindia. Sebaiknya, jangan bermain air di Pantai Klayar ini.
Setelah puas melihat keelokan alam Pantai Klayar, Anda bisa berjalan ke arah timur menyusuri pantai hingga bertemu sebuah warung kecil di ujung paling timur pantai ini (bagian timur pantai ini dibatasi oleh tebing kapur). Dari situ, jika Anda ingin melihat fenomena seruling samudera, Anda bisa minta tolong diantarkan oleh Tim SAR setempat. Saya menyarankan untuk minta tolong diantarkan karena medan yang akan Anda lalui cukup berbahaya: melewati sisi karang, meskipun cukup luas, tapi ombak dari 'pantai kecil' yang saya ceritakan tadi kadang sampai ke atas sisi karang tersebut. Dan juga seruling samudra ini langsung menghadap ke Samudera Hindia, ombaknya ganas. Waktu paling tepat untuk berkunjung ke seruling samudera adalah ketika laut tengah surut. Ketika ombak mulai besar, segeralah kembali ke pantai daripada Anda tidak dapat kembali ke pantai karena gelombang semakin tinggi. 
Fenomena seruling samudera ini sebenarnya adalah teknologi alam paling dahsyat. Bebatuan karang memiliki celah kecil yang kedap udara yang berhubungan langsung dengan deburan ombak di selatan. Lorongnya hanya sekitar 2 meter dengan diameter yang tidak terlalu besar. Setiap ada ombak yang menabrak karang, maka seruling ini akan memancarkan air keluar seperti ikan paus dan mengeluarkan suara yang merdu bak seruling. Setelah itu, akan ada gerakan menyedot dari seruling ini setelah semua air disemburkan. Air yang tersisa di sekitarnya, akan tersedot kembali masuk ke seruling ini. Fenomena ini dahsyat dan hanya ada satu di pulai Jawa.

Semburan Sang Seruling Samudera (Taken by Sony Xperia X10 Mini Pro)

Setelah puas berjalan-jalan di lokasi Pantai Klayar dan Seruling Samudera, saya yakin Anda pasti lapar. Mampirlah ke warung di pinggir pantai. Anda ingin makan Soto, ada. Ingin makan Nasi Rames (Nasi Campur ala Jawa Tengahan) lengkap dengan sayur tewel (jika di Jawa Tengah sayur gori/jangan nangka), ada juga. Mau ikan-ikan laut, ada juga. Semua menu disediakan dengan harga Rp 5000-7000 sesuai dengan lauk. Lebih nikmat lagi jika Anda menikmati Es Degan seharga Rp 5000 per biji bulat. Berbagai cemilan juga dijual dengan harga murah, cukup Rp 500 saja. Saya sarankan Anda mencoba tahu gorengnya. Wenak poll, nikmat poll. Disantap di tepi pantai, sembari minum es degan. Sluuuurp!

POS 5: PANTAI SRAU

Pantai Srau merupakan pantai yang berada di sebelah timur cukup jauh dari Pantai Klayar. Pantai ini kurang diminati oleh wisatawan karena lokasinya yang terlalu sepi, minim fasilitas. Kabarnya, di tebing sebelah barat pantai ini juga terdapat ularnya. Sehingga wisatawan jadi enggan berkunjung. Padahal, pantai ini juga cukup bagus dan sangat memungkinkan bagi yang suka berenang atau berselancar. Meskipun ombaknya tidak terlalu besar, cukup lah untuk berselancar.
Pantai ini dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi. Dari Kota Pacitan, Anda menuju ke arah barat (arah Punung) lewat jalur paling selatan. Sekitar 10 km dari kota, Anda akan menemukan belokan ke kiri sesudah tikungan dan setelah belokan tersebut ada tikungan. Tepat di belokan (pertigaan) tersebut, terdapat warung-warung. Anda tinggal belok kiri, dan ikuti jalur terus sejauh 3 km. Jika Anda menemui pertigaan, maka jika Anda berbelok ke kanan, Anda akan ke arah Pantai Watukarung dan Pantai Klayar.
Tiket masuk ke pantai ini juga sangat murah, cukup Rp 3000 per orang. Kebetulan pada kunjungan terakhir saya tidak mampir ke Pantai Srau karena waktu sudah berujung senja. Terakhir pergi ke Srau adalah ketika saya kelas 3 SMA, hampir pengumuman SNMPTN. Kira-kira 3 tahun yang lalu. Memang fasilitasnya sangat kurang. Tapi ada yang istimewa di Srau. Ada sebuah gubug kecil di sisi barat pantai. Bisa digunakan untuk tidur-tiduran karena terdapat beberapa kursi dari bambu, sembari menikmati angin yang semilir pelan-pelan dari pantai Srau. Jika Anda gemar memancing, maka Anda bisa dengan hati-hati memanjat tebing dan duduk di semenanjung untuk memancing. Biasanya, dari pagi-siang dan malam, terdapat banyak pemancing yang duduk di semenanjung. Kabarnya ada banyak ikan di semenanjung tersebut. Atau bagi Anda yang ingin berenang atau bermain air, dipersilakan karena ombaknya tidak begitu besar dan pantai ini karakteristiknya landai. Pantai ini terletak di teluk yang kecil. Sehingga ombaknya tidak terlalu besar. Pasirnya yang putih benar-benar memanjakan Anda.
Sayangnya, fasilitas kamar mandi/bilas tidak berfungsi dengan baik. Untuk bilas, Anda harus menimba sendiri air dari sumur yang ada di tepi pantai. Meskipun sumur terletak di tepi pantai, tapi airnya seperti air sumur di pegunungan.

Yakk, dan demikianlah akhir dari cerita Pacitan: Pesona yang Tertunda. Sebenarnya, tidak hanya ini saja obyek wisata yang benar-benar khas Pacitan. Masih ada Pantai Watukarung yang kabarnya pesonanya tidak boleh diabaikan. Kabarnya masih ada juga air terjun yang menawan di sebelah utara Pacitan (namun saya belum tahu rutenya lewat mana). Pacitan masih menjadi suatu tempat dambaan dan penuh misteri bagi saya. Kehidupan warganya yang penuh ramah tamah dan tenang, juga alamnya yang menyimpan eksotisme tersendiri: menyiratkan kebanggaan bahwa segala keindahan itu terdapat di Indonesia.  Semoga Anda tidak bosan membaca tulisan yang super panjang ini :)
Akhir kata, tetap menjelajah. Jangan lupa mampir ke Pacitan ketika Anda lelah dan butuh ketenangan. Pacitan menawarkan segepok keindahan dengan biaya yang sangat mudah dijangkau jika dibandingkan Anda harus melakukan trip ke luar negri.


Rabu, 17 April 2013

Pacitan: Pesona yang Tertunda (Part 2: Sekilas Kota Pacitan)

Halooo halooo..bagaimana mimpi Anda semalam? Sudahkah Anda mimpi-mimpiin tentang jalur menuju Pacitan seperti yang saya ceritakan? Kalau Anda sudah mimpi tentang jalur tersebut, berarti sebentar lagi Anda akan benar-benar menuju ke Pacitan (ah masak iya -____-)

Kali ini, mungkin di tulisan yang pendek ini, saya akan secara khusus membahas Kota Pacitan. Spesifiknya mengenai penginapan dan akomodasi, beberapa objek di kota, dan karakteristik penduduk Pacitan. Makanya, boleh dibilang tulisan ini sedikit kurang menarik bila dibandingkan tulisan yang sebelum ini atau yang setelah ini (coming soon coy). Selamat menyimak.

Kota Pacitan

Kota Pacitan. Kenapa Kota Pacitan? Kok nggak kabupaten? Secara khusus saya akan membahas Kota Pacitan. Karena...pusat segala kegiatan akan berada di kota. Menginap, makan malam, cari hiburan, sudah pasti akan di kota Pacitan. Kenapa kok nggak di kabupaten? Meskipun di kabupaten juga tersedia tempat menginap, namun tempatnya sangat terbatas. Dan seperti yang telah sudah dibahas di tulisan sebelumnya, Pacitan didominasi daerah bergunung-gunung. Sehingga, bisa dimungkinkan kalau menginap di daerah kabupaten jarak tempuh ke obyek wisata yang menarik akan lebih jauh daripada menginap di kota. Di kota ada banyak sekali kegiatan yang cukup menjanjikan: kuliner yang cukup beragam, penginapan dengan harga yang beragam dan fasilitas beragam, dan tentunya lebih dekat kalau ingin ke SPBU.
Kota Pacitan sendiri bukanlah sebuah kota yang besar seperti Solo, Jogja, atau bahkan Madiun. Jalannya pun juga kecil-kecil. Mungkin cukup untuk berpapasan 2 mobil tanpa berjalan pelan-pelan. Kotanya cukup rindang karena hijau pepohonan di pinggir jalan. Bagi Anda yang terbiasa berorientasi dengan arah mata angin untuk bepergian, mungkin akan sedikit bingung jika berada di Kota Pacitan karena karakteristik jalan yang menuju ke satu arah dan tiba-tiba berbelok jadi mengacaukan orientasi arah. 
Seperti biasanya, semua sistem pemerintahan Pacitan berpusat di daerah Alun-Alun Pacitan. Samsat dan lain sebagainya juga terletak di dekat Alun-Alun. Pusat kota Pacitan sama dengan kota-kota yang lain: berpusat di Jalan Ahmad Yani (coba perhatikan kota-kota di Jawa, sebagian besar pusatnya di Jl A Yani, atau minimal Jl A Yani menjadi pusat keramaian). Di Jalan A Yani cukup banyak ditemukan hotel dan beberapa Indomaret yang buka hingga tengah malam. Beberapa ATM juga dapat ditemui di Jl A Yani ini. Alun-Alun pun juga terletak sejajar di Jl A Yani. SPBU terdekat yang saya temukan berada di jalur antara kota dan Pantai Teleng Ria (ke arah barat keluar kota) dan di dermaga perikanan (khusus kapal). Mungkin ada SPBU yang lainnya di daerah perkotaan, namun saya juga kurang tahu.
Kota Pacitan bagian selatan ini berbatasan langsung dengan Teluk Pacitan. Untuk mengunjungi tempat tersebut, Anda bisa memilih untuk pergi ke Teleng Ria (ini pantai yang cukup terkenal di Pacitan dan akan dibahas di part selanjutnya), ke Pancer (ini bumi perkemahan, ada beberapa hotel dan homestay murah disana), atau ke dermaga perikanan. Sedangkan kalau dari kota ini mengambil jalur terus ke arah barat, Anda akan menuju daerah Punung hingga Baturetno, Wonogiri. Ke arah utara, Anda akan menuju Sedeng, selanjutnya menuju ke Baturetno, Wonogiri. Ke arah timur serong utara menuju arah Ponorogo lewat Gemaharjo, dan ke arah timur lewat pinggir pantai Anda akan menuju ke Trenggalek.
Karakteristik orang Pacitan ini khas orang-orang pegunungan selatan: ramah, murah senyum, halus. Ketika Anda pernah pergi ke Solo atau Jogja, maka Anda akan menemukan karakteristik orang Pacitan yang hampir mirip-mirip dengan orang-orang Solo-Jogja (mungkin kaitannya juga kesenangan orang Pacitan yang pelesiran di daerah Solo-Jogja karena masih dekat dan ada banyak juga orang Jogja yang merantau ke Pacitan dan sebaliknya). Kalau orang Surabaya bilang, karakteristik orang-orang seperti ini disebut sebagai karakter orang 'Kulonan'. Maksudnya adalah Jawa Timur bagian Barat seperti Madiun, Magetan, Ngawi, Ponorogo. Jawa Timur bagian barat ini disebut sebagai Mataraman. Karakteristik orangnya hampir sama dan jauh dari kesan 'kereng'. Beda cukup jauh dengan di Surabaya yang sangar-sangar karakter orangnya. Di daerah desa-desa (destinasi wisata di Pacitan pasti melewati desa-desa) orangnya jauh lebih ramah-ramah lagi. Mayoritas lebih suka diajak berbicara dengan bahasa Jawa, apalagi dengan bahasa Jawa krama. Namun, dengan bahasa Indonesia saja, mereka sudah sangat 'welcome'. Penduduk sekitar obyek wisata juga sangat ramah kepada pengunjung. Ibaratnya, pengunjung adalah keluarga baru. Dengan sekedar membuka kaca dan tersenyum kepada mereka saja, meskipun jaraknya cukup jauh, mereka juga akan membalas dengan senyum dan kadang disertai sapaan -benar-benar beda jauh dengan di kota. Jadi, apapun kebutuhan Anda, selama warga dapat menyediakan maka Anda juga akan dibantu. Jangan segan-segan bertanya kepada warga sekitar jika Anda tersesat, karena GPS akan susah menjangkau dan mengidentifikasi daerah yang Anda lewati selama perjalanan menuju ke obyek wisata (medan bergunung-gunung, kadang serasa hilang di tengah hutan belantara).

Penginapan dan Akomodasi

Anda bingung dengan penginapan di Pacitan? Tidak perlu bingung mencari. Tidak perlu bingung masalah budget. Anda tinggal memilih lokasi saja, maka semuanya akan tersedia. Saya sangat menyarankan untuk menginap di Kota Pacitan. Selain karena akses kemana-mana mudah (ke terminal, lokasi belanja, Indomaret, atau SPBU), di Kota Anda juga bisa lebih leluasa menuju ke obyek wisata karena rata-rata obyek wisata berada di daerah Kabupaten Pacitan bagian barat. Atau kalau Anda ingin suasana pantai, Anda bisa menginap di Teleng Ria atau di Pancer.
Ketika Anda memutuskan untuk menginap di Kota, maka akan ada banyak sekali pilihan di tengah kota. Hampir semua hotel berpusat di Jalan A Yani dan di sekitar Alun-Alun. Ratenya bervariasi. Ada yang mulai Rp 175000 hingga Rp 375000 dengan fasilitas mulai dari hanya kamar+fan hingga kamar ber-AC+breakfast. Kalau Anda memilih sedikit menyingkir dari Alun-Alun, ada Guest House Alloro. Saya pernah mencoba tempat ini (di kali pertama saya ke Pacitan menginap) dan cukup merekomendasikan tempat ini. Kamar termurah Rp 175000 sudah dapat fasilitas kamar ber-AC, TV LCD, WiFi, dan kamar mandi luar dengan air panas atau air dingin. Tidak mendapatkan fasilitas breakfast. Dan yang bikin lebih enak lagi, 1 kamar boleh dipakai berlima (meskipun ada yang klesetan di bawah pake sleeping bag).
Pantai juga menjadi alternatif yang baik bagi tempat menginap Anda. Di Pancer (timur Teleng Ria, Bumi Perkemahan) ada cukup banyak homestay yang menawarkan biaya yang sangat minim. Per kamar dipatok hanya Rp 65000 hingga Rp 110000 per hari dengan fasilitas fan, breakfast, dan beberapa ada yang kamar mandi dalam. Di Teleng Ria pun Anda dapat menginap di beberapa homestay atau hotel yang ada disana. Tarifnya tidak jauh beda dengan tempat-tempat lainnya. Namun, kelemahannya ketika Anda akan menginap di Teleng Ria maupun Pancer, Anda harus berjalan cukup jauh untuk mendapatkan angkutan umum jika tidak membawa kendaraan sendiri. Dulu di Teleng Ria ada angkudes dan bus Pacitan-Jogja yang masuk ke terminal di dalam pantai tersebut. Tapi, sepertinya sekarang sudah jarang.
Anda bingung akomodasi? Saya sarankan untuk tidak memanfaatkan angkutan pedesaan yang ada di Pacitan karena akan cukup menyusahkan Anda untuk menuju lokasi wisata yang terpencil (tempat wisata yang bagus-bagus itu lokasinya sedikit terpencil). Saya sarankan untuk menyewa kendaraan saja. Dimana Anda bisa menyewa kendaraan bermotor? Cukup bilang ke resepsionis homestay atau hotel, maka akan disediakan. Biayanya tidak mahal. Untuk mobil, rate terbaru yang saya dapatkan sekitar Rp 150000-200000 untuk pemakaian selama satu hari belum termasuk bensin. Sepeda motor dibawah Rp 100000. Jika sudah dapat kendaraan, saya sarankan untuk mengisi bensin Rp 100.000 untuk mobil (sudah bisa untuk mengunjungi Goa Tabuhan-Goa Gong-Pantai Klayar-Pantai Srau-Pantai Watu Karung-Pantai Teleng Ria-Putar-putar kota). Atau kalau sepeda motor bisa diisi fulltank.

Apa yang Bisa Dikunjungi di Kota?

Seperti yang sudah saya tulis diatas, Anda bisa mengunjungi beberapa tempat di kota, salah satunya Alun-Alun Pacitan. di Alun-Alun ini terdapat becak berwarna-warni yang bisa Anda sewa untuk mengelilingi alun-alun. Selain itu, beberapa kuliner sederhana khas Pacitan juga tersedia di alun-alun. Salah satunya adalah Thetel Bakar. Thetel (atau gimana cara menulisnya) kalau di Jogja lebih dikenal sebagai jadah ketan. Bedanya, kalau di Pacitan, jadah ini dibakar dan diberikan bumbu asam-manis yang menggoda lidah (sayang tidak ada fotonya, monggo bisa search di google dengan kata kunci tetel bakar pacitan. Mungkin baru tulisan part 3 yang bakal ada fotonya). Jika Anda cukup beruntung, biasanya di Alun-alun digelar pertunjukan. Pertunjukan biasanya digelar ketika weekend atau ketika ada event tertentu. Kebetulan ketika berkunjung kesana, ada festival band. Namun, sayangnya festival band sudah bubar jam 22 -___-
Atau Anda bisa pergi ke Pasar Minulyo Pacitan. Bukan pasar biasa! Ini pasar istimewa. Baru saja diresmikan oleh Ibas, putra presiden kita Susilo Bambang Yudhoyono yang asli Pacitan beberapa bulan lalu. Ketika Anda berpikiran pasar ini pasti jorok, buang jauh pemikiran Anda. Pasar ini memang terletak di samping terminal bus Pacitan. Ketika Anda pernah pergi ke daerah Pasar Agro Pasuruan, maka lebih kurang seperti itulah tempatnya. Bangunan baru, rapi, tertata, dan hidup bahkan sampai malam hari. Anda bisa memanfaatkan pasar ini untuk mencari sarapan atau makan malam. Ada beberapa orang Lamongan yang berjualan penyetan lele di dalam pasar ini ketika malam menjelang. Atau ketika Anda ingin ikan-ikan laut fresh, Anda bisa pergi ke Teleng Ria dan ke pasar ikan untuk membeli ikan goreng kiloan. Terakhir saya kesana, udang goreng renyah Rp 15000/kg, wader laut Rp 15000/kg, dan ikan mix (Tuna, Kakap, Hiu) Rp 25000 cukup untuk makan kenyang orang 6. Pasar ini mulai buka pukul 06.30 dan akan mulai tutup pukul 17.00.

Yakk, dan berakhirlah part 2 ini. Mohon maaf tidak sempat berfoto-foto di spot-spot tersebut. Nantikan selalu part 3. Jauh lebih menarik. Ada foto-fotonya. Selamat berandai-andai dulu :p

Selasa, 16 April 2013

Pacitan: Pesona yang Tertunda (Part 1: How to reach Pacitan?)

Tidak banyak yang tahu tentang Kabupaten Pacitan, sebuah kabupaten yang terletak di sudut paling barat-selatan dari Provinsi Jawa Timur. Tidak ada yang tahu Pacitan selain tempat lahir Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan tempat penghasil batu akik yang khas dan indah. Siapa tahu Pacitan menyimpan berbagai pesona keindahan alam yang tidak akan ditemukan di tempat lain? Melalui blog ini, cerita tentang pacitan akan dibagi menjadi 3 bagian: bagaimana menuju pacitan, akomodasi-serba-serbi Pacitan, dan objek wisata di pacitan.

PART 1: HOW TO REACH PACITAN?

Secara geografis, Pacitan memang cukup terisolir. Terletak di antara deretan gunung dan perbukitan wilayah selatan Jawa. Kota Pacitan di sebelah utara-barat-timur berbatasan langsung dengan perbukitan. Bagian selatannya berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Pacitan terletak di sebelah timur Kabupaten Wonogiri, kabupaten ter selatan dan ter timur dari Provinsi Jawa Tengah dan mempunyai karakteristik daerah yang nyaris sama dengan Pacitan. Sebelah timur, Pacitan berbatasan langsung dengan Kabupaten Trenggalek yang juga dikenal dengan pantai-pantai yang indah. Sebelah utara, Pacitan berbatasan langsung dengan Kabupaten Ponorogo yang terkenal dengan reog dan sate ayamnya yang besar-besar dan nikmat, serta Kabupaten Wonogiri (wilayah kecamatan Purwantoro).
Bagaimana untuk menuju Pacitan dari segala penjuru?

Pacitan dengan Kendaraan Pribadi

Dengan kendaraan pribadi, diperlukan persiapan yang benar-benar prima. Kondisi kendaraan benar-benar suiiipp dan pengemudi yang tidak boleh ngantukan dan bosenan karena medan yang akan ditempuh akan sangat berat, melelahkan, dan butuh konsentrasi lebih. Tentu ke Pacitan akan melewati deretan pegunungan karena Pacitan dikepung oleh gunung.
Dari timur, Anda bisa lewat Kabupaten Ponorogo melewati jalur utama Ponorogo-Pacitan. Jalur ini menjadi pilihan bagi orang-orang Madiun/Surabaya yang ingin melakukan perjalanan ke Pacitan. Selain jalurnya paling singkat, panorama yang disuguhkan juga benar-benar indah: kanan tebing terjal tegak nyaris 90 derajat, kiri alur Sungai Grindulu dan pertemuan sungai lainnya yang terus membentang semenjak beberapa lama keluar dari Ponorogo sampai hampir masuk Pacitan. Ketika Anda masuk ke Ponorogo, maka tinggal cari arah ke dalam kota. Setelah melintasi kota, akan ada petunjuk jalan ke arah Pacitan. Tinggal mengikuti rambu tersebut sampai keluar kota ponorogo. Tidak perlu bingung, tidak perlu susah karena jalur menuju pacitan tinggal lurus saja. Mungkin hanya ada satu atau dua percabangan untuk menuju ke trenggalek. Selalu pilih arah selatan-barat karena jalur tersebut mengarah kesana. Selebihnya, jalur hanya lurus dengan panorama sawah di kanan kiri, hingga akhirnya jalan mulai menikung dan menanjak. Ketika jalan sudah menikung dan menanjak secara beruntun tanpa ada kesempatan istirahat, maka Anda sudah benar ke arah Pacitan. Jalan tersebut nantinya lebih kurang 5 km, kemudian datar kembali tanpa belokan. Tapi, jangan senang dulu karena nanti akan menghadapi medan yang lebih berat lagi ketika mendekati pintu gerbang Kabupaten Pacitan. Ketika sudah akan memasuki Kabupaten Pacitan, medan jalan lebih mengerikan. Jalur tanpa lampu, kanan tebing, kiri sungai dan berkelok-kelok tiada henti. Tangan tidak akan pernah istirahat mengendalikan stir ketika melewati jalur ini, sampai hampir menjelang masuk Kota Pacitan. Tikungan tajam, namun minim tanjakan. Kalau nyali Anda minim, sebaiknya segera cari mushola/tempat keramaian dan tunggu ada kendaraan lewat. Kemudian ikuti di belakangnya (tapi jangan dengan style kurang ajar, karena biasanya travel di jalanan ini kurang suka kalau diikuti orang yang di belakangnya cara nyetirnya kurang baik). Jam-jam ideal berangkat dari Ponorogo adalah sekitar jam 2 pagi karena pada jam-jam tersebut travel Surabaya-Pacitan dan bus Surabaya-Pacitan melintas jalur tersebut. Atau kalau ingin menikmati pemandangannya yang wow bisa jalan siang/pagi dari Ponorogo. Kelemahan jalur ini adalah sering longsor dan kadang banjir. Pada perjalanan terakhir (5-6 April 2013) jalan ini kembali ditutup total karena Jembatan di daerah Ponorogo ambruk. Akibatnya jalur dialihkan lewat Purwantoro (nanti akan dibahas di bagian ini juga). Dari Ponorogo ke Pacitan dapat ditempuh paling lama 3 jam dengan kecepatan standar (kalau mau dipancal sepancal-pancalnya ya paling cepat 1,5 jam, tapi sangat tidak disarankan untuk pengemudi belum mahir).
Anda yang berasal dari Jogja-Solo juga bisa lewat jalur dari barat. Ketika Anda berangkat dari Jogja dan suka dengan karakter desa dan karst, saya sarankan lewat wonosari. Jalurnya antara Jogja-Rongkop sangat bagus, beraspal mulus. Baru mulai dari Rongkop-Pracimantoro jalan didominasi dengan jalur yang sempit, berkelok, dan kanan kiri karst. Sedangkan jalur Pracimantoro-Punung lewat Giriwoyo aksesnya tidak terlalu baik, beberapa jalan halus, tapi beberapa jalan rusak berat. Baru Punung-Pacitan ini jalannya cukup bagus, tidak terlalu naik turun, tapi didominasi belokan hampir 360 derajat. Kalau Anda ingin lebih ringkas, dari Jogja bisa lewat Kabupaten Sukoharjo. Masuknya bisa lewat stasiun Srowot, Klaten (setelah kota Klaten belok kanan kalau dari Jogja) kemudian ambil ke arah Mangunan dan terus ambil arah Wonogiri. Sampai di pertigaan Eromoko, bisa belok kanan ke arah Pracimantoro. Kemudian ikuti jalur selanjutnya. Untuk jalur ini relatif mudah, tidak cukup banyak tanjakan. Tapi skill tetap diperlukan karena dipastikan akan macet karena lewat pasar-pasar di daerah Kabupaten Klaten dan Kabupaten Sukoharjo. Sedangkan jika Anda dari Solo/Sragen, bisa langsung mengambil jalur ke arah Wonogiri dan diteruskan ke Baturetno (ini jalur terdekat) atau lewat Pracimantoro (ini terlalu memutar). Karakteristik jalur Wonogiri-Baturetno/Pracimantoro ini sepi, sedikit tanjakan dan tikungan, dan cukup rawan kecelakaan. Pengemudi perlu berhati-hati disini. Nanti dari Baturetno/Pracimantoro arah petunjuk ke Pacitan terpampang sangat jelas. Kalau Anda lewat Baturetno, maka nanti akan lewat Jalur Lintas Selatan yang baru, lebar, dan tidak seberapa berkelok. Dari Jogja ke Pacitan membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam perjalanan normal lewat Wonosari. Kalau lewat Sukoharjo bisa jadi lebih cepat atau lebih lama, tergantung kondisi pasar saat itu. Sedangkan Solo-Pacitan bisa ditempuh dalam waktu 4-5 jam perjalanan normal.
Dari utara (Magetan, Purwantoro, Ngawi) bisa melalui jalur ini, meskipun sedikit mengerikan sih jalurnya. Tapi bagi yang suka dengan tantangan boleh dicoba jalur ini. Jalur ini biasa dijadikan alternatif bagi mobil pribadi kalau jalur Pacitan-Ponorogo atau Wonogiri-Pacitan terputus. Prinsipnya, jalur ini lebih ngeri daripada jalur Ponorogo-Pacitan. Jadi, perlu adrenalin dan skill yang plus plus plus plus untuk lewat jalur ini. Jalur ini tracknya adalah Purwantoro (masih masuk Wonogiri)-Nawangan-Pacitan. Untuk start dari sini, Anda hanya perlu menemukan kecamatan Purwantoro terlebih dahulu. Bisa masuk lewat Wonogiri ke arah timur (ambil arah Ponorogo) dengan waktu tempuh 1 jam, atau masuk dari Ponorogo ambil arah Wonogiri dengan waktu tempuh 30-45 menit. Kemudian ada jalan menurun ke arah selatan, dan itulah gerbang petualangan Anda. Jalur didominasi dengan tanjakan curam, tikungan yang sangat tajam, persawahan dengan batu yang menganga dan siap menjatuhi Anda, tanpa lampu, berkabut, rumah penduduk jarang, kanan tebing, kiri jurang langsung dalam tanpa pembatas. Mungkin ketika mental Anda tidak terasah, bisa jadi nangis di lokasi (saya hampir nangis di lokasi). Ironisnya lagi, rata-rata jalan hanya cukup dilalui 1 mobil saja. Jadi kalau papasan perlu ekstra hati-hati dan ekstra minggir-minggir. Jalan ini memiliki panjang lebih kurang 40-50 km dengan track yang seperti saya sebutkan tadi. Ketika malam, pemandangan akan jadi sangat mencekam. Namun melihat kondisi sekitar, sepertinya ketika siang kondisi jalan ini sangat indah dan eksotis. Lebih kurang dari Purwantoro sampai masuk kota Pacitan diperlukan waktu 90-120 menit perjalanan dengan kecepatan tidak lebih dari 40 km/jam (ini kecepatan maksimal yang bisa saya peroleh dengan mobil di jalur tersebut). 
Alternatif keempat, Anda berangkat dari Trenggalek, maka tidak perlu ke Ponorogo dulu atau ke Kertosono baru ke Ponorogo. Anda bisa menuju ke Pacitan lewat selatan, melewati Lorok. Medannya tentu tidak jauh beda dengan yang dari Ponorogo-Pacitan. Namun, ada tambahannya. Jalur lewat Lorok ini dikabarkan rusak parah. Kalau kendaraan Anda bukan kendaraan yang bisa digunakan untuk medan rusak, sebaiknya tidak melewati jalur ini. Memutar lewat Ponorogo menjadi pilihan yang terbaik. Waktu tempuh Trenggalek-Pacitan lebih kurang 2 jam (seandainya jalan mulus bisa sekitar 1 jam saja).
Melihat medan yang sedemikian dahsyatnya, disarankan untuk Anda yang ingin menggunakan mobil untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Dan karena medan didominasi pegunungan, saya menyarankan untuk berjalan malam saja karena kendaraan dari arah berlawanan bisa dilihat dari jarak jauh dengan tanda adanya sorot lampu mobil. Sehingga kaget dan salah manuver di tikungan bisa diminimalisir. Kalau Anda bersama kawan-kawan Anda, mintalah kawan-kawan Anda untuk terjada sedari keluar Ponorogo/Purwantoro/Baturetno karena jalan sudah akan mulai 'menggila' dan asyik.

Dengan Bis Lebih Asyik

Dengan bis lebih asyik, karena Anda tinggal duduk dan melihat-lihat pemandangan sekitar atau tidur. Anda tidak perlu khawatir dengan kemampuas bus dan sopir bus. Karena jelas bus yang melewati jalan-jalan menuju pacitan dipastikan berkondisi prima dan sopir yang sudah sangat berpengalaman (secara jalannya licin, dan sangat berkelok). Akses dengan menggunakan bus hanya tersedia dari barat atau timur.
Ketika Anda berangkat dari timur, Anda bisa menggunakan bus dari terminal-terminal terdekat. Misalkan Anda dari Surabaya, Anda dapat menggunakan PO Aneka Jaya, bus yang melayani trayek khusus Surabaya-Pacitan PP dengan kelas Ekonomi AC dan tarifnya Rp 42.000,00. Bus ini berangkat pada jam-jam tertentu saja (pagi, siang, paling malam jam 22.30 dari Surabaya). Bus ini memiliki waktu tempuh 6-9 jam, tergantung kondisi jalan. Atau ketika Anda tidak berangkat pada jam yang sesuai, Anda bisa memanfaatkan jasa PO Restu Panda, Akas Green (tiap pagi jam 06.00-09.00), Cendana, Madjoe Group, atau Jaya untuk naik dari Surabaya dan turun di Ponorogo. Tarif Surabaya-Ponorogo lebih kurang Rp 25.000 untuk kelas ekonomi. Atau Anda dari Ngawi-Magetan, Anda bisa naik bis Mira/Sumber Group dan turun di Madiun untuk oper ke bus jurusan Ponorogo/Pacitan langsung. Dari Ponorogo tersedia berbagai bus jurusan Pacitan. Tarifnya kurang diketahui, namun kemungkinan tidak sampai Rp 20000 (ini info sudah dari jaman nggak enak). Atau seandainya Anda dari Trenggalek, tidak perlu jauh-jauh ke Kertosono dan cari bus ke Ponorogo. Anda cukup naik bus jurusan Pacitan lewat Lorok di terminal Trenggalek, meskipun jalurnya cukup ajur yang lewat lorok ini. Tarifnya pun tidak mahal, sekitar Rp 20.000.
Jika Anda dari arah Jogja, Anda bisa memilih Anda akan ke Solo dulu atau naik bus ke Baturetno, Wonogiri langsung. Ketika Anda memilih untuk ke Baturetno, Anda bisa menaiki bus Purwo Widodo dari terminal Giwangan Jogja. Bus ini berangkat dari pagi sampai sore, dan paling sore berangkat pukul 15.00 (tiba di Pracimantoro sebelum maghrib). Tarif bus ini dari Jogja sampai Baturetno sekitar Rp 35.000. Dari Baturetno, Anda bisa menaiki bus Solo-Wonogiri-Pacitan (Aneka Jaya, Langsung Jaya, dll) dengan tarif sekitar Rp 15.000. Atau kalau misalkan Anda tidak ingin estafet, Anda bisa memanfaatkan PO Aneka Jaya Ekonomi AC Bandung-Jogja-Pacitan (Kurang tahu trayek ini masih jalan atau tidak) atau menggunakan travel Aneka Jaya yang berangkat setiap pagi dan sore. Kalau Anda memilih ke Solo dulu, Anda bisa memanfaatkan bus Jogja-Surabayaan untuk turun Solo (Patas Rp 10.000 ekonomi Rp 7500) kemudian ganti bus Solo-Pacitan dengan tarif lebih kurang Rp 30.000 dengan waktu tempuh hingga 5 jam (tergantung kondisi jalan).

***

Demikian ulasan perjalanan menuju ke Pacitan. Siapkan uang yang cukup, bawa barang bawaan yang cukup, siapkan mental, fisik, dan jangan lupa senyum Anda karena sepanjang perjalanan menuju ke Pacitan darimanapun Anda akan disuguhi pemandangan yang sudah pasti tidak akan pernah membuat Anda kecewa untuk berkunjung ke Pacitan :) (Bersambung ke Part 2)