Kaca Sanesipun

Senin, 30 Desember 2013

Panduan Mengemudi Antarkota Untuk Amatir (Untuk Mobil)

Banyaknya kecelakaan lalu lintas di penghujung 2013 ini mengundang keprihatinan tersendiri, terutama bagi orang-orang yang peduli terhadap keselamatan lalu lintas. Nampaknya ada yang salah dengan perilaku mengemudi bagi sebagian besar orang. Ditambah dengan kondisi jalanan yang sudah sangat padat saat ini. 
Panduan ini saya buat bagi pengemudi mobil yang hobi melakukan perjalanan antar kota. Bukan karena saya sudah pro dalam bidang mengemudi, tapi karena saya sendiri juga seorang amatiran yang ingin selamat ketika mengemudi antar k

ota dan ingin berbagi tips dengan Anda semuanya.

PERSIAPAN SEBELUM BERKENDARA

1. Pastikan komponen kendaraan Anda lengkap
Pastikan komponen lampu di mobil berfungsi dengan baik: lampu utama, lampu kota, dim, lampu hazard (sein dobel), lampu rem, lampu sein. Paling penting adalah lampu utama, lampu dim, lampu sein, dan lampu rem. Lampu dim dipergunakan untuk memberi tanda kepada kendaraan yang melaju dari arah berlawanan. Lampu sein depan-belakang sangat penting untuk memberi tanda ketika kita akan berbelok atau pindah lajur. Dan lampu rem juga sangat penting. Sering kecelakaan karambol terjadi karena lampu rem kendaraan mati. Pastikan juga ketiga spion dapat berfungsi dengan baik dan dapat digunakan untuk melihat belakang. Wiper juga penting artinya untuk pandangan kedepan yang baik. Pastikan juga rem, kopling, hand rem, stir berfungsi dengan baik. Cek minyak rem, minyak kopling terlebih dahulu sebelum berangkat. Tanda kopling bermasalah sudah terlihat sebelum berangkat: persneling berkali-kali susah dioper. Pastikan ban Anda dalam kondisi baik, juga ban cadangan. Jangan sampai ban cadangan Anda dalam kondisi kempes.

2. Bawalah penumpang sesuai kapasitas maksimal dan kemampuan driver
Idealnya, satu mobil Avanza, Terios, Rush, Ertiga, Livina dapat menampung hingga 6 orang sehingga bisa berjalan cukup stabil. Mobil Innova bisa menampung hingga 7 orang termasuk sopir. Semakin banyak penumpang, maka handling mobil akan berbeda. APV pun cukup untuk menampung 12 orang. Tapi handlingnya akan beda ketika hanya untuk menampung 8 orang. Handling yang akan nampak berbeda: kopling jadi lebih berat, lari mobil akan tampak ngos-ngosan (tarikan tidak bisa spontan), bensin akan lebih boros, mobil akan lebih mudah oleng.

3. Usahakan posisi driver pada keadaan senyaman mungkin
Driver harus berada pada posisi duduk yang senyaman mungkin. Sebelum berangkat, sebaiknya kursi distel dulu sesuai dengan posisi ternyaman. Yang perlu diingat, posisi harus tetap dapat luas melihat kedepan (hingga ke ujung kap), leluasa melihat spion kiri-kanan, dan posisi yang mumpuni jika harus ada manuver yang mendadak. Jika nyaman mengemudi tanpa sandal, silakan mengemudi tanpa sandal karena kadang-kadang sandal nyangkut di ujung rem dan mempengaruhi ketepatan pengereman.

4. Kuasai cara mengganti ban dengan tepat
Sebaiknya tidak disarankan bagi pengemudi yang belum bisa mengganti ban untuk mengemudi luar kota. Untuk jarak jauh, hampir dapat dipastikan selalu ada kendala pada ban, entah itu bocor, pecah ban, atau mungkin sobek. Mengganti ban tidak susah, sangat mudah malahan. Namun, kadang ada beberapa yang salah langkah sehingga akibatnya ban tidak bisa dilepas, ketika sekrup dilepas ban ikut memutar, memasang sekrup tidak bagus sehingga ban lepas. 

KETIKA MENGEMUDI

1. Pandangan yang fokus dan waspada
Kesalahan banyak driver pemula adalah tidak fokus dan tidak waspada. Ketika fokus menurun, biasanya akan ada perubahan cara mengemudi: misal jadi lebih pelan, yang tadinya di kiri tiba-tiba ada di tengah. Ini berbahaya. Ngobrol dengan teman boleh, namun tetap fokus di jalanan. Jalanan yang padat, banyak sepeda motornya membutuhkan fokus yang lebih. Waspada selalu dengan perubahan di jalan raya. Perubahan di jalan raya tidak dalam hitungan jam lagi, tapi sudah dalam hitungan detik-menit. Sekian detik saja Anda 'meleng', mobil di depan Anda mengerem mendadak, habislah riwayat Anda

2. Gunakan tanda-tanda yang dipahami pengemudi lain
Sebelum berpindah lajur, diutamakan menyalakan sein terlebih dahulu sembari melihat kondisi aman atau tidak. Jika tidak aman, segera matikan sein dan kembali pada posisi semula. Tips untuk menyelip (manuver) akan dijelaskan pada chapter berikutnya. Lampu dim dipergunakan untuk beberapa kondisi: memberi peringatan kepada driver lain, mengetahui kondisi tikungan/persimpangan dalam kondisi aman dilalui atau tidak, dan untuk melihat jarak jauh. Menyalakan lampu dim secara terus menerus adalah kebodohan karena dapat mencelakakan pengemudi dari arah berlawanan. Lampu hazard (sein dobel) digunakan dalam kondisi darurat: pengereman mendadak, ada penyeberang jalan, ada musibah di depan, dll, melewati persimpangan dan mengambil arah lurus, atau dalam kondisi berhenti di pinggir karena suatu hal. Klakson digunakan ketika meminta jalan untuk menyelip. Penggunaan klakson secara serampangan mengganggu pengemudi lain dan membuat emosi pengemudi lain naik. Jika macet, ariflah ketika menggunakan klakson.

3. Pengoperan gigi yang halus dan enak
Biasanya pengemudi pemula antar kota sangat emosi ketika mengoper gigi. Pengoperan gigi yang halus akan menghemat beberapa persen penggunaan bensin. Dengan mengoper gigi halus, Rp 120.000 cukup untuk sebuah Avanza berjalan Surabaya-Uluwatu (Bali) termasuk se-macet-macetnya jalan. Selain itu, resiko kopling rusak dapat diminimalisir. Mengoper gigi halus juga akan membuat nyaman penumpang

4. Tidak perlu ngebut dan ugal-ugalan
Pemula biasanya emosi. Oper gigi kasar dan biasanya ugal-ugalan. Tidak masalah, saya dulu pernah mengalami fase demikian. Tapi, untuk luar kota, sengebut-ngebut apapun kalah dengan yang jalan stabil dan enak. Selain itu, jalan ngebut membutuhkan konsentrasi sangat tinggi, emosi juga akan menguras energi. Ujung-ujungnya cepat lelah. Ngebut gas ditarik dengan spontan akan membuat bensin boros. Sebaiknya jalan stabil pada RPM tertentu. Dengan menggunakan Avanza yang dikemudikan stabil pada RPM 3 dapat menempuh Surabaya-Malang dalam waktu 1 jam 45 menit saja dengan bensin Rp 40.000 untuk 4 orang. Dan dengan ugal-ugalan sebuah Avanza membutuhkan bensin hingga Rp 75.000 untuk bisa menempuh jarak yang sama. Bahkan, Mitsubishi Mirage pun untuk mengemudi stabil saja hanya habis Rp 30.000 untuk Malang-Surabaya.

5. Bersiap manuver dalam keadaan mendadak
Ada banyak keadaan mendadak di jalanan: mobil di depan mengerem mendadak, tiba-tiba sedang jalan enak dipotong kendaraan lain, pecah ban, kendaraan di depan manuver mendadak, mogok. Konsentrasi penuh di jalan diperlukan. Senantiasa melihat depan, kanan, kiri belakang. Jika mengerem mendadak sudah bukan solusi, jika kondisi kanan-kiri, depan-belakang aman, solusi terbaik adalah membuang stir ke kiri. Jika ke kiri tidak sanggup, membuang ke kanan juga bisa menjadi solusi, selama depan jauh arah berlawanan tidak ada kendaraan. Pengereman yang dipaksakan akan membuat handling kendaraan jadi berbeda. Jika mengerem mendadak, perhatikan juga mobil di belakang, apakah jaraknya jauh atau dekat. Nyalakan lampu hazard secepat mungkin. Tangan harus selalu siap meraih tanda-tanda selama perjalanan.

6. Apapun kondisinya, jangan gugup
Kemampuan menguasai diri dengan cepat adalah salah satu skill yang harus dimiliki pengemudi antar kota. Gugup dapat membawa malapetaka. Misalkan: ketika menyetir, tiba-tiba ada yang mengerem mendadak. Saking gugupnya, lalu buang setir ke kiri terlalu banyak hingga masuk ke sawah. Kejadian ini cukup sering terjadi dan kekonyolan seperti ini seharusnya dapat dihindari. Tetap tenang dalam mengemudi, dan selalu yakin bahwa kendaraan di sekitar Anda pasti juga ada pengemudinya yang juga tidak mau celaka.

7. Ngantuk? 
Ketika ngantuk masih dapat diatasi dengan kopi, rokok, cemilan, bercerita, maka lakukanlah itu selama tidak mengurangi fokus selama perjalanan. Jika sudah benar-benar ngantuk, sebaiknya istirahat di pom bensin. Tidur 15-30 menit saja di pom bensin sudah cukup membantu Anda untuk dapat melek hingga 5 jam berikutnya. 

8. Jangan egois, sering-seringlah mengalah
Belakangan ini sering sekali dijumpai pengemudi yang susah mengalah/memberi kesempatan bagi kendaraan lain. Misal, dalam kondisi macet/antri padat merayap, ada kendaraan baru menyelip dan tiba-tiba dari arah berlawanan ada kendaraan. Sering kendaraan yang sedang mengantri tidak memberikan jalan, dan cenderung menutup-nutupi jalan. Sebaiknya mengalah dan berikan jalan, karena siapa tahu nantinya Anda juga berada dalam kondisi seperti itu. Juga ketika ada bis nekat yang sedang menyelip kendaraan lain dari berlawanan arah. Mending minggir ke kiri, nyalakan lampu kota saja, dan sein dobel. Sopir bis akan paham dan biasanya bis tetap akan memberikan jalan kepada kita. Sering-seringnya, kendaraan ditengahin, dim dinyalain terus, sambil tetap melaju kencang. Yang ada biasanya bis tidak mau ngalah dan cenderung dilabas aja sampai head-to-head.

9. Jangan berhenti mendadak!
Ketika Anda membutuhkan pom bensin atau tempat untuk berhenti, jangan pernah berhenti mendadak. Kasihan kendaraan di belakang Anda. Keberadaan pom bensin dapat dideteksi 200 m-1 km sebelumnya. Jadi persiapkan manuver dengan baik. Sein kiri dulu, baru berbelok. Jangan berbelok dulu baru sein.

10. Menyetir dengan ideal
Tidak terlalu ke kiri, tidak terlalu ke kanan. Jika di depan kosong, bisa melaju dengan kecepatan yang lumayan sampai ada kendaraan. Jika memungkinkan menyelip, seliplah. Jika tidak memungkinkan menyelip, ikuti saja. Jangan sampai jalanan kosong, longgar, jalannya sangat pelan. Yang ada adalah hanya bikin macet.

11. Mengemudi dengan keyakinan tinggi
Jangan setengah-setengah ketika mengemudi. Anda harus yakin dengan keputusan cepat yang Anda buat, dan Anda harus yakin dengan diri Anda sendiri. Jalanan antarkota lebih keras daripada jalanan dalam kota.

TIPS DALAM BERMANUVER
Sekali lagi, saya bukan ahlinya dalam bermanuver di jalan raya. Jika ingin tanya dengan yang benar-benar ahli, silakan tanya dengan driver bis malam dan belajarlah dari mereka. Meskipun banyak orang bilang bawaan bis malam ngawur-ngawur, tapi manuver mereka adalah yang terbaik.

Blank Spot, tidak disarankan bagi pengemudi ikut bermanuver bersama bis

1. Menyelip di jalan lurus
Ini adalah skill manuver paling dasar bagi pengemudi antar kota. Pastikan marka jalan terputus-putus. Di beberapa daerah, marka jalan dapat diterjang begitu saja. Namun, saya tidak menyarankan jika tidak dalam keadaan terpaksa. Keadaan terpaksa misalnya mau masuk barisan lagi kendaraan terlalu rapat/tidak ada sela, sementara arak berlawanan kosong. Prinsip menyelip yang benar adalah jaga jarak dengan kendaraan di depan. Jangan terlalu menempel, jangan terlalu jauh. Jika Anda memiliki kepekaan di atas rata-rata, jarak yang terlalu dekat dengan kendaraan di depan mungkin oke saja, tapi sebaiknya dihindari. Kecelakaan beruntun dimulai dari situ. Arahkan kendaraan sedikit ke kanan, sembari melihat kondisi jalan di depan luang atau tidak. Jika luang dan kira-kira dapat menyelip hingga bisa mendapatkan ruang kembali di barisan, maka segeralah sein kanan dan masuk jalur berlawanan. Jaga jarak kiri Anda, jangan terlalu ke kiri, jangan juga terlalu ke kanan. Ambil jarak yang kira-kira akan mempermudah Anda untuk manuver. Terlalu ke kiri mengakibatkan Anda akan bingung ketika kendaraan yang Anda selip tiba-tiba bermanuver ke kanan (ini sering terjadi), terlalu ke kanan, Anda akan menghabiskan lajur lawan Anda (biasanya jika mobil menyelip mobil, lajur kanan masih bisa digunakan 1 sepeda motor). Resikonya jika menghabiskan lajur: Anda diludahi atau kaca Anda dilempar batu (sering terjadi juga) atau parahnya Anda bisa menggasak sepeda motor tersebut. Setelah dirasa cukup menyelipnya, segera sein kiri dan kembali masuk barisan.

2. Menyelip, tiba-tiba ada kendaraan dari arah berlawanan di depan Anda
Ini juga sering terjadi, biasanya karena hitungan kurang bagus, atau memang drivernya mencari cepat. Dan yang biasa dilakukan driver sok-sokan dalam kondisi seperti ini, tanpa memberi tanda sein, tiba-tiba langsung masuk barisan, sementara ada mobil di belakangnya yang tidak tau apa-apa dan akibatnya terjadi kecelakaan head-to-head (seperti kasus di Pasuruan baru-baru ini). Jika Anda ada dalam posisi tersebut, pastikan dulu jarak dan kecepatan kendaraan yang datang dari arah berlawanan. Lihat juga, di belakang apakah ada kendaraan yang mengikuti Anda dan berapa jarak dan kecepatannya. Jika masih sama-sama jauh, begitu terlihat ada kendaraan di depan (biasanya kalau malam ada sorot lampu dari kejauhan), segera sein kiri minta jalur ke kendaraan lain. Biarkan Anda tetap di kanan sampai kendaraan persis di belakang Anda masuk barisan. Barulah Anda masuk ke barisan, karena Anda ada di depan sendiri artinya Anda menanggung nyawa kendaraan yang ikut menyelip bersama Anda. Jika kendaraan belakang sudah bisa masuk barisan, sementara Anda tidak bisa karena pengendara lain tidak mau memberikan jalan (ini sangat sering sekali), jangan hanya diam di lajur kanan. Segera buang setir Anda ke kanan lagi dan turun dari bahu jalan dan diam, matikan lampu utama, nyalakan hazard. Ini lebih aman dan tidak membuat macet daripada ketika Anda memiliki berhenti di kanan. Setelah jalan sepi, baru mencoba masuk barisan lagi.
Sebenarnya ada cara untuk 'meminta' jalan agar bisa masuk ke barisan lagi, tapi sangat tidak disarankan. Perhitungan yang matang ketika menyelip tetap harus menjadi pertimbangan utama ketika menyelip.

3. Menyelip mengikuti kendaraan di depannya
Ketika ada kendaraan di depan Anda akan menyelip barisan, sebaiknya Anda jangan boro-boro ikut di belakangnya. Pastikan dulu kendaraan di depan Anda pintar dalam memainkan sein/memberi tanda bagi kendaraan di belakangnya. Sein kiri berarti bahwa Anda harus segera masuk ke barisan, sein kanan berarti jalanan di depan kosong, lampu hazard berarti ada kondisi mendadak dan Anda harus waspada, lampu belakang dimatikan dan sein kiri berarti sebaiknya Anda segera masuk ke kiri karena kendaraan dari arah berlawanan sudah sangat dekat. Jarang mobil pribadi yang sampai mematikan lampu dan sein kiri. Biasanya bis-bis antar kota yang melakukan hal tersebut karena jarak yang terlalu mepet. Kalau driver tidak memahami tanda tersebut, bisa dipastikan nyawanya akan melayang dengan kecelakaan head-to-head. Jika kendaraan di depan Anda main seinnya bagus, silakan diikuti. Jika tidak pintar dalam memberikan tanda, sebaiknya tunda dulu keinginan Anda untuk menyelip, lebih baik bermain aman daripada bermain cepat.
Jika yang Anda ikuti dapat memberikan tanda yang bagus, ikutilah. Kemudian, jaga jarak, jangan terlalu menempel dengan kendaraan di depan. Pastikan Anda bisa melihat dari kaca belakangnya (jika yang Anda ikuti mobil pribadi) dan dari kolong. Jangan percaya 100% pada mobil di depan Anda. Dengan melihat kaca belakangnya, Anda bisa melihat dan memperkirakan kondisi di depan mobil yang Anda ikuti. Begitu juga dengan melihat kolong. Ketika ada kendaraan dari arah berlawanan, biasanya akan nampak sorot lampu (itu artinya jaraknya sudah sangat dekat). Segeralah sein kiri untuk mencari jalan masuk ke barisan meskipun mobil yang Anda ikuti belum memberikan tanda sein kiri.
Jika Anda mengikuti kendaraan di depan Anda, berikan lampu dim 1x yang merupakan tanda 'aku mengikutimu, tolong dipandu'. Jika driver yang paham akan tanda ini, biasanya ia akan bermain sein dengan sangat bagus sekali, bahkan dalam keadaan darurat. Biasanya bis-bis antarkota bisa berlaku demikian jika kita ikuti dan memberikan tanda sebelumnya, selama kita tidak kurangajar/ngelunjak terhadap bis tersebut.
Jika yang Anda ikuti adalah kendaraan besar (truk), Anda bisa melihat berkas cahaya dari kolongnya jika ada kendaraan dari arah berlawanan. Atau alternatifnya, sedikit jaga jara, kemudian kanankan/kirikan kendaraan Anda sehingga Anda bisa melihat lepas kedepan setidaknya untuk 500 meter kedepan jika jalan lurus. Tapi tetap waspada dan hati-hati.

4. Menyelip di tikungan
Ini sangat tidak disarankan. Bahkan jika perlu tidak sama sekali. Resikonya sangat besar. Perlu jam terbang yang tinggi. Jika sedang asyiknya menyelip dan Anda tiba di tikungan dengan blank spot, meskipun tidak ada sorot lampu dari arah berlawanan, tetap segera masuk ke barisan. Jika tidak maut yang mengincar Anda, ya polisi yang mengincar Anda.

5. Awas ada lubang!
Kebanyakan orang akan manuver ke kiri-kanan jika ada lubang tanpa memperhatikan kondisi belakang dan depan. Jika lubang kecil, sebaiknya digasak saja. Jika lubang besar, usahakan pengereman sehalus mungkin agar kendaraan di belakang kita tidak kaget, kemudian jika memungkinkan manuver ke kiri/kanan. Jika tidak memungkinkan, libas saja dengan kecepatan rendah. Jangan lupa menyalakan lampu hazard.

6. Menyelip kendaraan yang tidak mau diselip
Biasanya juga sama-sama amatirannya. Lebih baik ambil jarak cukup jauh dengan kendaraan tersebut. Lalu jika ada kesempatan cukup panjang, libas langsung bersama kendaraan-kendaraan lain jika Anda cukup nyali dan cukup ruang. Jika tidak ada nyali dan ruang, ya sudah mengalah saja daripada malah Anda yang celaka atau mencelakakan orang lain.

7. Macet di tanjakan, No Problem!
Biasanya kebanyakan orang ketika macet di tanjakan akan memainkan kopling dan gas terus menerus. Sebaiknya, pakai hand rem saja dan netralkan gigi. Ini akan lebih menghemat kopling dan bensin. Kaki juga tidak mudah capek. Hanya main gas dan kopling akan membuat mesin jadi cepat panas dan ujung-ujungnya mogok.

8. Melibas tanjakan
Pastikan terlebih dahulu handling kendaraan Anda. Jangan paksa kendaraan Anda lari di gigi tinggi pada tanjakan. Saran saya, maksimal gigi 2 saja, apalagi jika Anda tidak paham medan. Jika memang medan berat, gunakan gigi 1 dan pastikan semua ban anda melaju di aspal/medan yang sama. Ketika di tanjakan,  ban Anda berada di aspal dan 1 ban ada di tanah, maka yang terjadi adalah selip dan mobil akan mundur.

Bagaimana, sulit sekali untuk dijalankan? Tentu bagi Anda yang baru saja tahu sangat sulit untuk dilakukan. Tapi percayalah ini semua yang berlaku di jalan raya. Yang terpenting adalah jam terbang Anda sebagai driver antarkota. Jika merasa tidak yakin untuk mengemudi Antarkota, sebaiknya urungkan niat Anda untuk mengemudi. Karena ketidakyakinan Anda bisa jadi mencelakakan orang lain.

Sabtu, 09 November 2013

Secuil Bahagia dari Tepi Gili Kondo

Gili Kondo? Apa itu? Apakah Kondo disini punya arti yang sama dengan Bahasa Jawa 'kondo' yang berarti bilang?

Adalah sebuah gugusan kepulauan kecil di sebelah timur Pulau Lombok yang kemudian disebut sebagai Gili Kondo. Gili Kondo memang kalah terkenal dengan Gili-Gili yang lainnya yang terletak di Lombok Barat, seperti Gili Air, Gili Trawangan, dan Gili Meno. Image setiap orang yang pergi ke Lombok, sudah pasti Gili Trawangan. Padahal masih banyak gili-gili lainnya di Lombok Tengah maupun Lombok Timur yang menarik menggugah hati untuk dikunjungi.

Gili Kondo sendiri terletak persis di tengah-tengah Selat Alas yang menghubungkan Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Gili Kondo sendiri merupakan sebuah pulau yang tak berpenghuni, sebagian besar terdiri dari hamparan pasir putih yang lembut dikelilingi air laut yang bening dan kebiruan.

Kaki Gunung Rinjani Sisi Timur dari Pantai Penyeberangan Menuju Gili Kondo

Singkat cerita, kabarnya dahulu kala Gili Kondo berada dibawah kepemilikan warga asing. Namun, karena kegigihan pemerintah setempat dalam memperjuangkan hak milik, akhirnya Gili Kondo kembali menjadi milik Indonesia dibawah wilayah administratif Kabupaten Lombok Timur. Gili Kondo, semenjak saat itu, menjadi pusat konservasi terumbu karang yang indah dan hutan bakau di tengah laut dengan keanekaragaman hayati. Meskipun sebenarnya terumbu karang yang ada adalah terumbu karang muda dan butuh waktu minimal setahun untuk menumbuhkan terumbu karang muda tersebut, dan waktu bertahun-tahun untuk menjadikan terumbu karang tua.
Pantai Penyeberangan Menuju Gili Kondo

Bagaimana Mencapai Gili Kondo?

Pulau Lombok tidak terlalu luas, tapi tidak terlalu kecil. Biasanya, Mataram menjadi kota pertama dan utama ketika orang menginjakkan kaki ke Lombok (padahal kalau dari Bandara jauh lebih dekat ke Praya, sebuah Ibu kota kabupaten Lombok Tengah, daripada ke Mataram, dan kalau dari Lembar lebih dekat ke Gerung, ibukota kabupaten Lombok Barat). Dari Mataram bisa memilih untuk mencharter mobil atau menggunakan kendaraan umum. Mencharter mobil biasanya sehari dikenakan Rp 350.000,00 per mobil tanpa bensin, dan biasanya mobilnya APV.

Jika Anda menggunakan mobil/sepeda motor, Anda harus mengambil jalan ke arah timur dari Kota Mataram. Lebih tepatnya menuju Pelabuhan Kayangan. Pelabuhan Kayangan adalah pelabuhan di ujung timur Pulau Lombok yang melayani penyeberangan dari Lombok ke Sumbawa Besar (Pototano). Sebelum pelabuhan Kayangan, akan ada pertigaan. Jika ke kanan, Anda akan menuju Pelabuhan Kayangan. Ambil jalur lurus saja. Kemudian tidak jauh dari situ, akan ada pertigaan lagi, belok ke kiri. Kemudian ikuti jalan tersebut menyisir kaki Gunung Rinjani di sisi timur. Sampai nanti Anda tiba di sebuah jalan agak berkelok dengan panorama sebelah kanan kebon kelapa yang berbatasan langsung dengan laut, dan disebelah kiri ada rumah-rumah yang agak jarang dan ada gazebonya. Di sebelah kanan akan ada jalan masuk kecil yang hanya cukup dilalui 1 mobil. Jalan masuk ini akan mengantarkan Anda ke pantai terakhir tempat penyeberangan ke Gili Kondo.

Atau jika Anda menggunakan angkutan umum, disarankan langsung naik dari Terminal Bertais (Terminal Mandalika, Mataram) angkutan jurusan Kayangan. Anda akan diantarkan sampai tiba di Pelabuhan Kayangan. Dari Pelabuhan Kayangan, Anda bisa menyewa ojek atau kendaraan tradisional yang tersedia disana..

Dari pantai terakhir tadi yang entah apa namanya, Anda diharuskan naik perahu charter untuk menuju ke Gili Kondo. Per orang akan dikenakan biaya Rp 25.000,00 untuk pulang pergi. Waktu tempuh yang diperlukan adalah sekitar 20-30 menit untuk sekali perjalanan. Di Gili Kondo, kapal akan berlabuh di depan sebuah warung/gazebo tempat istirahat turis. Kabarnya, warung ini dikhususkan bagi wisatawan mancanegara. Meskipun demikian, ketika sepi, wisatawan lokal juga dipersilakan mampir.

Perjalanan Ke Gili Kondo dengan Laut yang Lumayan Tenang

Apa saja di Gili Kondo?

Welcome To Gili Kondo

Ketika Anda bertanya ada apa saja di Gili Kondo, saya pun bingung menjelaskannya. Ketika pertama kali berlabuh saja sudah disuguhkan panorama pantai yang super bagus: pasir putih, air bening kebiruan, dan dermaga batu di sisi timur Gili Kondo. Selain itu, ketika Anda merelakan diri untuk snorkelling, di sekeliling gili pun terdapat gugusan karang muda yang cukup bagus, dengan beberapa jenis ikan perairan dangkal. Namun, perlu hati-hari ketika snorkelling di sekitar gili, karena sisi utara gili ada palung yang cukup dalam dan cukup membuat panik bagi yang belum mahir berenang.

Gazebo di Gili Kondo

Untuk alat snorkelling, sebaiknya jika mantab membawa sendiri, disarankan sebaiknya membawa sendiri saja dari rumah. Namun, di lokasi juga terdapat persewaan set snorkel dalam jumlah terbatas, fin (kaki katak, yang hanya ada 4 set), dan pelampung dalam jumlah terbatas. Untuk satu set snorkel dihargai Rp 30.000,00 (tanpa fin), satu pasang fin dihargai Rp 30.000,00, dan 1 pelampung dihargai Rp 15.000,00. Sangat murah bukan? Meski set snorkel seadanya, tapi cukup nyaman jika dipakai untuk snorkelling.

Di bawah Sang Saka Merah Putih

Spot yang ada di sekitar Gili Kondo memang kurang menarik karena memang hanya terdiri dari karang-karang muda. Ada 2 spot yang super dan jauh lebih bagus dan lebih murah daripada Karimun Jawa. Anda tinggal meminta nahkoda kapal untuk mengantarkan ke spot tersebut. Biasanya, per orang dikenai biaya tambahan Rp 30.000,00 untuk mengunjungi kedua spot tersebut ditambah berkeliling di daerah bakau. 2 spot ini menyajikan panorama yang lebih wow dengan karang-karang yang sudah mulai tumbuh sempurna. Ikan-ikan yang ada pun juga beragam. Ada anemon yang didiami ikan Nemo (ikan badut) juga dan bisa dicapai karena tidak terlalu dalam. Jenis ikan warna-warni banyak terdapat di spot ini dan keanekaragaman hayatinya lebih bagus daripada di sekeliling Gili Kondo. Dikabarkan, di Gili Kondo ini ada lebih kurang 12-20 spot snorkelling yang bisa dinikmati, meskipun kebanyakan karang-karangnya masih karang muda. Selain snorkelling, kabarnya, ada juga spot diving di Gili Kondo ini. Pihak pemerintah setempat menyatakan, bahwa beberapa tahun kedepan keindahan alam bawah laut Gili Kondo akan menyaingi keindahan alam bawah laut Karimun Jawa, Bawean, Bunaken, maupun Raja Ampat.

Selamat Datang di Gili Kondo, Lombok Timur

Setelah bersnorkelling ria, Anda bisa menikmati makanan dan minuman di warung yang tersedia. Atau jika ingin berbilas diri, disediakan bilik-bilik kamar mandi yang privasinya cukup terjaga dengan air menimba sendiri dari sumur. Jika datang berombongan akan lebih asyik lagi karena bisa memesan ikan-ikan bakar khas Lombok Timur dengan bumbu dan sambal yang khas Lombok Timur yang pedasnya mantab, disantap bersama es buah.

Sang Saka Merah Putih dan Lautan Bening


Lautnya Biru Looohh, kaya di gambar anak SD


Spot 1: di sekeliling Gili Kondo


Gili Kondo from GoPro


Spot 2: Dekat daerah bakau. Keanekaragaman hayatinya lebih bagus



Spot 3: Baliknya Daerah Bakau. Dominasi karang, tapi juga bagus. Terbaik disini. Banyak anemon dan ikan nemonya

Kapan kesana?? Silakan rencanakan waktu dan budget dengan cukup baik karena ini adalah obyek wisata yang masih jarang dikunjungi, jadi kemungkinan tarif yang naik karena kondisi sepi masih sangat dimungkinkan. Nikmatilah Gili Kondo, ngapain ke Lombok kalau cuma menikmati obyek wisata yang mainstream?

TIPS:
1. Rencanakan waktu dan budget untuk perjalanan sebaik-baiknya. Terutama jika menggunakan angkutan umum, angkutan umum dari Bertais ke Kayangan cukup jarang dan biasanya tarifnya dinaikkan berkali-kali lipat. Jika Anda bisa berbahasa Lombok, ini cukup menguntungkan
2. Bawa kamera underwater atau GoPro sendiri karena di Gili Kondo tidak menyediakan jasa kamera underwater
3. Jika ingin nyaman, membawa alat snorkelling pribadi. Jika Anda memang penghobi snorkelling, salah satu produk peralatan renang biasanya mengadakan obral set snorkelling lengkap dengan finnya seharga Rp 800.000-1.000.000
4. Jika pulang dari Gili Kondo, disarankan tidak terlalu sore karena gelombang laut akan bertambah mengerikan ketika sore tiba. Kapal yang digunakan adalah kapal dengan dek rendah, jadi sebaiknya hati-hati. Biasanya nahkoda akan mengingatkan jika memang sudah waktunya pulang
5. Jangan menginjak terumbu karang, apalagi sampai mematahkannya. Jangan dipikir menumbuhkan terumbu karang sama dengan menumbuhkan kecambah. Terumbu karang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh beberapa sentimeter saja
6. Tetap jaga lingkungan sekitar. Jangan buang sampah sembarangan, apalagi membuang sampah plastik ke laut. Tindakan tersebut adalah berdosa besar dan tindakan amoral karena membahayakan jiwa makhluk hidup lainnya

PERHATIAN!
Seluruh gambar ini (kecuali gambar bawah air) diambil dengan kamera Nikon D3200 kit 18-55 VR. Hak cipta sepenuhnya ada di tangan saya. Mengcopy atau re-upload harap seizin saya. Gambar underwater dengan menggunakan kamera GoPro

Selasa, 05 November 2013

Memburu Mahameru (Etape VII) : Back To Base, Back To Home

Pukul 10.00 kami sudah selesai makan dan bersih-bersih. Packing segera kami lakukan. Pukul 11.00, kami sudah benar-benar siap. Tapi, kami foto-foto dulu :3

Pukul 12.00 kami baru benar-benar siap. Semua perbekalan sudah beres. Kami mulai beranjak ke Ranupani bersama rombongan dari Negri Cina yang ngecamp dibawah kami dan semalam berisik bertengkar. Sampai di persimpangan, kami ragu memilih jalur Ayak-Ayak atau jalur Landengan Dowo. Mempertimbangkan fisik, akhirnya kami melewati Landengan Dowo, jalur yang pada awalnya kami lewati waktu berangkat. Lagi-lagi medan pertama kami adalah tanjalan yang cukup curam. Setelah tanjakan naik tebing, kami beristirahat sebentar. Adi yang beristirahat di depan tiba-tiba berjalan sendiri, di belakangnya ada Aryok. Kami yang lainnya pun segera mengikuti.

Istirahat Sejenak di Watu Rejeng (2350 mdpl)

Tak beberapa lama, Aryok beristirahat, tapi Adi tidak ada disitu. Katanya, Adi sudah jalan duluan tanpa pamit. Dia pakai headset. Sementara yang lainnya memilih istirahat, saya, Nyak, dan Nana memilik untuk berangkat duluan dan berada di depan dengan maksud bisa menyusul Adi. Tanggungan saya jadi 2 wanita. Sembari sesekali meneriakkan nama Adi. Sampai jelang Pos 3, kami bertiga meneriakkan nama Adi, dibalas. Nampaknya dia sudah ada di pos 3. Kami bergegas turun dan menambah kecepatan tanpa istirahat sampai pos 3.

Sampai di pos 3, tidak ada orang. Hanya satu-dua orang pendaki lewat saja sambil menyapa. Sembari menunggu rombongan yang lain, kami bertiga istirahat dan minum air. Setelah rombongan berikutnya sampai pos 3, kami bertiga minta air dan melanjutkan perjalanan turun lagi dengan kecepatan tinggi. Sampai jelang Watu Rejeng, kami memanggil adi lagi

Saya                       : Diii adiii
Adi                         : *menyahut* Woiiii, opo???
Saya                       : Tunggu nang Watu Rejeng yo!! Ojo nang ndi-ndi!! (Tunggu di Watu Rejeng ya! Jangan kemana-mana!)

Ada suara yang menyahut “Oke!”

Kami bertiga bergegas ke Watu Rejeng. Lalu kami istirahat sejenak di Watu Rejeng sampai Alip dan adiknya menyusul kami. Setelah persediaan air lengkap lagi, kami bergegas jalan lagi karena Adi tidak ditemukan di Watu Rejeng. Mungkin di pos 2.

Kami kembali ngebut tanpa lihat jam turun ke pos 2. Medan yang tadinya PHP bagi kami Cuma menjadi agak PHP kalau dilalui dengan ngebut. Sampai Pos 2, ternyata benar Adi ada disana lagi leyeh-leyeh menanti air. Mau minta dari pendaki yang naik pun juga tidak tega, karena pendaki yang berpapasan dengan kami wajahnya sudah kuyu-kuyu semuanya, bahkan ada yang sudah pucet hampir pingsan.

Setelah stok minum kembali lagi, setelah mendapatkan stok minum tambahan dari Alip, kami berjalan turun lagi ke Pos 1. Perjalanannya cukup cepat karena kami mengejar kereta dari malang. Ceritanya sih, meskipun sudah pasti nggak bisa -,,-. Sampai pos 1, kami Cuma istirahat sebentar lalu melanjutkan perjalanan lagi. Sampai Landengan Dowo kami sudah benar-benar tidak kuat, dan istirahat sebentar. Sementara Aryo dan Adi sudah jalan duluan dengan dopping dari Oxycan -___-

Baru istirahat 10 menit, rombongan sisanya yang daritadi di belakang jauh menyusul kami. Ternyata mereka setengah lari agar cepat sampai tujuan. Kami yang duduk-duduk di Landengan Dowo pun segera jalan kembali. 30 menit kemudian kami sudah tiba di Ranupani dan menikmati sepiring Nasi Lodeh+Telor Ceplok untuk 4 anak (budget mefet berooo gak ada duit). Total perjalanan kami dari Ranukumbolo ke Ranupani hanya 4 jam kurang saja.

Perjalanan kami berlanjut dengan ojek. Kalau kemarin kami naik ojek bisa langsung turun di depan pos Ranupani, kali ini kami harus turun ke lapangan dulu agar bisa naik ojek. Sesampainya di lapangan, kami naik ojek. Kali ini 1 motor 1 orang. Dan secara kebetulan, ojek yang saya naiki adalah ojek Sumber Kencono. Sekali nyelip, 3-4 motor terlewati. Kalau nyelip di tanjakan dan di tikungan. Kalau ada jalan bergelombang, gak dihindari. Malah dilewati. Sempat lepas dari jok 2 kali -,,-

Bukit Teletubies dari Batas Desa

Gak sampai 15 menit, kami tiba di warung ketika awal dulu kami beli mie goreng kuah mentah. Ekspresi masing-masing dari kami sama: pucet dan ketakutan dibonceng ojek Sumber Kencono. Kami berfoto-foto sejenak, karena persis di depan warung itu adalah Bukit Teletubies yang menawan. Sembari Falah menanyakan dompetnya ke penjaga warung. Celakanya, penjaga warung yang asli sedang pulang ke rumahnya, dan tidak ada temuan dompet yang dilaporkan. Yak sudahlah, Rp 200 ribu melayang lengkap dengan surat-suratnya.
Foto Full Team di Batas Desa



Setelah puas berfoto, kami berjalan turun. Rupanya sangat ramai rombongan yang akan turun karena esok harinya merupakan Hari Raya Idul Adha. Kaki kami sudah sakit senut-senut karena berjalan kebut-kebutan dari Ranukumbolo ke Ranupani, jalur yang kami lewati jalur beton baru, menurun lagi. Pengeremannya full pakai kaki.

Full Team FKG Unair (Ki-Ka: Saya, Adi, Falah, Aryo)

Pukul 18.30 kami tiba di pos persimpangan antara Ranupani-Bukit Teletubies. Truk yang kami pesan sudah menunggu kami. Dan sejenak kami beristirahat di warung dekat situ: 2 gelas teh panas untuk berempat dengan uang yang tersisa. Itupun diskusinya 15 menit sendiri, supaya uangnya bisa bener-bener pas presss.

Senja Jelang Batas Desa

Pukul 19.00 kami berangkat ke Tumpang diantar truk yang kami pesan. Saya Cuma duduk menghadap belakang mencari kehangatan.

Pukul 20.00 kami sudah tiba di Tumpang dan segera berganti angkot. Kali ini yang melayani hanya angkot putih. Tarif pembukaan Rp 10.000 per orang. Tarif normal Rp 6.000 per orang. Kami menawar, akhirnya dapat harga Rp 7.500 per orang. Dan kami pun berangkat ke Terminal Arjosari Malang.

Pukul 20.50 kami sudah tiba di Terminal Arjosari. Rombongan kami terpisah menjadi 2. Saya, Adi, Aryok, dan Falah memutuskan untuk menginap di rumah Adi di Malang, sementara sisanya kembali ke Surabaya dengan bus Patas Hafana dengan tarif Rp 15.000 per orang (hasil nego sama kondektur).


Mendaki gunung bukan tentang bagaimana kita menyombongkan diri kita dan merasa lebih mampu dari yang lain. Mendaki gunung bukan tentang menaklukan alam dan menundukkan alam di bawah kaki kita. Mendaki gunung adalah tentang mencintai alam dengan sepenuh hati, tentang bersahabat dengan alam, dan saat teduh menyatu dengan alam. Mendaki gunung adalah saat yang terbaik belajar memotivasi diri untuk tetap kuat menghadapi tantangan medan yang kadang kita sendiri pun belum tahu. Mendaki gunung adalah saat yang tepat untuk memohon perlindungan dari Sang Pencipta sekaligus mengagumi segala ciptaanNya yang begitu agung dan besar. Mendaki gunung juga adalah tentang bagaimana menjalin solidaritas dengan sesama manusia yang juga sama-sama ingin menikmati keindahan ciptaanNya.

Perjalanan kami ke Semeru telah usai. Semua cerita kami, cerita bahagia, cerita sedih, cerita lucu, bahkan cerita misteri mengisi kepala kami selanjutnya. Tidak berhenti sampai disini. Kami masih akan melakukan trip selanjutnya ke beberapa gunung. Dan janji saya, suatu saat saya akan kembali dan menggapai puncak Mahameru. Kemanakah selanjutnya? Akankah Gunung Merapi-Merbabu? Atau mungkin Gunung Sindoro, Gunung Slamet, atau bahkan Gunung Halimun-Salak? Atau mungkin Gunung Arjuno-Kembar 2-Welirang? Kita nantikan saja cerita selanjutnya, mana yang akan muncul lebih dahulu -End

Memburu Mahameru (Etape VI) : Ke Kumbolo Aku Kan Kembali iiii iiiii

Pukul 16.30 di Kalimati. Tapi belum satupun dari kami yang bangun. Saya bangun dan duduk-duduk di depan tenda sembari menunggu ada yang bangun. Pukul 17.00 semuanya baru terbangun dengan tergagap-gagap setelah tahu jam sudah menunjukkan pukul 17.00. Kami segera berkemas dan segera bersiap untuk kembali ke Ranukumbolo untuk bermalam disana.

Pukul 18.00, langit sudah terlanjur gelap. Kami segera melakukan perjalanan ke Ranukumbolo setelah kami berpamitan dengan tenda kanan-kiri kami. Kali ini perjalanan Ranukumbolo-Kalimati kembali perjalanan malam. Tapi dalam kondisi yang lebih fit.

Perjalanan kami tidak lama. Tidak sampai 1 jam kami sudah tiba di Pos Jambangan. Kali ini sepi, tidak ada tenda sama sekali. Mungkin sudah banyak yang berpindah ke Kalimati. Perjalanan berlanjut. Kami tidak banyak istirahat. Apalagi sepanjang perjalanan mengobrol tentang makanan. Mulai dari rujak cingur, coto makasar, sampai makanan luar yang aneh-aneh. Sesekali kami berpapasan dengan pendaki yang akan berangkat ke Mahameru. Sesekali kami memberikan semangat kepada mereka. Kebersamaan antar-pendaki ketika mendaki sangat penting bro!

Pukul 19.45 kami sudah tiba di Cemoro Kandang. Suhunya cukup dingin kala itu. Beberapa dari kami menggigil kedinginan. Kami berhenti sejenak dan berdiskusi tentang jalur selanjutnya. Kami berencana lewat atas, tidak lewat ladang Lavender. Lewat bawah Oro-oro Ombo lebih susah mendakinya nanti. Setelah cukup lama berdebat, kami melanjutkan perjalanan. Perjalanan menimpang ke kanan naik ke bukit yang ada di sebelah kanan kami. Perjalanan selanjutnya menyusuri bukit. Tracknya lebih ringan dan lebih landai daripada harus lewat Oro-oro Ombo lalu naik ke tanjakan yang curam.

Setibanya di Tanjakan Cinta yang sekarang sudah jadi turunan cinta, perlu sedikit kehati-hatian karena track yang curam dan licin. Disarankan lewat rerumputan saja. Jika memungkinkan, sebaiknya sedikit memutar. Jika ingin bergandengan, sebaiknya tidak lebih dari 4 orang untuk menjaga kestabilan agar tidak jatuh. Jangan memaksakan diri untuk berlari di tanjakan cinta. Cukup lumayan kalau jatuh berguling-guling.

Pukul 20.40 kami sudah mendarat dengan selamat di Ranukumbolo. Kami segera mencari tempat yang pas untuk mendirikan tenda: tempat yang dekat dengan api unggunnya tetangga supaya bisa numpang anget. Sementara yang lainnya memasak, saya beranjak tidur karena hawa yang cukup dingin dan posisi tidur saya yang kurang menguntungkan. Biar bisa lihat sunrise maksudnya.

Pukul 06.00 saya terbangun dan kondisi langit sudah terang benderang. Gagal sunrise (lagi) rupanya -,,-



 Memasak Nugget Dengan Nesting dan Margarin
 
 Bercengkerama di Ilalang

Menggoreng Kornet

Kegiatan selanjutnya hanya masak menghabiskan perbekalan dan santai-santai sampai pukul 09.00. Pukul 09.00, kami akan bergegas turun. Kali ini, kami benar-benar memasak beramai-ramai. Dua kompor dan  3 nesting kami fungsikan semuanya. Kali ini kami makan besar: nasi yang dimasak dengan teknik khusus yang lebih empuk, kornet goreng telur, tuna kaleng, sarden, omelet mie, dan nugget, dilengkapi minum cocoa hangat, milo panas, dan good day. Mantab sekali makan penghabisan ini! Masing-masing makan sepuasnya sebelum kembali ke kota.
Kumbolo Pagi Itu

Full Team di Ranukumbolo

Memburu Mahameru (Etape V) : The Real Memburu Mahameru, Antara Ambisi dan Realita

Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00. Sejak awal tiba di Kalimati, niat saya untuk muncak sudah pupus. Mengingat badan yang remek setelah digenjot langsung dari Ranupani-Ranukumbolo-Kalimati. Tapi, begitu bangun badan tiba-tiba segar dan seisi tenda memutuskan untuk muncak. Cuma 2 yang memutuskan untuk tidak ke puncak.

Sejak pukul 01.30 kami sudah mempersiapkan semuanya. Ada yang sarapan dulu, ada yang bergegas mencari senter. Tiap anak harus bawa senter satu. Saya ingin sarapan dinihari dulu, tapi waktu sudah mepet. Penting artinya sarapan secukupnya sebelum berangkat. Terutama untuk deposit tenaga untuk medan yang sangat berat. Tracknya sih ‘Cuma’ 2,7 km. Tapi medannya full tanjakan tanpa jeda sampai puncak mahameru. Kabarnya, untuk menuju ke puncak disarankan untuk membawa jas hujan karena tracknya basah, terutama ketika turunnya nanti. Selain itu untuk melindungi agar pakaian tidak kotor. Daripada dimasukkan ke tas dan menjadi beban, saya langsung pakai jas hujan berbentuk baju tersebut. Kaos+jaket+jas hujan. Jas hujan lumayan berguna untuk mencegah kedinginan.

Pukul 02.00, kami berangkat bersama-sama, kecuali 2 orang yang memilih tinggal di Kalimati. Saya memilih berangkat ke Mahameru karena Kalimati cukup horor suasananya. Benar-benar hening karena nyaris semua pendaki naik ke atas. Kami adalah pendaki terakhir yang naik ke Mahameru. Di belakang kami ada satu grup lagi, tapi segera menyelip kami saat kami mulai naik ke Hutan pinus. Perjalanan kali ini, kami sama sekali tidak membawa carrier. Hanya tas kecil saja dan beberapa botol minuman. Kali ini disepakati tiap 20 menit berjalan diselingi istirahat 3 menit.

Waktu turun dari Kalimati, masih belum merasakan medan berat. Baru ketika mulai masuk daerah hutan pinus, saya merasa medan ini sangat berat. Tanjakan yang curam dengan jalur yang membentuk lorong-lorong. Kondisi gelap gulita, dan lagi-lagi saya berada di posisi paling belakang. Sesekali saya menyenter ke belakang. Prinsipnya, ketika ada yang memanggit saya dari belakang, saya tidak menoleh. Dan itu sempat beberapa kali. Beberapa kali juga sempat ada yang mengikuti, tapi ketika disenter ke belakang, hilang. Yaaa, resiko berada di belakang sendiri.

Sepanjang perjalanan, saya tidak berani nyenter ke kanan kiri, apalagi ke atas pohon. Selain ngeri karena pernah nyenter ke kanan kiri, dan ternyata.....jurang....dan jalurnya ternyata Cuma sebatas itu saja dan kanan kiri sudah....jurang. Maka, cukup sekali itu saja nyenter kanan kirinya.
Di perjalanan, kami bertemu beberapa pendaki yang sudah turun. Kami sempat dibujuk oleh beberapa pendaki yang turun untuk mengikuti mereka turun karena puncak sangat ramai dan tidak bisa lewat. Daripada mubazir capek-capek sampai Arcopodo ternyata tidak bisa naik, lebih baik turun. Tapi kami tetap satu tekad: naik sampai Mahameru!

Tak lama kemudian, kami sudah tiba di Arcopodo. Hanya sekitar 1,5 jam saja. Semudah itu? Saya kira begitu. Kalimati-Arcopodo tracknya 1,2 km. Anehnya, saya tidak mengalami kelelahan yang sangat dan masih fit. Saya cukup yakin bisa sampai Mahameru. Kami terus berjalan sampai bagian paling atas Arcopodo. Kami beristirahat sejenak, beberapa ada yang kencing. Beberapa cewek sebenarnya memilih untuk tinggal di Arcopodo ini.

Ayu                        : Aku tinggal disini aja ya, udah nggak kuat
Yang lain              : Wes, tinggal disini? Yakin? Nggak pengen naik? Tinggal deket lho.

Tiba-tiba Rendra jalan ke sebuah batu yang ada tulisannya, lalu membacakan tulisan di batu

Rendra                 : In Memoriam ...... meninggal pada.....di Arcopodo
Ayu                        : Wes, aku ikutan naik aja.... *setelah tahu ada banyak memorial di Arcopodo*

Di Arcopodo memang banyak memorial, dan kabarnya cukup banyak orang yang hilang di Arcopodo. Memang bener sih, kanan kiri Arcopodo langsung jurang yang menjulang dalam tanpa kompromi.

Kami kemudian berjalan kembali. Kali ini kami harus melewati batas vegetasi, atau yang sering disebut sebagai Kelik. Batas vegetasi ini berupakan batas terakhir ada tumbuh-tumbuhan dan ladang pasir. Kabarnya, disini juga sering orang hilang tersesat atau terperosok. Yang penting, satu rombongan tetap berjalan bersama-sama. Jalur di Kelik ini adalah sejenis lorong-lorong yang terbentuk dari tebing-tebing kecil di sisi kanan kiri. Jalannya ada cukup banyak. Ada yang berujung ke jurang, ada yang benar, ada yang sedikit memutar. Perlu kehati-hatian.

Jalan sangat gelap, Cuma cahaya lampu Kota Malang dan Kepanjen yang kelihatan dari atas. Senter tetap saya fokuskan di jalan saya. Sampai benar-benar di ujung Kelik, kaki dan tangan saya gemetaran. Bukan karena dingin, tapi karena jalur yang Cuma berbentuk bedengan pasir dan kanan kirinya langsung jurang yang cukup dalam. Butuh hati-hati sekali lewat sini, dan tidak memungkinkan papasan dari arah berlawanan. Jadi benar-benar harus antri satu-satu supaya tidak ada yang terjatuh. Kabarnya, Kelik ini dulunya dihubungkan dengan jembatan beton. Namun, sejak erupsi Semeru paling parah, jembatan beton tersebut rubuh dan tinggal tersisa bedengan pasir. Kami bergandengan satu sama lain, sampai kami tiba di track pasir yang lumayan aman dan lebar.

Kami mulai terpisah-pisah. Saya masih ada di deretan paling belakang sembari menetapkan ritme berjalan supaya teratur dan tidak mudah capek. Tiap 20 langkah, istirahat sebentar. Dan tiap 60 langkah istirahat lama dengan duduk. Track dari Kelik-Mahameru ini benar-benar didominasi pasir kasar dengan kualitas yang sangat bagus. Ketika kita jalan 3 langkah, kenyataannya hanya jalan 1-2 langkah. Tergantung pintar-pintarnya kita menjejakkan kaki di pasir. Untuk menghindari kemerosotan yang mendalam, saya memilih track bekas injakan orang lain. Lebih efektif, tapi lebih capek juga ketika langkah kaki yang kita ikuti terlalu besar atau kekecilan.

Langit mulai terang, sementara saya masih ada di sepertiga perjalanan. Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 05.00. Berkali-kali saya berhenti sejenak setelah 60 langkah, kemudian ketiduran cukup lama, sampai hampir jatuh, lalu bangun, lalu lanjut lagi. Suatu hal yang menguntungkan kami adalah tidak ada awan yang menyelimuti bukit. Suhunya relatif hangat dan tidak ada halangan pandangan.

Sampai setengah perjalanan menuju Mahameru, saya beristirahat sejenak. Tandem naik saya, Falah, masih ada di atas saya dan masih tertidur sambil terduduk. Ayu dan rekan-rekan lain masih dibawah, istirahat karena kelelahan. Sayapun duduk sambil mainan pasir. Tiba-tiba dari bawah ada orang teriak-teriak histeris ke arah saya, katanya “Awas mas ada batu besar dari atas mas! Minggir mas, minggir!” Saya menoleh ke belakang. Ternyata ada orang yang barusan turun dari puncak menendang batu lumayan besar, seukuran kepala manusia. Saya Cuma melihat batu itu menggelinding, tanpa menghindari sedikitpun batu yang menggelinding bebas tadi (karena saya yakin nggak mungkin tiba-tiba batunya belok) dan meminta orang dibawah saya hati-hati.
Karena takut kejatuhan batu lagi, saya bergerak naik ke atas lagi. Perjalanan tinggal sebentaaaarrr lagi sampai puncak. Setelah 120 langkah, saya istirahat lagi. Dari belakang saya melaju seorang laki-laki dengan cepat dan kondisi masih segar sekali.

Masnya                   : Wuah, puncak sebentar lagi
Saya                       :Masnya tadi ngecamp dimana?
Masnya                   : Di Kalimati, Mas. Masnya di Kalimati atau Arcopodo?
Saya                       : Di Kalimati Mas.
Masnya                   : Berangkat jam berapa tadi Mas? Berapa orang?
Saya                 : Jam 2 pagi tadi mas dari Kalimati. Total ya sekitar 14 orang. 2 orang pilih tinggal di Kalimati
Masnya                 : Oh, masih siangan saya. Saya tadi jam 4 mas baru naik keatas. Sendirian. Teman saya sakit tadi. Saya rawat dulu di tenda. Mari mas, saya duluan ya
Saya                       : Oh...ya...monggo *sembari bengong*

Sedemikian masnya semangat bisa naik sampai kesini, dengan ngepoor 2 jam. Sementara saya....saya.....berangkat udah duluan, masih sampe setengah jalan....

Enaknya di jalur pasir ini, ketika Anda kehausan dan Anda meminta makanan atau minum dari pendaki yang turun, Anda pasti diberikan. Tidak ada yang menolak memberikan sama sekali. Bahkan sempat ada yang memberikan kepada kami sebotol 1,5 liter penuh. Ada juga yang memberikan Roma Malkis kepada kami. Bahkan kadang kita ditawari makanan atau minuman tanpa kita meminta. Pun, kita juga tidak boleh pelit dengan memberikan atau menawarkan makanan atau minuman atau obat-obatan yang kita punya kepada pendaki lain. Inilah indahnya solidaritas antar sesama pendaki.

Kalimati dan Gunung Kepolo Dilihat dari Lereng Pasir Semeru

Berbekal semangat melimpah, perjalanan saya lanjutkan. Tak lama kemudian saya melihat Adi Cuma duduk-duduk di pinggir. Saya perhatikan, beneran Adi nggak. Ternyata bener. Ternyata Adi sudah lebih dulu tidak kuat naik ke atas karena tendon kedua kakinya sudah narik. Ia lebih memilih turun dengan gelesotan di pasir.
Saya terus naik. Tak lama kemudian, giliran pangkal paha saya bermasalah. Mulai linu kalau dipakai jalan. Saya sempat meminta Neoreumacyl ke Rendra untuk sedikit meredakan sakit. Kalau bawa Geliga, sebenarnya lumayan menolong untuk cedera otot. Saya memutuskan istirahat sejenak. Sementara rombongan sudah benar-benar kocar-kacir nggak karuan. Ada yang di deket kelik, ada yang sudah sampai puncak, ada yang di atas saya sedikit, ada yang mulai turun, ada yang Cuma tiduran di batu besar.

Setelah agak enakan, saya coba paksakan naik lagi. 120 langkah pertama lumayan, meskipun pelan-pelan. Kemudian, sakit lagi, pakai teknik merangkak. Lumayan bergerak. Sampai mencoba track porter yang ada di sebelah kanan, yang kabarnya lebih ringan dan tidak buang tenaga. Sempat naik sedikit. Kelemahannya, di track porter ini tidak bisa merangkak. Jadi, harus jalan condong atau jalan tegak.

Jelang Puncak Mahameru

Setelah berjalan beberapa meter, ternyata kaki sudah benar-benar tidak kuat. Saat itu, Falah berada di atas saya. Track tinggal sekitar 100-200 meter lagi sampai Mahameru. Kondisi saya bimbang, ragu, dan sedih. Seandainya saya teruskan, mungkin nanti resikonya bisa berat. Apalagi masih ada jalan turun dari Mahameru ke Kalimati yang tracknya cukup mengerikan. Kalau tidak saya teruskan, jelas rugi. Dan belum tentu tahun berikutnya bisa kembali kesana. Akhirnya setelah termenung cukup lama, sekitar 30 menit, saya memutuskan diri untuk turun. Waktu itu sudah pukul 07.30. Tinggal sakcrit lagi sudah sampai atas. Namun, dengan pertimbangan berbagai kondisi, track yang masih sangat panjang, akhirnya saya turun. Falah saya suruh untuk tetap naik. Dan memang Falah adalah orang terakhir yang berjalan menuju puncak Mahameru. Sementara saya segera bermain ski pasir dan turun ke bawah.
Sejenak menghampiri gadis-gadis yang beristirahat di batu, dan menghampiri Adi untuk turun ke Kalimati bersama-sama. Karena berjalan sendirian di gunung adalah berbahaya, meskipun siang hari.
Perjalanan turun lebih cepat daripada perjalanan naik. Maklum, karena jalanan menurun dan relatif bebas hambatan. Meskipun kaki terasa linu-linu semua dan mirip orang rheumatik jalannya.

Dua Wanita yang Memilih Tinggal di Batu (Ayu Sule dan Nyak)

Pukul 08.55 saya dan Adi sudah tiba di basecamp Kalimati, dan kami segera duduk-duduk bersama 2 orang yang tinggal di Kalimati. Minum, cuci kaki, lalu tidur nyenyak di dalam tenda. Bagaimana kabar jas hujan yang saya gunakan? Hancur lebur. Dari cuma sobek beberapa centi di paha, jadi sobek di banyak bagian. Disarankan kalau pakai jas hujan pakai yang bener-bener sudah akan dibuang.

Pukul 13.00, teman-teman lainnya mulai datang. Dan kami mulai makan bersama dengan nasi yang lebih beradab dengan lauk tempe dan abon dan minum hot cocoa.


Pukul 14.00 kami memutuskan untuk beristirahat sejenak dan kembali berangkat pukul 16.00

TIPS:
1. Sebelum naik ke Mahameru, makanlah. Ini cukup membantu. Apalagi jika sebelum mendaki Semeru, Anda berolahraga secara rutin. Lebih sangat membantu lagi.
2. Membawa minuman seperlunya, disarankan minuman isotonic. Lebih cepat memperbaiki kelelahan tubuh
3. Membawa senter yang cukup terang, jika memungkinkan headlamp untuk mempermudah langkah
4. Ketika memasuki pasir, hindari teknik merangkak lebih dahulu. Berjalan dengan teratur dan dengan ritme sangat membantu daripada harus merangkak. Merangkak beban yang diterima tumpuan lebih besar dan mudah capek
5. Disini lagi-lagi kemampuan memotivasi diri diperlukan. Ketika bilang tidak bisa, maka yang terjadi Anda akan putus asa dan memilih untuk turun
6. Jaga solidaritas dengan pendaki lain, bahkan yang bukan group Anda. Suatu ketika Anda akan membutuhkan bantuan mereka. Sapalah mereka, jika ada kesempatan mengobrol, mengobrollah
7. Konsentrasi perjalanan malam sangat diperlukan. Tetap hati-hati, waspada, dan jangan sembrono. Apalagi dengan mengeluarkan kata-kata kotor dan guyonan yang kurang pantas

Memburu Mahameru (Etape IV) : Amazing Night

Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30. Kami sudah berkemas dan segera berjalan menyusuri lereng selatan Ranukumbolo. Kemudian kami berhenti sejenak di lokasi camp Ranukumbolo untuk sejenak mengambil air untuk persiapan di Kalimati, karena kabarnya sumber air terakhir hanya di Ranukumbolo. Ya mumpung sumber air su dekat, beta sonde kekurangan air lagi e.

Bencana datang! Ketika semuanya sudah siap, malah saya yang gantian belum siap. Cangkolan tas carrier saya mbrodhol sodara-sodara! Sudah saya duga sebelumnya, karena seingat saya sebelum berangkat, tas saya ini hampir jebol, tapi nggak tau bagian mana yang akan jebol. Sementara itu harus membawa beban 4,5 liter air minum dan perlengkapan lainnya. Akhirnya, barang-barang yang saya rasa memberatkan saya bagi-bagi ke teman-teman. Kemudian tas saya modifikasi sedemikian rupa sehingga bisa dipakai lagi dengan menalikan cangkolan pada cangkolan yang lain. Untung dulu pernah kaya gini, jadi lumayan berpengalaman dalam kondisi darurat :v

Sekitar pukul 17.00 kami kembali berjalan. Medan berat pertama kami adalah Tanjakan Cinta. Tanjakan curam diatas 60 derajat dan panjang ini merupakan pembuka perjalanan kami menuju ke Kalimati. Mitosnya sih, jangan lihat ke belakang. Biar apa yang menjadi cinta dan cita kita bisa terwujud. Yasudah, diikuti aja. Toh sampe sekarang belum terwujud juga kok :p

Tanjakan Cinta

Baru berangkat sudah di drill dengan medan yang berat. Otomatis badan drop lagi. Apalagi koyo cabe dan Geliga belum kerasa. Akhirnya, kami beristirahat di atas tanjakan cinta sekitar 10 menit. Kemudian kami berlanjut menuju Cemoro Kandang melewati track bawah.

Tanjakan Cinta

Penderitaan belum usai! Ternyata, setelah tanjakan cinta ada turunan cinta juga. Masa bodo, daripada kelamaan akhirnya jalan cepet lewat rerumputan. Turunan cinta ini (nggak tau lah namanya) turunan dengan kemiringan lebih dari 60 derajat dan tracknya licin penuh pasir. Yang menguntungkan, kanan kirinya rumput. Jadi, lebih baik lewat rerumputan. Selain pengeremannya lebih efisien, kalau jatuh pun relatif empuk.

Senja Ungu dari Oro-oro Ombo

Sampai di dasar tanjakan, kami melewati sebuah ladang yang isinya tanaman kering semua. Pendaki menyebutnya dengan Oro-oro Ombo. Kabarnya, kalau musim hujan, Oro-Oro Ombo ini menjadi padang Lavender. Dan memang benar, tanaman-tanaman kering itu adalah Lavender. Nanti kalau musim hujan, ungu gitu warnanya. Sering dipakai pre-wed juga Oro-oro Ombo ini (niat bener). Ketika melewati lavender, jalan yang ada akan berbentuk lorong-lorong yang asyik. Nyaris seperti labirin. Patokan agar tidak tersesat adalah Cemoro Kandang, tempat yang paling banya cemaranya.

Sekitar pukul 17.40 kami sudah tiba di Pos Cemoro Kandang. Ini spot buat istirahat yang lumayan enak. Banyak cemaranya, teduh, ada tempat duduknya, yaaa meskipun mirip sama tempat shootingnya Dendam Nyi Pelet. Kami enjoy saja duduk disitu, sampai kami melihat plang tanda tempat Cemoro Kandang yang menyebutkan bahwa suhu minimumnya antara -6 sampai -20 Celcius. Kami pun menyegerakan diri untuk segera berangkat ke Kalimati. Kali ini, perjalanan kami adalah perjalanan malam yang benar-benar membelah belantara.

Pos Cemoro Kandang

Berbekal senter seadanya, kami bergegas berangkat. Saya berada di barisan belakang sendiri. Istilahnya sebagai keamanan belakang. Jalur awalnya masih santai. Cukup datar, dengan beberapa pohon tumbang dan track yang sedikit berpasir. Track selepas Cemoro Kandang ini didominasi dengan jalur berkelok-kelok. Kanan kiri didominasi oleh tanaman cemara hutan atau vegetasi khas dataran tinggi. Track selepas Cemoro Kandang ini adalah melompati sebuah bukit, karena Kalimati lebih kurang terletak dibalik bukit tersebut.

Perjalanan kami bertemu cukup banyak orang yang barusaja turun dari Mahameru. Fisik kami sudah mulai lelah sekali. Yang cewek-cewek sudah mulai merengek-rengek untuk berhenti saja. Tapi perjalanan sudah cukup jauh. Kembali ke Cemoro Kandang sudah sangat jauh, ke pos selanjutnya kami juga buta karena tidak ada yang pernah naik sampai Mahameru (dan ini baru terungkap waktu kami di perjalanan selepas Cemoro Kandang). Akhirnya diambil keputusan bahwa kami istirahat tiap 10 menit jalan. Saya tetap di posisi paling belakang dan paling santai. Selain logistik yang saya bawa semakin ringan, badan juga mulai enak karena geliga mulai memberikan reaksi. Yaaaa, ada untungnya juga tas rusak :D

Perjalanan semakin menanjak ketika puncak bukit mulai terlihat. Saya mulai kelelahan bersama Falah. Kami memilih mengambil jarak dengan yang ada di depan kami. Kelelahan membuat mayoritas dari kami berjalan dengan menyeret kaki. Ini mengakibatkan medan yang berpasir dan berdebu amburadul dan debu naik ke atas. Kami yang dibelakang ini yang susah, harus menghirup debu dan sesak-sesak sendiri. Kalau malam lumayan lah, pakai slayer bisa mengurangi masuknya debu dan relatif tidak sesak daripada pakai slayer siang hari. Karena sedikit-sedikit istirahat, akhirnya saya dan Falah mengambil celah yang lumayan besar. Ketika sudah jauh, kami berdua lalu berjalan lagi. Tapi ketika yang lain berhenti, kami terus berjalan untuk menghindari capek kaki yang berlebihan. Banyak berhenti malah bikin capek bro!

Secercah harapan ketika kami sudah tiba di puncak bukit. Kami berharap tidak kena PHP lagi karena menurut saya, ini adalah PHP kedua kami setelah PHP dari pos 2 ke pos 3. Kami adalah PHP (Penikmat Harapan Palsu). Ada banyak tenda kemah yang didirikan di sebuah pelataran yang cukup luas, dan Puncah Mahameru menjulang di kanan. Saya termasuk rombongan yang cukup awal tiba disana. Kami bersama meneriakkan “Wooowww Kalimatiiii!!!”

Sampai akhirnya kami mendekati papan tanda penunjuk tempat, dan kami tersadar bahwa tempat tersebut bukan Kalimati. Tapi masih di....Jambangan -,,-

Kami sudah benar-benar lelah. Saya Cuma mondar-mandir kesana kemari biar kaki nggak capek. Cuma satu dua yang lihat tanda penunjuk tempat tersebut. DI tanda penunjuk tempat, ada rincian jarak yang harus ditempuh dari Jambangan ke Kalimati. Tiba-tiba teman saya berteriak,” Rek, Kalimati tinggal 200 meter lagi dari sini! Ayo semangat!” Yaaa dasarnya saya tipe orang yang gak gampang percaya, saya lalu mendekati plang tersebut, langsung saya senteri dan saya lihat. Hmm, di tulisannya sih Jambangan-Kalimati 1,2 km. Tapi mungkin saya yang salah baca. Kita lihat saja lah. Kalau 200 meter, berarti paling tidak dibutuhkan 300 langkah jika asumsinya tiap langkah rata-rata sekitar 75 cm. Dan saya pun, untuk mengalihkan rasa capek, menghitung langkah kaki. Masih di bagian terbelakang.

Sudah lebih dari 300 langkah kaki, dan saya yakin bahwa jarang dari Jambangan-Kalimati adalah 1,2 km. Maka lemaslah saya, sementara teman-teman lain mulai protes. PHP katanya! Saya Cuma senyum-senyum saja dan memberi tahu yg lain kalau jarak dari Jambangan-Kalimati 1,2 km.

Tapi tidak sejauh dari Cemoro Kandang ke Jambangan. Perjalanan kali ini relatif ringan karena tracknya rata-rata mendatar dan menurun. Didominasi dengan semak-semak dan padang rumput cukup luas. Setelah sebuah turunan yang cukup berkelok, kami melihat tulisan ‘Kalimati 500 m’ dan kami bersorak kegirangan. Saking kegirangannya kami, kami mempercepat langkah. Dan voila! Tak sampai 15 menit kami sudah tiba di Kalimati. Waktu itu sudah menunjukkan pukul 21.55.
Kami segera ramai-ramai bagi tugas. Ada yang mendirikan tenda dan ada yang mencari kayu bakar untuk membuat api unggun. Kami masing-masing sudah emosi. Ada yang saling membentak, ada yang sentak-sentakan kalau ngomong. Bahkan ada yang masak sambil ngamuk-ngamuk. Ya, namanya juga kondisi badan capek.
Saya dan Falah kebetulan dapat tugas mencari ranting. Batin saya, dimana mencari kayu kalau pohon-pohonnya tinggi-tinggi dan tidak ada kayu yang berguguran? Akhirnya kami berputar-putar mencari ranting kecil-kecil yang penting bisa dibakar. Karena memotong ranting dari pohon langsung adalah pamali ketika naik gunung.
Setelah dapat sedikit-sedikit ranting, dan setelah dihantui rasa takut karena sebuah pohon di Kalimati, kami bergegas membuat api unggun. Saya, aryok, dan Adi segera memasak. Behubung di luar sanga dingin sementara api unggunnya Cuma kecil dan nggak ngefek, kami memutuskan untuk memasak di dalam tenda. Kaki juga sudah senut-senut gara-gara capek dan dingin.

Kali ini, kami memasak sarden dan nasi. Dengan modal super nekat dan sok tau, beras tidak kami cuci dan langsung kami masak dengan air yang sangat kurang. Maklum, laki-laki. Nggak pernah masak. Dan nasi kami akhirnya gosong, berkerak-kerak, dan masih keras rasa beras. Sementara sarden kami rasanya eneg karena kebanyakan saos kurang garam dan gula. Sebagai pemulih rasanya, kami membuat milo hangat. Satu nesting untuk 4 orang.


Sementara kami makan dengan terpaksa nasi beras dan sarden tadi, yang diluar malah ribut sendiri masalah masak memasak. Berhubung badan sudah tidak kual, pukul 23.00 kami bergegas tidur. Perjalanan dilanjutkan esok hari, pukul 01.00 untuk muncak ke Mahameru.

TIPS:
Sebenarnya perjalanan malam kurang dianjurkan dalam setiap pendakian gunung, gunung manapun itu. Dari segi alasan mistis, setelah matahari terbenam adalah saat-saat makhluk halus keluar. Dan dari segi alasan yang lebih bisa dipertanggungjawabkan, perjalanan malam hari adalah perjalanan minim cahaya dan penglihatan pun fungsinya sedikit berkurang meski dibarengi dengan pencahayaan yang baik. Selain itu, oksigen ketika malam hari lebih sedikit ketika siang hari karena ketika tidak ada sinar matahari, tanaman memproduksi gas CO2 yang membuat tubuh lebih sesak serta membuat suhu sekitar jadi lebih dingin. Ketika memang harus berjalan malam hari, disarankan untuk meningkatkan kewaspadaan. Setidaknya yang cewek-cewek ada di tengah, dan yang di depan adalah yang benar-benar tahu jalan dan yang dibelakang adalah yang selalu waspada dengan kondisi sekitar. Tetap diusahakan untuk fokus, sesekali mengobrol juga perlu, sesekali berhitung untuk memastikan rombongan juga perlu. Jika lelah dan kehilangan fokus, sebaiknya beristirahat sejenak sembari minum. Istirahat pun tidak perlu terlalu lama. Cukup untuk meregangkan badan, dan jangan menekuk kaki supaya peredaran darah ke kaki tetap baik.

Senin, 04 November 2013

Memburu Mahameru (Etape III) : Menyongsong Mentari di Ranupani

Mentari pukul 06.30 membangunkan kami. Sejak pukul 05.00 pelataran Ranupani sudah ramai dengan suara-suara pendaki yang mulai terbangun dan mulai membereskan tenda-tenda serta tas carrier mereka.  Saya keluar tenda, dan ternyata teman-teman lainnya sudah bangun juga. Hawanya sangat dingin, tapi cukup terbantu adanya sinar matahari pagi yang membuat badan terasa hangat. Masyarakat sekitar yang rata-rata berprofesi petani juga mulai berangkat ke ladang. Anak-anak sekolahan yang rata-rata bersekolah di Senduro atau Pasrujambe, Kabupaten Lumajang juga mulai berangkat. Saya dan teman-teman saya bergegas turun ke Ranupani untuk sekedar tahu dan sekedar lihat Ranupani. Karena menurut cerita Oom saya yang setiap harinya mencari kayu jati di Ranupani, Ranupani itu bagus.

Jalan turun ke Ranupani harus melewati sela-sela bangunan. Dan ketika tiba di dermaga, Ranupani memang bagus! Masih dibalut embun tips yang mulai beranjak hilang dan sinar matahari tipis-tipis yang memantulkan cahaya melalui permukaan air Ranupani yang nampak bening dan bisa dipakai berkaca (apasih, LEBAY!). Namun, kabarnya beberapa saat sebelum ini air Ranupani tidak sebagus ini. Masih ditutupi eceng gondok. Pendaki kabarnya juga bisa mengambil air di Ranupani ini, meskipun sedikit kotor sih.
Setelah puas foto-foto ria, kami bertiga langsung kembali ke camp dan melaksanakan buang hajat. Ada kamar mandi juga dengan air yang minimalis bagi pendaki yang ingin buang air terakhir/mandi terakhir sebelum memulai pendakian karena nantinya di Kumbolo dilarang mandi, dan kalaupun mau buang air besar harus ndodok di semak-semak membawa botol aqua atau tissue basah. Mihihihihihi

Ranupani Pagi

Pukul 07.00, kami sepakat untuk sarapan dulu di warung yang ada disitu. Beruntuk ada warung yang buka, meskipun dagangannya masih terbatas. Seporsi nasi lodeh-telor ceplok-tempe ditemani teh panas dan sambel pedes segera tersaji di meja. Itu adalah menu makanan termurah disitu. Jika di Surabaya seporsi nasi lodeh dan lauk + es teh bisa dinikmati dengan mengeluarkan uang Rp 7.000,00, di Ranupani harus mengeluarkan Rp 10.000. Maklum sih, di gunung. Untuk beli apa-apa harus jauh-jauh turun ke pasar.

Dermaga Ranupani

The Mirror of Ranupani

Seteguk Teh dari Ranupani

Pukul 07.30 kami segera beberes tenda dan perlengkapan kami. Pukul 08 lebih sedikit, kami segera berangkat menuju ke Ranukumbolo. Masih dengan bayangan cerita dari  teman bahwa tracknya tidak menanjak dan Cuma jalan 5 jam, maka saya masih cukup santai melakukan perjalanan.

Full Team Pendakian Kali Ini

Saya memilih berada di deretan paling belakang. Di deretan tengah ada cewek-cewek. Di depan cowok-cowok lagi. Kami memilih jalur lewat Landengan Dowo-Watu Rejeng-Ranukumbolo karena lebih landai, meskipun panjang. Jalur Ayak-ayak-Ranukumbolo memang lebih dekat (kabarnya Cuma 3 jam) tapi lebih terjal dan lebih susah. Perjalanan keluar dari Ranupani masih enak, masih aspal besar dan agak menurun. Tanjakan pertama setelah memasuki gerbang penyambutan pendaki. Tidak terjal, tapi orang-orang di depan yang jalannya tersendat-sendat jadi bikin capek. Ditambah lagi kakinya nyeret, sehingga debu-debu berhamburan dan bikin sesak napas.

Pemandangan Lepas Ranupani

Perjalanan selanjutnya hingga Landengan Dowo didominasi track yang lumayan datar. Yaaa sesekali ada tanjakan, tapi nggak curam. Sesekali lewat track batu yang bikin kaki sakit (jujur lebih enak jalan di tanah daripada di batu), sesekali lewat semak-semak belukar, sesekali harus menghindari pohon tumbang. Yang bikin gak kuat tetep debunya. Kalau pake masker/slayer, oksigennya minim, jadinya sesek. Kalau gak pakai masker, debunya masuk hidung, bikin sesek plus meler juga. Sekilas info, dari Ranupani-Landengan Dowo track yang ditempuh adalah sekitar 3 km. Dari Landengan Dowo ke Pos 1 adalah sekitar 1 km. Kami berkali-kali istirahat karena kondisi badan memang lelah, ditambah bawaan kami top beratnya dan fisik yang kurang istirahat. Lebih kurang dari Ranupani-Pos 1 kami 4 kali berhenti. Jelang pos 1, badan mulai sebah. HP yang dari kemarin saya mode pesawat, akhirnya berguna juga. Nyalain lagu. Pakai earphone, lalu jalan pelan-pelan. Cukup membantu.

Sampai pos 1, akhirnya bisa meletakkan tas yang berat banget. Ciri-ciri pos 1 ada di tikungan letter L dan lokasi pos berada di kiri. Di bawah pohon-pohon. Lumayan, buat duduk-duduk dan istirahat juga ngumpulin oksigen untuk perjalanan selanjutnya. Di pos 1 ini, ada seorang pedagang makanan-minuman yang standby dari pagi sampai sore. Yaaa meskipun harga makanannya harga gunung
Perjalanan berlanjut menuju pos 1. Jalur dari pos 1 ke pos 2 tidak semudah tadi. Jalanan mulai didominasi jalan yang cukup menanjak, beberapa kali gersang dan berdebu (maklum musim kemarau). Dari pos 1 ke pos 2 ini perjalanan lebih kurang 2-3 km dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Meskipun medan cukup sulit, tapi jalur masih ada conblocknya. Ciri-ciri pos 2 adalah ada di sebelah kanan di sebuah jalur lurus. Depan pos 2 ada semak-semak yang langsung turun ke jurang. Di pos 2 ini kadang-kadang ada orang jualan, kadang-kadang tidak ada. Menurut saya, lokasi pos 2 ini kurang enak untuk istirahat. Kondisinya tidak serimbun pos 1. Sedikit terbuka dengan vegetasi cemara gunung.

Salah Satu Pemandangan di Pos 2

Perjalanan selanjutnya adalah perjalanan PHP etape 1. Kenapa PHP? Jalur dari pos 2 ke pos 3 ini saya dan teman-teman saya juluki sebagai jalur PHP. Dari semua medan Ranupani-Ranukumbolo, perjalanan pos 2 ke pos 3 ini termasuk paling berat pertama. Panjang jalur dari pos 2 ke pos 3 adalah yang paling panjang diantara pos-pos lainnya. Selain itu, medannya cukup lengkap mulai dari tanjakan curam sampai turunan. Track sudah didominasi dengan tanah dan beberapa bebatuan lepas. Di tengah-tengah track antara pos 2 ke pos 3 akan melewati Watu Rejeng dengan ketinggian sekitar 2500 mdpl. Watu rejeng ini adalah sebuah bukit yang memiliki batu-batuan padas di tebingnya, gagah menjulang tinggi. Lokasinya cukup enak buat istirahat karena berada di bawah bukit dan vegetasinya cukup banyak. Jadi cukup sejuk. Watu Rejeng ini boleh dibilang tengah-tengahnya jalur pos 2 ke pos 3. Jarak antara ke Pos 2 ke Watu Rejeng dan Watu Rejeng ke pos 3 hampir sama. Jalan dari pos 2 ke Watu Rejeng didominasi oleh turunan, meskipun bukan turunan. Namun, dari Watu Rejeng ke pos 3 didominasi tanjakan yang lumayan. Meskipun bukan tanjakan yang curam, tapi cukup menguras energi. Jalur Watu Rejeng-pos 3 ini memutari bukit Watu Rejeng. Ciri-ciri pos 3 adalah pos berada di sebelah kanan, posnya ambruk sehingga Cuma bisa dimasuki beberapa orang saja, berada di sebelum tikungan ke kanan yang menanjak. Lokasinya cukup luas, jadi bisa untuk tempat istirahat rombongan yang berjumlah banyak.

Nah, pos 3 ke pos 4 ini adalah yang paling dinanti-nanti para pendaki. Karena jelang pos akhir :D
Tapi, biasanya pendaki amatir (seperti saya), biasanya memilih istirahat lamaan dikit di pos 3. Kenapa? Karena setelah pos 3 ini, jalurnya menanjak cukup terjal dan panjang. Sekitar 100 meter. Enak kalau pakai track pole atau minimal ranting kayu lah. Bisa buat tumpuan tambahan (dan tracking pole itu penting ternyata). Setelah tanjakan curam ini, jalur selanjutnya didominasi tanah-tanah yang agak bergelombang. Sepertinya sisa-sisa tanah longsor pasca musim hujan kemarin. Perlu kehati-hatian. Jalur ini sedikit memutar gunung dan berada di samping gunung. Medannya didominasi tanjakan dan turunan yang jumlahnya berimbang. Tapi nggak PHP seperti dari pos 2 ke pos 3 tadi. Ada beberapa pohon tumbang yang perlu dihindari juga. Ada beberapa tanah longsoran yang mepet-mepet dengan jurang juga. Prinsipnya tetap tenang, tetap menikmati alam sekitar, berpikir positif, dan jangan panik.

Waktu itu saya berjalan dengan pendaki dari Malang (bukan grup saya karena saya yang paling terakhir berhubung kondisi tas yang super berat). Saya guyonan seperti biasa, sehingga perjalanan jadi lebih ringan.

Pendaki 1            : “Wah, lha itu Ranukumbolo sudah hampir sampai mas”
Pendaki 2            : “Ndi? Wong garing ngono kok” (Mana, kering gitu kok)
Saya                      : “Lha wong Ranukumbolo kaet ditutup mas. Lagi dikuras wingi. Mangkane asat” (Orang Ranukumbolo barusan ditutup mas. Kemarin baru dikuras. Makanya kering)

Ranukumbolo Jelang Pos 4

Demikian joke-joke menyertai trip saya dari pos 3 sampai menjelang pos 4. Pemandangan semakin nampak jelas ketika jalan sudah menghadap ke Ranukumbolo langsung. Langsung nampak hamparan air berwarna kehijauan nan indah dikelilingi tenda-tenda pendaki.
Eits, perjalanan masih jauh. Untuk tiba ke tepian Ranukumbolo masih perlu berjalan 1 km lagi dengan medan jalan menurun. Ada beberapa jalur pintasnya, turun tebing langsung. Semuanya sama-sama aman. Tinggal pilih mana.


 
Ranukumbolo

Kami tiba di Ranukumbolo pada pukul 14.35. Leyeh-leyeh sebentar di tepian danau, lalu beranjak ke tempat teduh untuk makan siang. Teman paling terakhir tiba di Ranukumbolo pukul 15.05. Kami beristirahat hingga pukul 16.30 untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke Kalimati. Karena waktu yang terbatas, kami Cuma memasak mie goreng, mie rebus, milo panas, dan teh hangat. Serta mengoles-oleskan Geliga ke seluruh tubuh kami dan menempelkan koyo cabe sebanyak-banyaknya ke tubuh kami.

DISCLAIMER!
Semua foto ini diambil dengan Kamera Nikon D320 Lensa Kit 18-55 VR dan 55-200 VR dan semuanya adalah karya tangan saya sendiri. Hak cipta ada di tangan saya sendiri. Jika ingin mengunduh atau me-re-upload harap menghubungi saya terlebih dahulu

TIPS:
1. Sarapanlah yang cukup, jangan berlebihan karena akan menyebabkan suduken (pinggang sakit)
2. Hematlah tenaga, jangan terlalu ngoyo. Ideal saja. Jalan tidak perlu terlalu tergesa-gesa
3. Bawa logistik tidak terlalu banyak. Terutama air, satu orang cukup 1,5 liter saja. Nanti bisa ambil lagi di Ranukumbolo
4. Membawa coklat atau gula jawa untuk tambahan dopping, lebih baik jika ada pocari sweat
5. Kalau benar-benar lelah/suntuk, bisa sambil mendengarkan musik. Sebaiknya dihindari headset. Dapat menyebabkan lost kontak dengan teman-teman Anda
6. Ketika Anda tidak kuat, disinilah kegunaan naik gunung yang sesungguhnya: memotivasi diri Anda untuk tetap kuat sampai akhir. Yang terpenting: jangan sombong, jangan merasa bisa terlebih dahulu, jangan berbicara kata-kata jorok dan tidak pantas, dan jangan lupa berdoa memohon perlindunganNya.