Kaca Sanesipun

Senin, 11 April 2011

Makan Prasmanan, Belajar Nge-Mix

Pernahkah Anda makan di warung prasmanan? Tentu, di warung prasmanan ini setiap pembelinya dapat dengan bebas memilih lauk pauk dan jumlah nasi yang diinginkannya. Pertanyaan selanjutnya, pernahkah Anda merasakan makanan yang Anda makan kurang cocok rasanya di lidah? Berikut akan coba saya bagikan sedikit tipsnya.
Tentunya, dalam kondisi normal, makan itu ada tiga kali sehari dan semuanya dilaksanakan, kurang lebih pagi, siang, dan malam atau sore. Melihat kondisi tersebut, tentu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terutama berkaitan dengan gizi yang didapatkan. Pada pagi dan siang, sangat diperlukan kandungan protein yang tinggi. Kenapa protein? Protein, secara kasar, dapat membantu pembentukan sel-sel baru pada jaringan tubuh. Ini sangat baik karena pada pagi dan siang hari terdapat banyak sekali kegiatan yang bakal menguras tenaga sehingga perlu regenerasi sel yang cepat. Maka, ketika pagi dan siang disarankan lauk pauk yang mengandung protein : daging, telur, ikan, tempe, dan lain sebagainya.
Kuah atau garingan? Sebenarnya berkaitan dengan minat dari tiap individu. Tapi, disarankan agar tiap makan seminimalnya ada kuahnya walaupun hanya sedikit. Kenapa? Dengan makan makanan yang berkuah, artinya asupan air yang diperoleh oleh tubuh juga akan meningkat. Setiap orang, wajib minum 1200 ml air per hari, dengan catatan harus makan makanan yang memiliki kuah dengan total asupan air dari makanan lebih kurang 1000 mL. Tentu, jika makan tanpa adanya kuah, asupan air dari minum harus ditingkatkan. Enaknya, kapan pakai kuah kapan tidak? Kalau saya pribadi sih, makan dengan kuah enaknya pada pagi dan siang. Pagi, akan menambah nuansa hangat ketika makanan yang berkuah karena secara umum kondisi pagi selalu dipenuhi hawa dingin. Siang, akan memberikan nuansa kesegaran pada makanan yang dinikmati. Tentu, menu kuah pagi dan siang berbeda. Kalau pagi, identiknya dengan soto atau bubur ayam. Kalau siang, biasanya dengan sop, sayur lodeh, atau mungkin sayur bening yang memberikan nuansa kesegaran yang wah.
Apa sajian rasa yang harus ada di tiap makanan? Tiap orang mempunyai seleranya masing-masing, dan kadang dikaitkan dengan asal daerahnya. Biasanya orang Jogja senang manis-manis. Orang Jawa Timur suka yang asin-asin. Orang Jawa Barat suka dengan yang gurih. Tentu, yang harus ada di sini semua komponen makanan harus ada. Perpaduan yang pas antara asin dan manis akan membuahkan rasa gurih yang lezat dan dapat diterima oleh siapapun, darimanapun asalnya. Misalnya, kalau sayurnya sudah asin, misal sayur lodeh, ya lauknya yang manis, misalnya ayam bakar. Kalau sayurnya manis, sayur bening atau gudeg, lauknya yang asin misalnya tempe atau ayam goreng.Perpaduan dua rasa ini berlaku juga ketika kita akan memilih snack.
Minumnya? Tentu ini juga harus diperhatikan. Yang perlu dicatat, jangan minum es jeruk atau yang mengandung asam askorbat (vitamin C, minuman yang kecut-kecut) ketika makan hasil laut (udang, kerang, cumi) karena secara perlahan dapat menimbulkan asam arsenik dalam tubuh. Idealnya juga sih, sebaiknya kalau memesan minum jangan yang terlalu kecut. Jika memang minuman yang dipesan terlanjur yang kecut-kecut, isi dulu perut dengan sesuap nasi, baru kemudian boleh diminum. Kandungan asam dalam minuman kecut tentu dapat merangsang terbentuknya gastrin (asam lambung) yang bisa membuat orang maag nya kambuh, atau sering disebut gastritis. Mau panas atau dingin? Perlu diperhatikan juga dari makanannya. Misalnya memilih menu bakso panas. Minumnya tentu jangan es campur atau yang berbau-bau es. Ini berbahaya bagi kesehatan tubuh dan kesehatan gigi. Bagi kesehatan tubuh, tubuh akan bekerja keras untuk mengubah perubahan suhu yang ekstrim. Bagi kesehatan gigi, makan panas, langsung minum dingin dapat menyebabkan gigi pecah, tergantung dari kekuatan gigi. Pilihnya yang wajar-wajar saja dong. Misalnya bakso dipadu dengan teh anget. Urusan minum, perhatikan juga bahan kimia buatannya, kadang minuman yang diracik menggunakan sakarin sebagai pemanis. Pastikan gula yang digunakan adalah gula asli.
Jadi, siap untuk prasmanan dengan makan yang nimat, gizi dan nutrisi terpenuhi, dan tentu tidak membuat kantong jadi kosong? Mari, kita makan sehat, dengan biaya yang hemat. Budayakan makan efisien.

Jumat, 08 April 2011

Yang Lain dari Jogja

Jogja, kota dengan julukan Never Ending Asia ini sangat identik dengan makanan khasnya berupa gudeg, bakpia, nasi merah Gunung Kidul, atau gethuk thiwul. Ternyata, bisa dibilang yang khas bukan hanya itu saja. Ada beberapa segi lain yang mencerminkan ke-Yogyakartaannya dan saat ini tersebar ke seluruh pelosok Indonesia.
Ingatkah Anda dengan Waroeng Steak, Obonk Steak, BeBaQaran (BBQ), dan Spesial Sambal (Warung SS)? Tentu yang pernah tinggal di kota-kota besar seperti Jogja, Solo, Bandung, Jakarta, dan Malang mengetahui apa yang saya sebutkan diatas. Keempat resto diatas semuanya bermula dari Jogja. Bisa dibilang juga, memiliki cita rasa Jogja yang khas.Keempat resto tersebut telah membuka puluhan bahkan ratusan outlet yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Sama halnya dengan gudeg yang kini sudah tersebar kemana-mana dengan berbagai citarasanya.
Waroeng Steak dan BeBaQaran (BBQ) sendiri sebenarnya saat ini berada di bawah satu managemen yang sering disebut sebagai FesKul (Festival Kuliner). Waroeng Steak sendiri sebagai sebuah resto steak rasa pejabat harga mahasiswa konsisten menyajikan steak berkualitas, enak, dan nikmat dengan harga yang sangat terjangkau bagi masyarakat, terutama bagi mahasiswa. Saya sendiri terakhir makan di WS, sebutan akrab Waroeng Steak, makan 1 porsi chicken steak double hanya habis Rp 11.000,00 belum termasuk minumnya. Begitu juga dengan shirloin steak dan terderloin steak dengan harga yang sangat terjangkau. BBQ juga masih berkomitmen menjadi warung mahasiswa dengan harga yang terjangkau pula. Khas dari BBQ ini adalah segala yang berbau bakar-bakar. Urusan, sambal masih lebih mantab SS.
Spesial Sambal juga merupakan produk asli warga Jogja. Menurut cerita yang beredar, pemilik dari SS ini adalah seorang sarjana teknologi informatika sebuah universitas di Jogja dan sangat hobi membuat sambal. Ia menyalurkan hobinya dengan membuka warung khusus sambal. Ibunya sempat menangis karena tidak menyangka anaknya yang kuliah sedemikian rupa, dibiayai mahal-mahal, hanya akan menjadi pedagang sambal. Tapi, kini kesuksesan anaknyalah yang membuat ibunya tersenyum. Menurut situs resmi dari www.waroengss.com, SS pertama berada di daerah Ghra Sabha Pramana, dalam artian hanya menjadi sebuah warung tenda seperti yang sekarang ada di daerah Ghra Sabha Pramana. Kemudian, dibuka outlet Condong Catur, sebbelah barat Polsek Debar (Depok Barat), dan sekarang telah menjadi puluhan outlet yang tersebar di seluruh kota di Jawa. Sambalnya? Makan dulu, baru boleh komentar. Bisa dibilang bukan sambel biasa dengan nama yang aneh-aneh. Lauk pauknya? Dijamin puas dengan harga yang relatif merakyat. Sayangnya, dari tahun-ketahun porsinya semakin berkurang.
Obonk Steak, menurut informasi yang beredar juga berasal dari Jogja. Outlet di Bumijo (barangkali sebagai outlet pertamanya) sudah ada sejak saya bersekolah di TK Tarakanita Bumijo (lebih kurang 13 tahun lalu). Bisa dikatakan, Obonk Steak merupakan steak tertua di Jogja. Obonk Steak lebih dikenal sebagai steaknya kalangan atas. Warungnya sederhana, tapi menu yang disajikan benar-benar daging berkualitas internasional. Seratnya lebih baik daripada resto steak yang lainnya. Obonk saat ini sudah membuka outlet di berbagai kota besar. Bahkan di Lawan, Kab Malang pun telah berdiri resto Obonk.
Jogja, ternyata merupakan surga kuliner. Jogja, juga melahirkan berbagai sajian kuliner variasi terbaru. Ingin merasakan Jogja, tidak perlu jauh-jauh. Karena sajian khas yang telah tersaji di resto-resto di atas, sudah tersaji dekat dengan Anda, di kota-kota besar di Jawa.

Selasa, 05 April 2011

Panarukan, Kejayaan yang Sirna

Masih ingat pelajaran sejarah SMA? Tentu masih ingat pula dengan sebuah usaha Belanda dalam membangun kejayaan dagangnya pula dengan membuat Jalur Daendels yang membentang dari Anyer (Cilegon, Banten) hingga Panarukan (Situbondo, Jawa Timur). Kenapa kedua kota ini dihubungkan oleh sebuah jalur yang harus memakan ribuan jiwa? Tentu karena kedua kota ini dahulu memiliki potensi pelabuhan yang sangat baik.
Secara geografis, Panarukan sendiri terledak di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Lebih tepatnya, sekitar 30 menit menggunakan bis ke arah timur dari Kota Situbondo. Panarukan terletak tepat diantara pantai dan jalur utama Surabaya-Ketapang (Banyuwangi). Maka, tidak susah bila akan menuju Panarukan. Semua bis jurusan Ketapang ataupun jurusan Denpasar pasti melewati Panarukan. Membayangkan Panarukan di masa lalu dengan masa sekarang sangatlah berbeda jauh. Saya membayangkan bahwa Panarukan tidak memiliki situasi yang jauh berbeda dengan Anyer, Cilegon yang memiliki urat nadi kehidupan yang bisa dibanggakan. Ternyata bayangan saya meleset 100% ketika bis mulai memasuki daerah Panarukan. Selepas Pantai Pasir Putih, kenek PO Indonesia Abadi mengingatkan saya yang akan turun di Panarukan. Begitu melewati daerah tambak, dan melintasi jembatan panjang, maka disitulah Panarukan ada. Saya diturunkan di dekat dermaga baru, yang bayangan saya juga merupakan sebuah pelabuhan besar. Ternyata, begitu masuk ke dermaga baru tersebut, yang ada hanya perasaan miris. Kejayaan masa lalu itu sudah sirna. Dermaga yang menjulang panjang ke tengah laut, yang tentu saja baru dibangun, tidak mampu mengembalikan gambaran Panarukan di masa lalu. Kondisi sangat memprihatinkan. Kondisi laut yang tengah surut juga menambah situasi di sekitar pelabuhan ini memprihatinkan. Beberapa kapal besar milik nelayan tertambat di tepi pantai. Aktivitas warga tak banyak, kecuali beberapa anak terjun ke laut untuk sekedar mencari kerang, pong-pongan, atau kepiting untuk dijual di pasar Panarukan. 
Saya beranjak berjalan ke arah timur. Bayangan saya, saya akan menemukan sebuah nadi kehidupan lain di sekitar Panarukan. bayangan saya, pasti ini bukan kota aslinya. Ini hanya kamuflase saja, dan mungkin ini cuma pelabuhan saja. Begitu saya memasuki daerah yang cukup menjauh dari tepi pantai, ternyata kondisi juga sama. Nampak sekali sebagai sebuah kota yang 'abandoned'. Ditinggalkan oleh penghuninya. Terdapat menara tinggi yang tidak lain adalah mercusuar tua, tanda bahwa tempat ini dahulu merupakan pelabuhan yang cukup besar. Kini nampaknya mercusuar itu sudah tidak difungsikan lagi karena kondisi pelabuhan yang sepi. Beranjak sedikit ke arah selatan, ternyata ada peninggalan yang lebih dan sangat mencengangkan, yakni adanya Stasiun Kereta Api Panarukan. Bangunannya sangat tua dan masih utuh. Rel-rel tua masih ada dan menampakkan bahwa stasiun itu memiliki 2 jalur kereta api. Tentu ini sebuah tanda-tanda adanya kejayaan di masa lalu. PT KAI tentu tidak mendirikan sembarang stasiun. Stasiun, apalagi sebagai stasiun ujung (stasiun akhir), hanya dibangun di kota-kota yang penting dan memiliki potensi tinggi. Setelah dirunut, ternyata jalur kereta tersebut merupakan jalur kereta Klakah (Lumajang)-Jember-Bondowoso-Panarukan yang saat ini sudah menjadi jalur kereta wisata milik Daop Jember. 
Saya kemudian beranjak dengan perenungan penuh. Saya beranjak menuju 'kota', yakni semacam pasar. Kondisinya pun sepi, memprihatinkan. Hanya ada beberapa tukang becak yang bersandar di becaknya sembari membaca koran dan menunggu penumpang. Tidak ada tanda-tanda denyut nadi kehidupan disana. Hanya mungkin beberapa pedagang ikan yang membawa sedikit ikan hasil sisa surut pantai yang kemudian dijual. Benar-benar memprihatinkan.
Keberadaan pelabuhan Panarukan memang tergeser oleh dominasi pelabuhan ikan Probolinggo. nelayan lebih suka berlabuh di Probolinggo karena semuanya lengkap dan tersedia di Probolinggo. Kota Probolinggo tidak jauh dari pelabuhan dan dapat dijangkau dengan mudah. Bandingkan dengan Panarukan. Kebutuhan hidup di Panarukan boleh dikata hanya bisa diakses ketika pasar pagi dibuka. ATM tidak ada, Indomaret dan toko swalayan lainnya tidak ada. Harapan pemerintah tentunya sangat baik. Dengan didirikannya kembali dermaga perikanan, maka dapat dengan perlahan pula mengembalikan Panarukan kepada kejayaan masa lalu yang telah sirna itu. Dan bukannya tidak mungkin bagi Panarukan untuk mengembalikan kejayaannya ke masa lampau sebagai pusat ekonomi yang cukup disegani.
Senja di Panarukan kala itu tidak dapat menghapuskan eloknya Panarukan dibalik segala kisah kejayaannya. Aroma kejayaan dan sebagai sebuah kota yang besar masih tercium di tempat ini. Auranya sebagai kota yang berjaya dimasanya, dan sisa-sisanya takkan pernah sirna termakan waktu. Senja sore itu, menutup keingintahuanku bahwa masa lalu akan menjadi masa kini. Dan sejarah masa lalu akan terhapuskan, dan segala pesona kota tua Panarukan akan sirna dengan perlahan.

Selayang Pandang Cilegon

Cilegon. Keberadaan kota ini kalah jauh dengan ketenaran Merak, meskipun secara fisik, kota Cilegon memiliki aktivitas yang lebih besar daripada Merak. Ketika melewati tol Jakarta-Merak, maka orang hanya akan melihat sekilas saja Kota Cilegon, lebih tepatnya orang hanya melihat exit tol Cilegon. Kota Cilegon yang sesungguhnya jarang dilewati orang, kecuali orang yang berkepentingan atau bis-bis malam trayek tujuan akhir Serang-Cilegon-Merak. Kota Cilegon sendiri terletak tidak lebih dari 10 km dari Pelabuhan Merak. Angkutan Kota Cilegon pun sudah menjangkau daerah Pelabuhan Merak. Untuk menuju Cilegon, ada banyak cara. Dari Jogja, sudah banyak Perusahaan Otobus yang melayani trayek Jogja-Cilegon-Merak. Diantaranya PO Rosalia Indah (Semin-Wonosari-Jogja-Jakarta-Merak), PO Santoso (Wonosari/Klaten-Jogja-Serang-Cilegon-Merak), PO Puspa Jaya (Solo-Jogja-Merak-Lampung), PO Sinar Jaya (Jogja-Merak), PO Sumber Alam (Klaten-Jogja-Merak), dan PO Putra Remaja (Jogja-Merak-Lampung-Palembang). Dari Surabaya pun dapat ditempuh dengan PO Rosalia Indah (Surabaya-Jakarta-Merak).
Sebenarnya apa yang menarik dari Cilegon ini? Jika ditanya demikian, banyak orang menjawab bahwa yang menarik dari Cilegon adalah adanya industri raksasa Krakatau Steel yang menjadi industri besi dan stainless steel terbesar se-Indonesia. Dulu, hampir semua produksi stainless steel mengandalkan hasil produksi Krakatau Steel atau lebih dikenal sebagai KS. Berbagai industri skala besar juga bernaung di Cilegon. Dibalik industri-industri besar tersebut, terdapat pesona wisata yang lainnya yang tersimpan dibalik padatnya Cilegon.
Masih ingat dengan Pelabuhan Anyer? Ya, Anyer sendiri menjadi sebuah tempat yang sangat penting pada masa penjajahan Belanda. Maka tak heran kalau Belanda membuat jalur Anyer-Panarukan, jalur yang menghubungkan dua pelabuhan penting, yang sekarang kedua-duanya telah kandas dan hanya menjadi pelabuhan biasa (lihat sekuel Panarukan). Pelabuhan itu sekarang masih ada, dan terletak di sebelah utara  komplek vila daerah Anyer, lebih kurang 5-7 km dari kota Cilegon menggunakan angkot berwarna biru, dan bisa dilihat dari pinggir jalan Cilegon-Anyer. Jalan menuju ke tempat ini sangatlah tidak mulus. Lubang-lubang yang menganga kadang berdiameter antara 1-2 meter. Hal ini lazim karena yang lewat jalan itu adalah truk-truk besar karena daerah itu merupakan daerah industri.
Selain itu, pantai Anyer (bukan Carita) juga bisa menjadi alternatif wisata daerah tersebut. Memandang ke arah laut lepas, bila cuaca bersahabat, akan terlihat dengan jelas Gunung Krakatau. Bersantai sejenak di tempat tersebut, terutama pada pagi hari, cukup membuat hati tenang. Pelataran yang luas, hawa yang sejuk, dan pemandangan gunung Krakatau. Tapi, di pantai ini yang pasti tidak diijinkan untuk berenang. Karena nyaris semua tepiannya berupa batu-batu karang yang besar. Dari Kota Cilegon, dapat ditempuh dengan Angkot Biru dengan tarif Rp 7.500,00 dan cukup berkata pada Pak Sopirnya untuk turun di pantai Anyer.
Selain itu, sopir angkot di Cilegon sangatlah ramah. Jangan takut untuk disesatkan oleh sopir angkot bila sedang bepergian ke Cilegon. Cukup sampaikan maksud dan tujuan bepergian, maka Anda akan ditunjukkan jalur ter-enak. Tarif yang diberikan pun wajar. Pada beberapa kota, mentang-mentang yang naik adalah wisatawan, maka tarif dimahalkan. Yang membuat saya menjadi teringat selalu dengan Cilegon adalah ketika saya naik angkot dari kota Cilegon menuju ke Terminal Merak. saya tidak rugi membayar tarif Rp 6.000,00 karena selain dihantarkan sampai depan terminal persis, padahal penumpangnya tinggal 2 : saya dan teman saya, saya juga diberikan saran dan gambaran kondisi mengenai terminal.
Sebuah kota kecil yang keberadaannya tentu tidak boleh dilupakan. Beberapa perbaikan penting juga perlu dilakukan. Pengembangan wisata di daerah Anyer juga perlu, terutama berkaitan Cilegon sebagai kota industri. Maka, jadilah Cilegon bukan sebagai kota yang terlupakan, melainkan kota yang akan selalu diingat dan dikunjungi.