Kaca Sanesipun

Selasa, 01 Agustus 2017

BALI MAHAL??? Yuk Backpacker ke Bali! (Part 1: Transportasi Masuk ke Bali)

Guys, ke Bali bisa naik apa aja sih guys??

Mau naik bis, bisa banget
Naik pesawat, juga bisa, ada bandara internasional vroh
Naik kapal, juga bisa klo ngana kuat (maap ye, buat ini raga sing ada informasi (saya gak ada informasi) karena belum pernah naik kapal ke Bali :D)
Naik kereta? Weeiiitt sing ngidaaaang (gak bisaaaa), Bali gak ada rel kereta yak

Oke, kita bahas satu-satu


Sub Bagian 1: Naik Bis

Ada banyak bis menuju Bali. Beda tarif, beda fasilitas gan. Berikut nama PO dan asal keberangkatan:

PO Wisata Komodo: Yogyakarta-Denpasar, Purwokerto-Denpasar, Surabaya-Denpasar, dan Surabaya-Singaraja (Bali Utara)
PO Restu Mulya: Madura-Denpasar, Bojonegoro-Lamongan-Denpasar, Surabaya-Denpasar, Trenggalek-Malang-Denpasar, Yogya-Solo-Denpasar, Malang-Padang Bai (Bali Timur)
PO Gunung Harta: Yogyakarta-Solo-Denpasar, Semarang-Solo-Denpasar, Kediri-Denpasar, Ponorogo-Denpasar, Trenggalek-Blitar-Malang-Denpasar, Malang-Denpasar, Magetan-Denpasar, Madura-Denpasar, Surabaya-Denpasar, Lumajang-Jember-Denpasar, Jember-Denpasar
PO Setiawan: Kediri-Mojokerto-Denpasar, Magetan-Denpasar-Padang Bai, Ponorogo-Trenggalek-Malang-Denpasar, Madura-Surabaya-Denpasar, Bojonegoro-Lamongan-Denpasar 
PO Pahala Kencana: Bandung-Denpasar (Via Utara dan Selatan), Jakarta-Denpasar, Jogja-Solo-Denpasar, Semarang-Solo-Denpasar, Malang-Denpasar, Surabaya-Denpasar (Non aktif)
PO Kramat Djati: Bandung-Denpasar, Jakarta-Denpasar
PO Safari Dharma Raya: Temanggung-Jogja-Denpasar, Semarang-Solo-Denpasar, Jakarta-Denpasar-Bima (NTB)
PO Sedya Mulya: Wonogiri-Solo-Denpasar
PO Tami Jaya: Yogyakarta-Denpasar-Padang Bai
PO MJCM: Semarang-Kudus-Denpasar
PO Bejeu: Jepara-Kudus-Denpasar
PO Surya Bali: Jepara-Kudus-Denpasar
PO Santoso (orange): Malang-Denpasar, Surabaya-Denpasar
PO Medali Mas: Malang-Denpasar, Surabaya-Denpasar
PO AKAS Group: Malang-Denpasar, Surabaya-Denpasar, Probolinggo-Situbondo-Denpasar, Jember-Denpasar (yang rutin jalan hanya AKAS IV, AKAS NR, AKAS ASRI)
PO Al Mubarok: Kediri-Batu-Malang-Denpasar (non aktif)
PO Midas Nusantara: Batu-Malang-Denpasar
PO Tiara Mas, Titian Mas, Dunia Mas, Langsung Jaya: Jakarta-Surabaya-Denpasar-Mataram (Sumbawa-Bima)
PO Sarika Ekspress, Madjoe Group, Handoyo: Surabaya-Denpasar (Sarika masih jalan, Handoyo lama tidak kelihatan) 
PO CWM Trans: Surabaya-Probolinggo-Jember-Banyuwangi (Kota)-Denpasar
PO DAMRI: Jember-Denpasar, Surabaya-Denpasar, Malang-Denpasar
PO MTrans: Ponorogo-Trenggalek-Blitar-Malang-Denpasar
PO Malang Indah: Malang-Denpasar (Satu-satunya PO yang menyediakan bis Ekonomi dari Malang dengan tarif 100an ribu rupiah)
Dan lain sebagainya (untuk rute saya kurang update, mohon dibantu koreksi yak)

Banyak kan pilihan transport bisnya, dan tarifnya juga beragam. Yang perlu jadi catatan adalah ingat! terminal di Bali sekarang ada 2, yaitu Ubung dan Mengwi. Untuk keberangkatan dari barat, harap hati-hati. Jika tiba di Bali masih gelap (sebelum subuh, subuh disini jam 05.30 WITA), Anda masih bisa turun di Terminal Ubung, DENPASAR. Tapi, jika sudah siang dan kebetulan bis yang Anda tumpangi tidak punya trayek ke Mataram, Padang Bai, atau NTB, maka besar kemungkinan Anda akan diturunkan di Terminal Mengwi, KABUPATEN TABANAN. Sebelum membeli tiket, tanyakan satu hal: bisa turun di Ubung nggak?

Jika kebetulan Anda turun di Ubung, enak sudah. Banyak opsi angkutan disana. Jika turun di Mengwi, siap-siap saja karena dari Mengwi untuk pergi ke Ubung Anda harus menggunakan APV (tarif beragam, ada yang kena Rp 15.000, ada yang kena Rp 50.000). Sebenarnya Anda bisa langsung ke Kuta dari Mengwi, tetapi tarif harus menawar dulu. Kan ada Trans Sarbagita?? Yak benar, tapi jam berangkatnya tidak jelas dan terkesan ogah-ogahan. Biasanya, bis akan dirazia di Mengwi, semua penumpang harus turun (untuk mengakali, biasanya beberapa bis tidak masuk terminal Mengwi). Makanya, pastikan bahwa Anda bisa turun di Ubung sebelum berangkat!

Ada beberapa bis yang bisa membuat Anda bisa turun di terminal Ubung atau bahkan di tengah kota Denpasar. Berikut listnya (tapi ini tidak jaminan ya, cuma selama saya naik, selalu bisa turun di Ubung, jika ada koreksi, boleh PM saya)

Bis yang punya trayek ke Padang Bai dan Mataram
Tami Jaya, Wisata Komodo, Safari Dharma Raya, Restu Mulya, Gunung Harta, Setiawan

Bis yang punya garasi sekitar Ubung (bilang aja ke kru turun garasi)
Wisata Komodo (Jl Pidada X, belakang terminal ubung), Setiawan, Safari Dharma Raya, Santoso, Medali Mas, Midas Nusantara

Bis yang punya garasi di pusat kota Denpasar (Bilang juga turun garasi Kawe, atau Mahendradatta)
Restu Mulya (Jl Pulau Kawe, dekat dengan Jl Teuku Umar), MTrans (Jl Gurita, Denpasar)

Kalau nggak, naik bis mini jurusan Gilimanuk-Denpasar, jaminan masuk Ubung

INGAT! Kalau naik bis, pastikan turun di Ubung. Setelah dari Ubung, mau naik apa?? Nanti dibahas di part 2 yakk...

Sub Bagian 2: Naik Pesawat

Naik Pesawat...wiihh borjuis...nggak sih, penerbangan Jakarta-Denpasar sama Jogja-Denpasar yang Rp 400-500 ribu juga banyak kok..

Yak, Bandara di Bali cuma satu, yaitu Bandara Internasional Ngurah Rai. Yup, mungkin ini salah satu dari beberapa bandara tersibuk di Indonesia yak. Dari Ngurah Rai ini datang pesawat dari segala tujuan dan segala penjuru dunia. Nyaris semua maskapai punya rute ke Denpasar ini. Bahkan beberapa maskapai menjadikan Ngurah Rai ini sebagai hub untuk keberangkatan ke Indonesia Bagian Timur selain Makassar (UPG).

Ane rasa gak akan ada kerumitan ya, kecuali nanti Bandara Bali Utara jadi dibangun (wetseh, ini bandara keren, katanya mau dibikinin pulau reklamasi di pantai utara Bali)

CUMA INGAT!! Bandara Ngurah Rai (DPS) ini terletak di daerah Selatan Bali. Yak, lebih tepatnya Kabupaten Badung. Jadi.....agak jauh klo mau ke pusat kota Denpasar, tetapi dekat kalau mau ke Kuta, Jimbaran, Uluwatu, Dst-Dst (Pun dengan ada tol, dari Ngurah Rai ke Renon butuh lebih dari 35 menit, apalagi kalau macet).
Perlu DIINGAT LAGI!! Bahwa sekitar Bandara ini macet, so rencanakan trip kalian dengan matang supaya gak ketinggalan pesawat!!

Sub Bagian 3: Naik Kereta

Lhooo katanya gak bisa???
Okesip, banyak yang mencoba cara ini, dan hasilnya ternyata cukup mengejar tarif bis juga (bis ekonomi sekalipun)

Caranyaa??? Naik kereta sampai Banyuwangi, sambung kapal, sambung naik bis Gilimanuk-Ubung
Atau, coba searching tiket Surabaya-Denpasar di website KAI atau aplikasi KAI, akan ada KA Mutiara Timur Malam (Sby-Bwi pakai kereta, bwi-dps pakai bis).

Soooo, jelas yak ke Bali naik apa aja?? Yang murah yang mana??? Ya sampeyan bisa browsing sendiri. Tidak selamanya naik bis lebih murah. Tidak selamanya naik kereta lebih murah. Kadang naik pesawat bisa free (cari promo deh, pasti ada)

SELAMAT BERPETUALANG -lanjut part 2 yakk

Senin, 04 Januari 2016

Jangan Lupa Menjangan

Ke Bali? Kemana aja sih? Kuta? Halah biasa!!!
Danau Bedugul??? Halaaahhh biasa juga!!
Shopping Shopping di Legian??? Halah biasa juga sih!!
Terus kemana??

Ada salah satu surga snorkelling yang cukup dilupakan ketika berkunjung ke Bali. Biasanya sih, untuk snorkelling dan diving, tempat di Bali yang cukup terkenal hanya ada 2, yaitu Nusa Penida dan Benoa. Ada spot baru di daerah Bali Timur, tapi belum sebaik dan seindah di Nusa Penida. Nah, apa sih yang dipikirkan dengan Bali Barat (Negara, Jembrana)? Pelabuhan Gilimanuk? Rumah Makan Bidadari? Ayam Betutu? Hanya itu saja? Yakiiiinnn???

 Pulau Menjangan dari sisi Barat

Perjalanan laut dari Pelabuhan Banyuwedang

Yap, di Bali Barat ada Taman Nasional Bali Barat, atau sering disingkat menjadi TNBB. TNBB ini sebelumnya lebih terkenal sebagai pusat penangkaran satwa khas Bali: Jalak Bali. Siapa yang tahu kalau di dalam area TNBB ini ada surga snorkelling? Ya, dialah Pulau Menjangan. Pulau Menjangan ini termasuk dalam area TNBB. Pulau Menjangan lebih terkenal dengan keberadaan Pura-nya yang sering digunakan beribadah Umat Hindu.
Menikmati perjalanan penyeberangan dari Watudodol, Banyuwangi

Yaaa kalau yang pernah searching sih pasti taunya Menjangan itu identik dengan dermaga-dermaga yang indah, pasir yang putih, Ternyata oh ternyata, lautan di sekitar Menjangan menyimpan panorama laut yang luar biasa indah, baik sekedar untuk snorkelling atau diving. Ceritanya, dulu daerah Pulau Menjangan menjadi area eksploitasi ikan besar-besaran, terutama ikan hias dan terumbu karang. Cara menangkap ikannya pun sadis, yaitu dengan di bom. Sehingga lingkungan sekitar menjadi rusak. Berkat peran serta masyarakat peduli lingkungan dan pemerintah, nelayan setempat disadarkan tentang perlunya menjaga ekosistem laut. Hingga akhirnya kawasan Pulau Menjangan menjadi area konservasi ikan yang sangat indah. Bahkan ikannya pun sangat banyak, terumbu karangnya juga lumayan bagus.

 Pemandangan dari atas kapal di Pulau Menjangan

Spot Snorkelling Pos 2 Pulau Menjangan

Dalam blog ini akan dibahas mengenai cara menuju ke Menjangan dan bagaimana cara menikmati Menjangan. Selamat membaca :D

Akses Penyeberangan

Karena Menjangan adalah sebuah pulau, bukan sebuah hewan :D, maka diperlukan akses penyeberangan untuk tiba di Pulau Menjangan. Setidaknya, ada 3 spot penyeberangan yang terdekat dari Pulau Menjangan. 2 spot di Pulau Bali, dan 1 spot ada di Pulau Jawa. Spot yang di Pulau Bali yaitu dari spot Pelabuhan Lalang, atau Pelabuhan Banyuwedang. Sedangkan dari Pulau Jawa ada di daerah sekitar Pantai Watudodol.

Pelabuhan Lalang

Berada sangat dekat dengan Pelabuhan Gilimanuk, lebih kurang 15 menit perjalanan dengan mobil ke arah Singaraja melalui jalan Gilimanuk-Singaraja (ke arah utara). Pelabuhan Lalang ini terletak di tepi jalan akses Gilimanuk-Singaraja dengan tulisan yang terpampang jelas. Sehingga, dari Denpasar bisa naik bis ke Gilimanuk dulu, baru nanti naik ojek, atau dari Gilimanuk bisa menggunakan bis jurusan Singaraja. Untuk menuju ke Menjangan bisa melalui Pelabuhan Lalang ini. Fasilitasnya cukup lengkap, terdapat beberapa warung makan yang siap melayani pengunjung. Jumlah perahu yang dipakai juga banyak. Menyeberang dari Pelabuhan Lalang ke Pulau Menjangan dibutuhkan waktu sekitar 30 menit (1 jam PP). Biasanya, waktu sewa kapal dibatasi dalam hitungan jam saja, dan biasanya sekitar 4-5 jam saja.  

Aspek Positif:
Akses dari jalan besar langsung, sehingga kalau naik kendaraan umum bisa langsung turun di depan area Pelabuhan Lalang secara langsung. Bagian information center juga ramah. Jumlah armada perahu banyak. Tempat bilas bagus dan bersih

Aspek Negatif:
Dari 2 penyeberangan dari Bali ke Menjangan, Pelabuhan Lalang ini memasang harga yang lumayan tinggi dan kalau ditawar turunnya hanya sedikit. Waktu penulis berkunjung kesana dan terlibat tawar-menawar, untuk rombongan 8 orang, total keseluruhan per orang harus membayar Rp 320.000,00 sudah all in (kapan 5 jam, 3 spot snorkelling di Menjangan, Guide, snorkelling set, Fin, life jacket). Tawar menawar tipis hanya jadi Rp 290.000,00 per orang. Selain itu, jarang ada penginapan di Lalang ini, penginapan terdekat ada di Gilimanuk.

Pelabuhan Banyuwedang

Berada di daerah Bali Barat juga, namun lebih ke utara jika dibandingkan Pelabuhan Lalang, lebih kurang 30 menit perjalanan menggunakan mobil dari Gilimanuk. Atau sekitar 2 jam perjalanan dari Singaraja. Lokasinya lebih masuk ke dalam, sehingga dari jalan utama Gilimanuk-Singaraja harus menggunakan ojek. Lokasinya berada di belakang hotel-hotel yang ada di Banyuwedang. Sekedar informasi, di Banyuwedang ini terdapat banyak hotel yang menyediakan fasilitas air panas karena memang Banyuwedang ini memiliki sumber air panas. Selain itu, Banyuwedang terdapat di sebuah teluk dan dikelilingi dengan tanaman bakau pantai. Sehingga ombak dan anginnya tidak terlalu ganas. Sistemnya sama dengan di Lalang, yaitu menghubungi information center di samping warung makan, kemudian hitung-hitungan biaya dengan guide langsung. Biasanya biayanya terpisah-pisah, sama dengan Lalang: biaya sewa kapal per 5 jam, guide + sewa kamera underwater (tidak wajib), sewa snorkelling set + life jacket + fin, tiket masuk TNBB, dan ijin masuk area konservasi. Untuk penyeberangan melalui Lalang dan Banyuwedang, semuanya dikenakan biaya ijin masuk area konservasi yang tidak murah (mungkin sekitar Rp 100-150 ribu per rombongan). Untuk lama menikmati snorkellingnya sama dengan dari Lalang, 5 jam dan 3 spot snorkelling tergantung cuaca dan arus ombak.

Aspek positif:
Ada satu warung makan yang cukup representatif. Guide ramah, asyik, dan berpengalaman, bisa nego untuk biaya guide dan sewa kamera underwater. Tempat bilas representatif disertai dengan air panas langsung dari sumber. Alat-alat snorkelling juga dalam kondisi cukup baik. Tempat yang dikunjungi tidak cuma pelabuhan Banyuwedang, tapi di sekitarnya ada penangkaran rusa dan sumber air panas yang bisa digunakan untuk mandi. Untuk ukuran penyeberangan dari Bali, Banyuwedang yang paling murah karena per orang jatuhnya Rp 250.000,00 untuk rombongan 8 orang sudah termasuk sewa kamera underwater dengan kualitas foto yang wow! Guidenya juga ramah dan kru kapalnya juga enak.

Aspek negatif:
Tempat bilasnya sangat terbuka karena hanya berupa pancuran, sedangkan tempat gantinya seperti kurang terawat, tidak ada lampu, dan baunya pesing. Biaya makan di warung cukup mahal, karena memang konsumennya rata-rata Bule. Warung juga cuma ada 1 saja di area tersebut. 

Penyeberangan Watudodol

Watudodol ini terletak di Pulau Jawa, tepatnya di sebuah kabupaten yang mendapatkan julukan 'Sunrise of Java', yaitu Kabupaten Banyuwangi. Sangat dekat dari Pelabuhan Ketapang, sekitar 20 menit perjalanan dengan mobil. Dan hanya 30 menit dari Taman Nasional Baluran. Lokasinya berada persis di tepi jalur utama Surabaya-Situbondo-Banyuwangi. Sehingga, akses dengan kendaraan umum sudah pasti gampang. Dari Surabaya tinggal naik bis jurusan Ketapang dan minta turun di Watudodol. Dari Banyuwangi juga bisa ikut bis jurusan Surabaya via Situbondo atau dengan bis jurusan Muncar-Situbondo dan minta turun di Watudodol. Beda dengan Lalang dan Banyuwedang, penyeberangan melalui Watudodol ini disebut sebagai 'ilegal' oleh orang-orang dari Banyuwedang dan Lalang. Entah kenapa, tapi yang penulis tangkap demikian. Mungkin karena tidak dikelola oleh TNBB atau bagaimana, tetapi semuanya tetap harus membayar tiket masuk ke TNBB di Pulau Menjangan. Ada yang berbeda jika dibandingkan dengan penyeberangan di Lalang dan Banyuwedang. Watudodol adalah tempat terdekat dari sisi Jawa jika ingin mengunjungi Menjangan. Selain itu, biaya yang dikeluarkan bisa jauh lebih murah dan mendapatkan jatah makan siang 1 kali. Selain tidak perlu mengeluarkan biaya Ferry Ketapang-Gilimanuk PP jika dari Jawa, biaya sewa kapal dan perlengkapan pun juga lebih murah. Berikut rincian biaya masuk dari Watudodol per Desember 2015:
Biaya sewa kapal Menjangan 3 spot + Pulau Tabuhan = Rp 1.000.000,00 + Rp 200.000,00
Biaya sewa snorkelling set + Fin = Rp 25.000,00
Biaya masuk TNBB = Rp 25.000,00
Sewa Guide + kamera underwater (BPro) = Rp 200.000,00
Total per orang hanya kena Rp 220.000,00 sudah termasuk makan siang (lauk tahu, mie, oseng tempe pete, ayam sambal), snorkelling 3 spot (Pura Menjangan, pos 2, pos 3), Pulau Tabuhan, dan penangkaran Hiu Bangsring. 
Selain itu, pengelola juga menawarkan paket Rp 250.000,00 untuk rombongan 10 orang dengan fasilitas sama dengan diatas, tetapi tambah makan 1 kali bakar-bakar ikan di Menjangan.

Aspek Positif:
Pintu terdekat dari Jawa. Biaya juga lebih murah, tidak perlu bayar penyeberangan Ketapang-Gilimanuk. Akses sangat mudah di tepi Jalan Surabaya-Bali. Dapat makan siang. Total waktu snorkelling di spot bebas, sewa perahu tidak dibatasi jam (waktu itu penulis berangkat dari Watudodol jam 08.30 dan tiba kembali di Watudodol jam 15.30). Bisa mampir ke penangkaran Jalak Bali yang hanya terletak di seberang Watudodol. Guide dan kru kapal juga sangat ramah dan profesional.

Aspek Negatif:
Perjalanan dengan perahu ke Menjangan lebih jauh, sekitar 45 menit. Tempat bilas kurang memadai, jadi harus mencari pom bensin supaya bisa mandi-mandi dan bilas-bilas. 

Apa yang dilakukan di Menjangan?

Apa saja sih yang bisa dilakukan di Menjangan? Selain snorkelling dan diving, ada aktivitas lain yaitu beach walking dan mengunjungi Pura Menjangan. Weits, nanti dulu, karena Pura adalah tempat ibadah dimana setiap pengunjungnya harus berpakaian sopan, maka mintalah terlebih dahulu kepada kru kapal dan guide untuk mengunjungi Pura terlebih dahulu sebelum melakukan aktivitas snorkelling. Sebagai informasi, Pura ini dapat dikunjungi ketika tidak sedang dalam masa peribadatan umat Hindu karena jika saat masa peribadatan, biasanya Pura sangat ramai. Ingat, berlakulah sopan saat berkunjung ke Pura. Berpakaian yang layak dan jaga omongan.



Pemandangan di Spot Snorkelling Pos 3

Selain mengunjungi Pura, bisa juga mengunjungi beberapa pantai pasir putih yang ada di beberapa sisi Pulau Menjangan. Sekedar foto-foto di dermaga yang selfieable juga menjadi aktivitas yang sangat menarik. 



Pemandangan di Spot Snorkelling Pos 2

Untuk snorkelling, spot paling menarik adalah pos 2. Terumbu karangnya bisa dikatakan yang terbaik dari semua spot yang ada di Pulau Menjangan. Selain itu, jumlah ikannya sangat banyak dan berbagai macam. Selain melihat terumbu karang, juga ada sebuah tebing yang curam, namun ditumbuhi banyak terumbu karang yang sangat indah dan beberapa jenis ikan yang sangat indah. Pokoknya bagus wes, lebih oke daripada Karimun Jawa. 


 Pemandangan di spot snorkelling Pos Retribusi TNBB (Ikan Hias)

Sampah laut di sekitar pos retribusi TNBB, banyak ubur-ubur

Selain snorkelling, pengunjung juga bisa Diving. Hanya saja untuk Diving akan dikenakan biaya yang berbeda. Kalau tidak salah,untuk diving dikenakan biaya Rp 850.000,00 per orang untuk 3 spot dan oksigen untuk 3 jam. Baik dari Lalang, Banyuwedang, maupun Watudodol semuanya sama biayanya. Menyelam di kedalaman sepertinya sangat menarik, apalagi Pulau Menjangan ini dikelilingi oleh palung-palung yang lumayan dalam dimana dindingnya ditumbuhi oleh terumbu karang. Makin dalam, terumbu karang yang ada makin menarik.

Bagaimana? Menarik bukan Pulau Menjangan? Sangat mudah juga tentunya untuk berkunjung ke Pulau Menjangan, aksesnya sangat mudah dan jelas. Tapi, sebaiknya datanglah kesana secara berombongan, karena jika datang hanya sendirian atau berdua, tentu akan menghabiskan sangat banyak biaya. Untuk menunggu joinan orang pun juga kemungkinannya sangat kecil karena jika tidak terlalu ramai, biasanya jumlah pengunjung tidak terlalu banyak. Atau jika ingin berkunjung kesana tapi personel terbatas, ada cukup banyak opentrip yang ditawarkan dan diberangkatkan dari Jember, Malang, atau Surabaya dengan tarif beragam antara Rp 450.000-650.000,00 (biasanya sepaket dengan Menjangan, Tabuhan, Bangsring, Kawah Ijen, Baluran).

Selamat berjalan-jalan!

Disclaimer! Foto-foto underwater adalah karya sendiri yang diambil dengan ASUS Zenfone 5 yang dibalut dengan chasing underwater DiCAPac. No tipu-tipu, tanpa edit. Pemandangan aslinya lebih bagus daripada di foto, sumfah!

Kamis, 22 Januari 2015

Trip Awal Tahun: Menjelajah Secuil Sulawesi Makassar, Tour de Celebes

Hola halo...apa kabar? Setelah hampir setahun terkurung dalam goa dan bergelut dengan bau jigong pasien, akhirnya berhasil membuat sebuah short escape setelah lewat Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial. Meskipun selama setahun sempat curi-curi pandang, tetapi trip awal tahun ini menjadi sesuatu yang dinanti-nanti.

Setelah sukses trip Jogja-Singapura-Kualalumpur-Medan-Toba-Jakarta awal tahun 2014, kali ini trip Surabaya-Makassar-Bira-Makassar-Toraja-Makassar juga lumayan mendulang sukses dan penghiburan dibalik minimnya pasien di klinik.

Berawal dari telpon ibu sekitar bulan Oktober 2014, saat baru saja masuk Departemen Bedah Mulut.
"Kamu Januari awal kosong nggak?"
"Kalau jadwalnya sih kosong, bu."
"Ya udah, temenin ibuk ke Toraja, untuk hadir ke pemakaman Ibunya Bu Payung Tasik (kerabat dekat keluarga). Kemarin diundang jhe. Nggak enak kalau nggak dateng."
"Siap thok. Pokoke dibayari. Duitku tipis."
"Okee..."

Semenjak itu, browsing via internet terus dilakukan. Jadi, trip kali ini hampir full dibayari: tiket pesawat PP, hotel di Makassar, dan hidup di Toraja. Tanjung Bira ini saya jadikan tour sampingan, kan rugi kalau udah di Makassar nggak sekalian ke Bira. Jadilah budget yang sedianya mau saya kumpulin buat beli lensa macro zoom-lens dan 'idep-idep nyelengi' buat trip Rinjani-Komodo jadi  biaya trip tambahan ke Bira ini. 

Awalnya masih ragu, mau ke Bantimurung-Bulusaraung dan air terjun di Maros, atau Bira. Tapi karena tersepona kemolekan Bira, saya menyempakatkan diri ke Bira. Toh transportnya juga mudah. Meskipun pada akhirnya harus menelan pil pahit gara-gara cuaca buruk dan tidak bisa snorkelling atau diving. Awalnya sih malah mau ke Selayar sekalian. Kalau jadi ke Selayar, bisa nangis di lautan ntar, cuacanya buruk.

Hingga akhirnya trip dapat dilakukan mulai Selasa, 6 Januari 2015 pukul 04.00 dan diakhiri tepat di kos tercinta pada hari Senin, 12 Januari 2015 pukul 07.20.

Meskipun demikian, rasa syukur tak terhingga patut dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas kesempatan yang boleh diberikan untuk kembali menikmati, menghayati, dan mengagumi secuil demi secuil Indonesia. Kapan lagi kalau bukan sekarang, ketika masih muda dan energik? Pasti ada yang akan dikorbankan, tetapi pengorbanan selalu terbayar dengan sesuatu yang lebih baik.

Akhir kata, selamat menikmati laporan saya, dalam bentuk report touring atau narasi deskriptif. Semoga membawa Anda sekalian turut merasakan berdinamika di Bira, Makassar, dan Toraja. Selamat membaca, selamat berdinamika, dan selamat kepengin. 

Semoga trip mendatang ada uang dan lebih baik lagi! Keep travelling. Jangan sampai klinik mengganggu travelling.

Artikelnya banyak sekali, makanya saya buat demikian ini. Biar semuanya terbaca dan kesinambungannya ada.

Reportase Perjalanan Surabaya-Makassar-Bira-Makassar-Toraja-Makassar

NB dibaca yang runtut, karena tiap harinya akan selalu ada kejutan


Mengenal sedikit lebih jauh Tanjung Bira


Mengenal sekilas mengenai Toraja

Tujuan wisata Toraja, kesana naik apa, apa makanan khasnya, semuanya ada disini.


Tiba di Makassar, lalu bingung mau kemana? Lihat ini


Ada pertanyaan, kritik dan saran? Silakan post di kolom komentar. Untuk fast respon bisa hubungi saya di nomor dan email yang tertera. Keep travelling!

Menjelajah Toraja dan Sekitarnya: The Amazing Grave

Amazing grave how sweet the sound. That saved a wretch like me. I once was lost but now i’m found. Was Blind but now I see

Tentu cuplikan lagu di atas bukanlah lagu Amazing Grace karya John Newton yang dinyanyikan oleh Il Divo atau Josh Grobogan...maksudnya Josh Groban. Karena kalau lagu Amazing Grace pasti awalnya juga Amazing Grace, lah ini Amazing Grave. Artinya? Kuburan yang menakjubkan. Lantas, kenapa diberi judul dengan Amazing Grave? Karena di Toraja, baik Kabupaten Toraja Utara (Torut) atau Kabupaten Tana Toraja (Tator) banyak terdapat kuburan-kuburan yang luar biasa menakjubkan, baik yang berbentuk rumah yang tersebar di tepi-tepi jalan, atau yang berbentuk tebing, goa, dan batu yang berlubang. Pun jika Anda berkunjung ke Toraja, jangan harap ada wahana sejenis Trans Studio atau Dufan. Yang ada hanyalah wisata peziarahan ke kuburan-kuburan yang super menakjubkan.


Sekilas Mengenai Toraja

Toraja, orang-orang sering menyebutnya. Tidak spesifik Toraja yang mana karena saat ini Toraja ada dua. Tapi, yang jelas semuanya masih menjadi satu, hanya terpisah menjadi dua dengan alasan administratif saja.

Toraja, seperti yang dijelaskan di awal, terdiri dari Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara. Keduanya terletak di Provinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten Toraja Utara sendiri merupakan sebuah wilayah hasil pemekaran Kabupaten Tana Toraja pada tahun 2008. Kabupaten Tana Toraja memiliki pusat pemerintahan di Makale. Sedangkan Kabupaten Toraja Utara memiliki pusat pemerintahan di Rantepao. Kedua pusat pemerintahan merupakan kota yang cukup besar dan rame. Perbedaannya hanya pada ciri khas pusat kotanya saja. Jika Makale, pusat kotanya berupa sebuah danau dengan patung Lakipadada dengan dikelilingi pusat pemerintahan, gedung DPRD, sekolah, gereja, beberapa pertokoan, dan jauh di belakang ada Pasar Makale. Sedangkan Rantepao memiliki karakter yang berbeda, tidak ada danau di tengah kota, tetapi hanya berupa jalan-jalan besar saja. Rantepao memiliki karakteristik kota yang mirip dengan kota-kota kecil di Jawa. Meskipun bentuk kotanya beda, tetapi kedua kota ini sangat ramai, meskipun pada beberapa waktu lebih ramai Rantepao daripada Makale.

Toraja, baik Tator maupun Torut sebagian besar dihuni oleh masyarakat asli Suku Toraja. Sebagian kecil merupakan pendatang, yang biasa dan selalu demikian, dari Jawa dan Madura. Mayoritas masyarakat Toraja beragama Kristen dan Katolik. Sehingga tidak heran jika gereja Kristen dan Gereja Katolik tumbuh menjamur di banyak sudut. Ada juga Masjid, tetapi jumlahnya tidak seberapa. Ada 1 masjid besar yang terdapat di pusat kota Makale.

Karena mayoritas beragama Kristen-Katolik, sudah jelas mayoritas menu makanan yang tersedia disana adalah menu makanan non halal karena mengandung babi. Nyuk Nyang (bakso) Babi, sate babi, piong babi bertebaran dimana-mana. Meskipun demikian, masih terdapat cukup banyak juga pedagang makanan halal yang sudah pasti menyajikan makanan dengan daging ayam ataupun sapi. Biasanya, penjual makanan halal ini adalah pendatang dari Makassar yang berjualan Coto, Konro, atau Sop Saudara. Juga pendatang dari Jawa dan Madura yang biasanya berjualan gorengan, martabak, sate madura, soto madura, gado-gado, bakso sapi, mie ayam, dan penyetan.
Masjid dan gereja berdiri berhadapan

Meskipun nyaris semua beragama Kristen-Katolik, tetapi pada awalnya masyarakat Toraja tidak pure memeluk agama Kristen-Katolik sejak awal, sama seperti daerah-daerah lainnya yang awalnya menganut kepercayaan, animisme, dan kemudian pada masa kerajaan maupun penjajahan kemudian keyakinannya diubah. Masyarakat Toraja awalnya merupakan penganut animisme, yang disebut sebagai Aluk, meskipun sebenarnya Aluk ini bukan murni sebuah kepercayaan, tetapi lebih pada sistem tatanan kehidupan yang sistematis. Pada perjalanannya di tengah era kolonial Belanda, sekitar tahun 1950, sebagian kecil masyarakat Toraja mulai berpindah ke agama Kristen. Kemudian seiring berjalannya waktu, pemerintah mengeluarkan peraturan bahwa warga negara Indonesia harus memeluk kelima agama yang diakui oleh Indonesia dan kepercayaan Aluk To Dolo yang ada di Toraja ini diakui sebagai agama Hindu Dharma. Maka, sebagian warga suku Toraja masuk ke Hindu Dharma, dan sebagian besar ke Kristen-Katolik. Masuknya sebagian besar warga suku Toraja ini juga tidak lepas dari perjalanan sejarah suku Toraja, yang mungkin bisa dibaca tersendiri pada buku-buku yang banyak beredar.

Toraja merupakan sebuah daerah pegunungan dengan ketinggian beragam. Maka tidak heran jika banyak bukit-bukit di Toraja. Daerah pegunungan inilah yang membuat hawa di Toraja sejuk dan cenderung dingin. Terpeliharanya lingkungan sekitar juga mendukung suasana sejuk, masih banyak pepohonan rimbun, dan bagunan-bangunan yang dibuat juga sangat disesuaikan dengan kontur. Selain bukit-bukit, juga terdapat beberapa patahan yang tinggi menjulang, bahkan sampai di tepi jalan-jalan. Nampaknya, meskipun berbukit-bukit, rupa-rupanya beberapa bukit tersebut adalah bukit kapur. Titik tertinggi Toraja adalah di Batutumonga, dengan ketinggian sekitar 1300-1500 mdpl, dimana di tempat ini dapat terlihat dengan jelas Kota Makale, Kota Rantepao, dan Palopo.

Apa saja yang bisa dikunjungi di Toraja?


Seperti yang telah dikatakan di awal, mengunjungi Toraja adalah wisata peziarahan, wisata budaya, dan wisata kearifan lokal. Jangan harap di Toraja ada wahana permainan serupa Dufan dan lain sebagainya, water park, dll.


Selain mengunjungi tempat di atas, Anda bisa juga mengunjungi Batutumonga yang terletak di ketinggian 1300-1500 mdpl. Dari tempat ini, Anda dapat melihat 3 kota sekaligus: Makale, Rantepao, dan Palopo. Dapat ditempuh dengan 1 jam perjalanan dari Rantepao, tentu harus menggunakan kendaraan pribadi. Arahnya sebenarnya searah dengan Situs Pallawa dan Kalimbuang Bori’.

Selain itu, Anda yang beragama Kristen dan Katolik dapat melihat ikon baru Toraja Utara: Patung Salib Bersinar di atas bukit bertuliskan Toraja Utara. Kabarnya, salib tersebut akan digarap lebih serius dan dibuat seperti Patung Yesus di Rio de Janerio.

Masih banyak obyek lainnya yang bisa juga dikunjungi, namun rata-rata semuanya hampir sama, berupa makam. Waktu 3 hari adalah waktu yang ideal untuk ‘menghabisi’ dan ‘menghayati’ Toraja.

Selain melihat obyek tersebut, apa ada hal lain yang bisa dilihat?

Seperti dibicarakan di atas, Toraja adalah sebuah suku yang sangat sarat dengan upacara adat. Ada banyak sekali upacara adat yang dapat Anda lihat. Setidaknya ada 3 upacara yang masih sering dilakukan: Upacara Kematian (Rambu Solo), Upacara Syukuran Tongkonan, dan Ma’Nene’ (Mayat berjalan). Ketiga upacara ini banyak dilakukan sekitar bulan Agustus dan Desember-Januari, mengikuti hari libur anak sekolah. Kecuali Ma’Nene’ yang biasa dilakukan di bulan Agustus. Ketika musim perayaan/pesta tiba, biasanya seluruh masyarakat Toraja akan menghentikan seluruh kegiatannya, termasuk bekerja. Sawah-sawah tidak akan digarap sampai bulan pesta berlalu.



Ma’Nene’, Sang Mayat Berjalan

Mayat berjalan ini, sepertinya, tidak hanya terdapat di Toraja. Budaya yang mengerikan ini sudah sangat jarang dilaksanakan di kota. Namun, di daerah-daerah pedalaman Toraja masih dilaksanakan.
Seperti yang diketahui sebelumnya. Jenazah di Toraja, selalu dimumifikasi (diawetkan), mengingat upacara pemakaman tidak dilaksanakan langsung. Mayat yang dimumifikasi ini seharusnya membusuk di kemudian hari. Namun, masih ada beberapa jenazah yang justru menjadi mumi. Mumi ini, oleh keluarga, kadang ingin diganti peti dan bajunya. Untuk mengganti peti dan baju, maka harus diadakan upacara lagi, salah satunya adalah upacara Ma’Nene’ ini. Upacara yang dilakukan, juga sebesar upacara kematian saat almarhum akan dimakamkan dulu. Dalam upacara ini, mumi dibacakan mantra-mantra tertentu yang membuat jenazah tersebut dapat berdiri dan berjalan, 1-2 meter saja.

Kegiatan Ma’Nene’ ini sangat jarang dilakukan. Pun dilakukan hanya sekitar bulan Agustus dan biasanya dilakukan di daerah-daerah pedalaman.

Selama disana, apa makanan yang bisa dimakan?

Ada banyak sekali makanan yang bisa dimakan disana. Yang cukup khas disana adalah kalau tidak ikan ya babi. Kok ada ikan? Ikan biasanya dikirim langsung dari Pangkep atau dari Pare-Pare dengan pick up. Selain ikan, ada menu lainnya, yaitu ayam, sebagian kecil sapi (karena sapi sangat jarang disini), dan Kotte’ (dibaca kotek, artinya bebek).

Jika makan di Toraja pasti akan stress, karena semua menunya terdiri dari babi. Bagi penggemar babi, terutama yang beragama non-Muslim, ada 3 menu babi yang wajib Anda coba: Piong Babi, Sate Babi, dan Nyuk Nyang Babi.



Bagi Anda yang haram mengkonsumsi babi ada banyak pilihan menu disana. Di daerah Rantepao dan Makale ada banyak yang berjualan Coto, Konro, dan Sop Saudara. Penjualnya rata-rata pendatang dari Makassar. Ada juga penjual Warung Muslim, baik di Rantepao ataupun di Makale. Di Rantepao ada sebuah warung Muslim dengan menu bakso, mie ayam, penyetan, gado-gado, dan nasi campur dengan harga RP 21.000,00 sekali makan termasuk minum. Penjualnya perantau dari Solo, Jawa Tengah. Di Rantepao juga ada warung makan padang. Di Makale, jika sore, tersedia Sate dan Soto Madura di dekat tempat nongkrong tepi danau. Harganya cukup terjangkau, Rp 18.000,00 untuk seporsi sate/ soto plus nasi. Atau jika masih bingung, makan saja di tempat nongkrong sore di samping danau tengah kota Makale. Tersedia banyak menu halal disana, sembari nongkrong cantik sore-sore melihat orang-orang Toraja lari sore. Weits, orang Toraja cantik-cantik dan ngganteng-ngganteng lho.

Oleh-oleh khas apa yang pantas dibawa?

Toraja adalah daerah yang unik dengan keragaman kuliner. Anda bisa membawa pulang makanan-makanan kering khas Toraja, misal Kue Tori yang memang sangat khas Toraja dan tidak mudah basi. Atau bisa juga membeli kain dan pahatan khas Toraja yang banyak dijual di Pasar Makale.
Satu lagi yang sangat terkenal adalah kopi Toraja. Ada satu toko kopi yang boleh direkomendasikan untuk kopinya. Yaitu Warung Kopi Toraja.


Selama di Toraja naik apa?

Jika kantong Anda cekak, secekak apapun, kurang disarankan naik angkutan umum semacam angkot dan lain sebagainya. Selain tidak luwes, jumlahnya pun sangat minim. Mending sewa sepeda motor saja, toh jatuhnya juga hampir sama dengan naik angkutan umum. Jika Anda berombongan cukup banyak, bisa juga sewa mobil. Biaya per hari all in yang wajar di Toraja adalah antara Rp 400-500 ribu untuk 12 jam++.  Biaya tersebut sudah termasuk driver dan bensin, dan Anda akan dijemput dan diantar dari dan ke hotel tempat menginap. Jika Anda memaksakan naik angkutan umum, maka harus siap fisik yang kuat, karena beberapa objek harus berjalan cukup jauh dari jalan utama.

Bagaimana cara menuju Toraja?

Untuk menuju Toraja, Anda harus menuju kota terbesar dan terdekat, yaitu Makassar. Ada sangat banyak sekali penerbangan dari dan ke Makassar. Garuda Indonesia saja melayani 3x penerbangan sehari dari Surabaya-Makassar PP dan 2x sehari penerbangan Jogjakarta-Makassar. Lion Air malah sekitar 7 kali Surabaya-Makassar PP. Tentu sangat mudah menuju Makassar.

Dari Makassar, ada 4 pilihan: naik mobil plat kuning, charter mobil, naik bus, atau naik pesawat.

Penerbangan dari Makassar ke Toraja dilayani 2 kali seminggu, kalau tidak salah sekitar hari selasa dan Jumat dan dilayani oleh pesawat dari maskapai SMAC dengan kapasitas 20 kursi. Perjalanan sekitar 55 menit dari Bandara Hasanuddin ke Bandara Pongtiku di Tana Toraja.

Jika memilih menggunakan mobil plat kuning, maka Anda harus oper-oper. Anda harus naik bis transfer DAMRI keluar bandara. Dari luar bandara, disitulah jalan poros Makassar-Maros. Disitu Anda mulai naik mobil plat kuning ke Pare-Pare. Biasanya Anda akan ditawari untuk langsung ke Toraja dengan tarif tertentu. Jika Anda tidak cocok harganya, Anda bisa pindah di Pare-Pare mencari mobil plat kuning Pare-Pare-Makale. Dari Makale, jika Anda ingin menginap di Rantepao, Anda harus naik mobil plat kuning Makale-Rantepao lagi. Untk masalah harga, bisa jauh lebih murah dengan cara sambung-sambung demikian. Mungkin sekitar Rp 120.000,00 sudah bisa sampai Rantepao. Tetapi masalah efisiensi waktu tidak masuk sama sekali.

Jika memilih charter, ada banyak pilihan charter mobil di Bandara. Mulai dari Avanza sampai Innova ada semua. Untuk biaya charter sekitar Rp 1,2-1,8 juta per mobil tergantung jenis mobil dan kemampuan menawar. Sebaiknya melalu chater resmi yang ada di bandara. Atau jika ragu, bisa menggunakan jasa sewa mobil swasta, seperti TRAC Astra.
 Bis-bis Makassar-Toraja bagus-bagus dan berangkat sehari 2 kali

Atau misalkan Anda ingin biaya yang lebih murah lagi, Anda bisa memanfaatkan jasa bis. Bis tersedia dari margin harga Rp 100.000-210.000, tergantung kelas dan fasilitas. Jika ingin yang paling murah, bisa memakai jasa PO Batutumonga atau PO Litha&Co ekonomi class dengan tarif Rp 100.000-120.000,00. Bis tersebut biasanya berangkat agak sore, sekitar pukul 19.00 dan pagi sekitar pukul 07.00. Meskipun ekonomi, tetapi seatnya tetap 2-2. Jika Anda sedikit berduit, maka naiklah bis-bis Mercedes-Benz non air suspension dengan harga rata-rata RP 150.000-170.000 tergantung POnya. Atau jika lebih berduit lagi dan ingin kecepatan dan kenyamanan, naiklah VIP Class 32 seat Air Suspension dengan harga tiket Rp 170.000, Eksekutif Class 28 Seat dengan harga Rp 190.000,00, atau Super Eksekutif dengan seat electric dengan harga Rp 210.000. Khusus untuk seat electric, hanya PO Primadona dan Manggala Trans saja yang memiliki. PO-PO yang melayani jalur tersebut adalah PO Bintang Prima, PO Bintang Timur, PO Setuju, Litha&Co, Manggala Trans dan Metro Permai (Satu grup), PO Alam Indah, PO Primadona, PO Batutumonga. Armada yang tersedia Mercedes-Benz OH1525, OH1521, OH1526, OH1626, OH1830, OH1836, Scania K124iB, Scania K380iB, Scania K310iB, dan Scania K360iB. Tentu masing-masing jenis mesin dan kelas ada harganya tersendiri. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya. Tetapi, jangan khawatir. Khusus kelas VIP keatas, kursinya tebal dan empuk kok. Dijamin nyaman.

Dengan budget Rp 2 juta saja sudah bisa kok hidup 3 hari di Toraja termasuk transport Makassar-Toraja dengan bis. Tunggu apa lagi untuk kesana? Visit Toraja 2015!

Tanjung Bira: Si Putih dari Selatan Celebes

Tanjung Bira adalah sebuah daerah yang berada di ‘kaki’ sebelah selatan dari Pulau Sulawesi. Tanjung Bira masuk dalam wilayah Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan. Tanjung Bira menjadi terkenal karena 4 hal: Pelabuhan Penyeberangan Bira yang melayani rute Bira-Selayar (dan akan segera melayani rute lainnya), pusat pembuatan kapal pinisi, pantai yang pasirnya putih dan lembut selembut tepung terigu, dan alam bawah laut yang teramat sangat indah.

Apa saja yang ada di Tanjung Bira?

Pantai Tanjung Bira

Pantai Tanjung Bira sendiri adalah sebuah pantai yang menghadap ke arah barat, sehingga menjadi pantai yang sangat ideal untuk menyaksikan sunset yang eksotis, jika Anda sedang beruntung dan cuaca tidak sedang mendung.



Pantai Tanjung Bira ini juga sangat unik, terdapat di sebuah cekungan, terdapat perbedaan jarak sekitar 4-5 meter dengan daratan di sekitarnya. Hal ini mengakibatkan Pantai Tanjung Bira berbataskan tebing batu padas. Di sekitar pantainya terdiri dari pasir berwarna putih yang lembut. Jika dalam kondisi kering, bentuknya nyaris mirip dengan tepung terigu. Namun, ketika pasir yang putih tersebut digali lali, akan muncul pasir yang cukup kasar, bulirnya seukuran ketumbar, disertai dengan batu-batu karang.

Selain pasirnya yang lembut dan khas, air laut juga akan terlihat gradasi dari anjungan pemandangan yang disediakan pihak pantai. Air laut terlihat 3 gradasi. Yang paling dekat dengan pantai berwarna jernih, agak ke tengah berwarna biru muda, dan semakin ke tengah berwarna biru tua. Jika musimnya pas, pemandangan bagus ini akan terlihat dengan mudah.

Kalau tidak puas hanya dengan melihat saja, Anda bisa melakukan aktivitas air lainnya, seperti snorkelling, banana boat, atau diving. Itu semua dapat dilakukan jika musimnya baik. Peralatan snorkelling dapat disewa di lapak-lapak yang berjajar rapi di tepi pantai.

Suku Kajang

Selain melihat pantai, di daerah Tanjung Bira juga terdapat masyarakat suku Kajang. Kemungkinan lokasinya adalah di daerah bukit timur dan barat (tanjung bira memiliki dua buah bukit di timur dan barat). Lokasinya pun sedikit masuk ke dalam. Jika ingin menuju kesana, saya sarankan dengan petunjuk masyarakat lokal Tanjung Bira agar tidak tersesat.

Pantai Bara

Pantai ini berlokasi sedikit lebih utara dari Pantai Bira, lebih kurang posisinya masih sejajar dengan Pantai Bira. Namanya hampir sama, tentu karakteristiknya hampir sama. Hanya bedanya jika Pantai Bara ini memiliki dataran yang lebih luas lagi dan tidak dikelilingi oleh tebing seperti Pantai Bira.
Lokasinya sedikit masuk jauh dari Pantai Bira. Jalur yang ditempuh bisa melalui jalur menuju Rumah Makan Kapal, kemudian sebelum jalur masuk rumah makan, belok kanan, kemudian ikuti jalur yang menyusur tepi pantai sampai jalur menikung ke kanan dan naik. Setelah tanjakan, ada pertigaan. Jika ke kanan adalah kompleks bar, maka belok ke kiri masuk ke hutan-hutan. Dari situ sekitar 20 menit berkendara dengan sepeda motor. Hutan-hutannya masih sangat asri, seperti belum terjamah manusia. Terbukti ketika kesana ditemukan seekor lutung sedang lompat dari satu pohon ke pohon lain.

Proses Pembuatan Kapal Pinisi

Lokasinya tidak berada satu kompleks dengan Pantai Tanjung Bira, tetapi berada di Pantai Timur Bira. Sejajar dengan Pelabuhan Bira. Jika melewati Jalan Poros Bulukumba-Bira, maka kapal pinisi akan terlihat di sisi kiri jalan, di bawah tebing terjal.



Kapal Pinisi adalah sebuah kapal legendaris asli Indonesia yang dibuat oleh Masyarakat Suku Bugis. Kapal Pinisi diperkirakan telah ada sejak tahun 1500an. Sebenarnya, nama Pinisi merujuk pada jenis layar yang khas.
Fajar Menyingsing dari lokasi pembuatan Kapal Pinisi

Pembuatan kapal pinisi sendiri dasarnya dipenuhi dengan ritual adat, sama seperti pesta kematian di Tana Toraja. Menjadi keberuntungan tersendiri jika pengunjung yang datang melihat proses upacara adat pembuatan pinisi. Biasanya pinisi mulai dibuat pada tanggal 5 atau 7 setiap bulannya, jika ada pesanan.

Seminimalnya, ketika berkunjung ke tempat pembuatan Pinisi, ada kapal yang sedang dibangun, ada juga yang sudah jadi dan siap berlayar.

Kapal Pinisi ini dibuat dengan menggunakan kayu yang khusus, dipotong sesuai dengan arah serat agar kekuatannya baik, kemudian direndam dalam air laut kemudian dikeringkan sebelum nanti dirangkai menjadi sebuah bentuk kapal utuh. Masing-masing kayu di badan kapal dirangkai dengan menggunakan baut besar.

Selain mengamati proses pembuatan Kapal Pinisi, Anda juga bisa menyaksikan sunrise yang sangat eksotis dari dari tempat ini. Sunrise berlatar belakang kapal pinisi dan matahari baru terbit merupakan pengalaman tak terlupakan. Hal ini karena tempat pembuatan kapal pinisi menghadap ke timur.

Pelabuhan Tanjung Bira

Pelabuhan ini menjadi tempat penyeberangan menuju ke Kepulauan Selayar yang juga tidak kalah indahnya. Penyeberangan Selayar-Bira dilayani oleh dua kapal, yaitu KM Bontobaharu dan KM Sangke Palangga. Dari pelabuhan ini, selain melihat sunrise, Anda juga bisa berjalan ke dermaga dan melihat ikan-ikan kecil berenang di sekitar dermaga karena airnya sangat jernih.

Diving dan Snorkelling

Selain semua kegiatan di atas. Anda juga bisa melakukan diving dan snorkelling di pulau-pulau sekitar Pantai Bira. Tentu Anda harus menyewa kapal, dan kegiatan ini tidak tersedia ketika angin besar dan ombak tinggi. Untuk sewa kapal perlu biaya sekitar Rp 200-300 ribu per kapal, ada yang sudah termasuk peralatan snorkelling, ada juga yang masih harus sewa. Pintar-pintar nego saja. Jika ingin diving, ada 2 diving camp yang bisa digunakan. 1 diving camp milik warga lokal, 1 diving camp milik orang Jerman. Kedua-duanya memiliki syarat dan biaya yang hampir sama. Untuk bisa melakukan free dive langsung, Anda diharuskan mempunyai sertifikat diving. Terakhir info yang didapatkan, untuk membuat sertifikat di Karimunjawa habis sekitar Rp 1,8 juta untuk satu orangnya. Biaya untuk diving di Bira sekitar Rp 200.000-350.000, semua sudah all in.

Objek yang sangat menarik adalah di sekitar Pulau Loe Kang dan Pulau Kambing. Dari kedua tempat itu, jika beruntung bisa melihat penyu-penyu berukuran besar sedang berenang dan ikan-ikan hiu yang juga berenang bersama. Karang-karangnya juga sangat bagus. Tetapi memang tetap perlu keahlian agar karang tidak terinjak, sehingga tidak rusak.

Bagaimana Transportasi Menuju Kesana?

Tanjung Bira berlokasi sekitar 200 km dari Kota Makassar ke arah selatan, melewati Kabupaten Gowa, Kabupaten Takalar, Kabupaten Jeneponto, Kabupaten Bantaeng, dan Kabupaten Bulukumba. Ada banyak pilihan transportasi menuju ke Tanjung Bira: Naik bis, naik mobil plat kuning, atau naik travel. Tentu pilihan paling utama adalah naik kendaraan pribadi karena lebih luwes.

Jika ingin naik bis, Anda harus menuju terminal Mallengkeri yang melayani pemberangkatan bis dan mobil plat kuning tujuan Bulukumba-Bira-Selayar. Untuk bis, tersedia bis AC dengan mesin semuanya Mercedes-Benz dengan konfigurasi kursi 2-2 dengan total jumlah kursi sekitar 50 kursi setiap bisnya. Biayanya sekitar Rp 70.000-Rp 100.000 sekali berangkat dan nanti akan diturunkan di Pelabuhan Tanjung Bira, kemudian dilanjutkan dengan jalan kaki 1 km ke arah pantai (di Tanjung Bira ini kabarnya tidak ada ojek, jika mau, ya hitchhike saja dengan warga sekitar). Bis-bis tersebut berangkat sekitar pukul 09.00 jika penyeberangan Bira-Selayar berjalan normal. Tetapi jika penyeberangan tidak berjalan normal, bis bisa jadi baru berangkat pukul 10.00 atau pukul 11.00. Waktu tempuh dengan menggunakan bis sekitar 5-6 jam. Jika kapal tepat waktu, maka waktu tempuh kadang bisa lebih cepat dari 5 jam karena bis mengejar jadwal kapal.
 Bis-bis AC tujuan Makassar-Bira-Selayar

Jika ingin naik mobil plat kuning, mobil ini tersedia 24 jam di Terminal Mallengkeri. Jenisnya macam-macam, mulai dari Carry, Kijang LGX, Xenia, Avanza, APV, sampai Kijang Innova. Anda bisa memilih sendiri. Biayanya sekitar Rp 80.000-105.000 sampai depan penginapan di Tanjung Bira. Tinggal kemampuan untuk menawar saja yang diperlukan. Waktu tempuhnya hampir sama dengan naik bis, sekitar 5-6 jam, kadang bisa lebih cepat atau lebih lama. Jika mobil langsung penuh, biasanya waktu tempuh bisa lebih cepat. Kelemahannya adalah kalau naik mobil harus menunggu mobil sampai penuh baru mobil berangkat. Kadang juga ngompreng di jalanan, ini yang bikin lama.

Jika naik travel, ada 1 travel yang melayani rute Makassar-Bira. Lokasi kantornya di Makassar ada di Jl Veteran, namanya Travel BMA. Tarifnya sekitar Rp 100.000 dengan waktu tempuh 4-5 jam.

Dari Tanjung Bira kembali ke Makassar, Anda bisa memilih menggunakan mobil plat kuning atau bis. Jika Anda ingin keberangkatan yang fleksibel, Anda bisa menggunakan mobil plat kuning. Tinggal minta ke pegawai hotel saja untuk memanggilkan mobil (biasanya pagi dan malam, pagi pukul 06.00 dan pukul 09.00, malam pukul 18.00 dan pukul 21.00). Jika ingin berangkat siang, biasanya pihak hotel menyarankan naik bis saja dari pelabuhan Bira. Bis tiba di Bira dari Selayar sekitar pukul 14.00-16.00. Kalau ada perubahan jadwal, kadang bis sudah tiba di Bira pukul 09.00-10.00. Perlu update jadwal tiap hari, syukur-syukur punya nomer drivernya.

Menginap Dimana?

Ada banyak sekali pilihan Guest House, Hotel, dan Resort disana. Mau yang harga Rp 120.000-Rp 1.000.000 per malam, semuanya ada. Jika ingin yang murah dan cukup direkomendasikan, ada Guest House Sunshine dan Salassa. Kalau saya pribadi menyarankan Guest House Salassa karena lokasinya di tepi jalan utama Tanjung Bira. Tarifnya pun murah, Rp 120.000 termasuk breakfast. Kamarnya bersih, tidak ada nyamuk, kamar mandinya juga bersih sekali.

Disana Menjelajah Pakai Apa?

Jika Anda hanya ingin snorkelling atau diving disana, saya sarankan tidak perlu sewa motor atau mobil, karena jarak penginapan dan pantai sangat dekat sekali, 5 menit saja jalan kaki. Jika ingin menjelajah sampai kemana-mana, saya sarankan sewa sepeda motor saja. Biasanya, sewa motor sekitar Rp 70.000 per 24 jam tidak termasuk bensin. Tinggal minta tolong dengan resepsionis hotel. Biasanya masing-masing hotel punya persewaan motor dalam jumlah terbatas. Harga bensin di Tanjung Bira sekitar Rp 9.000 per liter. Untuk putar-putar selama 24 jam sampai puas, lebih kurang perlu 2-3 liter, tergantung jenis motornya.


Tanjung Bira menjadi sebuah tempat yang menarik, terutama bagi penyuka pantai dan alam bawah laut. Segera siapkan tiket dan barang-barang Anda, bersegeralah berangkat ke Bira sebelum terlambat.

Fort Rotterdam

Fort dalam bahasa Inggris memiliki arti ‘benteng’. Lantas, apa bedanya Fort Rotterdam dengan Benteng Pendem, Benteng Van Der Wijck, dan Benteng Vredeburg? Jawabannya adalah hampir sama, semuanya berfungsi sebagai basis pertahanan Belanda pada masa penjajahan.


Fort Rotterdam ini lokasinya persis di tepi laut, tetapi saat ini dibatasi oleh jalan utama. Tiket masuknya sukarela, tidak seperti di Vredeburg yang saat ini ditarik tiket. Spot utamanya adalah benteng dari batu gunung yang masih berdiri gagah mengharap ke timur, meskipun sebagian kecil bagiannya sudah mulai bocel-bocel termakan usia. Selain itu, tulisan Fort Rotterdam di bagian depan juga menjadi spot menarik untuk berfoto ria.

Jika sore menjelang, terutama hari Minggu, Fort Rotterdam ini akan dipadati oleh pengunjung yang ingin menghabiskan sore. Selain Losari, Fort Rotterdam menjadi tempat yang favorit juga.

Yang sangat disayangkan adalah penjelasan mengenai benda-benda arkeologi di Fort Rotterdam ini sangat minim. Beda jauh ketika kita berkunjung ke Vredeburg, akan ada jalur yang dibuat tersendiri untuk masuk ke ruang diorama dan melihat penjelasan demi penjelasan. Di Fort Rotterdam, kurang ditemukan adanya informasi-informasi dan petunjuk yang mengarah kesana.


Selain melihat museum, Anda bisa juga menawar kapal untuk berkunjung ke Pulau Khayangan dan Pulau Samalona yang sangat indah. Kapal dapat ditawar dari depan benteng dengan harga yang variatif.

Sajian Khas Nusantara di Coto Nusantara

Seribu jalan menuju coto. Seribu jalan, berarti ada seribu coto juga. Atau cotonya seharga seribu rupiah? Halah!

Ada banyak sekali penjual Coto di Makassar. Bertolak belakang dengan Madura. Di Madura, hanya ada satu atau dua penjual sate, paling-paling ya Cuma di Sentra Jajan Kota Pamekasan yang terkenal dengan Sate Lalatnya saja. Lah, di Makassar penjual Coto bertebaran. Apasih coto itu? Coto padahal kalau di bahasa Jawa artinya cilaka -,,-

Mungkin, Coto artinya hampir sama dengan Soto jika di Jawa, sama seperti dengan Sroto jika di Banyumas, Jawa Tengah. Atau mungkin sama dengan Saoto jika di Tegal. Ibaratnya, Coto ini adalah sotonya Makassar.

Isinya? Hmmm, tidak ada padanannya karena berbeda sama sekali. Coto Makassar ini berisi daging dan jerohan sapi, sejenis usus, babat, limpa, ginjal, hati, otak, lidah. Tinggal seleranya yang makan saja, mau pilih campur, daging saja, atau jerohan saja. Kuahnya berwarna coklat gelap, tidak terlalu kental juga tidak terlalu encer, dan sepertinya ada sedikit santan dan rempah-rempahnya. Citarasa yang ditimbulkan adalah asin segar. Lebih mantab daripada makan soto biasa.

Coto Makassar yang paling enak dimana? Di Daeng Kulle Surabaya, atau kalau nggak di Aroma Makassar Jl Perak Timur sih. Itu kalau di Surabaya. Kalau di Makassar, ya tetap Coto Nusantara yang menjadi Coto of Choice. Dari namanya saja sudah kelihatan, lokasinya pasti di Jl Nusantara, depan terminal Peti Kemas. Tetapi warungnya kecil, kalau mau yang agak besar ya yang di Jl Merpati, belakangnya Bank Sulselbar Jl Ratulangi. Warungnya lebih besar dan terintegrasi dengan warung juice dan warung buah.
Semangkok Coto Campur Jl Nusantara

Masalah harga? Terjangkau. Per porsi Coto Makassar Rp 18.000,00. Ketupatnya juga murah sekali hanya Rp 1000,00 saja, tidak seperti di Surabaya yang dijual Rp 2000,00. Mengenai rasa, sudahlah tidak perlu dicari-cari kesalahannya. Otentik sekali. Lokasinya juga bagus, bisa ditempuh dengan pete-pete.


Belum ke Makassar lho kalau belum makan Coto.